Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Menemui Mikail


__ADS_3

"What happened with Mikail, are you okay?"


Naura menarik nafas panjang lalu mengusap wajahnya


"Mikail in Java, I haven't seen him for three years, when we were little we often danced together when we heard this song" (Mikail di Jawa, sudah tiga tahun saya tidak bertemu dengannya, dulu ketika kami kecil kami sering joget bersama jika mendengar lagu ini)


Emir tersenyum


"In the past, while waiting for father to come home from work, we often danced with Bunda. Bunda really likes Hindi songs. In the past, my father often got bored when Bunda listened to Hindi songs" (Dulu sambil nunggu ayah pulang kerja, kami sering joget sama bunda. bunda itu sangat suka sama lagu India. Dulu ayah sampai sering bosan jika bunda sudah dengerin lagu india)" sambung Naura sambil tersenyum hambar


"Do you remember your father?"


Kembali Naura menarik nafas dalam


"Of course, I really miss him. But for some reason, finally father can not see me anymore"


Emir mengangguk-anggukkan kepalanya dan dia sama sekali tak berniat bertanya apa alasan yang menyebabkan Naura tak bisa bertemu ayahnya lagi. Karena dia yakin, itu akan membuatnya sedih


"Do you have any plan to visit Mikail?"


Mata Naura membulat dan berkilat senang


"Thank you Emir. You just made me happy. I will ask bunda to visit Mikail. I really miss him"


Emir tersenyum melihat Naura yang kembali berwajah cerah


"You know Emir, mikail is the most patient brother i have ever had. He has a very broad heart, he is able to forgive all mistakes people to him. But one thing that can't shake it, bunda's tears. He will be very angry at the person who made our bunda cry" (Kau tahu Emir, Mikail adalah adik tersabar yang pernah aku miliki. dia mempunyai hati yang sangat luas, dia sanggup memaafkan segala kesalahan orang padanya. Tapi satu yang tak bisa menggoyahkannya, airmata bunda. Dia akan sangat marah pada orang yang membuat bunda kami menangis) ucap Naura tersenyum sambil menghapus air mata yang lolos dari matanya


"Mikail, ayuk rindu kak..." lirihnya kembali


...****************...


Pagi ini kami bersiap akan ke Jawa Timur tempat dimana Mikail mondok. Kemarin sepulang dari rumah kak Jen, Naura mengatakan niatnya untuk menemui Mikail karena rindu dihatinya pada sang adik sudah sangat besar. Alasannya juga adalah karena kami pulang ke Indonesia.


Tentu saja aku menyetujui, karena aku juga sangat merindukan tentara hatiku itu.


Kami telah keluar dari Jatra Hotel, dan sekarang sedang berpamitan pada kak Jen


Seperti biasa, tiap akan berpisah sama kak Jen aku seperti berpisah dengan keluargaku sendiri. Air mataku terus mengalir saat aku berpamitan padanya, begitupun Naura, dia sesenggukan saat dipeluk kak Jen


"Terima kasih banyak aunty, karena telah jagain Naura selama di Pekanbaru"


Kak Jen mengusap punggung Naura sambil menitikkan air matanya


"Jangan lupain aunty"


Naura menggeleng dan makin terisak


Giliranku memeluk kak Jen, dia melakukan hal yang sama seperti pada Naura


"Kakak bahagia karena kamu jauh lebih bahagia sekarang. Kakak yakin kamu akan lebih bahagia karena ketiga anakmu menjadi seperti yang kau harapkan. Dan khusus anak kembarmu, apalagi mereka, kakak yakin tujuh turunan mereka akan makmur"


"Pokoknya kakak akan selalu menjadi saudaramu Indah, sampai kapanpun kakak ada buat kamu, jangan sungkan untuk berbagi sama kakak"


Aku hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata karena suaraku telah hilang oleh suara tangisku yang sesenggukan


Lalu kak Jen menyalami kedua orang tuaku dan seluruh keluargaku.


"Maafkan saya ya bapak-bapak sigap siaga, saya cuma ingin kalian tersenyum dan bahagia menikmati hidup saat bersama saya, bukan maksud saya ingin membuat kalian kesal"


Ketiga bodyguard kami tersenyum kearah kak Jen dan menyalaminya.


"Nanti jika kamu ke Jakarta, jangan sungkan untuk menghubungi saya, saya bersedia menjadi bodyguard kamu" ucap pak Abraham


Kak Jen tersenyum dan menganggukkan kepalanya


Lalu abang menjabat hangat tangan kak Jen


"Terima kasih Jen karena kamu telah mau menjaga dan menyayangi anak kami selama dia di Pekanbaru"

__ADS_1


"Sama-sama bos, saya melakukan itu karena saya sayang sama Indah"


Aku makin terharu mendengar jawaban kak Jen. Lalu kak Jen berjongkok memeluk Serkan dan Defne


"See you soon twins"


Serkan dan Defne tersenyum. Lalu kami semua berbaris karena tuan muda Emir ingin mengambil foto kami


"Handsome, would you like take some photos with me?"


Tuan muda Emir mengangguk, lalu kak Jen dengan cepat memepet tuan muda Emir. Dan dengan genitnya kak Jen memeluk pinggang tuan muda Emir yang sibuk mengambil swafoto mereka, aku bahkan dimintai tolong untuk memfoto mereka berdua


Dengan senang hati aku melakukan itu. Lalu kak Jen juga memintaku mengambil fotonya bersama pak Abraham cs


"Gayanya yang macho dikit" ucap pak Binsar yang membuatku terkekeh


Kami tertawa geli melihat gaya kak Jen yang bersikap macho seperti yang diminta pak Binsar


Di Bandara--


Diluar dugaan kami, di bandara ternyata Akmar telah menunggu kami. Naura yang menyadari jika ada Akmar seketika wajahnya menegang.


"Aku hanya ingin memberikan ini" ucap Akmar memberikan buket dari coklat dan juga boneka berbentuk hati berwarna pink ke tangan Naura


Dapat kulihat jika Naura gemetar mengambilnya dan memasang senyum kaku


Lalu Akmar menoleh kearah Emir lalu kembali menatap Naura


"Insha Alloh empat tahun lagi kita bertemu"


Aku mengakui keberanian pemuda ini. Sikapnya sangat gentle. Aku tersenyum kearahnya


"Istiqarah ya Nak.." ucapku


Akmar mengangguk lalu kembali menatap Naura


Dengan menelan ludah Naura menjawab


"Insha Alloh di Malang"


Akmar menganggukkan kepalanya


"Aku di Malaka" jawabnya


Naura tersenyum kaku kembali, lalu Akmar menyalami kami semua, ketika tiba giliran pada Emir dia menatap tajam kearah Emir


"Nahn natanafas bishakl eadil" (Kita bersaing secara sehat)


Emir mengangguk dengan tegas dan menatap kearah Naura yang membuang wajahnya dengan melihat kearah pesawat jet


...****************...


Seluruh keluarga ku turun dari dalam jet pribadi twins, lalu kembali lima buah mobil mewah telah menunggu kami saat kami keluar dari pintu vvip


Aku menoleh pada abang karena keheranan


"Teman abang banyak" ucapnya yang membuatku tersenyum hangat kearahnya


Karena telah tahu tujuan kami, kelima mobil itu segera melaju membawa kami ke pesantren tempat Mikail belajar.


Suasana pesantren yang tenang dan damai serta sangat kental dengan religiusnya langsung membius jiwaku hingga menjadi tentram dan damai.


Aku memeluk lengan umakku, mengajaknya berjalan memasuki pesantren


Tak butuh waktu lama untuk abang bertemu dengan kepala pesantren, karena tak lama setelahnya abang telah keluar dengan membawa Mikail


Aku yang melihat Mikail berjalan disebelah abang segera berdiri dan berlari menghambur kearahnya


Mikailpun melakukan hal yang sama, dia berlari menghambur ke pelukanku.

__ADS_1


Aku memeluknya erat dan menangis tanpa suara. Abang yang sampai di dekat kami yang berpelukan hanya mengusap-usap kepalaku


Melihat Mikail berpelukan dengan bundanya, Naura dan Adam ikut berlari. Dan mereka hanya bergeming membiarkan bundanya menumpahkan rasa rindu pada Mikail


Setelah cukup lama memeluk Mikail dan sama-sama menangis, aku melepaskan pelukanku, lalu Naura dan Adam segera merangkul Mikail


Kembali air mataku mengalir melihat mereka bertiga berpelukan


Ketiganya menyusut air mata, lalu sama-sama tertawa menyadari kekonyolan mereka.


Baru setelahnya Mikail berjalan kearah umak bapakku, memeluk mereka erat dan kembali momen haru terjadi.


Serkan dan Defne memandang heran pada Mikail yang memeluknya


"Ini kakak dek" ucapnya


Serkan dan Defne saling toleh


"Brother Mikail, do you remember?" ucapku


Keduanya mengangguk lalu memeluk Mikail yang masih berjongkok di depannya


Tuan muda Emir yang melihat keharuan di depan matanya hanya bisa terpaku. Karena seumur hidupnya dia tidak pernah berpisah dengan kedua orang tuanya. Jadi dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya Naura dan kedua adiknya yang berpisah jauh sama bunda mereka hingga puluhan tahun.


Mikail menoleh kearah Emir dengan kaget


"Itu tuan muda Emir, bun?"


Aku mengangguk


"Serius?"


Tuan muda Emir tersenyum, dan mendekat


"Assalamu'alaikum, Mikail" ucapnya sambil merangkul Mikail


"Waalaikumussalam, almuealim alsaghir"


Tuan muda Emir tersenyum. Lalu kami masuk keruangan khusus kunjungan.


Dua hari kami di Jawa Timur, kami menginap di hotel yang tak jauh dari pesantren agar memudahkan kami untuk mengunjungi Mikail


Selama dua hari benar-benar aku gunakan untuk menungguinya. Aku bahkan rela seharian di pesantren hanya demi bisa melihatnya beraktivitas, mulai dari belajar, makan siang, murojaah hingga shalat berjamaah.


Abang membebaskanku. Serkan dan Defne bersamanya. Abang benar-benar memberikan waktu seluas-luasnya untukku bersama ketiga anakku.


Dihari ketiga saat kami akan kembali ke Jakarta, kami kembali berpamitan dengan Mikail. Aku kembali memeluknya erat dan menangis sejadi-jadinya karena akan kembali berpisah dengannya.


"Bunda harus pulang lagi saat kakak pengumuman jadi tentara" ucapnya


Aku mengangguk dan mengaminkan doa anakku


"Pasti nak, pasti. Hari itu bunda akan menyaksikan bagaimana baret di pasangkan di kepalamu" ucapku sambil mengusap kepalanya


Naura dan Adam pun memeluk Mikail sambil menangis


"Tahun depan adek akan kesini juga kak, kakak tidak akan sendiri lagi" ucap Adam yang membuatku bangga akan kedekatan mereka


"Ayuk nanti di Malang dek, dan ayuk akan sering mengunjungi kamu" ucap Naura sambil menghapus air matanya


Mikail lalu memeluk umak bapakku dan juga ketiga ayukku. Saat menyalami abang aku dengar Mikail kembali berkata dan berpesan


"Jaga terus bundaku pa, suatu hari nanti tugas papa akan aku ambil alih, aku yang akan menjaga bundaku" ucapnya terisak


Abang segera memeluk Adam yang terisak, dan aku kembali harus menyusut air mataku.


"Bunda sangat sayang sama kamu nak" ucapku saat memeluknya sebelum masuk ke mobil


Mikail mengangguk dan menggenggam erat tanganku

__ADS_1


__ADS_2