
Pagi ini sebenarnya tidak beda dengan pagi hari-hari sebelumnya. Matahari masih menyapa ramah semua warga bumi, khususnya wilayah Yogya. Kicauan burung pun masih terdengar.
Namun, bagi Azka pagi ini berbeda. Sinar mentari terasa menghangatkan hati. Kicauan burung terdengar merdu merayu. Lebay? Sangat!
Begitulah orang yang tengah menanti peristiwa dengan kebahagiaan membuncah. Azka tak terkecuali. Ia hanya tinggal menghitung jam untuk membuat status lajang menghilang.
Semalam mobil yang membawa koper dan hantaran ke Jember telah berangkat. Sekarang giliran keluarga, kerabat, dan sahabat yang bersiap terbang ke Jember. Komandannya tentu saja Edi.
Wajah-wajah mereka tampak berseri-seri seperti mentari pagi ini. Namun, ada pengecualian. Salsa. Gadis itu sepertinya masih menata hati.
“Sa, ikhlas! Kamu harus bisa! Jangan perlihatkan muka sedihmu!” bisik Mira.
Salsa mengangguk. Ia menarik nafas panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya. Ia sudah bertekad untuk tegar menghadapi kenyataan saat memutuskan ikut ke Jember.
Setelah sarapan bersama, mobil yang membawa mereka mulai menapaki jalan menuju bandara. Sekitar setengah jam waktu yang diperlukan. Tanpa koper membuat proses lebih lancar.
Kelegaan tampak di raut mereka saat memasuki hotel. Koper-koper dan barang hantaran sudah sampai terlebih dahulu. Masih ada waktu untuk mengistirahatkan diri.
Ratna dan Salsa tinggal di kamar yang sama. Kamar mereka bersebelahan dengan kamar Edi dan Mira. Di depan kamar mereka adalah kamar Azka dan Rio.
Selama dua minggu terakhir, Salsa sudah berusaha untuk mengikhlaskan Azka bersama orang lain. Ia menyadari bahwa takdir tak bisa diubah, khususnya jodoh. Ia sudah bisa lebih tenang meski sakit itu kadang masih hinggap.
“Sa, kamu sudah siap menyaksikan prosesi ijab kabul Mas Azka besok?” tanya Ratna usai mereka salat zuhur.
“Insya Allah, Mbak. Salsa mencoba ikhlas. Mbak Ratna tahu dari Mbak Mira kalau Salsa ....”
“Aku tahu dari sikapmu,” sahut Ratna cepat.
Salsa menunduk. Mukanya sedikit memerah.
“Jangan-jangan Mas Azka juga tahu,” desis Salsa.
“Insya Allah enggak. Dia lagi fokus ke pernikahan. Kecuali kalau besok tiba-tiba kamu pingsan saat Mas Azka mengucapkan ijab kabul,” kata Ratna santai.
Salsa cemberut. Ia mencubit lengan Ratna pelan. Ratna hanya terkekeh karenanya.
“Eh, kita ditunggu makan siang bareng di bawah. Yuk, turun!” ajak Ratna sambil menyimpan gawai yang baru dilihat.
Saat mereka keluar, Azka dan Rio juga keluar. Hati kedua gadis itu berdegup kencang. Namun, keduanya berusaha bersikap biasa.
“Kalian mau makan, kan?” tanya Azka.
“Iya, Mas. Tadi Via kirim pesan kalau ia dan Mas Farhan sudah menunggu. Mas Edi dan Mbak Mira juga sudah di sana,” jawab Ratna.
Ada desir halus setiap kali Ratna melihat Rio. Saat makan siang, Ratna tak bisa fokus ke makanan di meja. Ekor matanya berulang kali mencari sosok Rio.
“Ka, kamu nggak usah ke mana-mana. Nanti malam Ayah dan beberapa lainnya ke rumah calon mertuamu. Nak Rio, jaga Azka agar tidak keluyuran, ya!” kata Pak Haris.
“Kenapa Azka nggak ikut? Masa cuma berdua sama Rio?” protes Azka.
“Haish, kamu itu calon pengantin! Kalau adat Jawa dipingit. Ini kamu nggak dipingit, tapi nggak boleh keluyuran juga! Ketemu Meli besok saja ketika sudah sah,” jawab Bu Aisyah tegas.
“Cuma nunggu beberapa jam, Dek. Masa gitu aja nggak kuat,” ledek Farhan.
Azka memasang muka cemberut. Ia ingin ikut ke rumah Meli.
Sementara itu, Edi tampak berbicara serius dengan seseorang melalui telepon. Mukanya sedikit tegang.
__ADS_1
“Kalian awasi betul! Kalau perlu, tambah personil. Aku nggak mau kecolongan. Besok, paling tidak ada 10 orang yang mengawal dari jarak dekat,” ucap Edi.
Tak lama ia kembali menyimpan benda pintarnya.
“Serius banget. Ada apa, Mas?” tanya Mira.
Edi mencoba mengulas senyum untuk menunjukkan ketenangan.
“Nggak ada apa-apa. Aku cuma memastikan keamanan keluarga besar Wijaya,” jawab Edi tenang.
Usai makan siang, mereka kembali ke kamar masing-masing. Kebanyakan mereka merebahkan diri untuk menjaga stamina. Namun, di kamar calon pengantin, Azka tidak bisa tidur.
“Kok aku deg-degan gini, ya? Aku sudah hafal kalimat yang mesti diucapkan. Aku juga menyaksikan sendiri waktu Mas Farhan dan Mas Edi nikah. Sama saja seperti itu. Besok aku menjabat tangan Pak Roni, terus mengucapkan kalimat itu. Habis itu, baca sighat taklik. Huh, kenapa gugup,” keluh Azka.
“Ya, namanya juga peristiwa sakral. Ini menentukan nasibmu. Besok kamu bukan lagi lajang,” ujar Rio menenangkan.
“Kamu seperti sudah pernah saja,” cibir Azka.
Rio tertawa terbahak-bahak. Ia baru menyadari kalau dirinya masih jomblo, belum punya pengalaman menghadapi peristiwa pernikahan.
“Kamu nggak ingin melepas lajangmu, Rio?” tanya Azka tiba-tiba.
“Mana ada lelaki normal nggak ingin punya pasangan? Memangnya aku gay? Ya ingin! Tapi, kamu sendiri tahu kondisiku,” jawab Rio lesu.
“Lho, kamu kan sudah punya pekerjaan. Jadi, kamu sudah bisa menafkahi istrimu kelak. Apa lagi?” desak Azka.
Rio menatap Azka memelas. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar.
“Bukannya kamu tahu syarat nikah yang paling utama?”
“Maksudmu?” tanya Azka.
“Apa saja?”
“Kaleh sinten?” sahut Rio cepat. (kaleh sinten \= dengan siapa)
Sekarang ganti Azka yang terbahak-bahak mendengar ucapan Rio. Ia sampai memegang perutnya.
“Seneng, ya? Kamu malah tertawa di atas penderitaan jones. Mentang-mentang mau nikah, udah laku,” gerutu Rio.
Azka menghentikan tawanya. Ganti senyum lebar menghiasi bibirnya.
“Di depan kamar kita ada yang bisa memenuhi syarat nikah untukmu,” ucap Azka serius.
“Maksudmu Ratna atau Salsa?”
“Ratna. Tapi, kalau kamu suka Salsa juga nggak apa-apa. Menurut aku, Ratna lebih cocok, lebih siap. Dia kan sudah selesai kuliah, sudah bekerja juga. Penghasilannya di olshop lumayan, lo!”
Rio terdiam. Ia tampak sedang berpikir.
“Memangnya dia mau sama cowok miskin macam aku?” tanya Rio lirih.
“Ratna itu bukan tipe cewek matre. Dia dari keluarga sederhana. Latar belakang keluarganya mirip sama Mira. Kalau kamu nikahin dia, saran aku kamu bersikap seperti Mas Edi. Biarkan dia meneruskan pekerjaan di olshop untuk membantumu mencari nafkah, juga membantu keluarganya,” jawab Azka.
Rio menatap Azka lekat, mencari guratan canda di wajah sahabatnya. Namun, ia tak menemukan. Keseriusan dan kejujuran yang tampak di sana.
“Jadi, Ratna masih membiayai keluarganya?”
__ADS_1
“Membantu uang saku adik-adiknya. Orang tua masih lengkap, kok.”
Rio kembali terdiam. Ia menimbang-nimbang ucapan Azka.
“Kalau kamu mau, ada orang yang siap membantu,” ucap Azka.
“Siapa yang kamu maksud?”
“Kakak iparku tentu.”
“Sejujurnya aku memang ada rasa sama Ratna. Tapi, saat ini aku tidak berani mengungkapkan. Kondisiku belum memungkinkan.”
“Kenapa belum memungkinkan? Kalau soal ekonomi, rizki bisa dicari. Yang penting tentang hati.” Azka menasihati. (seperti judul novel Kak Depe)
“Kau benar. Mungkin kalau sudah berkeluarga, rizki semakin lancar,” gumam Rio.
Azka tersenyum lega. Ia menepuk bahu Rio salut. Kemudian, ia mengambil gawainya, mengirim pesan kepada seseorang.
Sementara itu, di kamar Via dan Farhan baby Zayn baru tertidur. Via membaringkan di tengah ranjang. Mendengar notifikasi pesan, ia meraih ponselnya. Senyum tipis tersungging.
“Pesan dari siapa? Kok langsung senyum?” tanya Farhan.
“Calon pengantin pria,” jawab Via.
“Ada apa dengan anak itu? Merengek minta ikut ke tempat camer?” tebak Farhan.
Via menggeleng. Senyum masih belum menghilang.
“Bukan. Ini soal misi kami. Ratna sepertinya ada rasa sama Mas Rio. Gayung bersambut, nih. Mas Rionya juga. Cuma, dia masih ragu masalah ekonomi.”
“Itu kan bukan masalah utama. Allah yang memiliki segalanya. Rizki ada di mana saja bagi yang mau berusaha.”
“Betul. Itu sebabnya, Dek Azka minta tolong Via melancarkan hubungan keduanya.”
“Maksud Cinta, mau didekatkan seperti Mas Edi dan Mira seperti yang kalian rencanakan waktu itu?”
“Tepat!” jawab Via singkat.
Farhan tersenyum. Ia tidak melarang istrinya.
Sehabis maghrib, rombongan keluarga Pak Haris mendatangi rumah Meli. Calon mempelai pria tentu tidak ikut. Dia tetap di hotel ditemani Rio. Via juga tidak ikut karena kasihan membawa Zayn malam-malam. Ia meminta Ratna menemani. Sebenarnya, ia memiliki maksud tersembunyi.
Kesibukan tampak nyata di rumah itu. Kerabat dan sahabat Meli tampak sibuk menyiapkan acara esok hari. Tetangga pun banyak yang membantu.
“Wah, Pak Haris rupanya. Silakan duduk! Silakan, semuanya.” Ayah Meli begitu ramah menyambut tamunya.
“Iya, Pak. Kami datang untuk memperkenalkan diri kepada keluarga besar Pak Roni. Kalau calon pengantin tentu tidak ikut,” kata Pak Haris.
Mereka menyerahkan hantaran yang sudah dipersiapkan. Kemudian, mereka duduk di kursi yang sudah ditata rapi.
Salsa duduk di sebelah kiri Mira. Matanya menatap tempat untuk ijab. Saat itu, tak sengaja ia menangkap ada tatapan lekat diarahkan kepadanya. Ia tak menghindar, membalas tatapan milik seorang cowok yang berdiri agak jauh darinya.
***
Bersambung
Bagaimana prosesi ijab qobul Azka? Ikuti kolaborasiku dengan Kak Indri Hapsari! Makanya, baca Cinta Strata 1, ya! Jangan lupa tinggalkan like dan komentar di novel kami.
__ADS_1
Barakallahu fiik