
Serkan yang dipeluk Daddy nya dan Defne hanya mendongak heran
"What's wrong Dad?" tanyanya polos
Ozkan melepas dekapannya pada Serkan lalu berjongkok
"Lahqan sataeud 'iilaa almanzil bialsayaarat mae Daddy , wala turkab daraajatan nariatan baed alan , fahadha 'amr khatir" (Nanti pulangnya kamu naik mobil sama Daddy, jangan naik motor lagi, bahaya)
Serkan menaikkan alisnya berkali-kali sambil tersenyum
"Yajib ealaa al'ab 'an yujribaha , Serkan muta'akid min 'ana al'ab sayakun seydan" (daddy harus coba, Serkan yakin daddy akan senang)
"No!!!"
Aku menghembus nafas panjang sambil menarik tangan Defne
"Sweety, don't worry, trust me!"
Defne hanya mendongak menatap ke arahku
"Susah memang jadi anak orang kaya, ya kaya gini modelnya" ucapku kesal
"Sayang bukan seperti itu" Ozkan segera menangkap tanganku
"Tau ah!" jawabku sewot sambil segera menggandeng tangan umakku
Umakku langsung mencubit lenganku
"Jangan kurang ajar sama suami!" ucap umakku penuh penekanan
Aku hanya diam dan mengikuti Naura yang berjalan duluan. Adam segera menggandeng tangan nek anangnya, sedangkan Serkan menggelendot manja di tangan pak Abraham
Dan Defne melingkarkan tangannya ke lengan Daddy nya. Empat bodyguard yang lain mengiring di belakang
Kedatangan kami di pondok makan yang ramai pengunjung ini mengundang tatap mata seluruh yang hadir
Aku memasang senyum pada mereka
Beberapa orang melambaikan tangan kearah Naura yang Naura balas dengan lambaian tangan pula
"Itu tuh bu bidan Naura..." bisik mereka
Beberapa kamera secara tak sengaja mengarah kearah kami, atau mungkin lebih tepatnya kearah suamiku atau mungkin kearah kelima bodyguard kami, entahlah. Aku tak tahu
"Siap-siap jadi artis dadakan" lirik ku kesal kearah abang
Ozkan yang sadar jika istrinya masih kesal segera memilih duduk tepat di sebelah istrinya
Dan menyenggol bahu Indah dengan bahunya
"Maaf..." bisiknya
Aku bergeming dan masih memasang wajah masam
"Yuk mana ini waiters nya?" tanyaku
Naura berdiri dan berjalan. Dan lagi-lagi Naura menjadi pusat perhatian, melihat banyak yang memandangi Naura, Adam segera berdiri menyusul ayuknya dan berjalan bersebelahan dengan ayuknya
"Sepertinya kita butuh pak Abraham"
Naura terkekeh lalu segera mendekati bagian kasir
"Minta buku menunya mbak"
Dengan tergesa gadis belia itu memberikan kertas menu pada Naura
"Maaf bu bidan, kami takut mau kesana" lirih gadis muda itu
Naura tertegun dan melihat kearah meja dimana keluarganya duduk lesehan
"Kenapa?"
"Kami takut meleleh melihat cowok-cowok keren..."
__ADS_1
Naura membekap mulutnya menahan tawa
"lima lelaki besar itu bodyguard keluarga papa saya, dan itu yang duduk di sebelah bunda saya, itu papa saya" jelas Naura
Beberapa gadis itu berebutan melongok kan kepala mereka
"Dan yang ini adek saya"
Langsung gadis-gadis itu tersipu malu ketika Adam tersenyum kearah mereka
"Ayo, siapa yang mau ikut saya kesana, mencatat pesanan kami?"
Sontak beberapa gadis itu berebutan. Dan Naura kembali harus terkekeh
"Tadi pada takut, sekarang rebutan"
Mereka nyengir malu mendengar ucapan Naura
Akhirnya dengan tatapan iri dari gadis-gadis lain, satu orang gadis mengikuti langkah kami
Naura memberikan kertas menu ke tanganku. Lalu aku menunjukkannya pada umakku
"Kasihan suami dan anak-anakmu, mereka pasti akan heran melihat makanan disini" ucap umakku
Aku terkekeh
"Abang mau apa?" tanyaku
Ozkan tersenyum manis karena istrinya mulai melunak
"Terserah kamu saja, abang ikut"
Aku menarik bibirku kesamping mendengar jawabannya
Akhirnya aku menyebutkan beberapa menu makanan dan minuman dan segera waiters itu mencatatnya
"Kalau bisa jangan lama ya..." ucapku, waiters itu mengangguk
Aku menarik nafas dalam-dalam menghirup segarnya udara persawahan yang menghijau
"Bunda nanti kita kesana, ya?" tunjuk Naura kearah pematang sawah dimana banyak orang berfoto
Aku mengangguk. Lalu lima orang pelayan datang membawakan pesanan makanan yang tadi aku pesan
Benar apa yang dikatakan umak ku, mata abang tampak heran melihat beberapa piring yang terhidang
Aku segera mengambil satu piring kosong, mengisinya dengan nasi putih, lalu mengambil sepiring ikan bakar besar untuk abang
Kedua anak kembarku juga heran menatap beberapa menu di depan mereka. Aku tak menghiraukan keheranan mereka, aku segera mengisi piring mereka dengan nasi dan sama seperti abang aku memberi mereka berdua satu ekor ikan bakar besar
Kelima bodyguard kami makan di lesehan terpisah, itu kami sengaja agar mereka tak canggung saat makan. Jika kami satu tempat, bisa dipastikan mereka tak akan makan karena canggung dengan abang
Aku dan Naura langsung menarik piring yang berisi semacam kerang kecil dan langsung melahap isinya
Aku memejamkan mataku ketika kerang kecil, yang kalau kami orang Merasi menyebutnya remis atau pengsi, masuk kedalam mulutku
"Ya Alloh setelah sekian tahun akhirnya aku bisa mencicipi Pengsi ini lagi" gumamku
Ozkan menatap wajah istrinya lalu beralih kearah piring dihadapan istrinya
"Enak?"
Aku menoleh kearah abang dan menganggukkan kepalaku
"Enak banget" jawabku menggodanya
"Do you want try it?"
Defne menggeleng, sementara Serkan menjulurkan tangannya. Diambilnya satu, mencicipi dengan takut-takut lalu matanya berbinar
"Wow, its delicious, as like green mussels" ucapnya
Lalu Serkan ikut memakannya pula. Adam yang duduk di sebelahnya mendekatkan piring Pengsinya kearah Serkan, dan mereka makan berdua
__ADS_1
"Yakin nggak mau coba?" aku masih menggoda abang
Dan Ozkan tetap pada pendiriannya, dia menggelengkan kepalanya dan hanya memakan ikan bakar
Selesai makan, seperti janjiku pada Naura, aku mengajaknya berjalan di pematang sawah
Ozkan mengikuti langkah istrinya, dan tersenyum bahagia ketika melihat istri dan keempat anaknya sibuk berswafoto
"Abang sini, selfi sama aku" teriakku
Ozkan mendekat, dan berdiri di sebelah istrinya dengan membungkukkan tubuhnya
Aku segera mengambil gambar kami berdua, tidak hanya satu tapi banyak. Ternyata kelima bodyguard kami juga melakukan hal yang sama. Mereka berlima berfoto dengan background pemandangan alam yang aku yakin jarang mereka temui, terlebih dengan dua bodyguard kami yang kami bawa dari Jeddah
Tak lupa aku juga berswafoto dengan kedua orang tuaku. Lalu aku minta tolong pada orang untuk mengambil foto kami berombongan
Naura karena dia tinggi, jadi dia berada di pinggir, dan kelima bodyguard kami duduk di depan dengan mengapit si kembar yang berdiri di tengah-tengah
Selesai dengan acara foto aku mengajak abang berjalan-jalan mengikuti pematang sawah, sementara yang lain kembali ke pondok melanjutkan makan dan minum mereka
Aku banyak bercerita pada abang bagaimana aku kecil dulu, sering mandi di sungai, berkubang di kolam ikan yang sudah dikeringkan, mencari kangkung di sawah, sering membawa bekal dari rumah dengan teman-teman, lalu makan di pondok-pondok sawah
Dan Ozkan terkekeh membayangkan bagaimana kelakuan istrinya dulu
"Abang orang kaya sih, makanya masa kecil abang nggak seasyik aku" ucapku sombong
Ozkan kembali terkekeh dan mengusap sayang kepala istrinya
"Kita sudah berjalan jauh loh sayang, ayo kita kembali lagi"
Aku menghentikan langkahku, dan menoleh kebelakang, dan benar yang dikatakan abang, kami sudah cukup jauh berjalan lalu kami memutar badan dan gantian abang yang berjalan di depan
"Kalau naik motor?" tanya Ozkan
"Oh, kalau itu sih SMP aku sudah bisa naik motor bang"
"SMP?"
Aku terkekeh mendengar nada suara abang yang kaget
"Aku tuh punya dua kakak cowok bang, dan aku belajar bermotor dari mereka. Makanya semua jenis motor aku bisa"
Ozkan tampak menganggukkan kepalanya
"Pernah jatuh?"
Aku kembali terkekeh
"Pernahlah, bahkan pernah sampai keseleo"
Ozkan langsung menghentikan langkahnya dan menatap khawatir pada Indah
"Dulu..." jawabku cepat karena aku melihat wajah suamiku yang kembali tegang
"Nanti biar motornya dibawa Tomo atau Binsar saja, ya?"
Aku menggeleng
"Bagaimana kalau abang aku bonceng naik motor saja?"
Wajah Ozkan langsung memucat, dan aku terbahak
"Tenang, nggak bakal ngebut kok"
Ozkan tak menggubris omongan Indah, dia membalikkan badannya dan terus berjalan, dan aku yang mengekor di belakang abang sudah terbahak-bahak tak karuan
#Tolong mampir di novel baru aku ya...
Istri Yang Tergadaikan
Mohon like dan komennya🤭🤭
Author coba² ikut event, tidak berharap menang, tapi menyalurkan isi khayalan yang ada di otak🙏🙏
__ADS_1