
"Pokoknya aku titip hpnya Andi ke mbak ya, nanti kalau dia pulang atau besok sebelum dia berangkat kerja, tolong mbak kasih hp ini sama dia. Bilang, aku mengucapkan banyak terima kasih karena telah dipinjami hp selama dua tahun lebih" ucapku pada mbak Dian siang ini saat aku kerumahnya menitipkan hpnya Andi
"Kenapa bukan bunda sendiri yang memberikan?" raut mbak Dian bingung
"Masalahnya tidak semudah yang mbak bayangkan" jawabku
"Tapi kenapa bunda sama pak Andi harus tinggal terpisah? ribut dalam rumah tangga itu biasa bun, jangan dituruti emosi dengan pergi dari rumah membawa anak-anak" nasehatnya
Aku menarik nafas dalam. Andai aku bisa mbak, batinku.
"Maafkan aku mbak, aku belum bisa cerita untuk saat ini. Ini masih berat buat aku. Next, kapan-kapan aku pasti cerita ke mbak" janjiku
Wajah mbak Dian berubah sedih. Aku segera merangkul pundaknya
"Maaf karena aku pergi tanpa pamit. Terima kasih ya mbak karena sudah baik sama aku dan anak-anak, mau ngejagain anak-anak saat aku nggak di rumah" ucapku terbata-bata menahan haru
Mbak Dian berbalik memelukku. Dia menangis yang tak urung membuatku juga meneteskan airmata.
"Kasihan adek sama kakak, siapa yang jagain mereka" ucapnya disela isak tangisnya
"Insha Alloh akan aku bawa sekolah mbak, kalau ayuk kan dia sekolah dekat sini. Jadi mbak bisa nemuinya jika mbak kangen" jawabku
"Umak tahu bunda pergi dari rumah?" tanyanya
Aku menggeleng. Tidak ada yang tahu saat aku pergi, jika keluargaku tahu aku pergi dan mengontrak, habis aku kena marah dengan mereka
"Terus, kalau umak tahu, gimana bun?
Aku diam, aku juga bingung. Tidak mungkin masalah ini tidak sampai di telinga tetanggaku, mustahil.
"Mbak jangan ngomong sama umak. Terlebih sama kak Andri, dia jangan sampai tahu"
"Iya mbak bisa tutup mulut. Tapi tetangga bunda tidak mungkin bunda, tetangga itu bunda, terasnya sudah bersih saja dia pura-pura nyapu kalau dengar tetangga ribut" jawab mbak Dian
Aku terkekeh mendengar jawabannya.
"Ah, biarlah mbak tetangga mau ngomong apa. Terserah. Yang penting aku hidup tidak minta makan dari mereka" jawabku
"Kalau umak ada nanya-nanya sama mbak, mbak jangan bilang. Bilang aja mbak tidak tahu apa-apa" lanjutku
Mbak Dian mengangguk
"Aku pamit ya mbak, Naura sama adiknya tidak ada yang jagain. Tadi waktu aku mau kesini, aku cuma bilang kalau aku pergi sebentar, sekali lagi terima kasih" ucapku sambil memeluknya
"Jangan lama-lama ya bun minggatnya"
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Lalu aku keluar dari rumah mbak Dian, dan segera kembali kekontrakan.
"Aku bukan minggat mbak, tapi memang aku pergi dan tidak akan pernah kembali kerumah itu lagi"* batinku saat aku menghidupkan motor dan menjauh dari rumah mbak Dian
...****************...
"Wajahmu kok kusut sih sayang?" tanya Tina saat Andi mampir kekontrakannya sepulang dari kantor.
Andi merebahkan kepalanya kekursi dan memejamkan matanya.
Tina masuk kedalam dan keluar lagi dengan segelas teh hangat.
"Kamu tumben sudah di rumah. Biasanya pulang malam?" tanya Andi balik bertanya
"Ah, tadi itu kita cuma promo kekantor-kantor saja sayang, jadi tidak keluar kota"
Andi manggut-manggut mendengar jawaban kekasihnya itu.
"Bagaimana istri kamu?" tanya Tina sambil memberikan gelas teh ketangan Andi
"Kutalak dia" jawab Andi ringan
"Seriusan sayang?" mata Tina tampak berbinar
Andi mengangguk sambil meletakkan teh yang barusan diseruputnya
Andi hanya diam melihat reaksi Tina yang senang.
"Terus kok kamu murung sayang?" tanya Tina manja sambil merebahkan kepalanya kedada Andi
"Aku teringat dengan ketiga anakku saja" jawab Andi sendu
"Bagus dong mereka sama mantan istri kamu, jadi mereka tidak akan ganggu kita" jawab Tina sambil membetulkan posisi duduknya
"Naura itu tidak bisa jauh dari aku. Aku telat pulang saja dia ngamuk, nangis. Tiap aku telat pulang, rumah itu tidak boleh ditutup sama dia. Makanya aku kalau telat pulang itu selalu nelpon dia, ngasih tahu dia untuk tidak ngamuk" jelas Andi panjang lebar
Tina memasang wajah cemberut. Dia merasa bahwa sekarang yang menjadi penghalang bukanlah Indah lagi, melainkan Naura.
"Tapi kan nanti lama-lama dia terbiasa tanpa kamu" jawabnya masih dengan cemberut
Andi diam, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Diambilnya hp, lalu mendial nomor Indah. Tidak aktif, diulanginya lagi, masih tidak aktif bahkan di luar jangkauan.
Dia jadi teringat jika malam kemarin dia meminta Indah untuk mengembalikan handphonenya. Jangan-jangan sudah Indah kembalikan, batinnya.
"Terus sekarang kalian masih satu atap?"
__ADS_1
"Tidak, kemarin aku sudah meminta Indah untuk pergi dari rumah. Aku tidak tahu kemana mereka pergi"
Mata Tina kembali berbinar
"Ya sudahlah sayang, tidak usah difikiri anak-anak kamu. Aku yakin mereka bakal baik-baik saja sama ibu mereka" ucapnya lagi kembali merebahkan kepalanya di dada Andi.
Andi menarik nafas panjang. Di hatinya masih ada keraguan. Dia faham bagaimana Naura. Indah pasti kesulitan menenangkan tantrumnya.
"Aku pulang Tin" ucap Andi yang membuat Tina terpaksa menarik kepalanya dari dada Andi
"Loh kok pulang?, kan di rumah tidak ada siapa-siapa. Yakin tidak mau menginap di sini?" godanya
Andi berdiri dan segera mengambil kunci mobil
"Besok saja aku nginapnya" jawab Andi sambil berjalan kearah pintu
Dengan manja Tina menggelayut di tangan Andi, mengantarkan lelaki itu hingga masuk mobil
Lambaian tangan Tina mengantarkan Andi yang telah siap melajukan mobilnya untuk pulang kerumah
"Yes, aku menang Indah. Apa aku bilang, akan kurebut suami kamu, dan kamu lihatkan, aku menang dan kamu kalah, hahaha" katanya bergumam sendiri sambil tertawa penuh kemenangan.
...****************...
"Ini hpnya Pak Andi, kemarin siang bunda nitipinnya sama saya" ucap mbak Dian saat pagi-pagi dia kerumah Andi mengantarkan hp
Andi yang saat itu sedang memakai sepatu segera meraih hp yang diberikan mbak Dian.
Diamatinya hp 7610 itu dengan seksama. Walau sudah lebih dua tahun, tapi hp itu masih mulus dan terawat.
"Makasih ya mbak" jawabnya
"Kalau begitu aku pulang pak Andi" pamit mbak Dian
"Ehm, sebentar mbak. Kemarin Indah bilang tidak dia dimana?"
Mbak Dian menggeleng.
"Apa dia pulang kerumah orang tuanya ya mbak?" Andi kembali bertanya
"Bunda tidak kembali kerumah orang tuanya pak, kalau kata bunda kemarin sih, dia ngontrak, tapi dia tidak ngasih tahu ngontrak dimana" jawab mbak Dian
Andi terdiam mendengar jawaban Mbak Dian. Pikirannya mulai menerawang dan menebak dimana kira-kira saat ini Indah dan ketiga anaknya berada.
Tapi ah, persetan. Terserah dimana dia mau berada sekarang bukan urusan aku lagi. Aku bukan suaminya lagi, jadi terserah dia mau dimana. Dan untuk anak-anak, benar kata Tina kemarin lama-lama mereka akan terbiasa tanpa aku, batin Andi.
__ADS_1
"Sudah ya pak, aku pulang" pamit mbak Dian
"Ah, iya. Terima kasih mbak" jawab Andi yang juga segera masuk kedalam mobilnya untuk segera berangkat kerja.