Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sampai Di Jeddah


__ADS_3

Sebelum terbang ke Jeddah, aku dibawa pak Abraham ke apartemen abang yang sekarang menjadi milik Mikail.


Saat aku masuk, apartemen jauh dari bayanganku, seluruh ruangannya rapih. Aku tersenyum, anak-anakku sangat mandiri dan pembersih, karena mereka yakin bahwa Kebersihan Adalah Sebagian Dari Iman


Aku segera memeriksa kamar, kulihat ada beberapa kasur yang di letakkan bersandar di tembok


"Mikail tinggal disini bersama empat temannya. Dia tidak sendirian"


"Oh, begitu ya?"


"Iya mbak, mereka berasal dari jauh semua, kata Mikail dari pada teman-temannya itu ngekos, mending tinggal bersamanya saja. Apartemen ini besar, ada dua kamar"


"Ah anakku itu, hatinya sangat mulia. Aku banyak belajar dari luasnya hati yang dimilikinya" ucapku tersenyum bangga


"Bapak masih terus mengawalnya?"


"Iya mbak, bergantian dengan pak Tomo dan pak Binsar"


"Apa Mikail tidak risih?, kan dia sudah besar?" tanyaku sambil terkekeh


"Kami menjaganya dari jauh mbak, sesuai permintaannya"


Aku kembali terkekeh


"Terima kasih ya pak, karena terus menjaga anak-anakku, entah bagaimana mereka dulu tanpa bapak bertiga"


"Sudah menjadi tugas kami mbak"


Aku tersenyum lalu masuk ke dapur, dan lagi aku mendapati dapur itu bersih


"Apa mereka selalu makan di luar pak?"


"Tidak mbak, mereka bergantian piket masaknya"


Aku buka tudung saji, kosong. Lalu aku buka kulkas, ada sedikit stok makanan di dalamnya


Perlahan aku mengeluarkan ayam yang sudah bersih dan sudah dipotong-potong, lalu aku mengeluarkan santan instan, mencari bumbu dapur yang tak kutemukan, mengambil bawang, dan cabai


"Pak bisa bawa saya ke pasar?"


Pak Abraham mengangguk, lalu kami keluar dari dalam apartemen, masuk kedalam mobil


"Pasar tradisional pak ya"


Pak Abraham mengangguk, lalu beliau mengikuti ku masuk ke pasar, membantuku membawakan banyak belanjaan.


Satu jam berikutnya aku sudah berjibaku di dapur minimalis peninggalan suamiku.


Untunglah tadi aku telah membeli seluruh peralatan yang tidak dimiliki di dapur ini. Jadi sewaktu-waktu jika anakku dan temannya ingin masak mereka tidak repot lagi


Pak Abraham berjaga di luar, sementara aku selesai masak, menggiling bumbu dapur, tiap bumbu aku tuliskan di luar wadahnya, agar anakku tak keliru.


Aku belikan juga bumbu halus, agar ketika mereka butuh, tinggal tuang saja.


Aku juga membersihkan daging, ayam dan ikan. Sedangkan telur aku susun di dalam kulkas, sisanya aku taruh di dalam kitchen set


Jadwal penerbanganku jam sembilan malam ini, itu artinya ada sekitar empat jam lagi aku disini.


Dari pada aku bengong, aku membuka lemari pakaian anakku, menyusun dan merapikannya.


Lewat maghrib barulah Mikail dan keempat temannya pulang. Mikail yang tidak aku beritahu jika aku ada di apartemen langsung berlari ketika diberi tahu pak Abraham yang masih berjaga di depan


"Bundaaaa....." teriaknya berlari masuk tanpa melepas sepatunya lagi

__ADS_1


Aku yang sedang mengaji melalui aplikasi Al-Qur'an di hp segera menoleh dan langsung sempoyongan ketika tubuhnya menubruk dan memelukku erat


"Ya Alloh bunda, mengapa tidak memberi tahu kakak kalau ada bunda"


"Bukan kejutan namanya kalau kakak tahu"


Mikail masih terus memelukku tak memperdulikan keempat temannya yang saling toleh sambil tersenyum melihat kelakuannya


"Mike, jangan bikin iri lah"


Mikail melepas pelukannya lalu menoleh kearah keempat temannya yang berjalan maju dan menyalamiku


"Apa kabar bunda?" sapa mereka


Aku tersenyum pada mereka. Lalu membaca nama mereka yang tertulis di seragam. BUDIMAN, MARKO, BRENDI, ALFATH


Keempatnya lalu duduk, sementara Mikail segera melepas sepatunya dan kembali menempelkan kepalanya di pundakku


"Ahh, jadi kangen mama aku" ucap Brendi kesal


Aku tersenyum


"Kan ada bunda disini"


Keempatnya tersenyum


"Bunda sudah masak, kalian makanlah"


Keempatnya saling pandang


"Kalian tinggal disini sama Mikail kan?, bunda sudah tahu dari pak Abraham, ayo jangan canggung. Bunda senang karena Mikail ada temannya"


Keempatnya bernafas lega


Lalu aku mengambilkan piring, dengan sigap keempat teman anakku berbagi tugas. Ada yang mengambil rice cooker, ada yang mengambil air minum di dalam kulkas, ada yang menarik kan kursi, ada yang menyusun isi meja


"Bunda makan sama kita juga"


Aku mengangguk


Lalu Alfath keluar memanggil pak Abraham yang ikut bergabung makan bersama kami


"Jam sembilan ini bunda terbang ke Jeddah kak"


Mikail langsung menghentikan kunyahannya, lalu menatapku dengan sedih


"Jadi bunda sekedar pamitan kesini?"


Aku mengangguk.


"Rasanya ada yang kurang jika bunda tidak bertemu denganmu nak"


Mikail tersenyum hampa


"Kalau boleh, kami mau ikut mengantarkan bunda" ucap mereka


Aku mengangguk. Lalu kami melanjutkan makan.


Aku membelalakkan mata melihat mereka makan sangat cepat, begitu juga ketika mereka membereskan meja.


Mereka mandi dan berganti pakaian mungkin tak sampai sepuluh menit, semuanya serba cepat


Aku menatap bengong melihat aksi cepat mereka, ini pasti terbawa pas mereka pendidikan batinku

__ADS_1


Jam delapan malam pak Abraham telah mengemudikan mobil menuju bandara.


Aku duduk di tengah berdua Mikail, Alfath di depan, sedangkan Budiman, Marko dan Brendi di belakang


Mikail terus menggenggam tanganku bahkan sekali-kali dia merebahkan kepalanya di pundakku. Aku mengelus kepalanya, dan sesekali mencium kepalanya


Dua puluh menit berikutnya kami sampai di bandara. Kami duduk di waiting room sebelum jadwal penerbanganku diumumkan


"Bunda minta maaf ya kak karena tidak bisa selalu didekat kakak, maafkan bunda karena selalu meninggalkan kakak, tidak pernah ada disaat kakak butuhkan dan tak ada dimasa sulit kakak"


Aku menarik nafas dalam setelah mengatakan itu. Sekuat tenaga aku menahan jangan sampai air mataku mengalir, aku tak mau Mikail ikut sedih


Mikail terus menggenggam tanganku dan menundukkan kepalanya


Aku tahu dia pasti sedih karena harus berpisah denganku lagi.


"Bunda titip Mikail nak ya, tolong kalian saling jaga, dan saling lindungi. Jangan berantem, bunda nggak mau kalau kalian ribut terus kalian nggak akur"


Keempat teman anakku mengangguk sambil tersenyum


"Kalian bersaudara, jadi kalian harus saling jaga satu sama lain, jika nanti kalian dipisahkan karena tugas, terus jagalah persahabatan dan persaudaraan kalian"


"Baik bunda" jawab mereka


Akhirnya terdengarlah announcement jika pesawat tujuan Arab Saudi akan segera take off, dan calon penumpang disuruh bersiap


Aku berdiri diikuti Mikail dan keempat temannya. Aku memeluk erat Mikail, air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya jatuh juga.


"Jaga diri baik-baik nak ya, jangan pernah tinggalkan shalat"


Mikail diam karena dia juga terisak. Kucium wajahnya berkali-kali


"Bunda akan sangat merindukanmu nak"


Mikail hanya bisa mengangguk. Perlahan genggamannya terlepas dan aku terus berjalan menarik koperku.


Masih bisa kulihat Mikail memandangku dengan tatapan sedih, sementara keempat temannya menepuk-nepuk pundaknya


Aku segera memalingkan wajahku karena tak tahan melihat wajah sedihnya, aku terus menangis terisak hingga aku duduk di dalam pesawat


Aku merebahkan kepalaku ke sandaran kursi, menatap keluar jendela yang gelap


"Indonesia, aku akan merindukanmu" lirihku ketika pesawat mulai merangkak naik


...****************...


Kurang lebih sepuluh jam berikutnya pesawat landing, aku segera turun dan segera berjalan ke arah arrived dimana suamiku, Ozkan Yilmaz dan kedua anak kembarku, Serkan dan Defne telah menunggu


Aku melambaikan tangan kearah mereka. Serkan dan Defne segera berlari ke arahku, menubrukku hingga aku sampai terbungkuk-bungkuk karena Defne melompat memeluk leherku


"Lamanya mama pulang sampai kami sangat merindukan mama" ucapnya


Aku memeluk mereka erat, sementara abang yang sampai di dekat kami hanya bisa mengusap kepalaku


Aku melepas pelukanku pada twins, lalu mencium punggung tangan abang dan dibalas abang dengan pelukan hangat


"Akhirnya malam ini abang ada teman tidur lagi" ucap abang sambil mencium puncak kepalaku


Aku mencubit pinggangnya dan tertawa terkekeh.


Dengan sayang kedua anakku menggandeng tanganku, sementara koperku ditarik abang.


Segera kami masuk kedalam mobil yang telah siap membawa kami pulang ke mansion

__ADS_1


Di dalam mobil twins masih terus menggenggam lenganku dan terus menempelkan kepala mereka di bahuku


__ADS_2