Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Berangkat ke Pekanbaru


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggupun tiba, kami berangkat lewat Bengkulu untuk naik pesawat ke Pekanbaru. Seluruh akomodasi ditanggung oleh perusahaan, jadi kami yang dari kota Lubuklinggau dan kabupaten Musi Rawas tinggal berangkat saja.


Setelah menitipkan ketiga anakku pada orang tua ku karena aku akan pergi seminggu, maka hari ini kami berangkat dengan travel yang lagi-lagi telah disediakan oleh perusahaan.


Aku dan suamiku dijemput paling awal oleh travel lalu setelah itu baru menjemput kepala cabang dari kabupaten yang kebetulan rumahnya di kota.


Mungkin karena satu tujuan dan akan sama-sama di negeri orang, aku dan bu Suryati jadi cepat akrab begitu kami sudah di dalam mobil.


"mbak Indah ibu lihat masih sangat muda, umur berapa? tanyanya ramah.


"31 buk" jawabku


"Ohh, jauh dengan ibu, ibu sudah 54 tahun, dan bentar lagi bapak akan pensiun. Anak muda jaman sekarang keren-keren, masih muda sudah jadi bos" lanjutnya


"Tidak jauh beda dengan ibu saya kalau begitu bu" jawabku


Pak Alam, suami bu Suryati tampak ngobrol serius dengan suamiku. Aku dan bu Suryati duduk di belakang, sedang di depan, supir dan seorang supervisor, dan di bangku tengah suamiku dan pak Alam.


"Ibu sering ikut acara beginian? tanyaku.


Jelas aku perlu tahu, secara suaminya sudah senior, pasti bu Suryati lebih berpengalaman dibanding aku yang baru ikut pertama kalinya.


"Baru tiga kali ini, dulu pernah di Semarang dan Manado"


Aku manggut-manggut, mataku tampak takjub begitu beliau menyebut nama dua kota tersebut. Aku belum pernah menyeberang, jadi aku tidak tahu dunia luar. hahaa


"Mbak Indah?"


"Baru ini bu, makanya saya nervous" jawabku


Tampak bu Suryati terkekeh.


"Ibu dulu juga gitu mbak, tapi kita harus pede, karena kalau dulu ibu-ibu kepala cabang itu berlomba-lomba dengan kemewahan"


"Saya rasa sekarang juga masih sama bu"


Kami kompak sama-sama terkekeh.


Tak dirasa perjalanan sudah sampai di Kota Dingin, aku segera membuka kaca mobil, melihat pemandangan bukit dan tanaman sayuran yang menghijau disepanjang jalan. Aku melipat tangan dan memasukkannya ke dalam hijab besarku karena udara dingin masuk lewat jendela yang tadi kubuka.


"Dingin bun?" tanya suamiku yang segera memberikan jaket yang dipakainya kepadaku


"Ehm, kalau masih baru memang kaya gitu ya Pa, masih mesra" goda bu Suryati yang melihat perhatian Andi padaku.


Aku tersipu malu, lalu aku mengambil jaket dan segera memakaikannya di tubuhku.


Andi segera meminta supir untuk minggir ke warung yang berjejer sepanjang jalan, lalu dia turun dan telah kembali dengan minuman ringan dan beberapa roti untuk cemilan serta tak lupa dengan sekantong buah jeruk dan pisang.


"Ini silahkan dimakan, biar kita tidak ngantuk" ucapnya.

__ADS_1


Lalu Andi membagi belanjaannya tadi kedepan dan kebelakang.


"Ini spesial buat bunda" ucapnya sambil memberikan semika besar buah strawberry.


"Ehm, ehm" bu Suryati berdehem menggoda.


Aku kembali tersenyum malu ketika aku meraih strawberry yang diulurkan Andi padaku.


"Aku juga mau Pa dimanjain" bu Suryati kembali berkata dengan nada menggoda yang membuat kami satu mobil tertawa.


Perjalanan kurang lebih dua jam lagi, setelah cukup banyak berbincang-bincang, akhirnya tanpa sama-sama kami sadari, baik aku maupun bu Suryati tertidur lelap.


...****************...


"Sayang, sayang.." Andi memanggil istrinya yang masih terlelap ketika mobil telah tiba di depan sebuah hotel.


Bu Suryati terjaga terlebih dahulu, dia mengerjap-ngerjap matanya dan menguap. Di regangkannya tubuhnya yang dirasa penat. Dia lalu menoleh pada Indah yang masih tampak lelap.


"Ndah, bangun. Kita sudah sampai" ucapnya sambil menggoyangkan tangan Indah.


Aku membuka mataku dengan segera. Tersenyum samar padanya. Pak Alam sudah turun terlebih dahulu, beliau mulai menurun barang-barang dari bagasi dibantu oleh pak Afdal, supervisor kantor.


"Ayo sayang, kita turun" ucap Andi padaku.


Aku mengangguk dan turun bersama dengan bu Suryati. Kami menarik koper kami masing-masing menuju kamar yang telah kami reservasi sebelumnya.


"Nanti kita ketemu di restoran jam makan siang" ucap pak Alam sebelum akhirnya kami berpisah di depan kamar masing-masing.


Aku dan Andi masuk kekamar hotel, aku meletakkan koper di sudut ruangan lalu berjalan kearah balkon. Aku berdiri di sana sambil memandang taman yang ada di hotel tersebut.


"Sayang?" Andi kembali memanggil ku


Aku hanya menoleh sekilas lalu kembali melihat keluar.


"Terima kasih karena telah mau mendampingiku ke Pekanbaru" tiba-tiba Andi telah berdiri di sampingku.


Aku diam tak menjawab.


"Aku tahu aku banyak salah, maafkan aku"


"Sudahlah, aku bosan mendengarnya" jawabku sambil masuk meninggalkannya


"Sayang..."


Aku tersenyum menyeringai tiap dia memanggilku dengan kata "sayang". Entah kenapa itu terdengar geli di telingaku.


"Aku mau meletakkan pakaian di lemari, kalau ayah mau istirahat, silahkan" ucapku


Andi mengeluarkan rokok lalu mulai menghisapnya dalam, dia tidak masuk melainkan tetap di balkon.

__ADS_1


Saat aku sibuk membereskan isi koperku, hp ku berbunyi. Aku berjalan mengambil hp yang tadi aku letakkan di atas kasur. Tampak dilayar nama Mia.


"Assalamualaikum sayang" ucapku begitu menekan tombol berwarna hijau. Aku meletakkan hp di pundakku lalu kembali meneruskan aktifitasku memberekan pakaian.


"Where are you beb? ucap suara di seberang


"Bengkulu"


"Wah, jalan-jalan terus ya"


"Perjalanan bisnis say, kamu lagi apa?"


Lalu obrolan kami berlanjut lama, aku mondar mandir sambil terus mengobrol pada Mia. Sesekali cekikikan dan sesekali memasang wajah cemberut.


Andi yang melihat kelakuan istrinya jadi bertanya-tanya siapa gerangan yang dari tadi menelpon istrinya.


"Dadagh say" ucapku begitu obrolan kami mau berakhir.


"Siapa yang menelpon?" Andi bertanya dengan nada curiga


"Teman" jawabku


"Kok panggil beb, sayang?" ucapnya


"Biasalah kalau sesama cewek akrab emang gitu manggilnya"


"Ku lihat bunda begitu bahagia jika telponan sama dia, cekikan, terbahak-bahak"


"Emang iya, dia baik. Dia mengerti suka dukaku, jadi dia bisa jadi tempat aku mengadu"


"Berbagilah denganku bun" ucap Andi memeluk istrinya dari belakang


Aku melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.


"Andai itu bisa" jawabku menatap matanya


"Kita mulai lagi dari awal" ucapnya lemah


Aku diam dan berjalan menjauhinya. Aku kembali meraih buah strawberry yang tidak habis saat diperjalanan tadi, mulai mengunyahnya tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Besok kita akan ke Pekanbaru, aku ingin sekembalinya kita dari sana, kita bisa seperti dulu lagi"


"Insha Alloh" jawabku


"Siapa yang nelpon tadi bun?" kembali dia bertanya.


"Mia" jawabku sambil menatap lekat bola matanya yang terbelalak kaget.


Andi langsung menelan ludah ketika Indah menyebutkan nama Mia. Pikirannya mulai menerka nerka apa kira-kira yang telah Mia katakan tentang dirinya.

__ADS_1


"Kenalkan?" tanyaku


Andi mengangguk tanpa bersuara. Aku tersenyum dalam hati melihat perubahan sikapnya


__ADS_2