Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Ngontrak


__ADS_3

Setelah Indah tertidur karena kelelahan menangis, Andi keluar dari dalam kamar dan menemui ibunya yang sedang duduk di belakang rumah di bawah pohon rambutan.


Melihat Andi datang sang ibu pura-pura tidak tahu dan terus saja mengobrol dengan Laras


"Buk, apa sih salahnya dengan Indah. Kok ibuk tuh benci banget sama dia" ujarnya langsung sembari ikutan duduk di bale-bale bambu


Laras melengos sambil memainkan tangan anaknya pura-pura tidak dengar.


"Mbak juga ikut-ikutan ibuk" sambung Andi kearah Laras. Laras masih tak bergeming


"Salahnya itu kamu, sudah tahu ibunya tidak suka ehh masih aja ngotot nikahi" jawab ibunya sewot


Andi menghela nafas berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sekarang Indah sudah jadi istri aku, suka atau tidak suka, dia sudah jadi menantu ibuk" jawab Andi dengan suara agak meninggi


"Jaga sopan santun kamu Ndi" potong Laras cepat


"Ibuk sama mbak Laras sama saja, ingin dihormati tapi tidak bisa menghormati orang lain. Indah nangis buk, dia tersinggung dengan perlakuan ibuk tadi"


"Bodoh amat" jawab sang ibu


"Astaghfirullah" Andi mengelus dada


"Kami kesini karena aku ingin mendekatkan Indah dengan keluarga kita, tapi apa yang kami dapat. Belum sehari kami di sini, tapi ibuk sudah berulah. Kalau tahu begini, tidak bakal aku ajak Indah kesini" sesal Andi


"Ya sudah ajak sana istri kamu pergi, kamu pikir ibuk sudi nerima dia ada di rumah ini" jawab sang ibu tak kalah sengit.


"Besok bu, besok pagi-pagi buta kami pasti sudah pergi dari rumah ini. Ibu tenang saja, kami tidak akan lama di sini" jawab Andi sambil bangkit meninggalkan mereka.


Bu Mira dan Laras menatap punggung Andi yang berjalan menjauh dari mereka.


...++++++++...


tok tok tok


Suara ketukan di pintu membuat Indah yang sedari tadi sudah bangun menoleh kearah pintu. Dari kaca jendela dia melihat kalau hari sudah gelap. Tapi untuk keluar dari kamar tersebut dia tidak memiliki keberanian. Di guncangkannya tubuh Andi supaya Andi bangun dan membukakan pintu. Tetapi Andi hanya menggeliat saja. Akhirnya dia bangkit dan membuka pintu.


"Sudah hampir maghrib mbak, apa mbak tidak mau mandi?" tanya Nina begitu melihat wajah Indah. Indah menggigit bibir bawahnya. Kentara sekali kegelisahan di matanya.


Tubuhnya jelas terasa gerah. Apalagi tadi ditambah perjalanan jauh dengan motor pula, sudah bisa dipastikan debu-debu menempel di tubuhnya. Tapi untuk kebelakang dan bertemu lagi dengan ibu mertuanya, dirasanya belum sanggup.


Tak disangka, Andi muncul. "Minta handuk Nin, kasihkan ke mbak mu" katanya.

__ADS_1


Nina mengangguk dan segera berlalu, tak lama telah muncul lagi dengan handuk di tangannya.


Indah mengambil handuk tersebut dan menoleh ragu pada sang suami. Andi mengerti arti tatapan mata istrinya, dia menarik tangan Indah dan membawanya ke kamar mandi.


Sebelum sampai ke kamar mandi mereka harus melewati ruang keluarga dimana disana ada orangtua dan kakak iparnya, suami Laras yang sedang bermain dengan Raffa.


Indah menundukkan kepalanya terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun pada mereka. Bu Mira menatap sambil mencibir kearahnya. Kelakuan tersebut tertangkap oleh mata suaminya, Pak Hermawan.


Andi menunggu Indah di luar kamar mandi, dengan secepat kilat Indah mandi dan segera keluar dari dalam kamar mandi tersebut, lalu mereka berdua segera kembali kekamar mereka.


Waktu makan malam, kembali Nina mengetuk pintu kamar. Kali ini Andi yang membukakan. Setelah menyampaikan pesang sang ayah pada Andi yang mengajak mereka buat makan malam, Nina berlalu.


"Kakak makan aja, aku masih kenyang" alasan Indah


Andi menggeleng. "Kita makan sama-sama, siang tadi kamu makannya sedikit sekali"


Bak tidak berpihak pada dirinya, saat itu perut Indah berdendang. Andi tersenyum padanya begitu mendengar suara keroncongan perut istrinya. Indah tersenyum malu kearah Andi dan segera bangkit mengekor di belakang Andi.


Di meja makan telah duduk anggota yang lainnya. Tampak sekali kecanggungan Indah. Andi segera mengambilkan nasi lengkap dengan lauk pauknya dan memberikannya pada Indah.


Semuanya makan tanpa ada yang bersuara. Berkali-kali Indah meneguk air untuk membantunya menelan makanan. Sungguh, makanan itu terasa sulit ditelannya. Apalagi melihat tatapan sinis yang ibu mertua makin membuatnya seakan memaksa menelan makanan tersebut.


Selesai makan Andi mengajak Indah untuk duduk di ruang keluarga. Indah hanya diam melihat Nani bermain dengan keponakannya. Ada rasa di hatinya ingin ikut bermain dengan Raffa, tapi dia takut nanti Raffa diambil Laras. Jadilah dia hanya melihat Nani dan Raffa bermain.


"Mertua sih inginnya kami tinggal di rumah mereka, tapi kami berdua sudah sepakat untuk ngontrak Pak" jawab Andi.


"Indah kan anak bontot, jadi kepinginnya ibu tu kami tinggal saja di rumah, tinggal sama mereka. Tapi kami bukannya tidak mau atau menolak, tapi kami kepingin mandiri. Begitu menikah kami ingin berumah tangga sendiri, jadi kami bisa merasakan bagaimana susah senangnya tinggal berdua. Kalau di rumah mertua kan kami tinggal enaknya saja" sambung Andi.


Laras menoleh ke arah Andi dan merasa seperti tersindir. Karena diusia pernikahannya yang sudah hampir empat tahun dia masih tinggal sama orang tua mereka.


"Kalo kalian ngontrak, rumah di Merasi buat apa? kosong dong. Sudahlah, nggak usah ngontrak-ngontrak tinggal saja di rumah kita, duit buat ngontraknya lebih baik kamu tabung" nasihat sang ayah.


"Andi benar pak, mending dia ngontrak saja" sahut sang ibu


"Lah terus rumah kita kosong?" ucap pak Hermawan.


"Ya lebih baik kosong pak, dari pada ditinggali Andi dan istrinya" jawabnya ketus.


"Astaghfirullah" Nina dan sang ayah beristighfar berbarengan. Indah makin menunduk dalam. Dia tidak mempermasalahkan mau ngontrak dimana saja. Yang penting dia bersama suaminya. Tapi mendengar jawaban sang ibu mertua yang demikian sengitnya, tak urung itu makin melukai hatinya.


"Pokoknya Andi dan Indah tinggal di rumah kita, tidak boleh ngontrak. Rumah kalau kosong itu akan cepat rusak, dan jadi sarang hantu" jawab pak Hermawan meninggi.


Suasana hening sesaat sampai akhirnya Andi bersuara

__ADS_1


"Terima kasih atas tawaran bapak, tapi sepertinya lebih baik kami ngontrak saja pak, itu lebih aman buat kita semua"


Sang ayah pasrah setelah mendengar jawaban putranya. Setelah terdengar adzan isya, Andi mengajak sang istri untuk segera sholat dan meninggalkan ruangan itu yang auranya sudah tidak kondusif lagi.


Selesai sholat mereka langsung masuk ke kamar dan tidur.


Pagi-pagi buta, setelah sholat shubuh Andi dan Indah segera mandi dan bersiap-siap hendak kembali pulang. Rencana mereka yang akan menginap dua hari mereka batalkan karena ketidak kondusifan keadaan.


Setelah selesai, Andi segera menjinjing tasnya keluar dari kamar dan menuju dapur untuk mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya. Indah duduk di ruang keluarga bersama Nina.


"Kok cuma semalem sih mbak nginep nya, kan kita belum banyak cerita-cerita" rengek Nina


"Nanti kalo mbak kesini lagi, mbak janji bakal nginep lama dan kita ngobrol panjang. oke?" ucap Indah pada sang adik ipar


Nina faham betul kenapa mereka cepat pulang, padahal rencananya mereka mau menginap dua hari di sana


"Maafin ibuk ya mbak" ucap Nina


Indah mengangguk dan menjawab "Ibuk ga salah kok, mbak yang salah, mbak ga bisa masak" jawabnya sembari tertawa kecil.


Tak lama Andi muncul diikuti orang tuanya. Segera Indah bangkit dan mengikuti Andi mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Sang ayah mertua tersenyum hangat saat Indah berpamitan. Namun berbeda halnya dengan ibu mertua, wajahnya masih saja masam bahkan ketika Indah mengulurkan tangannya mau bersalaman dia seperti ogah-ogahan membalas mengulurkan tangannya.


Nina segera memeluk Indah saat sang ipar berpamitan dengannya. Lalu akhirnya pasangan suami istri itu naik berboncengan motor dan segera meninggalkan rumah besar orang tuanya.


...++++++++++...


Rencana mereka buat ngontrakpun telah disetujui oleh Pak Ahmad dan Bu Siti, walau awalnya ibu bapak Indah begitu berat melepas kepergian anak bungsu mereka, tapi mereka tidak punyak hak lagi. Indah telah menjadi hak suaminya sekarang. Mereka hanya memberi restu dan dukungan saja apapun yang akan mereka lalukan.


Seminggu setelahnya Andi yang diantar oleh mertua dan kakak iparnya akhirnya pergi meninggalkan rumah Pak Ahmad menuju ke rumah kontrakan mereka. Sebuah rumah yang nyaman dan lingkungan yang cukup ramai, letaknya pun tidak jauh dari rumah mereka.


Setelah mobil pengangkut barang berhenti di depan kontrakan, sang kakak, Andri, dibantu beberapa teman-temannya segera menurunkan perabotan baru untuk diletakkan dalam kontrakan tersebut. Indah dan sang ibu menyusun dan menata kamar, Pak Ahmad membuatkan meja kompor dengan di bantu Andi. Sementara Andri dan teman-temannya menyusun lemari pakaian, memasang lampu listrik, memasangkan selang gas dan menyapu rumah.


Tak terasa, tiga jam semuanya beres dan sekarang mereka duduk lesehan menikmati makan siang yang tadi mereka bawa dari rumah.


Setelah dirasa cukup, saatnya Pak Ahmad dan yang lainnya berpamitan. Sang ibu tak kuasa membendung airmata saat memeluk Indah. Tak ayal hal tersebut membuat Indah ikutan menangis.


"Kan ga jauh buk" ucap Indah menenangkan sang ibu.


Sang ibu mengangguk, setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih akhirnya Pak Ahmad beserta yang lainnya berpamitan pulang.


Kini yang tertinggal hanya Indah dan sang suami. Mereka tersenyum satu sama lain dan mulai membetulkan apa-apa yang dirasa belum tepat. Mereka bersyukur pada akhirnya mereka bisa mandiri.

__ADS_1


__ADS_2