Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Prank Untuk Andi


__ADS_3

Brakkk!!! aku keluar dan membanting pintu.


Aku segera mencari keberadaan ketiga anakku. Tadi mereka di belakang, kok sekarang tidak ada.


Sambil menghapus airmata yang mengalir dipipiku, aku masuk kekamar belakang.


Kudapati ketiga anakku dan Raffa bersembunyi dalam selimut.


Kusibakkan selimut, kulihat Mikail dan Adam berpegangan tangan dengan wajah pucat.


Kupeluk mereka berdua untuk menenangkannya.


Begitu dalam pelukanku, mereka langsung menangis sesenggukan. Naura memelukku dari belakang, aku membawa mereka bertiga kedalam pelukanku.


"Kami takut" ucap Naura


Aku merasa sangat bersalah melihat ketiga anakku yang ketakutan. Tidak seharusnya aku berteriak-teriak tadi. Ah, nasi sudah menjadi bubur.


"Raffa ketempat ibuk dulu ya " bujukku pada Raffa.


Raffa mengangguk pelan lalu keluar.


"Ini sakit bun?" tanya Mikail mengusap wajahku


Aku menggeleng. Lalu aku mengganti baju ketiga anakku. Selesai mengganti baju mereka akupun berganti baju. Memoles sedikit bedak dan lipstik lalu menyambar kunci motor.


Setelah mengeluarkan motor aku memanggil ketiga anakku, mereka naik lalu aku segera tancap gas


Dengan pelan aku melajukan motor. Hampir satu jam perjalanan karena pelan, akhirnya kami tiba di depan Linggau Plaza. Aku segera memarkirkan motor dan mengajak anakku menuju Fun City.


Setelah membeli tiket masuk, aku mengajak mereka memasuki pusat permainan terbesar di kota Lubuklinggau ini.


"Terserah mau main apa" ucapku pada ketiga anakku yang segera berhamburan kepusat permainan.


Aku terus mengikuti dan mengawasi ketiga anakku bermain. Mereka sangat bahagia, segala permainan mereka coba. Tawa mereka melupakan kekesalan dan kesedihanku.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, di rumah


"Mbak rasa kecurigaan kita terhadap istri kamu itu benar"


"Benar itu apa kata Laras. Coba kamu fikir, mana ada orang mau membelikan baju mahal kepada orang yang baru dikenalnya? iya kan?" bu Mira menimpali


"Mana bajunya mahal begini" jawab Laras iri sambil mematut dirinya dicermin.


"Sampe kiamat juga, istri kamu tidak bakalan bisa beli baju mahal kaya gini Ndi"


"Benar itu apa kata ibuk"


"Bagaimana dengan Gustina? apakah dia tahu kamu sakit?" sambung bu Mira


Andi menggeleng


"Ya ampun Andi, kenapa kamu tidak menelpon dia?"


"Buat apa buk?"


"Ya, bagaimanapun jugakan dia calon istri kamu, jadi dia wajib tahu"


"Ibuk ngomong apa sih buk?, istri aku itu Indah. Gustina itu cuma selingan untuk aku" jawab Andi malas


"Selingan kok sampe tiga tahun" pak Hermawan berkata sambil terkekeh


"Terus kapan kamu kenalin ibuk ke Tina, Ndi?" desak bu Mira


"Nantilah buk, kondisi saya saja begini kok malah sibuk nanyain Tina"


Pikiran Andi menerawang "Beritahu aku jika istri kamu sudah menjadi janda" Hufffff... Andi menghembus nafas dalam. Ucapan lelaki bertopeng itu kembali terngiang di telinganya.


Kalau Indah aku ceraikan, nanti lelaki itu yang akan memperistri Indah, wahhh bisa kalah pamor dong aku. Lelaki itu sepertinya orang kaya, kalau dia tidak kaya tidak mungkin dia punya bodyguard. Siapa ya lelaki itu? tidak mungkin dia selingkuhan Indah. Wong Indah hanya tau di rumah dan sekolah, tidak pernah pergi jauh. Jadi dari mana lelaki itu kenal Indah?


Apa yang dikatakan ibu dan mbak Laras benar, jika Indah membayar lelaki itu dengan tubuhnya? Indahkan selama di Pekanbaru tidak punya uang.


Atau jangan-jangan lelaki itu adalah temannya kak Andri, kakaknya Indah? Kan kak Andri orang kantoran juga, orang BNN, bisa jadi itu relasi kantornya.

__ADS_1


Aaahhhhh.... Andi mengusap kasar wajahnya, kemudian meringis karena lupa jika wajahnya masih memar.


Pokoknya jika Indah aku ceraikan, Indah tidak boleh menikah dengan lelaki itu. Nanti dia jadi orang kaya dong, bisa belanja sesuka hatinya, bisa cantik, bisa jalan-jalan kemana saja.


Pikiran Andi makin kacau. Mana hari telah sore, Indah belum juga pulang, dia makin gelisah.


"Kemana tadi perempuan kasar itu, kok sampai sekarang belum pulang-pulang?" bu Mira berkata dengan nada jengkel


"Ngelayap lah buk" jawab Laras


"Jadi ini kerja istri kamu tiap hari Ndi?" lanjutnya emosi


"Setahu aku tidak pernah buk. Dia itu orang rumahan"


"Lah, ini sudah pukul lima kok belum pulang juga?"


"Jangan-jangan dia di rumah orang tuanya" kata Laras dengan suara tercekat


Bu Mira dan pak Hermawan kaget. Mereka saling pandang. Kemudian menatap Andi


"Bahaya buk kalau Indah ngadu dengan orang tuanya" jawab Andi tak kalah khawatirnya


"Kalian tahu sendiri orang dusun itu kaya apa, apalagi tadi sebelum pergi Indah mengancam" sambungnya


Wajah bu Mira dan Laras pucat. Pak Hermawan jadi gelisah.


"Mending kita pulang saja buk, Andi biarkan sendiri saja. Dari pada nanti kita diamuk oleh keluarga Indah" pak Hermawan berkata


Akhirnya bu Mira dan Laras segera bangkit dan terburu-buru mengambil tas mereka lalu mereka pamitan dengan Andi.


Sampai di luar, pak Hermawan segera menyalakan mobilnya lalu segera tancap gas.


Sepeninggal orang tuanya, Andi jadi sendirian. Pikirannya menerawang, berfikir kemungkinan-kemungkinan termasuk kemungkinan jika sekarang Indah sedang berada di rumah orang tuanya.


"Mati aku jika kak Andri tahu kalau Indah aku pukulin. Belum lagi kak Angga, aduuhhh" gumamnya


"Apa aku telpon Indah saja ya, bertanya dia dimana, tapi apa iya dia mau angkat, kan tadi dia pergi dalam keadaan marah?, tapi kalau dia tidak pulang, siapa yang menjaga aku di rumah?" gumamnya bingung.


"Ah, aku coba dulu deh" lanjutnya


"Kenapa?" tanya Indah ketus


"Dimana bun?" Andi bertanya dengan suara pelan


"Bukan urusan kamu!"


"Pulang ya bun" bujuknya


"Malas"


"Siapa yang jagain ayah kalau bunda tidak pulang"


"Bodo amaatt"


"Jangan gitu bun"


"Kan ibuk sama mbak Laras ada. Suruh saja mereka yang ngurusin kamu"


"Mereka pulang"


"Kenapa kamu suruh mereka pulang. Harusnya mereka jangan pulang, jagain anak kesayangannya. Jangan bisanya cuma nyuruh menantunya yang tak tahu diri ini yang ngurusin anak mereka" jawabku dengan emosi meletup-letup


"Mereka takut" jawab Andi


Aku tertawa. Benar-benar terbahak. Kali ini mereka bisa aku gertak. Baguslah kalau mereka takut. Jadi jika mereka macam-macam lagi sama aku, tinggal aku gertak saja, pikirku


"Bunda dimana? pulang ya" lanjut Andi


Aku jadi punya ide untuk buat Andi shock


"Aku lagi di rumah kak Angga. Dan aku sudah ngomong semua sama dia kalau kamu nyiksa aku. Dan juga kalau ibuk dan mbak kamu maki-maki aku. Kamu tahu apa reaksi kakakku? Sekarang dia lagi mengasah parang panjangnya untuk mencincang kamu dan keluarga besar mu" ucapku dengan nada pasti


Andi yang mendengar itu ketakutan. Tubuhnya menggigil.


"Itu baru satu kakakku, belum kak Andri. Kamu tahukan kakak ku satu itu, dia dijulukin Samson dengan teman sekantornya karena keangkerannya. Siap-siaplah kamu Andi. Kamu akan matiiii" kataku menahan tawa

__ADS_1


"Jangan main-main bun, nggak lucu!" jawabnya


"Siapa yang main-main, aku serius" jawabku


Lalu panggilan terputus. Aku langsung cekikan begitu panggilan terputus. Mampus kamu!! kataku di depan hp


Sementara di rumah Andi yang ketakutan segera masuk selimut dan tidak berani berbuat apa-apa. Setiap suara motor yang lewat didengarinya lamat-lamat, takut jika itu adalah motor kakak-kakaknya Indah yang datang untuk membuat perhitungan dengannya.


...****************...


"Kita pulang yok Nak!" ajakku pada ketiga anakku setelah jam sudah menunjukkan pukul enam lebih sepuluh menit.


"Yaaaaa" jawab mereka dengan ekspresi kecewa


"Nanti bun" sambung Naura


"Maghrib sayang, kita shalat dulu, sudah itu kita makan-makan, baru setelah itu kita pulang" bujukku


Dengan memasang wajah lesu ketiga anakku berjalan gontai keluar dari fun city, lalu mereka aku ajak kearah ruangan Mushala yang juga ada dalam Plaza ini. Setelah selesai shalat baru mereka aku ajak ke rumah makan ayam goreng cepat saji yang ada di lantai tiga.


Ketiga anakku makan dengan lahap. Hari ini mereka benar-benar aku manjakan. Apapun keinginan mereka aku turuti, toh aku ada uang, fikirku.


Selesai makan, tampak mata kedua jagoanku mulai meredup.


"Waduh, bagaimana ngajak mereka pulang ini?" gumamku bingung


"Telpon uwak saja bun" Naura memberi usul


Aku melihat jam di hp, jam tujuh lewat. Biasanya kak Andri belum pulang ini. Tak salah jika aku menelponnya menanyakan dia ada dimana.


Ku dial nomor kak Andri, tersambung langsung diangkatnya


"Ya sat?" tanyanya


"Dimana kak?" tanyaku balik


"Kongkow di Lapangan Merdeka, kenapa? jawabnya


"Aku lagi di Linggau Plaza dengan anak-anak, bisa minta tolong bawa anak-anak, soalnya kakak dan adek tidur"


"Lah Andi mana?"


"Di rumah"


"Jadi kalian cuma berempat?"


"Iya" jawabku


"Tunggu di sana. Kakak langsung nyusul" jawabnya. Lalu panggilan terputus tanpa aku menjawab terlebih dahulu


"Uwak bakal kesini yuk, kita tunggu uwak ya" kataku pada Naura yang masih makan ice cream.


"Kok uwak panggil bunda "sat" sih?" tanyanya polos


"Ohhh sat itu maksudnya Pisat, artinya anak bungsu kalau bahasa dusun Linggau dan Musi Rawas" jelasku


Naura tampak ber O panjang.


Tiba-tiba ponselku berdering. Kak Andri yang menelpon


"Dimana?"


"Lantai 3 kak" jawabku


Kembali panggilan terputus


Tak lama kakakku telah muncul, dia segera menggendong Mikail sedang aku menggendong Adam. Naura aku gandeng.


Kami turun pakai eskalator. Setelah sampai parkiran aku segera memasukkan anakku yang sudah tertidur kedalam mobil kakakku. Ketiga anakku aku naikkan kemobil dan aku sendirian naik motor.


Sebelum Naura naik mobil, aku sempat berbisik kepadanya


"Jangan bilang sama uwak kalau tadi bunda marah-marah di rumah ya"


Naura mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu barulah dia aku naikkan kedalam mobil. Dan aku juga mulai menghidupkan motorku lalu aku berjalan di depan, kakakku mengikutiku dari belakang


__ADS_2