
Via terus bertanya kepada Doni. Namun, Doni tidak menjawab. Ia terus mendorong kursi roda yang diduduki Via ke dalam salah satu bilik yang ada.
“Siapa sih ...” pertanyaan Via terhenti.
Via menatap sosok yang terbaring di bed pasien dengan mata terbelalak. Tanpa sadar, mulutnya menganga. Ia menggosok matanya berkali-kali.
“Don, itu ....bBeneran, Don?” desis Via seraya menoleh ke Doni meminta kepastian.
Doni mengangguk sambil tersenyum. Ia mendorong kursi roda mendekat ke tempat tidur pasien.
Via mengulurkan tangannya. Disentuhnya lengan kiri pasien yang dibalut kain putih. Sentuhan itu membuat pemilik tangan membuka mata.
Senyum terlukis di bibir pucatnya. Matanya memancarkan kebahagiaan teramat terang.
“Hub—biy, ini Hubbiy? Ini nyata? Hubbiy masih hidup?” ucap Via dengan suara bergetar.
“Cin—ta, ini beneran kamu, kan? Mas nggak lagi mimpi?” bisik pria yang tengah terbaring dengan muka pucatnya.
“Don, jangan bangunkan aku, ya! Aku ingin menikmati mimpiku ini. Aku nggak mau bangun dengan kekecewaan,” desis Via.
Via merapatkan posisinya. Ia meletakkan kepalanya ke dada si pasien.
“Sakitkah?” bisik Via.
“Enggak. Berbaringlah di dada Mas. Biarkan kerinduan ini luruh. Biarkan Mas menikmati kebersamaan yang telah lama Mas rindukan,” jawabnya.
Via merasakan detak jantung pria itu. Tangan Via meraih telapak tangan yang tidak dibalut
perban dan meremasnya lembut.
Kedua orang itu sama-sama melepas kerinduan yang berhari-hari membelenggu hati, menyesakkan dada. Mereka meluruhkan duka yang mencabik dalam hari-hari terakhir.
Tak ada lagi kata yang terucap dari bibir mereka. Keduanya sama-sama terjerat dalam kebisuan yang syahdu. Hati mereka yang bercengkerama dengan mesra.
“Hubbiy, taukah kamu betapa aku merindukanmu? Kepergianmu telah mengoyak hatiku, meninggalkan luka yang mendalam. Perih, pedih, pilu menyatu.”
“Mas selama ini tersiksa. Sudah lama Mas
merindukan saat kita bersama lagi. Berjauhan denganmu membuat kerinduanku menumpuk. Tapi, Mas tidak berdaya. Mas hampir kehilangan harapan. Pertemuan ini membuat hati ini terasa disiram air yang memadamkan bara kerinduan.”
“Tolong jangan tinggalkan Via sendiri. Via nggak sanggup berlama-lama jauh dari Hubbiy. Marilah kita menua bersama. Kalau pun ajal menjemput, setidaknya kita telah merajut kebersamaan hingga cucu kita telah hadir.”
“Mas ingin begini terus. Biarlah tragedi kemarin berlalu. Biarkan luka yang telah tertoreh menjadi pupuk kehidupan cinta kita.
Mas berharap cinta kita semakin subur, memberikan keteduhan bagi anak-anak
kita.”
“Via nggak tahu berapa lama Via akan merasakan kedamaian begini. Aku ingin meresapinya, menikmatinya hingga aku terbangun.”
Doni hanya berdiri mematung. Ia tak bisa berkata-kata melihat dua orang di hadapannya. Doni tidak menyadari air matanya mulai menggenang, bersiap meluncur membasahi pipinya.
Doni tersadar saat terdengar ucapan salam dari belakangnya. Ia mengusap wajahnya. Saat ia menoleh, dua orang yang sangat ia kenal berdiri dengan tatapan tak berkedip ke arah bed pasien.
__ADS_1
“Pak Haris, Bu Aisyah,” ucap Doni.
Keduanya hanya diam mematung tanpa bereaksi apa pun. Tenggorokan suami istri itu terasa tercekat.
Saat Doni menraih tangan Pak Haris, dokter senior itu masih diam terpaku. Ia tidak menyadari kalau anak muda di depannya mengajak bersalaman.
“Pak,” ucap Doni lagi sembari menepuk lengan Pak Haris.
“Masya Allah. Don—ni, apa benar i—tu Far--han, anakku?” tanya dokter Haris dengan terbata-bata.
“Benar, Pak. Saya yang mengantarkan Mas Farhan ke sini,” jawab Doni.
Bu Aisyah tersadar mendengar percakapan Doni dan dokter Haris. Ia menggosok matanya untuk meyakinkan kebenaran penglihatan.
“Doni, kamu yakin itu Farhan?” desis Bu Aisyah.
“Iya, Bu. Itu memang benar Mas Farhan. Saya sendiri yang mengantarkannya ke sini karena tadi dalam perjalanan ke rumah Mas Farhan pingsan. Akhirnya, saya membawanya ke sini,” papar Doni.
Cowok berbadan atletis itu mendekati Via. Ia menyentuh bahu Via.
“Via, itu ada bundamu lo,” ucap Doni.
“Biarkan aku menikmati mimpi indah ini. Jangan bangunkan aku, Don! Aku belum puas menikmati mimpi ini,” sahut Via lirih. Ia tidak mengubah posisinya.
Bu Aisyah bermaksud melangkahkan kaki ke dalam. Namun, baru selangkah tangan sang suami menahannya.
“Biarkan mereka saling melepas kerinduan. Kita mengalah, Bunda. Kalau mereka sudah puas, baru kita bergabung,” kata dokter Haris.
Bu Aisyah mengangguk. Ia memberi kode agar Doni mengikuti mereka keluar.
“Bagaimana bisa kamu bersama Farhan ke sini? Bagaimana kamu yakin itu Farhan? Apa yang terjadi sebenarnya, Don?” Bu Aisyah mencecar Doni dengan begitu banyak pertanyaan.
Doni tersenyum. Ia dapat memahami sikap wali kelasnya saat ia Kelas XII.
“Saya berjumpa dengan Mas Farhan di Medan, Bu. Saya bersamanya selama dua hari di sana sebelum akhirnya kami pulang,” jawab Doni.
“Lalu, apa yang terjadi hingga Farhan kamu bawa ke IGD ini?” potong dokter Haris.
“Sebenarnya kondisi Mas Farhan tidak sehat sejak dari Medan. Ia membutuhkan penanganan medis yang lebih baik. Selama ini, ia hanya diobati seorang perawat. Sebelum bertemu saya, dia tinggal bersama teman saya yang kondisi keuangannya biasa
saja.”
“Terus?” Bu Aisyah tampak tak sabar.
“Mas Farhan mengalami patah tulang. Seharusnya, ia dipasang pen atau gips. Namun, teman saya tidak memiliki cukup uang untuk membawa Mas Farhan berobat. Sementara, Mas Farhan sendiri hanya memiliki uang beberapa ribu yang tersisa di dompet. Rekening sudah diblokir. Asuransi kesehatan mungkin juga sudah ditutup,” papar Doni.
“Iya, Pak Andi yang mengurus itu semua setelah prosesi pemakaman.” Bu Aisyah menimpali.
“Itulah sebabnya Mas Farhan tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Saat bertemu saya, Mas Farhan meminta saya membantunya agar bisa pulang. Dia menolak saya antar berobat ke rumah sakit dulu,” sambung Doni.
Bu Aisyah saling tatap dengan Pak Haris. Mereka sama-sama menghembuskan nafas kasar.
“Menurut Mas Farhan, situasi di sana tidak aman baginya. Ia khawatir akan keselamatannya. Rencananya, ia akan berobat di sini saja. Selain itu, tentu karena ia sudah tidak sabar ingin bertemu Via. Kangen, katanya.” Doni menarik bibirnya membentuk senyuman.
__ADS_1
“Kenapa dia bisa pingsan? Apa ada hal lain yang terjadi selain masalah lengannya yang patah?” tanya Pak Haris.
“Kemungkinan dia juga mengalami gegar otak atau masalah lain di kepalanya. Sekali lagi, karena hanya ditangani oleh perawat, keadaan Mas Farhan tidak bisa dipastikan. Ia
hanya mengonsumsi analgesik dari perawat. Kata Mas Farhan, ia sering mual, juga
nyeri di kepalanya. Pandangannya juga kadang kabur. Apalagi saat dia mengingat
sesuatu yang berat.”
“Misalnya?” potong Bu Aisyah.
“Misalnya untuk mengingat nomor telepon. Saya sebenarnya akan menghubungi Via atau Ibu untuk memberi tahu keadaan Mas Farhan. Namun, saya lupa kontaknya. Saat saya ke
Medan, HP yang biasa saya gunakan untuk akses internet tertinggal di tempat kost,” kata Doni.
Pak Haris dan Bu Aisyah tampak mengerutkan keningnya. Ia belum bisa memahami penjelasan Doni sepenuhnya.
“Lalu, bagaimana tadi kamu menelpon kami? Kamu pinjam HP teman? Terus, dapat nomor Ibu dari siapa kalau HP kamu tertinggal?” cecar Bu Aisyah.
“Saya punya dua HP, Bu. Yang ada di HP ini hanya kontak keluarga dan beberapa teman dekat. Kontak Via ada. Tetapi tadi saya hubungi tidak dijawab. Kontak Bu Aisyah saya dapatkan dari Toni teman sekelas saya di kelas XII. Waktu di Medan, saya dilarang menghubungi Via oleh Mas Farhan. Katanya mau memberikan surprise,” jawab Doni.
“O begitu. Kamu tahu bagaimana Farhan bisa selamat dari kecelakaan? Lalu, siapa korban
kecelakaan yang ada di dalam mobil itu, yang sudah dimakamkan?” ganti Pak Haris yang bertanya.
“Soal itu, mungkin nanti atau besok Bapak tanyakan kepada Mas Farhan. Saya sendiri baru mendapat penjelasan sepotong-sepotong sehingga kurang paham,” kata Doni.
***
Di dalam bilik perawatan ruang IGD sepasang suami istri masih saling diam dengan posisi sama. Entah kekuatan apa yang membuat mereka betah dengan posisi seperti itu tanpa
pegal.
Via yang tersadar terlebih dahulu. Ia menegakkan badannya. Ditatapnya pria yang terbaring di depannya.
ViIa memalingkan muka menghindari tatapan Farhan untuk beberapa detik. Kemudian, ia kembalikan lagi posisi kepalanya hingga menatap pria yang juga sedang menatapnya. Via menampakkan ekspresi terkejut.
“Kenapa sosok Mas Farhan masih ada? Apakah ini nyata? Ah, tidak, aku tidak mau berharap terlalu tinggi. Aku tidak mau kecewa untuk kesekian kalinya,” batin Via.
“Kenapa Cinta bengong begitu? Ada apa, Sayang?” tanya Farhan lembut.
“A—apa ini nyata? Ini bukan mimpi? Aku tidak sedang melamun?” desis Via.
Farhan tertawa lirih. Ia menarik lengan sang istri. Karena tidak siap, Via roboh menimpa
Farhan.
Lelaki itu tidak mempedulikan kondisinya yang belum sehat. Ia memeluk tubuh sang istri erat beberapa detik. Lalu, didongakkannya wajah Via hingga mereka kembali saling tatap. Tangan Farhan berpindah ke tenguk Via, menekan tengkuk itu hingga bibir mereka menyatu.
***
Bersambung
__ADS_1
Tetep dukung aku dengan karya receh ini. Insya Allah aku selalu mengunjungi dan memberikan komen di karya Kakak author yg komen di novel ini. Bintang 5 tentu.