Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kontraksi


__ADS_3

Pertengahan Agustus


Embarkasi keberangkatan haji kota Lubuklinggau sudah tiba di Arab Saudi.


Dan aku tahu, umak bapakku saat ini ada di Mekkah, dekat denganku.


Segala doa dan upaya telah kami lakukan agar selesai penyelenggaraan haji, umak bapakku bisa tinggal semalam atau dua malam di apartemen kami.


Tentu saja hal ini sangat aku harapkan, karena aku sangat merindukan umak bapakku.


Akhirnya setelah selesai seluruh rangkaian ibadah haji, kami mendapatkan telepon jika umak bapakku bisa menginap dua hari di apartemen kami, tentu saja aku senang bukan kepalang


Dan pagi ini, abang telah berangkat menuju hotel tempat kediaman umak bapakku.


"Jangan terlalu capek, abang tahu kamu terlalu bahagia karena ibu bapak kesini, tapi pelayan kita sudah ada yang menyiapkan, kamu cukup mengontrol saja" pesan abang Ozkan sebelum berangkat ke airport


Aku mengiyakan apa kata abang, karena aku sangat faham bagaimana abang mencemaskan ku. Aku sudah seperti barang porselen baginya, jadi harus benar-benar dijaga.


Beruntungnya aku bersuamikan abang, dia sangat menyayangi dan memanjakan ku.


Tepat tengah hari suara bel yang sejak tadi aku tunggu akhirnya berbunyi, dengan jalan yang sudah susah aku membukakan pintu


Benar saja, umak bapakku dan abang berdiri di depan pintu


Air mataku langsung jatuh dan dengan secepat kilat aku memeluk umak ku


Kubawa masuk kedua orang tuaku dan abang meletakkan koper umak bapakku di kamar depan


"Kamu sehat nak?" tanya umak ku sambil membimbingku berjalan


Aku mengangguk dan segera duduk di sebelah umak ku.


"Kamu duduk saja, biar semua abang yang kerjakan" kata Ozkan saat dilihatnya istrinya hendak bangkit


Aku tersenyum kearah abang


"Abang sangat menjagaku mak, jadi jangan khawatirkan aku" ucapku melihat umak yang terus saja memperhatikan gerak gerik abang yang keluar masuk dapur membawakan minuman dan makanan untuk kedua orang tuaku.


"Kami ada oleh-oleh untukmu" kata bapakku


Mataku langsung berbinar bahagia mendengar kata oleh-oleh


"Tas bapak tadi mana nak Ozkan, di sana ada titipan untuk Indah"


Ozkan segera masuk ke kamar depan dan telah keluar dengan membawa koper bapakku


Bapakku segera membuka kopernya dan menyerahkan kepingan CD padaku


"Dari ketiga anakmu"


Dengan cepat aku membuka CD yang covernya wajah ketiga anakku


"Kakakmu Andri yang punya ide ini"


Aku langsung menoleh pada abang, seperti faham, Ozkan segera menghidupkan dvd dan mengambil kepingan cd yang ada di tangan istrinya


Dadaku berdegup kencang menunggu cd yang sedang loading


Tak lama muncullah gambar pemandangan bukit kebanggaan daerah kami, hamparan sawah, pasar tradisional, tempat kuliner, lalu lorong menuju rumah orang tuaku


Tak berselang lama muncullah wajah ketiga anakku


"Assalamualaikum bunda, assalamualaikum Papa...."


Aku segera menoleh pada abang yang juga fokus memperhatikan layar televisi


"Pertama-tama kami mau mengucapkan selamat untuk pernikahan bunda dan papa" kata Naura sambil tersenyum


Aku menggenggam tangan umak ku dengan erat, sementara air mataku sudah mengalir sejak mendengar suara mereka. Umak ku mengelus tanganku


"Papa, sesuai dengan ucapan saya dulu sewaktu papa meminta izin untuk menikahi bunda, saya mohon jaga dan lindungi bunda" Mikail kali ini yang bersuara


Dapat aku lihat, jika saat mengucapkan kalimat itu bibirnya bergetar menahan air mata


"Bunda, meski bunda sudah ada yang menyayangi, tapi kasih sayang kami masih sangat besar dan akan terus seperti ini sampai kapanpun" Adam yang berbicara


Aku makin sesenggukan. Kulihat umak ku juga tampak menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Jemput kami ya bun setiap liburan, kan papa orang kaya...." Kembali Naura bersuara yang membuatku tersenyum mendengar kekonyolannya


Aku lihat abang juga tersenyum mendengar omongan Naura.


"Dan terakhir, sebagai kado untuk bunda dan papa, kami mengirimkan video murojaah kami"


Lalu diawali dengan Naura yang merujoaah disambung Mikail dan diteruskan oleh Adam.


Air mataku kian deras mengalir saat mendengarkan lantunan lembut suara mereka.


Hingga twins di dalam perutku bergerak terus saat mendengarkan suara kakak-kakaknya melantunkan ayat suci Al-Qur'an


Aku memeluk umak ku


"Terima kasih mak karena telah mendidik anakku dengan baik" lirihku


Umak mengelus kepalaku.


Jadilah selama dua hari ini umak bapakku di apartemen kami. Abang aku suruh tidur berdua bapakku, dan aku tidur dengan umak ku.


Sepanjang malam sebelum tidur umak akan bercerita tentang anak-anakku, saudara-saudaraku hingga keponakan-keponakanku


Bila siang harinya, abang akan mengajak mereka jalan-jalan dan menikmati keindahan kota Jeddah, baru sorenya akan membawa kedua orang tuaku kembali ke apartemen dan malamnya dilanjutkan dengan mengobrol seru


Waktu dua hari rasanya sangat singkat untukku, tapi setidaknya aku bersyukur bisa bertemu orang tuaku


"Doa umak selalu menyertaimu nak, semoga kamu selamat waktu melahirkan" ucap umak ku ketika akan berpamitan padaku


Bapakku menengadahkan tangannya dan mulutnya komat kamit berdoa sebelum memelukku


"Bapak memang tidak melahirkan kamu nak, tapi kamu pasti tahu jika kasih sayang bapak sama seperti kasih sayang umak mu"


Aku makin menangis kencang saat bapak mengucapkan kata itu. Tentulah aku tahu itu, karena aku adalah anak kesayangan bapak.


Setelah aku memeluk dan menciumi punggung tangan mereka abang lalu mengantarkan orang tua ku kembali ke hotel tempat mereka menginap karena minggu depan jadwal kepulangan mereka ketanah air.


...****************...


Dan hari-hari selanjutnya, rutinitas ku adalah mendengarkan Murotal dari ketiga anakku. Setidaknya dengan mendengar suara mereka, rasa rinduku sedikit terobati dan tentu saja itu juga baik untuk twins ku.


Jika selama ini aku mendengarkan murotal asli dari hafizh atau hafidzah Arab, maka sekarang dari ketiga anakku sendiri


Abang sudah sangat mengkhawatirkan ku, dan setiap saat selalu berkata pada twins yang ada dalam perutku


"Nanti keluarnya yang mudah nak ya jangan susah-susah kasihan mama"


Aku akan selalu tersenyum tiap kali abang mengucapkan kalimat itu


"Kata dokter waktu kita periksa kemarin aku bisa melahirkan normal, bang"


Ozkan tak menjawab, dia terus saja memijit kaki istrinya yang sudah bengkak


"Abang kok diam?"


Ozkan menarik nafas panjang lalu memandang istrinya dengan tatapan dalam


"Abang mengkhawatirkan kamu Indah, abang takut kamu tidak kuat"


Aku tersenyum


"Aku kuat kok, nih buktinya bawa dua anak saja aku kuat" selorohku mencoba mencairkan suasana


Ozkan mengelus wajah istrinya


"Insha Alloh aku kuat abang, yang penting abang ada di samping aku"


"Kalau itu pasti sayang"


Aku lalu mengulurkan tanganku, dan abang meraihnya lalu menciumnya


"Abang pernah nggak sih kepikiran kalau aku akan segendut ini?" tanyaku lagi sambil terus mengunyah, sejak hamil berat ku sudah naik nyaris tiga puluh kilo


"Tidak, karena bagi abang mau seberat apapun timbangan badan kamu, kamu tetaplah yang terbaik, yang terkuat dan yang tercantik"


"Aaaahhhh..." jawabku menahan tawa


Lalu abang tersenyum ke arahku yang membuat tawaku langsung meledak

__ADS_1


...****************...


Memasuki minggu ke 38


Tepat tengah malam tiba-tiba perutku melilit sakit. Nafasku terasa kian sesak.


Aku meninggikan bantal dan mulai merebahkan kembali tubuhku. Tapi rasa sakit di perutku masih terasa


"Bang... abang...." lirihku


Ozkan segera membuka matanya begitu mendengar suara Indah memanggilnya. Dan dia langsung terduduk begitu melihat Indah mulai meringis kesakitan


"Sudah mulai sakit?" suara Ozkan terdengar panik


Aku mengangguk


Ozkan segera mengelus wajah istrinya dan dengan panik dia menyibakkan selimut yang menutupi kaki istrinya


"Kita ke rumah sakit sekarang" ucapnya sambil menurunkan kakiku


Aku menggeleng


"Nanti saja jika sakitnya sudah sering, ini masih jarang-jarang"


"Sayang, jika di rumah sakit langsung ada penanganan, jika kita hanya di sini bagaimana abang ngerti"


Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkan nafas dengan pelan


"Ini baru kontraksi bang, dan aku yakin masih lama ini prosesnya, nanti kita tunggu agak siangan ya" bujuk ku


Ozkan menggeleng, dia segera turun dari ranjang, segera membuka lemari dan memasukkan pakaian bayi serta bajuku kedalam tas


"Abang akan mati berdiri jika melihatmu kesakitan seperti ini" ucapnya sambil terus mengisikan pakaian kedalam tas


Aku membiarkan saja abang melakukan itu. Dan aku mencoba memejamkan mataku lagi


"Ayo sayang, kita ke rumah sakit"


Aku membuka mataku, kulihat abang sudah siap dengan kunci mobil dan kursi roda


"Sebentar lagi ya bang, saya masih ngantuk" jawabku


Ozkan kembali duduk di tepi ranjang dan menatap istrinya yang mulai kembali memejamkan matanya


"Jangan tidur, kalau melahirkan disini siapa yang akan nolongin?"


"Belum bang, nanti kalau sakitnya sudah nggak hilang-hilang baru kita berangkat"


Ozkan menghembus nafas panjang dan kembali dengan wajah panik ditatapnya istrinya


Segera dia beranjak keluar kamar dan seperti menghubungi seseorang


"Dokter istri saya sudah mulai sakit-sakit, tapi dia belum mau aku ajak ke rumah sakit"


"Oh, itu sudah mulai kontraksi pak Ozkan, sudah seberapa sering sakitnya?"


"Katanya sih masih jarang-jarang dokter, dan tadi saya lihat, dia memejamkan matanya lagi"


"Biarkan dia istirahat dulu pak Ozkan, nanti jika istri anda sudah mulai merasakan sakit yang terus menerus boleh bawa ke rumah sakit atau jika bapak khawatir, bapak boleh bujuk istrinya untuk ke rumah sakit sekarang"


"Abaaang....."


Ozkan yang mendengar Indah memanggilnya segera menoleh kearah kamar


"Maaf dokter, istri saya sudah berteriak memanggil saya, mungkin sekarang juga kami ke rumah sakit"


"Baiklah pak Ozkan, saya juga ke rumah sakit sekarang"


Ozkan langsung menutup panggilan dan dengan terburu masuk ke kamar lagi


"Ayo ke rumah sakit, sakitnya sudah agak sering" ucapku sambil menahan sakit


Dengan sigap abang memegangi pundakku dan membawaku duduk di kursi roda


Dan dengan cepat pula abang membawaku keluar dari dalam kamar dan terus mendorong kursi roda masuk kedalam lift


Sampai di lobi abang berjongkok di depanku

__ADS_1


"Tunggu disini sebentar, abang ambil mobil"


Aku mengangguk dan sebelum berlari abang menyempatkan diri mencium keningku


__ADS_2