
Pagi ini aku terbangun saat pintu belakang diketuk. Dari suara aku tahu jika itu adalah yuk Yana dan ibuku.
"Iya sebentar" jawabku dengan malas-malasan turun dari ranjang.
Segera aku berjalan menuju pintu belakang dan membukakan pintu.
"Sudah siang, bangun" ucap ayukku sambil menyerobot masuk.
"Masih ngantuk" jawabku sambil menguap lebar
"Loh, mertua dan iparmu tidak tidur disini Ndah? lanjut yuk Yana sambil tangannya mulai membereskan piring dan gelas-gelas kotor.
Ibuku ikutan juga mengumpulkan baskom-baskom yang penuh dengan piring-piring kotor.
Semalam, sebelum pulang, ibuku, yuk Yana dan ibu-ibu tetangga membantu mengumpulkan perabotan yang kotor bekas tamu undangan makan.
"Hei, ditanya malah diam" yuk Yana mengagetkanku dan masih belum fokus karena masih mengantuk.
"Pulang" jawabku singkat
Ibuku dan kak Yana diam mendengar jawabanku.
"Kaya ga faham mereka saja yuk. Kan bukan sekali ini mereka kaya gitu sama aku" jawabku melihat mereka diam
"Kirain setelah kalian rumah sendiri mereka bakal nginap" sambung yuk Yana.
"Sudah-sudah, pagi-pagi sudah ghibah" sela ibuku.
Yuk Yana terkekeh, aku melengos malas.
"Aku tidur lagi ya Mak" ucapku pada ibuku
"Nggak sopan, orang kesini mau bantuin, malah kamu mau lanjut tidur" kak Yana protes.
"Masih ngantuk yuk" jawabku
"Lah emang tidur jam berapa?" tanyanya
Aku mengacungkan jari telunjuk kearahnya sambil menguap lagi.
"Ini sudah jam enam, masa masih ngantuk. Kelewatan" omelnya
"Adam rese yuk, jadi aku tidur-tidur ayam" elakku
"Ya sudah, tidur lagi sana, biar Mak sama ayukmu yang beres-beres" jawab ibuku
Aku tersenyum senang kearah ibuku, yuk Yana mencebikkan bibirnya kearahku.
"Makasih ya Mak, dagh ayuk, kalau sudah selesai baru bangunin aku" ucapku sambil tertawa dan berlalu dari mereka.
"Hoi, ini yang hajatan siapa dan repot siapa? yuk Yana bersungut-sungut
"Yang hajatan aku, yang repot dan capek ayuk sama Umak" jawabku enteng
"Kurang ajar" jawab ayukku
Aku tertawa terkekeh dan berjalan meninggalkan mereka.
"Ah, enaknya punya ayuk dan umak, coba kalau hajatan tempat mertua, jelas yang jadi babu aku" ucapku dalam hati.
Sepeninggal aku, ibuku dan ayukku berjibaku membereskan dan membersihkan rumah dibantu juga oleh mbak Dian yang tak lama aku masuk kamar datang.
Bertiga mereka sibuk membersihkan rumah, aku yang langsung masuk kamar langsung nyenyak lagi karena memang masih begitu ngantuk.
Aku terbangun ketika Adam menangis, mungkin dia lapar atau popoknya yang sudah penuh. Kutepuk-tepuk pantatnya berharap dia tidur lagi, tapi teryata tidak, Adam malah makin kencang menangisnya.
"Mau bangun dek?" tanyaku dengan suara berat
__ADS_1
Menggeliat sebentar, lalu aku duduk dan memeriksa popok Adam. Sinar matahari yang masuk lewat fentilasi sudah sangat terang. Aku melihat jam di dinding, ternyata telah menunjukkan angka sembilan lewat.
"Pantas, sudah siang" ucapku lirih. Lalu aku menoleh ketempat suamiku tidur, ternyata dia pun sudah tidak ada. Segera aku menggendong Adam mengajaknya keluar.
"Weeehhh, sudah beres" ucapku takjub ketika keluar kamar.
Kulihat rumah sudah rapih, perabotan yang kotor semua sudah bersih dan tertata parih, lantaipun telah kinclong dengan bau khas pembersih lantai. Dandang serta kuali yang kemarin dipakai untuk masak di api telah putih cling seperti baru lagi.
"Ya iyalah, siapa dulu yang membersihkan" jawab yuk Yana ketika melihatku masuk ke dapur.
Kudapati ibuku, yuk Yana dan Mbak Dian sedang sarapan.
"Kamu, suami bangun bukannya dibuati kopi, malah dia buat sendiri" ucap ibuku.
"Kan aku masih tidur mak" jawabku
"Jangan jadi kebiasaan, tidak baik" nasehatnya.
Aku mengangguk malas lalu ikut duduk bersama mereka. Adam sudah diam sedari tadi.
"Sayur kalau masih banyak nanti bawa pulang ya Mak, yuk, mbak" ucapku pada mereka.
"Tidak kamu suruh juga, sudah ayuk bungkusi" jawab ayukku
Aku tertawa mendengar jawabannya.
"Sekalian buat yuk Diana" jawabku.
"Sudah lengkap semua, nanti sampe dusun bakal ayuk mampiri kerumahnya" jawab ayukku lagi
"Kalau masih banyak, tetangga kiri kanan juga dibagikan yuk" kataku lagi
"Nggak papa bun?" tanya mbka Dian
"Ya nggak papalah mbak, toh nanti basi kan sayang. Mbak tau sendiri suami saya mana mau sayur angetan" ucapku lagi
"Makasih ya mbak" jawabku
Mbak Dian mengangguk sambil terus mengunyah.
Aku bangkit dari dudukku dan mengambil teko untuk memasak air panas untuk mandi Adam.
"Ayuk sama kakak sudah dimandikan mak?" tanyaku pada ibuku
"Sudah" jawab ibuku sambil meletakkan piring kotornya
Setelah air masak, mbak Dian segera membawa teko tersebut ke kamar mandi dan memasukkan kedalam bak mandi khusus untuk Adam mandi.
"Sudah siap bun" ucapnya sembari meletakkan teko kekompor lagi
"Makasih ya mbak" jawabku lalu masuk kekamar membuka pakaian Adam dan memandikannya.
Sekitar lima belas menit aku keluar lagi dari kamar membawa Adam yang sudah selesai aku mandikan.
Yuk Yana dan ibuku memilah perabotan yang tadi sudah mereka bersihkan untuk disimpan.
"Di lemari ini kan Ndah nyimpennya? tanya yuk Yana menunjuk lemari besar yang ada di dapur khusus tempat piring, gelas dan sendok simpanan ku.
Aku menganggukkan kepala. Aku tidak melihat mbak Dian, padahal aku ingin menitipkan Adam padanya karena aku mau mandi. Tapi karena dia tidak ada, aku lalu berjalan ke depan mencari suamiku. Ada baiknya Adam aku titipkan padanya saja.
Kulihat suamiku sedang melihat orang tarup sedang membongkar tenda. Ragu-ragu aku berjalan kearahnya.
"Sibuk nggak yah?" tanyaku setelah berdiri di sebelahnya.
Refleks suamiku menoleh yang tidak menyadari kehadiranku.
"Tidak" jawabnya singkat. Segera dimasukkannya *h*andphone yang sedari tadi dimainkannya kedalam saku celana.
__ADS_1
"Titip adek ya Yah, aku mau mandi" ucapku.
Segera diraihnya Adam dari gendonganku lalu menjauh dari tukang tarup lalu duduk di teras.
Aku segera masuk kekamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air.
...++++++++++...
Siang menjelang sore hari setelah tenda selesai dibongkar, aku duduk di teras dengan ketiga anakku.
Aku memperhatikan ayuk dan adek bermain. Si kakak karena usianya masih empat belas bulan, dia sedang lincah-lincahnya berjalan. Dari tadi tidak mau diam, alhasil ayuknya lah yang capek mengejarnya jika dia sudah berjalan kehalaman.
Suamiku sudah sejak tadi masuk kekamarnya. Sewaktu aku masuk kekamar mengambil tisu basah tadi kulihat dia sedang senyum-senyum kearah handphonenya. Aku tidak peduli, biarlah. Aku tidak ingin menanyakan apa yang membuatnya tersenyum, takut nanti marah yang belum reda semalam kumat lagi.
"Seru ya bun ngurusi anak-anak" ucap yuk Yanti tetangga depan rumah sambil berjalan kearah kami.
"Capek yang jelas yuk" jawabku sambil bergeser duduk dan mempersilahkannya ikutan duduk.
"Kalau sekarang iya bun, tapi nanti ketika mereka sudah besar, bunda tinggal santai saja" jawabnya
"iya ya yuk" jawabku seraya tersenyum.
"Mending repot sekarang bun, jadi repotnya sekalian" ujarnya lagi
"Tapi aku kadang malu yuk, tetangga kita tidak ada yang anaknya rapat kaya aku" ucapku
"Halah, jangan dengarin ocehan orang bun, mereka cuma bisa ngomong, kan yang repot bunda, yang ngasuh juga bunda, bukan mereka" jawabnya lagi.
Aku mengangguk setuju mendengar jawabannya. Lalu kami berdua mengobrol ringan sambil ditemani teh hangat dan kue sisa semalam.
...++++++++...
Jam makan malam, suamiku tidak juga keluar dari kamar. Tadipun ketika maghrib dia tidak sholat, padahal aku sudah mengingatkan jika waktu maghrib akan habis. Tapi sepertinya dia terlalu sibuk dengan handphonenya.
Aku jadi penasaran, ada apa sih dengan handphonenya, kok sampai lupa makan dan lupa sholat. Dari tadi senyum-senyum saja kerjanya menatap layar ponselnya itu.
"Nggak mau makan yah?" tanyaku masuk kamar.
Dia menoleh sekilas kearahku dan kembali fokus ke ponselnya.
"Nanti" jawabnya singkat.
Aku meninggalkan kamar lalu beranjak kedapur mengisi piring ku sendiri. Porsi makanku memang sangat banyak, entah ini sudah kali keberapa dalam sehari ini aku makan.
Apalagi aku memberi asi untuk kedua putraku, jadi aku gampang lapar. Si Kakak, aku sapih sewaktu aku hamil enam bulan, lalu dia sufor. Tapi begitu adiknya lahir, dia kembali kuberi asi.
Aku makan di ruang tv, menemani ketiga anakku yang aku tinggalkan disana. Si ayuk fokus kefilm kartun yang saat itu sedang tayang, sementara kakak menciumi pipi adiknya terus sejak tadi.
Jika sikakak telah dengan adiknya, maka aku tidak boleh lengah, kakak masih belum ngerti, bahaya kalau aku tinggalkan mereka saja.
Pernah sekali aku tinggalkan mandi, ternyata muka adiknya ditutup nya sama selimut. Untung aku cepat tahu, kalau tidak bisa bahaya. Sejak saat itulah, aku ekstra hati-hati jika kakak sedang bermain dengan adiknya.
Jam sembilan malam, anak-anakku telah pulas semua di depan tv.
"Yah, tolong pindahin anak-anak" ucapku pada suamiku yang saat aku masuk ternyata sedang menelpon.
Segera dijauhkannya ponsel dari telinganya lalu memencet tombol, dan meletakkan ponsel tersebut di atas meja lalu keluar dari kamar.
"Loh kok ayuk sama kakak dibawa kesini yah?" tanyaku
"Biar anak-anak tidur sama bunda, ayah tidur sendirian di kamar depan" jawabnya sambil meletakkan Mikail disebelahku.
Tak lama diapun telah muncul lagi menggendong Naura, lalu meletakkan Naura disebelah Mikail.
Segera disemprotkannya anti nyamuk lalu mematikan lampu, lalu menutup pintu kamar.
Karena mengantuk, akupun tertidur tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun dengan tingkah suamiku.
__ADS_1