
"Ini kenapa sayang?" ucap Tina ketika dilihatnya kepala Andi diplester.
Andi menepiskan tangan Tina dari kepalanya.
"Kamu pasti berantemkan dengan istri kamu?" tanyanya lagi
"Yakin kamu terus sama dia dibanding aku?" lanjutnya dengan menempelkan kepalanya di pundak Andi
Andi masih diam, dalam hatinya masih ada amarah pada Indah yang telah melukainya
"Terus yang ngobatin kamu siapa, itu ada plester nya?"
"Indah yang ngobatin aku" jawab Andi malas
"Loh, sudah mukul kamu dia masih nolong kamu?, baik juga hati perempuan itu" ucap Tina sambil manggut-manggut
"Indah tidak pernah seperti itu, tapi sejak pulang dari Pekanbaru dia jadi sangat melawan sama aku"
"Kata kamu dia di Pekanbaru dibelikan seseorang dress yang mahal-mahal. Bisa jadi itu selingkuhannya juga sayang, coba deh kamu fikir, jaman sekarang mana ada cowok yang mau belanjain cewek kalau bukan cewek itu orang special?" ucap Tina mengompori Andi
Andi tercenung memikirkan ucapan Tina. Omongannya sama persis dengan yang dikatakan ibu dan mbak Laras. Atau jangan-jangan memang benar, Indah bermain serong juga di belakangku.
Tapi rasanya tidak mungkin, Indah terlalu lembut untuk berbuat jahat. Dia tidak mungkin serong di belakangku, selama ini dia selalu meminta untuk mundur, tetapi masih selalu bertahan karena dia selalu menganggap jika aku telah berubah.
Tidak, tidak. Indah tidak mungkin punya lelaki lain. Batin Andi berkecamuk dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan.
"Wajahnya saja sayang yang sok polos, tapi di belakang kamu ternyata dia pintar juga" kembali Tina mengompori dengan harapan Andi akan termakan
"Coba deh kamu ingat lagi bagaimana kalian waktu di Pekanbaru, adakah tingkah dan sifatnya yang berubah?, misalnya tiba-tiba dia jadi bahagia, kan kita bisa lihat kebahagiaan seseorang itu dari ekspresi wajah dan matanya"
Andi kembali menerawang. Dia kembali teringat ketika ada lelaki yang memeluk Indah ketika dia mau terjatuh dan juga tiba-tiba ada Jennifer yang datang.
Ahh, dia ingat. Jennifer pernah berkata jika ada lelaki yang naksir sama istrinya. Ahh, benar. Indah memang ada main hati ketika mereka di Pekanbaru.
Apalagi kemarin Indah juga bilang bahwa malam tahun baru dia sangat cantik.
Afdal, iya Afdal. Lelaki itu pasti masih menyimpan foto istrinya seperti yang Indah katakan kemarin.
Secepat kilat disambarnya ponsel yang tergeletak di atas meja, langsung mendial nomor Afdal.
Berdering tapi belum diangkat. Diliriknya jam yang tergantung di tembok kosan Tina, jam satu siang. Itu artinya jam istirahat baru saja habis. Mungkin Afdal masih makan, fikirnya.
Kembali dia menelpon Afdal, dan kali ini diangkat
"Ya Bos?" jawab Afdal di seberang
"Kamu dimana?"
"Kantor"
"Jangan pergi kemana-mana, ada sesuatu yang harus kita bicarakan"
"Apa itu bos?"
"Nanti aku jelaskan"
Panggilan terputus, Andi segera bangkit dari kursi dan segera meraih kunci mobil.
Baru dia mau berjalan, Tina menarik tangannya. Dengan cepat Tina menangkap bibir Andi dan **********. Andi yang mendapat serangan tiba-tiba dari Tina tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan rakus dia juga ******* bibir Tina.
Jadilah mereka berciuman panas. Setelah beberapa menit mereka saling melepas dan mengambil nafas masing-masing.
Baru setelah itu Andi meninggalkan Tina yang mengantarnya dengan senyuman
...****************...
Wajah Andi memerah demi melihat foto istrinya ada di dalam galeri hp Afdal.
Di sana Indah tampak cantik sekali. Anggun, berkelas, dan elegan.
Ada banyak sekali foto Indah di sana. Andi mengalihkan matanya dari menatap hp, pindah menatap tajam Afdal
Afdal tenang dan bersikap biasa saja.
"Hapus semua foto istri saya" ucapnya geram
Afdal tersenyum sinis.
"Hapus saya bilang!" bentaknya
"Apa bapak tidak lihat, difoto itu istri bapak tidak sendirian, kami foto sama-sama. Ada saya, mbak Indah, pak Alam dan istri, dan juga Jennifer" jawab Afdal santai
__ADS_1
Dada Andi turun naik menahan marah.
"Terus kenapa itu ada foto istri saya sendirian!"
"Ohhh,, itu saya foto diam-diam tanpa diketahui mbak Indah" Afdal masih menjawab dengan santainya
"Kamuuu..." ucap Andi sambil mengepalkan tangannya
Afdal terkekeh.
"Bapak ingatkan, ada lelaki yang menolong mbak Indah waktu malam meet and great?
Andi melengos demi mengingat kejadian malam itu.
"Dia adalah anak angkatnya CEO kita" lanjut Afdal sambil terkekeh
Wajah Andi berubah tegang.
"Dan saya dengar, dia sangat pintar. Seluruh karyawan dari Sabang sampai Merauke dia semua yang memegang datanya. Termasuk rekam jejak masa lalu dan masa sekarang"
"Hati-hati bos, perbuatan bos mulai tercium oleh beliau"
Wajah Andi makin menunjukkan amarah pada Afdal yang masih tampak santai
"Awas jika ada diantara kalian yang melaporkan segala tingkah laku saya" ancamnya
Afdal terkekeh, Andi semakin tersinggung melihat kelakuannya
"Tanpa kami laporkan, beliau tahu sendiri bos. Sudah saya bilang tadi, anak buah beliau itu ribuan. Apalagi saya lihat, sebanyak perempuan di pertemuan kemarin hanya Mbak Indah yang menarik perhatiannya"
"Jangan ngarang kamu!" bentak Andi lagi
"Ngarang bagaimana bos, saya punya mata. Dan bos sendiri bisa melihatkan bagaimana dia menggenggam tangan mbak Indah dan mengantarkannya ke podium"
"Keluar kamu dari ruangan saya sekarang!" bentak Andi
Afdal bangkit dan terkekeh. Lalu dia segera pergi berjalan kearah pintu. Sebelum keluar, kembali dia menoleh pada Andi yang gusar
"Berfikirlah yang jernih bos, jangan karena batu kali anda melepaskan berlian" lalu dia keluar dan menutup pintu
Sepeninggalnya Afdal, Andi mengamuk di ruangannya. Dia semburkan laporan yang menumpuk di atas meja.
Hatinya panas. Dia marah ada lelaki lain yang juga mencintai istrinya.
Arghhhh... ucapnya frustasi sambil merebahkan kepalanya kesandaran kursi.
Kembali dilihatnya foto Indah yang tadi dia ambil di hp Afdal. Tampak senyum manis Indah di sana. Benar kata Afdal, istrinya sangat cantik.
Ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berkali-kali dia menghembus nafas kasar dengan harapan hatinya jadi lega.
"Indahhhh..." gumamnya
Diraihnya ponsel dan segera mendial nomor istrinya
"Angkat Ndah, tolong angkat" gumamnya khawatir
Tak diangkat, diulangi lagi olehnya mendial nomor istrinya. Kembali tak diangkat.
"Arghhhh..." teriaknya frustasi
Segera dia menelpon Rian
"Yan, keruangan ku sekarang!" ucapnya keras
Tanpa menunggu jawaban Rian, Andi langsung mematikan ponselnya. Tak lama pintu diketuk, dan muncullah wajah Rian
Rian melihat ruangan bosnya begitu berantakan. Kertas-kertas berserakan di lantai.
"Kumpulkan kertas-kertas itu!" perintahnya dengan nada marah
Rian hanya mengangguk, tidak berani menjawab demi melihat sang bos sedang marah
"Susun sesuai dengan filenya masing-masing. Jangan sampai salah!" lanjutnya lagi
"Iya pak" jawab Rian pelan
Andi kembali merebahkan kepalanya kesandaran kursi sambil memijit keningnya.
Rian dengan takut-takut melirik bosnya sambil terus memunguti kertas dan menyusun sesuai dengan filenya masing-masing.
"Rian, kamu pernah berhubungan dengan istriku tidak?" tanya Andi sambil masih memijit keningnya
__ADS_1
"Maksudnya pak?" tanya Rian kaget
"Pernah tidak kamu smsan atau telponan dengan istriku?" tanyanya lagi
Wajah Rian menegang. Tapi dia berusaha menutupinya dengan terus menyusun kertas dan memasukannya kedalam map
"Tidak pernah pak. Punya nomor ibu saja tidak" jawabnya
Andi diam, dia masih memijit keningnya.
"Waktu istri saya kesini, saya lihat dia mengobrol sama kamu"
Rian kembali terkesiap.
"Oh waktu itu ibu cuma bertanya keberadaan bapak" jawabnya
Andi manggut-manggut
"Kamu tahu tidak siapa kira-kira yang melaporkan perbuatan saya dengan istri saya?" Andi menatap Rian
Jantung Rian berdegup kencang, tapi dia berusaha tetap tenang jangan sampai Andi tahu jika yang melaporkan semua perbuatan bejat Andi adalah dirinya
"Tidak tahu pak" jawabnya pelan
Andi menghembus nafas dalam.
"Menurut kamu, apakah istri saya cantik?"
Rian menelan ludahnya
"Cantik tidak?Jujur saja, aku tidak akan marah" sambung Andi
Rian bingung harus menjawab apa
"Cantik atau tidak itu relatif pak. Karena kecantikan wajah akan luntur seiringnya usia. Cantik yang hakiki itu adalah kecantikan hati. Dan aku melihat, istri bapak memiliki keduanya"
Wajah Andi terkesiap. Dia mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas dalam.
"Jadi cuma aku yang tidak melihat kecantikan di wajah istriku" batinnya
"Coba kamu lihat ini!" ucapnya sambil memberikan ponsel pada Rian.
Rian berdiri dari kursinya, dan berjalan kearah meja Andi. Diraihnya ponsel tersebut dan diamatinya gambar yang ada di sana
Matanya terkesiap. Di sana tampil wajah Indah yang tersenyum sumringah
"Cantik tidak?" tanya Andi lagi
Rian menganggukkan kepalanya sambil mengembalikan ponsel tersebut pada Andi
"Andaikan istriku itu masih gadis kamu naksir tidak?" tanyanya
Rian menggeleng cepat. Tampak sekali kekhawatiran di matanya
"Inikan seandainya, kamu tidak usah takut, kamu naksir tidak?"
Rian menganggukkan kepalanya.
Andi tersenyum kecut.
"Kalau pekerjaan kamu sudah selesai, kamu bisa pergi" ucapnya pada Rian yang segera menumpuk kembali map-map laporan di atas meja Andi lalu bergegas keluar ruangan.
Hati Andi makin berkecamuk tak karuan. Ternyata banyak lelaki yang mengagumi istrinya.
Kembali didialnya nomor istrinya dan lagi-lagi tidak diangkat. Dengan frustasi Andi bangkit dari kursi kerjanya lalu menyambar kunci mobil.
Seluruh karyawan saling pandang begitu melihat Andi turun kebawah dengan wajah tegang.
Sampai di parkiran, Andi segera mengeluarkan mobilnya dan menjalankannya dengan cepat.
...****************...
"Kamu kenapa sayang?" tanya Tina begitu Andi masuk kekosannya dengan kasar
Andi tidak menggubris ucapan Tina, dia segera menarik perempuan itu kekamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur dengan kasar.
Andi melucuti bajunya dan dengan kasar dia menarik baju Tina. Setelahnya mereka melakukan perbuatan terlarang lagi.
Sepanjang bercinta dengan Tina, Andi tidak memakai perasaan, yang ada hanyalah emosi. Kemarahannya pada orang yang memuji istrinya diluapkannya pada Tina yang hanya merintih kesakitan karena perlakuan kasar Andi
"Jangan ambil istriku! jangan ambil istriku!! desahnya
__ADS_1
Tina yang mendengarkan ******* Andi memendam marah.