
"Aku yang dekat bunda!" teriak Adam
"Aku!" teriak Naura
"Aku!" Mikail tak mau kalah
Aku tersenyum saja melihat ketiga anakku yang rebutan ingin tidur di sebelahku
"Bunda yang ditengah, nanti kalian disebelah bunda semua" jawabku melerai
"Tapi aku pas sebelah bunda!" teriak Naura cepat
"Aku juga!" teriak Adam
"Lah aku dimana?" jawab Mikail sedih
"Kakak sebelah ayuk atau sebelah aku" usul Adam
Kembali Mikail mengalah dan memilih tidur di sebelah adiknya. Aku segera mengelus kepalanya sampai dia tertidur.
"Masih pengalah" batinku sambil terus mengelus kepalanya.
Malam ini kami tidur dengan menggelar karus di tengah-tengah rumah. Kak Yana dan kak Angga beserta keluarga tidur semua di rumah umakku.
Kecuali kedua anak bujang yuk Yana, mereka pulang ke rumah mereka dan tadi sudah membawa motor mereka masing-masing
Karena terlalu kecapaian, aku langsung terlelap begitu kepalaku bertemu bantal, begitu juga dengan ketiga anakku.
...****************...
Aku bangun kesiangan, padahal biasanya tidak pernah. Ketiga anakku masih terlelap, lalu aku duduk dan mengedarkan pandanganku. Semua keponakanku sudah tak jelas kemana arah tidur mereka. Kak Angga dan kak Andri sama saja, sama lasaknya.
Aku tersenyum melihat posisi kedua kakakku yang tak beraturan. Lalu aku bangkit dan menuju dapur, ternyata ayukku dan yuk Diana sudah sibuk masak. Umakku sedang mencuci piring
"Biar aku saja, umak kembali saja kedepan" ucapku sambil mengambil piring dari tangan umakku
Umakku menurut dan memilih duduk sambil memperhatikan kami bertiga yang saling bahu membahu.
Ketiganya langsung sibuk bertanya padaku tentang bagaimana Arab dan bagaimana pekerjaanku. Semuanya aku ceritakan dengan antusias. Ketiganya takjub mendengar ceritaku
Jam sembilan pagi semuanya beres, baik masak maupun mencuci baju. Anak-anak dan kakakku juga sudah bangun, dan sekarang antri menunggu giliran mandi
"Kemana kita hari ini?" tanyaku setelah kami selesai sarapan
Zahra langsung menyebutkan tempat wisata begitu juga dengan yang lain. Ketiga anakku tidak ada yang berkomentar, ketiganya lebih memilih memeluk dan tidur di pahaku
"Bagaimana jika malam minggu nanti kita adakan syukuran" ucap bapakku karena mendengar semua cucunya sibuk mengajakku jalan-jalan
Umak dan saudaraku setuju, jadi aku menyetujui juga.
Setelah siang, kembali keponakanku mengajak jalan-jalan. Tapi ketiga anakku menolak, mereka ingin seharian di rumah bersamaku. Jadi kedua anak bujang yuk Yana dan Zahra aku beri uang lima ratus ribu untuk mereka jajan. Setelah menerima uang dariku, ketiganya melesat pergi
Saat aku dan ketiga anakku santai di kamar sambil bercerita, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara ramai.
"Tetangga kita kesini Ndah" ucap umakku ketika masuk kamar
Aku dan ketiga anakku bangun dan kami keluar. Ternyata di ruang tamu telah ada tetanggaku dulu, bu Lis dan yang lain
Aku segera memeluk mereka
"Kami tahu dari Dian kalau kamu pulang" ucap Bu Lis
Aku tersenyum kearahnya
Lalu kami sibuk bercerita, bernostalgia ketika kami masih jadi tetangga
__ADS_1
Saat bu Lis nyerempet menyebut nama Andi aku memberikan kode menggeleng, aku tidak ingin ketiga anakku mendengar keburukan ayah mereka di masa lalu
...****************...
Aku memeluk Naura dengan haru ketika pagi ini aku dan umak bapakku mengantarnya kembali ke Pesantren
"Nanti sabtu sore bunda jemput, Insha Alloh" janjiku
Naura mengangguk. Setelah Naura masuk kekelas dan aku berpamitan dengan kepala asrama, aku dan kedua orang tuaku pulang
"Kamu saja sat yang bawa mobil" ucap bapakku
"Bapak saja, aku ingin bermanja sama umak" jawabku sambil memeluk umakku
Akhirnya bapakku kembali mengalah dan mengemudikan mobil barunya.
Singkat cerita, akhirnya sabtu pagi di rumah umakku telah ramai dengan tetangga yang rewang untuk acara syukuran malam nanti
Aku sangat bersyukur karena para tetanggaku begitu antusias membantu kami.
"Undangannya berapa kak?" tanyaku pada kak Andri yang sibuk melihat orang memasang tenda
"Paling tetangga kita saja" jawabnya
"Anak panti?" potongku cepat
"Perlu ajak mereka?" jawab kak Andri menoleh kearahku
"Kok gitu jawabnya, perlu lah kak, aku tak ingin kita makan enak tidak ngajak mereka" jawabku sewot
"Banyak sekali sat, tidak cukup tenda"
"Tambah lagi kalau begitu" jawabku
Kakakku mengangkat alisnya mendengar jawabanku
"Astaghfirullah" jawab kakakku kaget
Aku terkekeh
"Satu saja" bujukku
Kakakku menurut lalu dia sibuk menelpon beberapa temannya dan Alhamdulillah dua jam setelahnya datanglah sebuah pick up membawa seekor sapi besar
Tetanggaku kembali heboh ketika kak Angga mengatakan akan memotong sapi untuk lauk makan siang dan malam nanti ketika syukuran.
Setelah seorang ustadz datang dan menyembelih sapi, kembali tetanggaku bahu membahu memotong dagingnya.
Jam empat sore aku menjemput Naura di pesantren bersama kedua anak lelakiku.
"Bisa bawa mobil?" tanya salah seorang ibu ketika melihatku membuka pintu mobil bapakku
Aku tersenyum sambil mengangguk padanya
"Insha Alloh bisa bu" jawabku
Lalu aku segera melesat menjemput Naura. Tak butuh waktu lama aku sudah sampai dan setelah mendapat ijin, aku kembali pulang kerumah dengan ketiga anakku
"Alangkah besar tenda ini bunda" ucap Naura ketika kami turun dari mobil dan memarkirkannya di pinggir jalan
"Undangannya banyak" jawabku
Lalu kami masuk kerumah, Naura menyalami setiap orang yang ditemuinya. Mereka semua memuji Naura, terutama postur tubuhnya yang sudah tinggi melebihi tinggiku
"Berapa tingginya sekarang Naura, sudah seperti tiang listrik kamu" ucap seorang ibu ketika Naura menyalaminya
__ADS_1
"Terakhir ngukur kemarin 168 Nek" jawab Naura
Mereka berdecak kagum mendengar jawaban Naura
"Baru kelas 2 SMP sudah segitu tingginya, gimana kalau SMA" celetuk mereka
Aku dan Naura tersenyum, lalu aku mengambilkan Naura makan
"Makan dulu nak" ucapku sambil duduk di sebelahnya
Saat Naura mau mengambil piring di tanganku, aku menolaknya. Aku memilih menyuapinya
Melihatku menyuapi Naura, Mikail dan Adam tak mau kalah, mereka minta suapi juga
...****************...
Acara syukuran sudah berlangsung, dapat aku lihat jika tenda yang sangat luas ini penuh dengan tamu undangan.
Selesai membaca surah Yasin ada seorang ustadz memberikan tausiyah, selesai dengan tausiyahnya tiba-tiba kembali ada seorang ustadz yang maju memberi sambutan
"Kami tidak pernah bertemu dan tidak pernah tahu siapa itu bunda, tapi panti kami setiap bulan mendapatkan santunan dari beliau" ucapnya
Aku yang mendengar menunduk malu. Mengapa ini harus disebutkan sesalku dalam hati
"Kami dari seluruh kepala panti yang berjumlah sepuluh orang, meminta dengan hormat kepada Bunda untuk naik kepanggung, kami ingin mengucapkan terima kasih secara langsung" lanjutnya lagi
Aku langsung menutup wajahku sambil menggeleng berkali-kali. Seluruh mata yang kenal padaku langsung menoleh kearahku
Kak Andri maju, berjalan kearahku dan membawaku berdiri. Aku menggeleng kearahnya
"Mengapa harus begini sih kak, akukan sudah bilang jangan sampai ada yang tahu jika aku menjadi donatur" ucapku lirih
"Mana kakak tahu, kakak juga kaget" bisik kakakku
Dengan langkah berat aku mengikuti kakakku naik kepanggung, setelah melihatku berdiri di panggung dengan kakakku seluruh anak panti yang berpakaian putih bersholawat.
Airmataku tidak bisa aku bendung saat mereka bersholawat, bertambah haru ketika diiringi dengan doa dari mereka khusus untukku.
Selesai bersholawat, sepuluh kepala panti beserta istrinya naik kepanggung bersalaman denganku. Aku makin menangis sesenggukan ketika ratusan anak panti itu ikut naik dan mencium punggung tanganku. Sampai bapakku ikut naik memegangku karena melihatku yang menangis sesenggukan.
"Sudah kaya, dermawan pula" bisik salah satu tamu undangan pada temannya
"Janda kaya tuh, wahhhh lelaki mana yang berani mendekatinya sekarang" balas temannya
"Andai Andi tahu jika Indah jadi jutawan sekarang, aku yakin dia nyesal menceraikan Indah" sambung yang lain
Mereka kompak mengangguk dan makin respect melihat kedermawanan Indah.
Jam sepuluh malam acara syukuran selesai, dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Yang membuatku makin terharu adalah, ketika para tamu undangan pulang, seluruh anak panti membereskan kursi, merapikan dan mengumpulkan semua sampah sisa makan dan botol bekas air mineral
Sedangkan yang perempuan mengambil alih mencuci ratusan piring. Tetanggaku yang awalnya akan mencuci piring kotor, segera menyingkir begitu mereka yang mengambil alih.
Selesai itu mereka membersihkan rumah. Rumah, piring kotor dan tenda sudah rapih dan bersih semua oleh mereka.
Saat mereka pulang aku mengucapkan terima kasih pada mereka semua. Dan ketika mereka semua menyalamiku, aku menyelipkan sebuah amplop yang kuisi sepuluh lembar uang merah ketangan mereka.
Begitu juga dengan ibu kepala yayasan, aku kembali menitipkan rezekiku pada mereka.
"Apalagi ini bunda" ucap mereka saat aku memberikan amplop itu
"Hak bapak ibu yang Alloh titipkan sama saya" balasku
Ibu-ibu itu memelukku dengan haru. Aku dan keluargaku mengantarkan mereka sampai ke bis yang kami sewa untuk mengantarkan mereka semua kepanti masing-masing
__ADS_1
"Terima kasih ya kak, berkat bantuan kalian semua acaranya berjalan lancar" ucapku pada kakak dan seluruh keluargaku
Lalu aku menggandeng ketiga anakku dan karena rumah sudah bersih rapih, kami kembali menggelar kasur di tengah rumah, tidur bersama lagi