Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kerumah Mertua


__ADS_3

Weekend setelah resepsi, Andi mengajak sang istri untuk bertandang kerumah orang tuanya.


Maka setelah bangun dan shalat, mereka sudah packing baju yang akan mereka bawa. Jika pertama kesana Indah tidak membawa pakaian karena memang mereka masih pacaran berbeda untuk kali ini. Karena akan menginap dua malam, Indah menyiapkan dua stel pakaian mereka.


Setelah selesai sarapan dan berpamitan dengan mertuanya, Andi segera membonceng Indah.


Perjalanan yang cukup jauh, membuat Indah lagi-lagi tidak tenang di motor. Pantatnya sudah terasa panas dan pinggangnya pegal. Menyadari itu, setengah perjalanan Andi menghentikan motornya dan mengajak sang istri untuk beristirahat di rest area.


Lima belas menit dirasa cukup buat mereka beristirahat. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.


Kurang lebih dua jam akhirnya motor sampai di halaman rumah Pak Hermawan. Hari masih sekitar jam sepuluh pagi, suasana rumah sepi, dan pintu pun tertutup rapat.


Andi berjalan sambil menjinjing tas pakaian mereka. Indah berjalan di belakangnya.


"Assalamualaikum" ucapnya sambil mengetuk pintu


Tak ada jawaban. Sekali lagi dia mengetuk dan memberi salam.


Dari dalam terdengar sahutan salam dan suara kunci di buka. Ketika pintu terbuka, muncullah wajah mbak Laras.


Segera dia membuka pintu dengan lebar dan menyambut tangan Andi yang terulur kearahnya. Indah mengikuti Andi yang juga bersalaman padanya. Wajahnya datar saat Indah mencium punggung tangannya.


"Siapa Ras?" suara dari dalam


"Andi buk" sahutnya sambil berjalan masuk


Andi dan Indah segera masuk dan mencium punggung tangan perempuan paruh baya tersebut.


Tak lama muncullah Pak Hermawan diikuti oleh Nina dari arah belakang. Wajah Nina tampak sumringah ketika melihat kakak dan iparnya datang.


Segera dia memeluk hangat sang kakak ipar. Indah pun membalas hangat pelukan sang adik ipar.


Sementara Andi mencium punggung tangan sang ayah yang diikuti Indah setelah dia dan Nina saling melepas pelukan.


Laras dan Bu Mira tak bergeming, mereka memandang sinis terhadap Indah.


Segera Andi masuk ke kamarnya dan meletakkan tas mereka di kamar tersebut, sementara Indah duduk di ruang tamu mengobrol dengan Nina.


Laras segera masuk kembali ke dapur diikuti sang ibu. Sedang Pak Hermawan ikutan duduk bersama menantu dan anak bungsunya.


Tak lama Andi keluar dari kamar dan berjalan kearah mereka. Andi berinisiatif mengajak Indah kedapur membantu kakak dan ibunya yang sedang memasak.


"Yuk ikutan kedapur, bantuin ibuk dan mbak Laras masak" ujarnya.

__ADS_1


Indah segera bangkit dan mengekor di belakang Andi.


Sesampai di dapur, terlihat ibu mertua dan kakak iparnya sedang memasak. Tanpa sungkan Indah ikut bergabung dan memotong sayuran yang belum selesai di potong oleh Laras.


"Motongnya jangan panjang-panjang, bisa kelolotan orang makannya kalo kamu motong kangkung panjang-panjang kaya gitu" protes Laras.


Indah terkesiap mendengar ucapan Laras. "Iya mbak, maaf" jawabnya


Andi diam saja memperhatikan mereka berdua sambil menyeruput kopi yang tadi diseduhnya.


"Ga pernah masak ya kamu?" kali ini sang ibu mertua yang bertanya


"Masak kok buk" jawab Indah.


"oh baguslah, kalau gitu nanti kamu yang lanjutkan menumis kangkungnya, mbak mau mandi" sambung Laras.


Indah mengangguk.


Setelah semua bumbu disiapkan, Indah dengan cekatan mulai menumis kangkung. Setelah masak dimasukkannya dalam mangkung dan diletakkan dalam tudung saji.


Selesai mencuci semua perabotan yang kotor sisa memasak Indah keluar dari dapur dan duduk di sebelah Andi yang sedang menonton tivi.


Jam dua belas siang, Pak Hermawan mengajak seluruh anggota keluarganya untuk makan siang. Laras dan sang suamipun sudah duduk di meja makan. Andi dan Indah menyusul kemudian. Jadilah mereka bertujuh duduk mengelilingi meja makan.


"Nih pak, cicip tumis kangkung masakan menantu anyar" ucap Laras meraih mangkuk tumis kangkung dan menyerahkan pada sang ayah. Pak Hermawan menyendoknya, dan kembali meletakkan mengkuk tersebut di meja.


Tidak terdengar percakapan begitu berarti di meja makan tersebut. Semuanya fokus menikmati hidangan yang tersedia.


"Huek" terdengar Bu Mira seperti mau muntah


Seluruh mata menatapnya cemas.


Bu Mira segera berlari ke kamar mandi, dan tak lama telah muncul dengan mata yang berair seperti habis muntah.


"Kamu mau meracuni saya" bentaknya tepat di sebelah Indah.


Indah segera menghentikan kunyahannya dan meraih air minum dan meneguknya. Seluruh yang ada di sana menatap heran pada mertua dan menantu tersebut.


"Maksud ibu apa?" jawab Indah pelan.


"Kangkung yang kamu masak itu rasanya aneh dan bikin perut saya mual" ucapnya emosi


Indah mengerutkan keningnya. Andi menggenggam tangan sang istri mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Sudah ah buk, gitu aja diributkan. ga baik ribut di meja makan" Pak Hermawan menengahi.


"Ga ada yang aneh kok buk dengan kangkungnya, enak kok" bela Nina.


"Ibu benar, rasanya emang aneh. aku aja ga jadi makannya" sambung Laras.


Sang suami menatap tak senang pada Laras yang dibalas Laras dengan mata melotot.


"Maafin Indah buk" Ucap Indah sambil menunduk menahan air matanya.


Dengan cepat dia menghabiskan air di gelas dan meninggalkan meja makan.


"Ibuk keterlaluan" ucap Andi menyusul sang istri.


Indah menangis di dalam kamar dengan sesenggukan. Andi segera merengkuh pundaknya dan mengusap kepalanya.


"Ku fikir, setelah menikah ibuk dan mbak Laras bakal menyukai ku, ternyata sama saja seperti dulu, mereka membenci ku"


Andi diam, dia bingung harus menjawab apa.


Sementara suasana di meja makan menjadi sepi, masing-masing sudah tidak berselera lagi menghabiskan makanannya. Pak Hermawan menatap tajam sang istri sambil berucap "Hargailah Indah, dia sekarang menantu kita, coba ibu fikir bagaimana kalau posisi kalian di tukar?"


"Kok bapak malah belain dia sih" jawab Bu Mira nyolot. Laras juga menatap sinis sang ayah. Nina menatap tak suka pada ibu dan Laras.


"Apa lihat-lihat" bentak Laras padanya


"Kalian tu kelewatan, kalau ga suka jangan gitu dong. Kesian kan mbak Indah. Ingat buk, ibuk tu tiga loh anak perempuannya, gimana kalau aku dan mbak Yana sama mbak Laras diginiin sama mertua?" ucap Nina


"Pinter ya kamu sekarang jawab omongan orang tua" sambung Laras.


Nina segera meninggalkan meja makan dan menyusul Indah ke kamar depan.


Tangannya terhenti ketika mau mengetuk pintu saat di dengarnya suara isakan tangis dari dalam kamar.


Nina menundukkan kepalanya dan ikutan merasakan kesedihan Indah. Dengan gontai dia meninggalkan tempat itu berjalan ke arah teras.


"Kita pulang kak, pulang. Pokoknya pulang" isak Indah


Andi mengangguk dan menenangkan istrinya. Dia bingung harus bagaimana, ibunya memang keterlaluan tidak seharusnya beliau demikian terhadap Indah. Andi membuang nafas kasar.


"Sabar ya, besok kita pulangnya, kalau pulang hari ini, ga enak sama yang lain. Apa kata mereka nanti" bujuk Andi.


Indah diam saja, dia sudah bisa membayangkan betapa lamanya waktu berlalu. Sehari bisa dirasakan setahun baginya. Ternyata begini ya rasanya di rumah mertua, batinnya.

__ADS_1


__ADS_2