SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mulai Bercerita


__ADS_3

Usai waktu isya,


orang-orang berkumpul di ruangan pribadi dokter Haris kecuali Doni yang pulang


setelah salat magrib. Mereka menyantap makanan yang dipesan Bu Aisyah melalui


delivery order.  Meski makanan yang


dipesan tidak mewah dan mereka pun memakan dengan lesehan, mereka terlihat


begitu lahap.


Ketika mereka


tengah menikmati makan malam, Edi datang bersama Pak Yudi dan Pak Adi. Mereka


terperanjat melihat sosok di samping Via. Mereka tertegun sambil menatap


Farhan.


“Masuklah Kek, Mas Edi, Pak Yudi. Mari makan sekalian! Ini masih, kok. Bunda pesan cukup banyak tadi,” Via menawari dengan ramah.


“I—iya. Eh,


itu—itu yang duduk di samping Via ...” Pak Adi ragu melanjutkan kalimatnya.


“Itu memang Farhan. Alhamdulillah, ternyata ia tidak meninggal. Saya sendiri belum tahu


kronologinya. Nanti setelah makan malam, dia akan bercerita bagaimana dia


selamat dalam kecelakaan tragis itu. Mari, silakan duduk dulu sambil menikmati


hidangan seadanya,” jawab Pak Haris.


Ketiga pria yang


baru datang itu duduk di karpet, ikut bergabung. Bu Inah yang baru selesai


makan segera berdiri membuatkan minuman.


“Ah, tadi Cinta nggak pesan ke Mas Edi membawakan baju ganti untuk Mas, ya?” Farhan menoleh ke Via.


“Saya bawa, kok. Ada dua stel pakaian Mas Farhan yang saya bawa,” sahut Edi.


“Bukannya tadi Cinta bilang HP-mu low batt?” tanya Farhan heran.


Via tersenyum lalu menjawab,”Entah kenapa tadi sore waktu Mas Edi pamitan pulang, Via ingin tidur memeluk baju Hubbiy. Makanya, Via minta Mas Edi membawakan baju Hubbiy.” Via tampak malu-malu saat menjawab.


Orang-orang tertawa mendengar jawaban Via. Pipi Via makin merah menahan malu.


“Aduh, kok sikapmu begitu? Menggemaskan sekali. Huh, sayang banyak orang di sini. Coba kalau tidak. Aku sudah kangen banget,” batin Farhan.


“Seperti sudah ada firasat, ya?” celetuk Edi.


“Kekuatan cinta seorang istri, Ed. Besok kamu akan merasakan kalau sudah menikah,” sahut Pak Adi.


Edi hanya senyum-senyum diledek Pak Adi. Farhan pun bersemangat menyerang Edi.


“Ayo, Mas! Nggak usah ditunda-tunda! Nggak ada gantinya, lo! Nanti kalau Mira disambar orang, Mas Edi gigit jari!” ucap Farhan.


“Tinggal Mas Edi yang belum merasakan enaknya punya istri. Besok kalau nikah, saya yakin Mas Edi nyesel." Pak Yudi ikut menggoda Edi.


“Kok nyesel? Memang kenapa? Kalau nikah itu membuat menyesal, kenapa juga aku disuruh cepat nikah?” tanya Edi kebingungan.


Bukannya menjawab pertanyaan Edi, orang-orang justru tertawa. Edi pun semakin kebingungan.


“Maksud Pak Yudi itu, Mas Edi itu bakal nyesel karena nikahnya nggak dari dulu,” jelas Farhan.


Edi tersenyum malu mendengar penjelasan Farhan. Ia jadi ingat kalau usianya memang sudah tidak muda lagi. Kebanyakan, orang seumuran dia sudah memiliki anak, sedangkan dia, menikah pun belum.


“Tenang, Ed! Langsung gas pol begitu Mira resmi kau nikahi.” Pak Adi menimpali.


Setelah semua selesai, Bu Inah segera membereskan. Bu Aisyah pun membantu Bu Inah beres-beres.


“Nah, sekarang kita dengarkan bagaimana kronologi Farhan bisa selamat dan jenazah siapa yang kita makamkan waktu itu,” kata Pak Haris.


“Wah, Farhan mendongeng, nih?” canda Farhan. "Farhan ganti baju dulu, ya."


Farhan masuk kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah mengganti pakaiannya, ia kembali duduk di karpet bersama yang lain. Ia pun mulai bercerita.

__ADS_1


Flash back on


POV Farhan


Laju mobil terasa tidak stabil. Aku merasakan ada yang tidak beres dengan mobil yang kami tumpangi.


“Bang, kok rasanya mobil ini oleng, ya? Coba, menepi dulu!” perintahku kepada Bang Tedi


yang memegang kemudi.


Aku turun dari mobil disusul Bang Tedi. Ternyata ban sebelah kanan kempes semua.


“Wah, kempes. Padahal ban serep cuma satu. Di sini mana ada tukang tambal ban?” keluh Bang Tedi putus asa.


“Apa aku telepon rumah untuk minta dijemput?” usulku.


“Ya, sebaiknya begitu. Tapi, Tuan Farhan harus sabar karena jarak dari rumah Tuan Candra kesini sangat jauh,” sahut Bang Tedi tak bersemangat.


Saat aku akan menelepon rumah Om Candra, mataku tertumbuk pada gubuk kecil yang di depannya tergantung tulisan “tambal ban 24 jam”.


“Bang, lihat! Di depan ada tulisan tambal ban. Siapa tahu bisa menambal ban mobil,” kataku


bersemangat.


“Hah! Sejak kapan ada tambal ban? Seingat saya waktu kita kemarin datang nggak ada, deh,” ucap Bang Tedi heran.


“Sudahlah, yang penting kita bisa melanjutkan perjalanan.”


Bang Tedi menurut. Kami pun melanjutkan ke tempat tambal ban yang jaraknya sekitar 100


meter dari tempat kami berhenti.


Ada dua orang lelaki di gubuk itu. Salah satu di antara mereka memiliki tato mirip kelelawar pada lengannya.


Seperempat jam berlalu, Bang Tedi tampak gelisah. Sebentar-sebentar ia melihat jam tangannya.


“Ada apa, Bang? Kelihatannya Bang Tedi gelisah.” Aku mencari tahu.


“Ee—anu, Tuan, istriaya sedang sakit. Setelah mengantar Tuan, saya mau minta izin pulang kampung selama seminggu atau sampai istri saya sembuh. Saya sudah menghubungi Tuan


Candra dan beliau mengizinkan,” tutur Bang Tedi.


“Ini kan bukan kesalahan Tuan. E...bagaimana kalau saya sampai kota kecamatan, saya turun di situ. Habis itu Tuan Farhan menyetir sendiri ke rumah Tuan Candra. Maaf, maaf


kalau nggak berkenan,” pintanya dengan gugup.


“Iya, Bang. Nggak apa-apa, kok. Aku bisa. Sebenarnya, kalau saja ada taksi atau ojol di daerah sini, tentu Bang Tedi bisa pulang sekarang,” ucapku.


Bang Tedi tersenyum getir. Tampak sekali roman mukanya menyimpan kekhawatiran. Sayangnya, aku tidak bisa membantu.


Mendadak sebuah sepeda motor berhenti di depan kami. Tanpa mematikan mesin, si pengendaranya menyapa Bang Tedi.


“Hai, Ted! Sedang apa kau di sini?”


Bang Tedi menatap heran. Ia sepertinya kebingungan, tidak mengenali lelaki yang duduk di atas jok motor. Lelaki itu membuka kaca helmnya sambil tertawa.


“Ini aku, teman SMP-mu.”


“Oh, kau. Ini,


aku sedang nunggu ban mobil ditambal. Tadi bocor tertusuk paku sepertinya.”


Bang Tedi menghadap ke aku. Tatapannya tampak mengiba.


“Tuan, maaf sebelumnya. Kalau Tuan mengizinkan, saya mau ikut teman saya saja. Bagaimana?” Bang Tedi terus menatapku.


“Iya, Bang. Pergilah! Aku nggak apa-apa, kok. Bang Tedi kan harus segera sampai rumah.” Aku memberi izin kepada Bang Tedi.


“Tuan berani nyetir sendiri? Tuan hafal jalannya?” tanya Bang Tedi ragu.


“Iya, aku bisa. Soal jalan, aku kan bisa menyalakan GPS nanti. Bang Tedi tidak usah


mengkhawatirkan aku,” jawab aku sambil tersenyum meyakinkan.


Akhirnya, Bang Tedi pergi bersama temannya. Tinggallah aku duduk sendirian.


Aku bosan menunggu kedua orang tukang tambal ban bekerja. Akhirnya, kuputuskan menelepon istriku. Aku memilih video call agar bisa melihat wajahnya yang begitu


kurindukan.

__ADS_1


"Assalamualaikum," kudengar suaranya menyapa.


Hei apa itu? Sepertinya telinga. Ah, pasti dia tidak tahu kalau ini video call.


"Waalaikumsalam. Cinta, ini video call. Masa Mas lihatnya telinga kamu?"


"Maaf, Hubbiy. Via tadi tidak melihat layar," katanya gugup.


"Cinta, Mas dalam perjalanan ke kota. Rencananya Mas ke rumah Om Candra dulu untuk berpamitan sekaligus mengembalikan mobilnya. Setelah itu, Mas ke bandara."


"Jauh nggak perjalanan ke rumah Om Candra? Hubbiy sendiri?" tanya Via sedikit


khawatir.


"Kurang lebih 2 jam lagi. Tadi sih bersama Bang Tedi..."


"Lalu, sekarang mana orangnya?" potong Via sepertinya tak sabar.


Aku  tersenyum melihat ketidaksabaran Via.


"Saat ini Mas lagi di bengkel. Ban mobil kempes. Sepertinya ada yang menebar paku, deh. Dua ban kempes nih."


"Bang Tedi ke mana?" tanyanya lagi tak sabar.


"Bang Tedi pulang duluan. Tadinya mau ikut sampai kota. Kebetulan ada temannya pakai motor melintas barusan. Ia ikut karena istrinya sakit, ia ingin segera sampai


rumah."


"Berarti Hubbiy sendirian?" tanya Via khawatir.


"Iya. Insya Allah kuat menyetir sendiri sampai rumah Om Candra. Tuh nambal bannya hampir selesai," ucapku seraya mengarahkan kamera ke dua orang yangmenambal ban.


"Hubbiy hati-hati, jangan ngebut!" pesan Via.


"Iya, insya Allah akan selalu hati-hati, nanti malam kita bisa bertemu. Cinta jangan  terlalu lelah, ya! Jaga diri dan dedek!" Aku balik berpesan.


Via tersenyum lembut. Senyum yang selalu kurindukan.


"Mas lanjut perjalanan dulu, ya! Ban sudah selesai ditambal tuh. Assalamualaikum.


Mmuaah...."


"Waalaikumsalam. Fiiamanillah," bisik Via.


Setelah telepon kusimpan di saku, aku mendekati dua orang tukang tambal ban yang tengah merapikan peralatan.


“Sudah selesai, Bang?” tanyaku.


“Su—sudah,” jawab orang yang tidak bertato agak gugup.


“Berapa ongkosnya?” tanyaku lagi.


“Seratus lima puluh ribu, Tuan,” jawab 55 bertato.


Wah, mahal sekali. Nambalnya lama pula. Bukannya biasanya Rp 20.000,00-Rp 30.000,00.


“Ada 2 tusukan di ban belakang dan satu pada ban depan. Kami tambal semua biar jadi ban serep,” kata lelaki bertato lagi.


Tetap ini di luar kewajaran. Tapi, aku nggak mau berdebat untuk hal kecil begini. Tiga lembar lima puluh ribuan kulolos dari dompet lalu kuserahkan kepada lelaki bertato itu.


Aku melanjutkan ouerjalanan. Kukemudikan mobil dengan hati-hati karena aku belum hafal jalanan di sini.


Belum jauh dari bengkel tambal ban, mataku tertumbuk pemandangan di depanku. Terlihat ada dua pria tengah bercakap-cakap di tepi jalan sambil menunjuk roda motor. Sepertinya


aku kenal mereka.


***


Bersambung.


Kalau sudah baca,


jangan lupa klik like dan berikan koment ya! Terima kasih kepada Kakak semua


yang sudi membaca karya receh ini.


Maaf, tidak semua


koment dibalas. Sekarang, urutan komentar acak sehingga aku bingung mencari

__ADS_1


koment yang belum dibalas. Maaf, ya.


__ADS_2