Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Ketegasan Untuk Naura


__ADS_3

"Jangan kau jadikan kelemahan Naura untuk mendapatkan maaf dariku!" lanjutku lagi


"Kau lupa, jika selama ini kau tidak pernah menemui mereka, bahkan Adam lupa jika kau itu adalah ayahnya" lanjutku sambil kembali tertawa mencemooh


"Oleh karena itulah, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku dengan ketiga anak kita"


"Anak kita kamu bilang, hem?, mereka anak saya, bukan anak kamu!" bentakku


Andi mengusap kasar wajahnya


"Tujuh tahun Andi saya meninggalkan mereka. Saya jauh dari mereka, setiap hari saya harus menahan rindu pada mereka. Kamu tidak akan tahu bagaimana rasa sakitnya" ucapku lirih menahan air mata


"Dan sekarang kamu datang, sok sokan minta maaf, mau bertanggung jawab, mau minta kesempatan, enak banget idup kamu?!"


"Tolong jangan pecat saya dari perkebunan kamu Ndah" lirih Andi sambil menunduk malu


Aku terkekeh


"Kamu tahukan sekarang siapa saya?, orang yang dulu kalian remehkan, orang yang dulu kalian rendahkan"


"Kamu tahu sendiri kan berapa banyak kebun sawit saya? seratus hektar Andi, seratus! Dan itu akan bertambah jika ada pembukaan lahan baru" ucapku sombong padanya


"Dan satu lagi, kaplingan saya juga banyak, teman saya waktu mengajar dulu menawarkan tanah kaplingan pada saya, dan saya beli lima puluh kapling juga, saya rasa otak kamu akan sakit menghitung berapa banyak uang saya sekarang" tambahku makin sombong


Selagi saya memamerkan harta saya pada Andi, handphone saya berdering


"Assalamualaikum ummi" ucapku karena itu panggilan dari ummi


"Naeam , 'ana bikhayr ya 'umiy , la yajib 'an tadfae ratibi. li'anani fi 'iijazatin" (Iya, saya baik ummi. Harusnya ummi tidak usah membayar gaji saya, karena kan saya sedang cuti)


"Shukran jazilan lak 'umiy" (terima kasih banyak ummi)


Andi tampak melongo mendengar Indah berbicara, "dia memang pintar" batinnya


Aku lalu menutup panggilan dan kembali menatap Andi dengan tajam


"Kami tahu siapa yang barusan menelpon saya?, beliau adalah bos saya. Saya kerja kantoran di sana, bukan jadi lo*****te seperti tuduhan ibu kamu dan Laras"


"Dan apakah kamu tahu, beliau mentransfer gaji saya. Padahal kamu sendiri tahu saya sedang tidak bekerja dengannya. Tapi kamu lihat sendirikan, saya dikelilingi oleh orang-orang baik, orang-orang yang mencintai dan mendukung saya" ucapku dengan bangga


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa googling nama perusahaan tempat saya bekerja, Al Mursalat Ibrahim Holding!"


"Yaaa harus saya akui, saya mengucapkan terima kasih sama kamu, jika tidak karena kamu, saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Benarlah kata orang semua ada hikmahnya"


"Kamu mau kan Ndah memperkerjakan saya lagi di perkebunan?" kembali Andi memohon


Aku diam, jujur ada rasa kasihan dalam hatiku, tapi itu sangat kecil karena tertutup dengan kebencianku


"Kamu boleh gaji aku separuh asal jangan pecat aku!"


Aku diam, menoleh kearah ketiga anakku yang berlarian kejar-kejaran


"Gaji aku boleh kamu berikan kepada ketiga anak kita" lanjut Andi cepat karena Indah masih diam


"Uangku jauh lebih dari cukup untuk ketiga anakku, bahkan bisa aku pastikan jika hidup mereka tidak akan kekurangan. Karena seluruh hartaku untuk mereka bertiga, begitu juga depositoku!" jawabku


Andi menunduk malu mendengar jawaban Indah


"Jadi bagaimana Ndah, kamu masih bersediakan memperkerjakan saya di perkebunan?"


Aku menarik nafas dalam


"Iya, masih. Tapi sekali kamu melakukan kesalahan, tidak akan ada ampun lagi untuk kamu. Dan masalah gaji kamu, tenang saja saya profesional. Bos saya telah banyak mengajarkan saya bagaimana kerja profesional dan memperlakukan karyawan, jadi saya tidak akan memotong gaji kamu, saya akan menyamakan semua seluruh gaji karyawan saya sesuai dengan porsi mereka" jawabku


Andi menarik nafas lega mendengar ucapan Indah

__ADS_1


Dan kembali smartphoneku berdering. Dengan cepat aku kembali meraihnya


Mine❤️


Dengan wajah sumringah aku segera mengangkat panggilan itu


"Assalamualaikum Askim" jawabku dengan mata berbinar


"Bisa nih ngomong Turki?" jawab abang di seberang


"Not much, only that word" jawabku sambil tertawa


Andi yang melihat mata Indah berbinar bahagia jadi penasaran.


"Where are you now?" tanya abang


"At garden with my childrens"


"Best regard from me to them"


"Okay, siap sayangku"


Andi refleks menoleh ketika Indah menyebut kata "sayang"


"Love you more than after"


"Love you more than after too" balasku


Wajah Andi kian menunjukkan rasa penasaran ketika lagi-lagi dia mendengar Indah mengucap kata love.


Aku aku kembali menatap smartphone sambil tersenyum ketika panggilan berakhir


Lalu aku berdiri dan memanggil ketika anakku


"Sudah?" tanya Naura menoleh kearah Andi


Andi mengangguk


Lalu Naura mencium punggung tangan Andi diikuti Mikail. Adam tidak melakukan hal seperti kedua saudaranya, dia memilih menggandeng lenganku.


...****************...


"Tadi ayah ngomong apa bun?" tanya Naura


Aku menggeleng sambil tersenyum padanya yang duduk di sebelahku


Wajah Naura berbinar bahagia, aku tak tahu apa sebabnya, yang penting dia tidak aneh lagi, batinku


"Ayuk tu sayang banget sama ayah dan bunda" lanjutnya


"Bunda juga sayang sama kalian" jawabku


"Kalau kakak?" tanyaku menoleh melalui spion kearah anak keduaku yang duduk di belakang


"Bismillahirrahmanirrahim


وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu, Surah Al-Luqman ayat 14" jawabnya sambil menatap kearahku


"Jadi kalau kakak, ibu ibu, ibu, baru ayah. Karena jelas di ayat ini memerintahkan kepada kita untuk berbakti kepada ibu, karena telah mengandung kita selama sembilan bulan dan menyusui kita hingga dua tahun"


"Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu 'annhu, Rasulullah bahkan menyuruh kita agar bisa berlaku baik tiga kali lebih besar kepada ibu dari pada bapaknya" timpal Adam


Aku tersenyum bangga kepada kedua jagoanku.

__ADS_1


"Jadi, kalau adek, bunda bunda bunda, baru nenek" jawabnya yang membuat Mikail terkekeh


"Kok nenek sih dek?" tanyanya


Akupun sama halnya dengan Mikail, aku juga kaget mendengar jawaban anak bungsuku itu


"Karena nenek yang telah menjaga kita" jawabnya


BAMMMM!!!!


Rasanya ada sebuah gada besar yang menghantam jiwaku mendengar jawaban anak bungsuku


Tak terasa air mataku langsung mengalir


"Maafkan bunda nak ya karena tidak bisa mengasuhmu" ucapku lirih


Wajah Adam langsung berubah mendung melihatku menangis


"Adek tidak bermaksud demikian bunda, bunda jangan nangis" ucapnya menyesal


Aku menghapus air mata di wajahku.


"Demi apapun bunda akan lakukan untuk menebus masa kecil kalian yang tidak sempat bunda asuh" ucapku


"Itulah sebabnya ayuk itu kepengen bunda balikan lagi sama ayah, biar kita bisa kumpul seperti dulu lagi" ucap Naura dengan mata berbinar


Ciiiiiitttttt...!!!


Aku mengerem mendadak. Ketiga anakku kaget dan nyaris terjatuh


Aku menepikan mobil kemudian mematikan mesinnya.


Aku menatap dalam kemata Naura


"Ayuk boleh sayang sama ayah, bahkan bunda tahu ayuk sangat sayang sama ayah. Tapi bunda mohon, ayuk jangan pernah berharap untuk bunda bisa balikan lagi sama ayah" ucapku pelan


Naura balas menatap mataku


"Tapi kenapa bunda?, kenapa bunda tidak bisa balikan lagi sama ayah?" tanyanya


Aku melengos sambil menghempas nafas berat


"Toh ayah sama bunda belum berkeluarga lagi" sambungnya


Aku mengusap wajahku


"Tolong jangan mikir aneh-aneh nak ya, tolong ngertiin bunda" tambahku


"Tapi kenapa bunda, banyak orang yang cerai bisa rujuk lagi, bahkan orang tua teman ayuk ada yang rujuk setelah mereka bercerai" jawabnya


"Astaghfirullah!!" geramku


"Ini tidak sesederhana seperti yang kamu pikir nak ya, bunda sama ayah kalian sampai kapanpun tidak bisa rujuk lagi!" sambungku


Wajah Naura berubah masam


"Kamu belum mengerti permasalahan berat apa sampai kami harus berpisah nak, saat itu kamu masih kecil, belum ngerti apa-apa"


"Sekarangkan saya sudah besar" jawabnya sambil cemberut


"Oleh karena itulah, makanya bunda bilang sama ayuk, bunda tidak bisa rujuk sama ayahmu itu. Tidak akan, sampai kapanpun!!" jawabku sambil segera kembali menghidupkan mesin mobil


Sebelum menjalankan mobil aku menoleh kepada kedua jagoanku yang sedari tadi hanya diam, tersenyum pada mereka


"Kamu langsung bunda antar ke asrama, bunda akan jemput lagi setelah pembagian raport akhir semester" lanjutku sambil menjalankan mobil menuju kepesantren tempat Naura sekolah

__ADS_1


__ADS_2