Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Malam Meet and Great


__ADS_3

"Cantiknyaaaa" Jennifer tak berkedip menatap Indah yang telah selesai didandaninya.


Aku tersipu saat kata itu keluar dari mulut Jennifer.


Andi yang saat aku didandani lebih memilih duduk di balkon sambil menghisap rokok.


"Hey, yeay minggir" Jennifer segera mengusir Andi yang sedang duduk santai


Andi segera berdiri dari duduknya dan melihat kearah Indah yang berjalan kearah balkon menuruti permintaan Jennifer.


"Cantik juga dia jika berdandan" ucap Andi dalam hati.


"Gayanya gimana kak?" tanyaku pada Jennifer yang saat itu sedang mengutak-atik kamera ditangannya.


"Sebentar, bawel ah"


Aku terkekeh mendengar jawabannya.


"Cantik nggak yah?" tanyaku pada suamiku


Andi memiringkan kepalanya dan menarik sudut bibirnya


"Lumayan" jawabnya


"Kurang asem ya yeay, istri cantik begini dikata lumayan. Yeay tidak menghargai karya jemari lentik eike kalo gitu" Jennifer menjawab sambil berkacak pinggang di depan Andi.


Andi tak bergeming, dia cuek saja melihat Jennifer bersungut-sungut.


"Heran deh eike, yeay kok betah sih sama suami yang tidak menghargai yeay" Jennifer berkata sambil membenarkan posisiku untuk diambil foto olehnya


Aku menarik nafas dalam dan tersenyum kecut.


"Hey, yeay yang sok ganteng, yeay tau rasa ya kalo istri yeay ditaksir orang"


"Siapa yang bakal naksir istriku, hah?"


"Ehmmm, yeay nangis darah jika tahu siapa cowoknya, yeay nggak ada apa-apa dibandingkan cowok itu"


Mata Andi langsung berubah, ditatapnya marah Jennifer.


"Sudah-sudah, siapa pula kak yang naksir aku, orang jelek gini" ucapku meredam amarah Andi pada Jennifer


"Uhhh, yeay nggak tahu aja. Eike yakin, kalo yeay tahu, yeay juga bakalan naksir sama dia, ganteng paripurna, uhhhh" Jennifer bergerak meliuk-liuk seperti ulat kepanasan.


Aku tersenyum melihat tingkahnya. Andi jadi makin menatap marah kearah Jennifer. Jenifer malah membalas tatapan Andi dengan tak kalah marahnya.


"Napa lu liat-liat, eyke ***** modar lu" bentaknya


Andi kaget dan langsung melangkah mundur. Sedang aku, langsung terkekeh geli.


"Sudah ya, tolong ya, kondisikan pose yeay, jangan tawa mulu, mau yeay gue ***** juga? katanya


Aku langsung menutup mulutku.


"Aduhhhh,,, jangan ditutup mulutnya, nanti lipstiknya luntur"


Aku kaget dan buru-buru melepaskan tanganku dari membekap mulut.


"Sudah, siap yaa.. " Jennifer memberi aba-aba


Aku mulai berfose, dan Jennifer mulai dengan kameranya.


Beberapa kilatan kamera penandakan jika Jennifer telah mengambil fotoku.


Beberapa kali Jennifer memeriksa hasil jepretannya. Lalu memintaku mengulangi foseku lagi.


"Sudah kali kak, aku sudah kaya model saja" protesku.


"Ihhh, yeay rumpi deh, asal yeay tahu, satu foto yeay itu mehong cinnn"


"Maksudnya?" Andi bertanya


"Bukan urusan yeay" jawabnya sambil memiringkan kepalanya seakan menyibakkan rambut lalu berlari kecil kearahku.

__ADS_1


"Yeay berbakat deh cyinn jadi model" katanya sambil memamerkan hasil jepretannya padaku.


Aku juga ikut penasaran melihat seperti apa hasilnya. Dan aku tersenyum senang begitu melihat hasilnya apalagi karena Jennifer menyukai fose ku.



"Kulitku jadi putih ya kak" kataku sambil tertawa saat menyadari ada perubahan pada kulitku difoto tersebut.


"Yeay emang putih kali cyiin, tapi sedikit" jawabnya sambil terkekeh.


...****************...


"Maa Sha Alloh, cantiknya" Bu Suryati langsung memelukku begitu aku dan suamiku tiba di lobi hotel. Aku membalas pelukannya dan mencium pipi kiri kanannya.


"Kapan terakhir kali bos melihat istri bos secantik itu? bisik Afdal di telinga Andi.


Andi refleks menoleh dan menatap tajam Afdal.


"Sudah saya katakan bos, berlian itu walau tidak dipoles tetap akan mahal berbeda dengan emas sepuhan" lanjutnya


Andi melototkan matanya, Afdal hanya terkekeh.


"Ku akui istri bos sangat cantik, aku saja naksir" lanjutnya


Andi langsung menonjok pundak Afdal.


"Ready?" tanya pak Alam setelah dilihatnya semuanya telah berkumpul.


"Iya pak" jawab suamiku.


Dengan digandeng oleh suamiku kami masuk kedalam ruangan lift menuju lantai lima tempat meeting diadakan.


Pak Alam menekan tombol 5 di depan pintu lift, sedetik kemudian pintu lift terbuka dan kami berlima masuk. Hanya butuh beberapa menit saja untuk kami sampai di ruang Le Grande Ballroom yang desain ruangan meetingnya sangat indah dan elegan.


Ternyata di ruangan luas tersebut telah banyak karyawan beserta istri masing-masing. Kami berjalan menuju meja yang telah ditentukan untuk kami tempati sesuai dengan daerah masing-masing. Kami berlima duduk di bagian Cabang Bengkulu. Di sana sudah ada tiga meja besar yang masing-masing berisi lima orang.


Mataku berkeliling melihat orang seruangan. Rata-rata para istri karyawan cantik-cantik, memakai dress yang mewah dan juga perhiasan yang banyak. Mungkin seruangan ini hanya aku yang memakai cincin pernikahan kami.


Bu Suryati yang duduk di sebelahku pun memakai emas lengkap, dari leher, tangan hingga jari kirinya nyaris terisi cincin semua, dan ukurannya pun sangatlah besar.


"Benar kan apa ibu bilang kemarin, ibu-ibu istri kepala cabang itu wowww semua penampilannya"


Aku mengangguk setuju.


"Makanya kamu ibu pilihkan dress yang mahal kemarin" lanjutnya


"Tapi kan aku tidak enak sama bang Ari, bu"


"Mana ibu tahu kalau dia yang akan bayar, kan rencananya yang bakal bayar itu ibu"


"Kalian orang-orang baik, beruntungnya aku bertemu dengan ibu dan bang Ari" ucapku lirih


"Ehemm, ehemm" tampak suamiku berdehem. Aku segera melirik kearahnya dan membetulkan posisi dudukku yang tadi condong kearah bu Suryati


"Minum yah?" tanyaku


Dia menggeleng.


Memang dihadapan kami telah tersaji minuman dan makanan ringan. Aku tidak tahu apa nama makanannya tapi aku yakin jika harganya pastilah mahal.


Semua kursi hampir terisi penuh, semua yang hadir tampak orang-orang berkelas semua. Benarlah kata bu Suryati, jika aku berdandan biasa saja pastilah akan mempermalukan diriku dan suamiku.


Tiba-tiba ada segerombolan seperti pasukan yang kira-kira berjumlah dua belas orang. Mereka berjalan selayaknya melindungi seseorang. Mereka memakai tuxedo berwarna hitam lengkap dengan kaca mata hitam. Postur tubuh mereka besar-besar dan tinggi-tinggi.


Saat pasukan itu masuk, semua yang ada di dalam ruangan sontak berdiri. Bahkan ada yang membungkuk memberi hormat sebelum berjabat tangan.


Karena jaraknya lumayan jauh dariku, aku tidak bisa melihat siapa itu yang datang.


"Our big boss" ucap pak Alam yang sepertinya faham keingintahuanku.


Pengawalan itu terus berlanjut sampai ke kursi khusus. Setelah sang CEO duduk, barulah semua yang hadir duduk di kursi masing-masing.


"Good evening, ladies and gentleman. Thank you so much for being here. Let me begin by giving you a warm welcome to the meet and great of Salam Group branch of Sumatera" tiba-tiba terdengar suara seorang MC, lelaki muda yang juga berpakaian necis.

__ADS_1


Tepuk tangan membahana di ruangan tersebut.


"Maaf jika saya menggunakan bahasa Inggris, karena tamu istimewa kita malam ini, selain CEO SALAM GROUP juga ada kolega beliau yang datang langsung dari Singapore dan London. Harusnya di samping saya ada seorang translater, tapi entah apa sebabnya sejam yang lalu beliau mengcancel tugasnya. Jadilah saya di sini harus bergantian berbicaranya, kadang pakai Inggris kadang Indonesia" sambungnya.


Sebagian yang hadir terkekeh. Tak terkecuali sang CEO.


Ini adalah kali pertamanya aku melihat CEO SALAM GROUP, walaupun sudah berumur, tapi berhubung orang terkaya nomor 1 di Indonesia, dan seorang konglomerat, maka dia masih terlihat begitu gagahnya.


"Adakah di sini yang bisa membantu saya? please help me" sambungnya lagi.


Mulai terdengar suara bergemuruh dalam ruangan, cukup lama suara itu. Semua karyawan ternyata tidak ada yang begitu menguasai bahasa Inggris.


"Anybody can help me?, tanyanya. Tapi masih tidak ada yang maju.


"Okey well, I'll try self" sambungnya dengan gaya tetap maskulin


"Kamu guru bahasa Inggris kan Ndah" pak Alam tiba-tiba menyeletuk.


Aku mengangguk. Tanpa persetujuanku pak Alam segera mengangkat tangan kanannya.


"Ya Pak?, apakah anda bisa membantu saya?" MC tersebut bertanya lewat mic yang ada di tangannya.


Seluruh mata menuju kearah Pak Alam. Dengan percaya diri pak Alam berjalan menuju arah podium. Ketika di depan sang CEO, beliau membungkukkan badannya lalu naik ke podium.


"Akhirnya, ada juga yang membantu saya" ucapnya ketika pak Alam sudah berdiri di sampingnya.


"Bukan saya, tetapi istri teman saya" jawab pak Alam.


Deg! jantungku langsung berpacu dengan cepatnya.


"Jangan-jangan..." batinku. "Ya Alloh semoga bukan aku" bisikku dalam hati lagi dengan gelisah.


"Ohh, kalau begitu cepatlah pak, nanti Mr. CEO mecat saya, akhirnya honor saya tidak di transfernya" katanya berseloroh yang disambut tawa seluruh yang ada di ruangan


"Mohon izinnya Bapak CEO SALAM GROUP yang terhormat" kata pak Alam sambil membungkuk kembali


Tampak pak CEO menganggukkan kepalanya.


"Mbak Indah, silahkan" ucapnya.


DUARRR!!!!


Mataku langsung terbelalak. Degup jantungku kian kencang. Tanganku langsung berkeringat dingin.


"Ayo Ndah" bu Suryati menggenggam tanganku.


Aku menatapnya dengan ragu, beliau menganggukkan kepalanya. Aku menoleh pada suamiku, beliaupun menganggukkan kepalanya seperti menyetujui.


Dengan degup jantung yang cepat, aku berjalan menuju podium. Sama seperti yang tadi dilakukan pak Alam, sebelum naik ke podium aku membungkukkan kepalaku pada pak CEO yang dibalas beliau dengan anggukan kepala dan uluran tangan selayaknya menyuruh saya meneruskan langkahku.


"Bismillahirrahmanirrohiim" ucapku dalam hati ketika kakiku mulai menapak menaiki tangga podium.


Mungkin karena gugup, sepatu yang kupakai menginjak dress bagian bawah yang menjuntai panjang sehingga menyebabkan aku limbung dan hampir terjerembab.


Sebelum tubuhku nyaris jatuh di lantai podium, sebuah tangan dengan cepat menarik tanganku sehingga aku jatuh tepat dipelukannya.


Dengan refleks aku melepaskan tubuhku dari pelukannya.


"Abang...?" ucapku tercekat dengan mata terbelalak


Seisi ballroom menarik nafas lega ketika mereka melihat jika Indah tidak terjatuh dilantai. Sebagian ibu-ibu mengelus dada mereka sambil mengucap rasa syukur.


"Bagaimana bos?, bagaimana perasaan anda saat istri anda dipeluk orang lain?, mana yang meluk ganteng" Afdal berbisik di dekat telinga Andi sambil menahan tawa


Andi yang semula khawatir ketika melihat istrinya mau terjatuh berubah marah ketika dilihatnya ada lelaki yang memeluk tubuh istrinya. Ditambah lagi dengan ucapan Afdal yang makin membuatnya panas.


Aku segera berdiri tegak dan membetulkan dressku agar tidak terjatuh lagi. Tapi diluar perkiraanku, abang Ariadi menggenggam tanganku dan menuntunku berjalan hingga sampai di sebelah MC.


Aku cuma terdiam tak bisa berbuat apa-apa saat dia menggenggam tangan dan membawaku berjalan. Aku hanya menurut saja dan bingung mau berkata apa.


"You can do it. I trust you" ucapnya lirih lalu turun dari podium.


Pak Alam yang sedari tadi belum turun, segera menghampiriku dan memegang bahuku.

__ADS_1


"*Make it easy Ndah, I trust you as like him"


"Thank you sir*" jawabku


__ADS_2