
"Ummi bisa cari yang jauh lebih pintar dari saya" jawabku hati-hati
"Banyak yang pintar, tapi yang sreg di hati ummi cuma kamu" jawab ummi
Akun tersenyum dengan haru mendengar jawaban ummi
"Makanya saya akan menyelesaikan laporan proyek ini, baru setelah itu saya akan mengurus kepulangan saya" lanjutku
"Bisakah kamu lebih lama lagi di sini Ndah?" bujuk ummi
Aku tersenyum
"Insha Alloh ummi, tapi Insha Alloh aku pulang dulu. Aku rindu sekali ummi dengan ketiga anakku"
Ummi bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat kearah meja kerjaku.
"Kalau ummi meminta kamu memperpanjang kontrak kerja kamu disini, kamu bersedia?"
Aku diam bingung harus menjawab apa
"Jangan jawab sekarang, kamu pikirkan itu nanti. Yang pasti kamu kerjakan dulu yang ada di hadapan kamu, ya?, ummi sih berharapnya kamu masih bersedia kerja sama ummi"
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum pada ummi
Ummi menarik nafas dalam lalu kembali kemejanya, meneruskan kembali pekerjaannya, begitu pula denganku, aku kembali berkutat dengan laporan dan dokumen-dokumen yang harus aku selesaikan.
...****************...
"Ada hal yang harus saya sampaikan sama kamu" bbm nona Alima pada Ozkan siang ini
Ozkan yang sedang berada di pertambangan tampak mengerutkan keningnya begitu membaca bbm yang masuk
"Dua jam lagi saya sudah ada di hadapan anda" balas Ozkan
Kembali dia melihat proses proyek tambang yang sedang digarapnya berdua dengan Indah. Kali ini dia datang sendirian, tidak membawa Indah. Dia tak ingin kulit mulus kekasihnya itu terpanggang matahari
Setelah selesai mengecek seluruh keadaan proyek, Ozkan segera berpamitan kepada seluruh pekerja tambang dan kepala divisi.
Dia mengendari mobil dengan cepat. Dia tak ingin Alima menunggunya terlalu lama, dia yakin ini pasti ada hubungannya dengan Indah.
Jam empat sore waktu Jeddah, Ozkan tiba di rumah sakit tempat Alima praktik. Segera dia menuju lantai tujuh dan langsung keruangan Alima
"Apa yang ingin anda sampaikan" ucap Ozkan to the point ketika dia sudah duduk di kursi berhadapan dengan Alima
"Indah akan pulang ke Indonesia, dua hari lagi" ucap Alima
Wajah Ozkan menegang karena kaget mendengar ucapan Alima
"Anda serius?" tanyanya cepat
"Serius, dia sendiri yang mengatakan pada saya ketika kami kesalon, week end kemarin"
Ozkan mengusap dagunya
"Apakah dia mengatakan sesuatu pada anda?" tanya Alima
Ozkan menggeleng. Sejak mereka di Kingdom, hubungan mereka makin intens, mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan jika mereka pergi melihat proyek, pulangnya mereka pasti kencan. Dan Indah tidak pernah mengatakan jika dia akan pulang ke Indonesia
"Apa anda tahu alasan dia pulang?" tanya Ozkan
"Kontrak kerja dia sama ummi itu sudah berakhir, itulah sebabnya dia pulang, lagi pula dia sudah sangat rindu dengan ketiga anaknya"
Ozkan menarik nafas dalam
"Tapi proyek kami masih ada yang belum selesai, jadi Indah tidak bisa pulang begitu saja"
Alima menatap kearah Ozkan
"Indah bilang, proyek hotel tinggal finishing" tanya Alima
"Iya benar, hotel itu tinggal finishing" jawab Ozkan
"Makanya sekarang Indah ngebut ngerjakan laporan hotel, agar sepeninggal dia pulang, tidak ada pekerjaan yang tertinggal"
"Kalau begitu akan aku hancurkan hotel itu, agar Indah tetap disini, bekerja sama denganku"
"Come on Ozkan, anda jangan gila, kalau anda menghancurkan hotel itu, berapa ratus milyar Riyal anda dan investor lain rugi !" jawab Alima bingung
__ADS_1
"Jadi apa yang harus aku lakukan Alima. Aku tidak perduli seberapa banyak uangku habis, yang aku butuhkan Indah selalu bersamaku, apalagi sekarang, dia sudah kembali mencintaiku. Aku tidak akan melepaskan dia lagi"
Alima menarik nafas dalam lalu tersenyum menatap kearah Ozkan
"Seperti ini rupanya ya orang yang diperbudak cinta" ucapnya sambil terkekeh
Ozkan ikut tersenyum mendengar ucapan Alima
"Aku akan berbicara sama Indah, aku akan membuat dia untuk terus tinggal disini" ucap Ozkan
"Anda jangan egois, Indah juga kangen dengan keluarganya, terlebih dengan ketiga anaknya. Saya memanggil anda kesini ingin mencari solusi bagaimana membuat hubungan kalian tetap bersatu tanpa terpisah lagi" jawab Alima
"Aku akan menikahi Indah" jawab Ozkan cepat
Mata Alima berbinar bahagia mendengar jawaban Ozkan
"Aku akan terus bersamanya, hingga tidak ada lagi yang memisahkan kami" lanjut Ozkan mantap
Alima menganggukkan kepalanya mendengar jawaban mantap dari bibir Ozkan
"Good luck and on the best" support Alima
"Thank you" jawab Ozkan
...****************...
"Bunda nggak boleh pulang, bunda harus disini sama kami" ucap tuan Fadh ketika aku sampai di rumah sepulangnya dari kantor
Aku melirik pada ummi dan ummi mengangkat bahunya
"Tuan muda tahu bunda mau pulang dari siapa?" tanyaku pelan
"Mommy" jawabnya sendu
Aku segera berjongkok, mengelus kepala anak berumur dua belas tahun ini dengan sayang
"Kan belum hari ini pulangnya, masih besok lagi" jawabku
Wajah tuan Fadh masih mendung.
"Sayang, biarkan bunda istirahat dulu ya, bunda capek baru pulang" bujuk ummi
"Nanti Fadh nyusul bunda, boleh?" tanyanya
Aku menganggukkan kepalaku, lalu masuk kedalam meninggalkan tuan muda Fadh berjalan menuju lift.
Aku benar-benar tidak sabar untuk pulang, kerinduanku pada ketiga anakku kian meletup-letup rasanya.
Disaat aku merebahkan tubuhku sehabis mandi pintu kamarku diketuk, lalu muncullah ketiga tuan muda
"Bunda, boleh kami tidur disini?" tanya tuan Khaled, sibungsu yang sekarang sudah berumur sepuluh tahun
Aku mengerutkan keningku, tuan Emir sudah beranjak dewasa, dia sudah kelas tiga menengah pertama, masa iya mau tidur bersamaku juga? batinku
Belum sempat aku menjawab mereka bertiga sudah berlari kearahku dan ikutan merebahkan tubuh mereka.
Aku tak kuasa menolak, bagaimanapun selama tujuh tahun ini aku memang sangat akrab dengan mereka. Bahkan ketiganya juga sangat manja padaku
"Mommy, minta pelayan membawakan makan malam kami kekamar bunda, kami akan makan malam dan tidur sama bunda" ucap tuan Khaled melalui panggilan telepon
Aku tersenyum kearahnya
"Bunda pulangnya tidak lama kan?" tanya tuan Emir
Aku diam, pertanyaan yang selama dua minggu ini sering aku terima, baik dari ummi dan juga nona Alima
"Bunda boleh pulang, tapi nanti kesini lagi" sambung tuan Fadh
Aku mengelus kepalanya yang saat itu memelukku
"Kalau bunda nggak kesini lagi?" tanyaku pelan, aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka
Mereka bertiga saling toleh dan segera menubrukku berbarengan
"Kami pasti akan merindukan bunda" jawab mereka sendu
Aku menitikkan airmataku mendengar jawaban tulus mereka. Jujur saja, aku juga sangat menyayangi mereka. Karena mereka bertigalah, rinduku pada ketiga anakku bisa sedikit terobati
__ADS_1
Pintu kembali diketuk, dua orang pelayan masuk mendorong meja troli berisikan menu makan malam
"Terima kasih aunty" teriak mereka bertiga pada dua pelayan yang mengantarkan makan malam kami
Akupun mengucapkan terima kasih kepada kedua pelayan itu, lalu kami bertiga segera menghabiskan menu makan malam kami tanpa tersisa.
Setelah makan malam, ketiga tuan muda sibuk menceritakan pengalaman mereka seminggu ini di sekolah, aku dengan senang hati mendengarkan bahkan ikut tertawa ketika mereka tertawa.
Jam sepuluh malam semuanya sudah terlelap, aku menyelimuti mereka bertiga dan aku mengambil bantal dan selimutku lalu menggelar karpet tebal di lantai, ikut memejamkan mataku yang mulai terasa berat
...****************...
"Cepatlah kembali" ucap tuan Fadh murung ketika ikut ummi dan nona Alima mengantarkanku kebandara.
Aku menganggukkan kepalaku padanya.
Aku mencium punggung tangan ummi dengan takzim dan beliau memelukku hangat. Aku membalas memeluknya dan aku menitikkan airmata saat memeluk beliau
"Ummi pasti akan sangat merindukan kamu" ucap ummi lirih
Aku mengangguk menahan airmataku yang kembali mau tumpah
"Cepatlah kembali kesini, gunakan masa cuti tiga bulan kamu sebaik-baiknya" ucap nona Alima ketika kami berpelukan
Aku menganggukkan kepalaku. Lalu bergantian ketiga tuan muda memelukku. Tuan Fadh yang paling dramatis, dia menangis sesenggukan dan enggan melepas pelukannya padaku
"Janji bunda tidak akan lama" isaknya
Aku mengangguk sambil menghapus airmata yang mengalir di pipiku.
Setelah tuan Fadh tenang, barulah aku berjalan masuk kedalam bandara. Mereka melambaikan tangan padaku. Bahkan kulihat ketiga tuan muda masih menangis
Aku segera chek in lalu setelahnya aku duduk di waiting room. Penerbangan menuju Indonesia dua jam lagi, jadi aku masih ada waktu menunggu yang cukup lama.
Dari pada aku manyun menunggu, aku membuka smartphone, melihat galeri.
Aku tersenyum ketika melihat banyak gambar kenanganku dengan ummi, tiga tuan muda dan nona Alima. Bahkan gambar ketika pertama kalinya nona Alima membawaku kursus mengemudi. Disana terlihat bagaimana tegangnya wajahku, aku kembali tersenyum mengingat momen itu
Wajahku berubah sendu ketika melihat gambar abang. Aku tidak berpamitan padanya, aku takut aku akan lemah ketika berhadapan dengannya. Aku yakin aku tak kuat saat meninggalkannya.
"Abang disini" ucap sebuah suara di sampingku yang membuatku terlonjak kaget
Aku segera menoleh dan kudapati abang tersenyum manis kearahku
"Abang..." desisku
Ozkan segera menatap mata Indah dengan sendu
"Kau meninggalkan abang lagi" lirihnya
Aku menunduk meremas ujung hijabku
"Ikut abang!" tariknya yang membuatku berdiri tegak
Lalu abang membawaku masuk kearah toilet.
"Kok kesini?" tanyaku
Abang diam, dia tidak menjawab pertanyaanku, abang lalu membawaku masuk kedalam satu toilet
Ditariknya tengkukku oleh abang, dan dia langsung mencium bibirku dengan rakus
Aku dengan susah payah menjinjit menyeimbangkan posisi kami. Ozkan dengan cepat mengangkat tubuh Indah dan meletakkannya di atas wastafel. Lalu mereka kembali melanjutkan ciuman panas mereka
"Abang akan menunggu kamu" ucap Ozkan menatap tajam Indah setelah ciuman mereka usai
Aku segera turun dari atas wastafel lalu membasuh wajahku.
"Kalau aku tidak kembali?" ucapku sambil mengelap wajahku menggunakan tissue
"Abang akan susul kamu ke Indonesia" jawab Ozkan tegas
Aku tersenyum lalu menubruk dadanya
"Cuma sebentar kok bang, hanya tiga bulan" ucapku sambil mendongak menatap matanya
"Sehari itu rasanya setahun, mana bisa abang lama jauh dari kamu" jawab Ozkan sambil memeluk tubuh Indah
__ADS_1
"Pasti bisa, toh selama ini bisa kan?" godaku
Ozkan makin mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepalaku