
"Cepat kamu ke kamar nomor 112 sekarang!"
"Aduhh bos, ini masih pagi, baru pukul enam"
"Sekarang atau kamu aku tembak!"
"Iya-iya bos"
Jennifer segera melompat dari tempat tidurnya. Menyambar kunci motor dan segera keluar dari dalam rumahnya. Dengan cepat dia melajukan motor membelah jalan raya. Sepuluh menit dia sudah sampai di depan Jatra Hotel.
Segera diberikannya kunci pada security yang menyambutnya
"Tolong yeay parkirin motor eyke"
Dengan segera dia meluncur masuk ke dalam hotel yang masih sepi.
"Awas hati-hati" teriak seorang cleaning service yang sedang mengepel lantai
Tapi terlambat, karena berlari terburu-buru, kaki Jennifer menendang ember air.
Seluruhnya airnya tumpah ke lantai. Cleaning service melongo melihat itu, dengan segera dia mengambil ember yang terpelanting jauh dan buru-buru mengepel air yang berceceran.
Bukannya menolong, Jennifer terus berlari
"Maafin eykeee, ini urgeeennnt" teriaknya sambil terus berlari masuk ke dalam.
Sang cleaning service menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jennifer yang kabur.
Sampai di depan lift, Jennifer dengan gelisah menunggu hingga pintu lift terbuka, begitu pintu lift terbuka, Jennifer segera masuk dan menekan angka 3.
Di dalam lift Jennifer berjalan mondar mandir dengan panik sambil menggigit kukunya
Lift berhenti dan terbuka, Jennifer kembali berlari kearah kamar 112, tempat di mana Indah menginap.
Suara kakinya yang berlari terburu-buru, membahana di koridor.
Langkahnya langsung terhenti saat dilihatnya di dalam kamar Sang Bos sedang berteriak sambil memeluk tubuh Indah.
Dengan takut dan langkah pelan Jennifer masuk. Sang Bos langsung menoleh padanya. Matanya merah menahan amarah hingga dadanya naik turun.
Ternyata di dalam sang Bos tidak sendiri, ada tiga bodyguard yang kemarin mengawal mereka juga ada di dalam sana.
"Buka mata kamu Ndah, bukaaa!" teriaknya sambil masih memeluk kepala Indah sementara tubuh Indah tergeletak di lantai.
"Abrahaaammm!!! teriaknya lagi
Seorang bodyguard segera maju kehadapannya.
"Kalian siksa suaminya sampai dia juga merasakan apa yang Indah rasakan!!" bentaknya
"Siap bos!" jawab Abraham. Dia dan ketiga temannya segera berjalan keluar.
Belum sampai mereka di depan pintu, Sang Bos kembali berteriak
"Patahkan tangannya yang telah menampar Indah!" ucapnya dingin.
"Siap bos" jawab Abraham.
Lalu mereka pergi
Jennifer membekap mulutnya. Kakinya gemetar demi mendengar ucapan sang Bos.
"Cepat telpon dokter!! bentaknya pada Jennifer
Dengan cepat Jennifer mengambil hp disaku piyamanya lalu segera menelpon dokter.
"Iya, dokter sekarang ke kamar 112. Cepat dokter" suaranya gemetar
Sang Bos segera menggendong Indah dan dengan hati-hati diletakkannya di atas kasur. Di elusnya pipi Indah yang lebam dengan penuh sayang. Dilihatnya dengan geram bekas cambukan pada tangan dan kaki Indah, terlebih ketika tadi tak sengaja sewaktu mengangkat Indah, dilihatnya merah lebam pada tengkuk Indah.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit melihat wanita yang disayangnya terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Tangannya terkepal, giginya gemeletuk menahan marah.
"Cari bajunya!" bentaknya pada Jennifer yang hanya berdiri ketakutan
Seperti melompat karena kaget, Jennifer segera membuka lemari dan dengan cepat mencari baju untuk ganti Indah.
Dipilihnya sebuah baju tidur kimono berwarna hitam lalu diberikannya pada sang Bos
Sang Bos lalu melemparkan baju itu kemukanya
"Jangan baju seperti ini. Dia ini kedinginan, dan lagi aku tidak mau ada lelaki lain yang melihat tubuhnya"
Jennifer menelan ludah saking takutnya. Segera dia kembali ke lemari dan mengambil baju lain. Diambilnya baju tidur panjang berbahan satin. Diberikannya pada sang Bos yang masih duduk di kursi di pinggir ranjang sambil menatap penuh amarah pada Indah yang terpejam
"Ini bos" ucapnya pelan
Sang bos segera meraihnya lalu meletakkan di atas kasur. Mereka berdua diam, Jennifer bingung harus berbuat apa. Tapi tak lama pintu diketuk dan seorang dokter perempuan muncul.
Melihat dokter datang, sang bos segera berdiri dan menyingkir.
"Tolong periksa dia dokter. Pastikan dia baik-baik saja" ucapnya khawatir
Sang dokter duduk di atas ranjang.
"Bajunya basah. Kita harus segera mengganti pakaiannya" kata dokter
Jennifer segera memberikan baju tidur yang terletak di atas kasur yang tadi diambilnya.
"Bisa bantu saya?" ucapnya pada sang Bos
Sang bos tampak kaget dan kebingungan
"Dia istri andakan Pak?" tanya dokter lagi yang mulai membuka kancing baju Indah
Sang Bos segera membalikkan badannya saat dokter membuka kancing baju Indah.
"Tolong pak, bapak angkatkan sedikit pundaknya. Aku kesulitan melepaskan bajunya ini" kata dokter lagi
"Saya saja dokter" tawar Jennifer
Sang Bos langsung melotot tajam kearah Jennifer yang membuat tubuhnya langsung menciut.
Sang Bos segera menopang kepala Indah ke pahanya.
"Hadap tembok kamu!" bentaknya pada Jennifer. Spontan Jennifer langsung berbalik dan menunduk ketakutan.
"Dia nyuruh saya ngadap tembok, lah dia malah enak-enakan lihat tubuh Indah, dasar modus" ucap Jennifer bersungut-sungut
"Apa kamu bilang?" bentaknya
Jennifer segera berlari menjauh. Dia tidak ingin sang bos makin marah padanya.
Saat sang dokter melucuti semua pakaian basah yang menempel di tubuh Indah, sang bos memalingkan wajahnya.
"Astaghfirullah, kenapa seluruh tubuhnya biru lebam seperti ini" sang dokter tercekat demi melihat tubuh Indah yang membiru bekas cambukan.
Refleks Sang Bos langsung melihat. Benarlah, seluruh bagian belakang tubuh Indah merah lebam semua. Terdapat banyak sekali bekas cambukan di sana. Bahkan sebagian luka itu berdarah.
Tangannya kembali terkepal. Dan giginya makin gemeletuk.
Setelah selesai mengganti baju Indah, dokter lalu mulai memeriksanya.
Diberikannya secarik kertas ketangan sang Bos.
"Ini resep obat silahkan beli di apotek" katanya
"Lebamnya apa bisa hilang hari ini juga dokter?" tanyanya
Dokter menggeleng sambil tersenyum
__ADS_1
"Setidaknya butuh waktu seminggu pak, itupun paling cepat"
"Berikan obat yang terbaik dokter, pokoknya saya minta luka dan lebamnya harus hilang hari ini juga" desaknya
"Tidak bisa pak. Lukanya mungkin dalam tiga hari akan mengering, tapi seperti yang telah saya sampaikan tadi, lebamnya butuh waktu paling cepat satu minggu baru hilang" dokter menjelaskan dengan tenang.
"Aaarrrkhhhh" Sang Bos meremas rambutnya dengan frustasi
"Penyesalan memang selalu diakhir pak" dokter kembali berkata
Jennifer menganga demi mendengar kalimat terakhir sang dokter, sedang sang Bos hanya terdiam. Bibir Jennifer mengulum sebuah senyuman saat dilihatnya sang bos terdiam.
"Segera beli obatnya, saya pamit" ucap dokter lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sang Bos segera kembali duduk di kursi di depan Indah yang masih terpejam. Kembali dibelainya kepala Indah.
"Ini resepnya, kamu ke apotek, dan segera ganti baju kamu. Lalu kesini lagi!" bentaknya
Jennifer segera mengambil kertas yang diberikan sang Bos lalu berlari keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal Jennifer, tinggal sang bos sendirian. Ditatapnya dengan dalam wajah Indah dengan jarak yang sangat dekat. Hingga hembusan nafas Indah dapat dia rasakan di wajahnya.
"Maafkan aku" ucapnya lirih
Selagi dia fokus memandangi wajah Indah, hp disaku celananya berdering.
Tertera tulisan di layar "Anne " diikuti emoticon love
"Assalamualaikum anne, sorun ne?" (Assalamualaikum ibu, ada apa?" ucapnya begitu mengangkat panggilan
"eve ne zaman geliyorsun oğlum eve gel annen seni özlüyor" (pulanglah Nak, ibu sangat merindukanmu)
Sang bos tampak membuang nafasnya dengan kasar.
"bir gün eve geleceğim anne, ama şimdi değil" (suatu hari nanti aku pasti pulang ibu, tapi tidak sekarang)
"Sorunlarından daha ne kadar kaçacaksın oğlum?" (sampai kapan kamu akan berlari dari masalahmu Nak)
"Bilmiyorum hanımefendi ama şimdilik lütfen benim için dua edin" (aku tidak tahu bu, tapi untuk sekarang tolong doakan saja aku)
Terdengar isakan dari seberang.
"Please don't cry mom. You know I really love you"
"Please come back" balas suara diseberang
"Someday"
Lalu keduanya terdiam, dan panggilan berakhir.
Sang bos kembali menghembuskan nafas dalam. Dia kembali duduk di kursi menunggu sampai Jennifer kembali. Setelah Jennifer datang, barulah dia pergi.
"Jaga dia, jangan katakan apapun jika aku yang memintamu kesini" katanya dingin sebelum keluar dari dalam kamar.
Jennifer hanya bisa mengangguk takut.
...****************...
Siapakahl dia? Dia adalah Ozkan Yilmaz. Seorang pemuda tampan, kaya raya dan juga pintar.
Dia baru tiga tahun di Indonesia. Sebelumnya dia tinggal di negara Turki mengelola bisnis kerajaan sang ayah yang juga seorang konglomerat di negaranya.
Seorang pekerja keras dan sangat berdedikasi. Karena kesibukannya akhirnya dia tidak sempat untuk mencari jodoh. Padahal begitu banyak gadis Turki yang tergila-gila padanya. Tapi sedikitpun dari mereka tidak bisa menarik hatinya untuk jatuh cinta.
Sampai akhirnya dia dijodohkan dengan anak perempuan kolega ayahnya. Walau menolak pada awalnya, tapi akhirnya dia menuruti permintaan sang ibu, wanita yang sangat disayangi dan diagungkannya di dunia ini.
Tapi pernikahan mereka hanya sementara, ternyata sang istri telah mengandung saat mereka menikah. Diikuti rasa marah dan kecewa karena dibohongi, akhirnya dia pergi ke Indonesia. Bekerja di perusahaan SALAM GROUP yang 45 persen saham adalah miliknya.
Sejak pergi tiga tahun yang lalu, tidak ada yang tahu latar belakang kenapa dia meninggalkan bisnis kerajaan ayahnya. Sang CEO SALAM GROUP hanya tahu jika sang kolega ingin lebih fokus mengelola perusahaan bersama mereka hingga menjadi perusahaan paling bersinar di negara ini.
__ADS_1
Sesuai permintaannya diawal ketika datang ke CEO SALAM GROUP, dia ingin jati dirinya dirahasiakan sampai dia mengganti namanya menjadi Al Faruq Ariadi.