Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pulang


__ADS_3

"Lebih baik kamu pulang sekarang. Kamu sudah lihat kan kliniknya Naura, kamu juga melihat bagaimana banyaknya tamu undangan, bahkan pejabat yang aku tak kenal pun datang"


"Klinik ini memang untuk Naura, Nina juga aku rekrut jadi kepala bagian administrasi, tapi bukan berarti kamu sebagai ayahnya bisa seenaknya masuk kesini"


"Kepada sepuluh orang security aku telah mengatakan jika kalian sekeluarga aku blacklist untuk kesini, kalian tidak boleh masuk klinik ku"


"Yaaa, berhubung ini grand opening, jadi kedatangan kamu aku anggap tamu biasa"


"Tidak ada lagi kan Andi yang ingin kamu katakan?, kalau tidak ada silahkan kamu keluar. Ingat, disini ada tiga bodyguard suamiku yang akan sukarela menghajar mu jika kamu berani macam-macam disini"


"Naura, bawa ayahmu keluar dari sini, setelah itu kita bicara berdua!"


Naura menghapus air matanya lalu menggenggam tangan ayahnya


"Ayo ayah, ayah harus pulang. Tolong ayah jangan hancurkan kebahagiaan ayuk. Hari ini adalah hari terbahagia dalam hidup ayuk karena memiliki klinik pribadi. Hari ini ayuk sah menjadi bos di klinik ayuk, ayuk menjadi bos termuda dan pemilik klinik termuda di kabupaten ini, jadi ayuk mohon ayah bersedia untuk pergi"


"Satu hal lagi Indah yang belum aku katakan"


Aku meremas kertas yang ada di atas meja dengan keras. Ingin sekali rasanya yang ku remas saat ini adalah wajahnya Andi bukan kertas


"Ayah, tolong pergilah!" suara Naura meninggi


Andi menatap tak percaya pada Naura, bahkan pak Tomo sampai masuk dan memegang pundak Andi


"Keluar sekarang!" ucapnya dengan suara berat yang dingin


"Tolong kasih saya kesempatan semenit saja, saya mohon"


Aku menggelengkan kepalaku dengan membuang nafas kasar


"Apalagi?"


"Aku ingin menjadi wali di pernikahan Naura, jadi aku mohon, hak itu jangan kau halangi Indah"


"Aku adalah ayah kandungnya, aku adalah wali sahnya. Kamu tidak bisa mengubah takdir itu Indah. Aku adalah ayah kandung Naura, jadi aku mempunyai hak penuh untuk menjadi wali di pernikahannya nanti"


Aku berdiri


"Kamu memang ayahnya, kamu memang walinya. Tapi demi Alloh Andi, aku tidak ikhlas jika nanti Naura diwalikan dengan kamu!!!"


"Aku ayahnya, aku mempunyai hak penuh, kamu tidak bisa mewakilkan dengan siapapun!"


Pak Tomo yang melihat Indah berdiri kembali mencengkram pundak Andi dengan kencang


"Lepaskan dia pak! Untuk kesekian kalinya aku harus melihat wajah aslimu Andi" ucapku sambil tersenyum sinis


"Ada Adam dan Mikail yang jauh lebih pantas menjadi wali Naura ketimbang kamu"


"Aku tidak akan membiarkan itu!"


"Tutup mulut kamu Andi, jangan sampai aku memerintahkan pak Tomo mematahkan tulang belulang kamu!!!"


"Ayah, Naura belum akan menikah, Akmar itu teman Naura. Naura belum menyukainya. Kami berdua masih dalam masa penjajakan"


"Dan masalah siapa nanti yang akan menjadi wali Naura biar Naura sendiri yang memutuskan, entah itu ayah, entah itu kakak atau juga adek. Yang harus ayah tahu sekarang adalah Naura sangat menyayangi bunda. Naura sakit hati jika ayah selalu memojokkan bunda"


"Pak Tomo, bawa ayah saya keluar. Jangan sampai dia masuk kesini lagi!!"

__ADS_1


Naura terduduk dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Aku langsung memegangi bahunya yang berguncang.


Sementara pak Tomo hanya dengan menggunakan satu tangan menarik pundak Andi, menyeretnya keluar.


Di koridor Adam yang mendengar teriakan Naura segera berlari dan menubruk Andi yang diseret paksa Pak Tomo


"Sekali lagi kau membuat bunda dan ayuk ku nangis, aku pastikan jika yang menyeret mu aku, bukan pak Tomo atau bodyguard yang lain" geramnya


Adam segera masuk dan dengan cepat mengusap kepala Naura


"لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْن


Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”


Naura mengangkat wajahnya dan memeluk pinggang Adam


"Ayah kita dek... ayah kita.." isaknya


Adam diam, dia terus mengusap kepala Naura yang terisak


Akmar yang melihat Naura sesenggukan hanya bisa terdiam, berdiri mematung di sebelah pak Binsar


...****************...


Kejadian malam itu tidak aku ceritakan pada siapapun. Itu hanya menjadi rahasia kami bertiga dengan para bodyguard kami dan juga Akmar


Aku tak ingin jika kedua kakakku mengetahuinya maka Andi akan menerima akibatnya.


Dua hari setelah pembukaan klinik, Akmar yang kami ajak tinggal di rumah kami berpamitan.


"Terima kasih Akmar karena mau memenuhi undanganku" lirih Naura


Akmar tersenyum. Aku membekali Akmar dengan banyak oleh-oleh khas Palembang


"Bunda yakin, mamamu akan menyukai makanan ini" ucapku yang disambut senyum simpul Akmar


Akmar menyalami kami semua tanpa Naura tentunya. Karena mereka sama-sama menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada


Diiringi lambaian tangan kami, mobil melaju pelan dan akhirnya menghilang di tikungan.


Selesai dari sana, aku dan Naura segera ke klinik. Alhamdulillahnya klinik mulai ada pasien. Dan hari ini ada tiga orang ibu hamil yang akan melahirkan.


Ketiganya masuk tak berselang lama satu sama lain. Aku yang tidak mengerti urusan medis hanya melihat klinik, berjalan-jalan dan menyapa para keluarga pasien yang menunggu


Karena di klinik ini ada tiga bidan senior, jadi Naura sesuai perintahku masih menjadi asisten.


Pagi menjelang siang ini Naura menjadi asisten bidan Karmila, membantu seorang ibu yang akan melahirkan anak keempatnya.


Naura yang memang sudah sering membantu bidan ketika dia masih kuliah dulu tidak menemui hambatan atau kesulitan. Malah bidan Karmila memujinya


Begitupun ketika malam, dia kembali membantu bidan Maliana membantu seorang ibu muda yang akan melahirkan anak pertamanya. Semuanya berjalan lancar. Aku yang masih di klinik, menungguinya tak hentinya berdoa untuk keselamatan ibu hamil dan juga keberhasilan Naura dalam membantunya


Tiap selesai membantu proses persalinan, Naura akan meneleponku dengan suara yang sangat senang. Aku tahu, dia bangga dengan keberhasilannya.


Satu lagi ibu hamil yang belum juga melahirkan. Hingga tengah malam belum juga lahir, dan itu kembali mengingatkan bagaimana lamanya prosesku melahirkan ketiga anakku dulu


Naura tetap di klinik, sedangkan aku pulang. Sepanjang malam dia bergadang menunggui dan menghibur ibu muda yang mengerang kesakitan. Hingga tepat adzan subuh, bayi yang ditunggu lahir dengan selamat.

__ADS_1


Aku yang sedang shalat membiarkan handphoneku berdering. Aku yakin itu dari Naura. Baru setelah selesai shalat aku menelepon nya balik


"Ayuk berhasil membantu tiga persalinan hari ini bunda. Bahkan yang terakhir ini ayuk sendiri yang terjun langsung. Bidan senior hanya memberi petunjuk saja"


Aku dengar suaranya sangat antusias, bisa aku bayangkan jika dia sangat bahagia.


"Selamat ya nak, sholat lah dulu, setelah itu adek akan jemput ayuk. Pulang dulu ke rumah, istirahat. Hari ini ganti shift bidan lain kan?"


"Iya bunda, ya sudah ayuk sholat dulu. Nanti suruh adek jemput ya bun"


Aku meletakkan handphone sambil tersenyum bahagia.


...****************...


Tepat satu bulan setelah pembukaan klinik Naura, aku kembali ke Jeddah. Tepatnya bulan Agustus


Aku menitipkan rumah pada orang tua dan kakak-kakakku


"Mak, jaga terus rumah ya. Jangan bosan marahin ayuk dan adek jika rumah berantakan"


Mbak Dian mengangguk sambil berlinang air mata.


Pada Nina aku juga menitipkan rumah dan klinik


"Laporkan semua masalah sama kak Andri, karena dia yang mbak percaya memantau klinik"


Lalu aku memeluk jangkung ku, gadis tercantik sedunia menurutku. Gadis tinggi yang jika bukan karena dia hafidzah sudah menjadi model di Turkiye


"Ingat pesan bunda nak ya, jaga diri baik-baik, jangan tinggi hati, jangan merasa hebat, anggaplah seluruh pasien keluarga, perlakukan mereka dengan baik, ingat niat awal ayuk membuat klinik ini untuk menolong bukan untuk mencari uang"


"Salah bunda, kan harus bayar sejuta" seloroh Adam yang membuat suasana haru menjadi tawa kecil


Lalu aku memeluk bungsu besar ku, anak kesayanganku yang sangat menyayangiku


"Ikuti terus informasi pembukaan tentara nak ya, uwak dan para bodyguard papa siap membantumu, yang penting adek jaga kesehatan"


"Siap bunda"


Lalu aku memeluk erat umak bapakku


"Jika bapak sakit, tidak perlu jauh lagi pergi suntik, di klinik cucu bapak sekarang sudah ada dokter umum"


Bapakku mengangguk. Air mataku kian deras mengalir ketika kulihat air mata bapakku berlinang


"Semoga ini bukan pertemuan terakhir kita nak" lirihnya yang membuatku kembali memeluknya


"Bapak akan terus sehat. Cepat kabari aku jika bapak sakit"


Kakak-kakakku mengangguk. Bergantian aku memeluk mereka


"Maafkan karena aku kembali harus merepotkan kakak dan ayuk"


Kak Angga memelukku erat sambil mengusap kepalaku, kak Andri tampak tegar. Dia hanya terus tersenyum ketika aku sesenggukan memeluknya


Perlahan dan pasti aku menarik koper, masuk ke dalam landasan dimana pesawat telah siap membawaku terbang ke Jakarta lalu selanjutnya pindah pesawat terbang kembali ke mansion


Dimana telah menunggu suami yang sangat mencintaiku dan kedua anak kembar kami yang setiap hari mengatakan kalimat "Miss you Ma, when you back home?"

__ADS_1


__ADS_2