
Setelah keluarga yang lain check out, Via dan Farhan kembali ke kamar. Mereka melanjutkan obrolan yang membuat mereka semakin dekat.
"Cinta, masih deg-degan nggak berduaan gini?" tanya Farhan.
Via yang saat itu duduk di ranjang dengan posisi bersandar ke Farhan, menoleh.
"Siapa yang canggung?" Via balik bertanya.
Farhan tertawa kecil dan mencubit pipi istrinya dengan gemas. Ia pun mulai meledek Via.
"Nggak mau ngaku, ya? Yang malu waktu di gandeng di mall di Jakarta waktu itu siapa, ya? Yang pipinya merah waktu dipeluk di pantai, istri siapa? Yang gemetar ...."
"Tauk, ah," sahut Via sambil mencubit paha Farhan.
"Auw! Lagi, dong! Tapi jangan di situ!" Farhan masih menggoda istrinya.
"Di sini? Yang keras?" tanya Via sambil bersiap mencubit pinggang Farhan.
"Ah, KDRT nih. Aku laporin Om Candra lo!" ancam Farhan.
"Coba saja," sahut Via sambil mencebik.
Saat itu Farhan sedang melihat wajah Via. Melihat bibir Via yang dibuat-buat, Farhan menjadi gemas. Dengan cepat, bibirnya diarahkan ke bibir Via.
Via terkejut sesaat. Namun, tak lama kemudian ia justru membalas pagutan Farhan.
Dari bibir, Farhan menggeser ke bagian lain. Terjadilah hal yang diinginkan keduanya. Mereka mengulang kegiatan yang merupakan pengalaman baru.
Setelah salat zuhur, Via baru ingat kalau dia belum menyiapkan keperluan untuk dibawa ke Bali. Ia pun bingung karena semua baju ia tinggal di rumah dan di ruko.
"Mas, kita jadi ke Bali?" tanya Via kepada suaminya.
"Ya jadi, dong. Kan sudah direncanakan dengan matang," jawab Farhan.
"Tapi kita kan belum menyiapkan keperluan untuk dibawa. Kita pulang dulu, yuk! Mumpung masih ada waktu," ajak Via.
"Tenang, Cinta. Semua sudah disiapkan, kok. Kita tinggal berangkat. Mending sekarang tidur. Nanti malam kita mungkin begadang lagi," kata Farhan.
"Begadang? Ih, kayak lagunya Haji Rhoma Irama aja. Ngapain begadang?"
"Menghafalkan yang tadi malam dan tadi pagi. Biar lancar. Siapa tahu tahun depan sudah ada yang manggil ayah bunda."
"Siapa yang mau ... Eh, apa?" Via kaget dan malu setelah menyadari maksud Farhan. Ia memukul suaminya menggunakan bantal.
"Dasar!"
"Lho, kenapa?" tanya Farhan dengan muka sok polos.
__ADS_1
"Mesum, ah," pekik Via sambil membenamkan mukanya ke bantal.
"Eh, itu ibadah lo. Udah enak, dapat pahala. Luar biasa baiknya Allah."
Via tidak menyahut. Ia masih menungkupkan wajah.
"Ayo, bobok! Mas janji kali ini beneran bobok. Tapi, Mas peluk, ya!"
Tak lama nafas Farhan sudah terlihat naik turun dengan teratur. Sementara Via masih terjaga. Ia tidak bisa memejamkan matanya.
Sorenya, mereka bersiap untuk keberangkatan ke Bali. Saat keluar, ternyata Edi sudah menunggu di lobby.
"Mas Edi kok di sini?" tanya Via heran.
"Dia sekarang asisten pribadiku. Om Candra menyuruh Mas Edi ikut mengawal kita sekalian dia refreshing. Katanya belum pernah ke Bali. Tenang saja, dia nggak akan ganggu kita, kok," jawab Farhan.
"Ih, apaan sih?" Via menggerutu.
"Bisa berangkat sekarang?" Edi menyela.
"Ayo, Mas!"
Perjalanan ke Denpasar sore itu pun lancar. Mereka pun menuju hotel yang sudah dibooking.
"Besok kita ke mana?" tanya Via.
"Memang bebas, kita yang nentuin?"
"Hooh. Makanya, Cinta maunya ke mana saja?"
Via terlihat senang. Ia mengingat-ingat sebentar lokasi yang belum pernah ia kunjungi.
"Air terjun di Gianyar, Blue Lagoon, Bukit Asah, Danau Tamblingan dan Danau Buyan, juga Ngarai Sukawati."
Tanpa Via sadari, Farhan mengetik lokasi yang ia sebutkan. Lelaki itu mengirim pesan kepada Edi tentang lokasi yang diinginkan Via.
"Oke, biar Mas Edi yang ngatur. Sekarang kita bikin acara berdua saja," ucap Farhan.
"Untuk malam ini? Memang Hubbiy mau ngapain?" tanya Via manja.
"Kan tadi udah bilang sebelum kita berangkat. Kita mau menghafalkan kegiatan untuk mewujudkan generasi penerus yang tangguh," jawab Farhan sambil mengerling istrinya.
Via mendadak tersipu. Ia naik ke ranjang dan menelungkupkan tubuhnya.
Farhan hanya tertawa melihat kelakuan Via. Ia menyusul wanita itu, berbaring di atas ranjang empuk.
Keesokan harinya, mereka mulai perjalanan. Tujuan hari pertama adalah ke Gianyar.
__ADS_1
Via tidak secara spesifik menyebut air terjun yang akan dikunjungi. Mereka pun akhirnya mengunjungi air terjun Tegenungan, Gua Rsng Reng, dan Kanto Lampo. Via begitu menikmati keindahan alam ketiganya.
Hari kedua mereka menuju Blue Lagoon. Pantai Blue Lagoon Bali terletak di daerah Karangasem Bali dan lokasinya berada di Padang Bai Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem Bali.
Pantai Blue Lagoon Bali yang terletak di Bali timur ini menjadi objek wisata favorit bagi para wisatawan yang ingin berlibur ke Bali yang ingin menyaksikan pesona keindahan alam pantai yang sangat terkenal dan eksotis. Ada fasilitas diving disediakan oleh pengelola. Wisatawan dapat menikmati keindahan dunia bawah laut.
Farhan menawari Via untuk menyelam. Namun, Via menolak. Ia hanya ingin jalan-jalan menyusuri pantai.
Usai dari Blue Lagoon, mereka mengunjungi Taman Sukasada. Lokasi Taman Ujung Karangasem, berada di banjar Ujung, Desa Tumbu kabupaten Karangasem Bali.
Pembangunan Taman Ujung Karangasem konon pada 1909 dilakukan dengan menggunakan jasa arsitektur Belanda van Den Hentz dan arsitektur dari Cina bernama Loto Ang. Meski begitu, bangunan istana air ini dibuat dengan menggunakan desain arsitektur khas Bali. Taman ini memiliki keindahan tersendiri yang tak kalah indah oleh taman-taman lain.
Saat sedang mengagumi keindahan Taman Sukasada, Farhan mendadak mendapat panggilan alam. Ia berpamitan ke toilet.
Via yang sedang terpesona melihat kolam yang ada tidak menyadari saat Farhan meninggalkannya. Ia tersentak waktu mendengar seseorang memanggilnya.
"Via! Kamu beneran Via?" Seorang cowok mengenakan t-shirt putih dan blue jeans berlari mendekat.
"Doni? Kamu kok di sini? Sama siapa?" tanya Via.
"Teman-teman kampus. Maaf, ya, aku nggak bisa datang ke resepsi pernikahan kamu. Aku sudah janji pergi ke sini. Sejak Sabtu pagi kami di sini dan besok kami kembali ke Bandung," kata Doni.
"Nggak apa-apa, Don. Mohon doa saja."
"Tentu, seperti yang kutulis di bungkusan yang kutitipkan Dina."
"Maaf, Don, kami belum sempat buka kado," ucap Via dengan perasaan bersalah.
"Oh, iyalah aku tahu. Kalian masih sibuk ya?" Doni terkekeh.
Pipi Via memerah. Ia segera meluruskan maksudnya.
"Keesokan harinya kami terbang ke sini, Don. Kado- kado dibawa pulang."
"Iya, santai saja. Eh, mana Mas Farhan?" tanya Doni.
Via baru menyadari kalau Farhan tidak di sampingnya.
"Emmm, sepertinya ke toilet. Aku tadi asyik melihat kolam. O ya, bisa minta tolong fotokan?" tanya Via sambil mengulurkan ponsel pintarnya.
Doni segera menerima ponsel Via. Ia mengambil beberapa gambar Via. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata sedang menatap tajam ke arah mereka.
***
Bersambung
Mohon dukungan Kakak semua.
__ADS_1
Maaf, hanya up sedikit.