Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Andi Sadar


__ADS_3

Adam terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di depan, sesuai dengan permintaan uwaknya, dan sepanjang jalan keduanya tak berani bersuara sedikitpun


Hingga satu jam berikutnya mereka telah sampai kembali di klinik. Bertiga mereka turun dari motor, dan kak Andri ikut masuk


Melihat kak Andri masuk, seluruh pegawai dan staff klinik menyapanya, karena mereka tahu bahwa kak Andri lah yang mengontrol semua yang ada di klinik


Tapi ketika melihat kening Adam yang luka mereka saling toleh dan bertanya-tanya.


"Minta obat luka mbak" ucap Naura kebagian pengobatan dengan menyebutkan nama obat yang dibutuhkannya


"Kasa sama plester juga"


"Iya bu, tunggu sebentar"


Naura mengangguk. Sebentar berikutnya, apoteker tersebut telah memberikan obat yang dibutuhkan Naura padanya


Segera mereka bertiga naik kelantai atas. Adam dan Naura masih saja tak berkutik sampai mereka masuk keruangan kepala klinik


Adam dan kak Andri langsung duduk, dan Naura langsung membersihkan luka di kening adiknya, dan langsung mengobatinya


"Sakit?" tanya Naura ketika dia membersihkan luka Adam


Adam hanya sedikit meringis, dan Naura meneruskan kegiatannya dengan memberikan obat lalu menutupnya dengan plester


Setelah selesai keduanya diam tak berani berbicara dan hanya menundukkan kepala mereka.


Sedangkan kak Andri terus memperhatikan keduanya


"Ada yang bisa berbicara di sini?" tanya kak Andri dingin


Naura dan Adam yang sejak tadi tertunduk, masih saja diam


"Untung uwak datang cepat waktu, kalau tidak, entah sudah jadi apa kamu dek oleh lelaki tua tak tahu terima kasih itu"


Keduanya masih diam


"Gimana?, enak diblokir sama bunda kalian?"


Keduanya kompak menggeleng


"Jika kalian berdua masih berhubungan dengan keluarga ayah kalian, uwak lepas tangan. Uwak nggak mau lagi ngurusin kalian, biarlah kalian diurusi mbah kalian. Biar kalian merasakan juga bagaimana rasanya diurusi keluarga ayah kalian"


Keduanya kembali menggeleng cepat


"Lah terus kalau nggak mau, kenapa masih kesana?"


"Karena kami ingin menjelas duduk perkara uang ayuk, wak. Eh malah mbah nggak terima" jawab Naura pelan


"Uwak kok bisa nyusul kami, bagaimana ceritanya wak?" tanya Adam takut-takut


"Uwak kesini dan ternyata kata security kalian pergi, terus uwak tanya kedalam katanya kalian ke trans, uwak sudah nggak enak perasaannya. Uwak yakin ini ada apa-apa, makanya uwak langsung minjam motor security biar cepat untuk nyusul kalian"


Naura menarik nafas dalam, setidaknya dia bersyukur bahwa uwaknya selalu ada untuk mereka


"Rupanya bunda kalian benar-benar marah ya sampai memblokir nomor kalian, berarti cuma Mikail yang bisa dekat dihatinya sekarang"


"Benar wak, dan tadi pagi kakak juga marah sama kami karena kami membuat bunda nangis"


"Nah itu kalau kalian mau tahu, Mikail saja dia masih memikirkan perasaan bunda kalian, lah kok malah kalian berdua tidak"


"Kami minta maaf wak.." lirih keduanya


Masih keduanya menunduk takut, sampai akhirnya handphone Naura berdering


"Dokter Malkan wak?" ucap Naura cepat


"Siapa dia?"


"Dokter yang menangani ayah"


"Angkatlah siapa tahu penting!"


Naura menurut dan segera mengangkat panggilan dokter Malkan

__ADS_1


"Ya dokter?"


"Ada kabar baik mbak Naura, ayah anda mulai menggerakkan jari dan tangannya"


Wajah Naura langsung berseri-seri


"Serius dokter?"


"Iya serius, ini saya masih berada di ruangannya, kira-kira kapan mbak bisa kesini?"


Naura langsung terdiam, dan matanya langsung melirik kearah kak Andri yang lekat menatapnya


"Nanti saya kabari dokter kapan saya bisa kesana"


"Oh, baiklah jika begitu, hanya itu saja mbak yang ingin saya sampaikan, selamat sore"


"Selamat sore dokter, terima kasih"


Lalu Naura langsung memandang kak Andri


"Ada apa dengan ayahmu?"


"Ayah mulai menunjukkan kemajuan, dokter bilang, ayah sudah mulai menggerakkan jari dan tangannya"


"Oh, uwak pikir ayahmu mati" hanya itu jawaban singkat kak Andri, tapi mampu membuat jantung Naura berdenyut


"Dokter juga nanya kapan aku bisa lihat ayah lagi"


Kak Andri diam, sedangkan wajah Naura sangat menunjukkan harapannya agar uwaknya bisa memberinya izin


"Kamu bagaimana dek?"


Adam menggeleng mendapati pertanyaan uwaknya


"Kamu nggak ingin membesuknya?"


"Nggaklah wak, cukup selama ini sudah sering menengok bahkan bergadang juga di rumah sakit"


"Uwak yakin kamu ingin melihat ayahmu kan yuk?"


"Besuklah, tapi hanya sebentar, jam sembilan malam harus sudah ada di rumah!"


Wajah Naura langsung kembali berseri-seri dan dia segera menoleh kearah Adam


"Yok dek?"


Adam kembali menggeleng dan membuat raut wajah Naura yang tadi berseri jadi kecewa


"Adek mau istirahat yuk, capek"


Naura faham, tentulah adiknya lelah karena perjalanan jauh ditambah lagi dengan luka yang ada di keningnya mungkin membuat kepalanya pusing


"Jika begitu kamu berangkat sendiri saja Yuk, ingat sebelum jam sembilan sudah pulang"


Naura mengangguk dan dengan segera dia bersiap untuk pergi. Bertiga kembali mereka turun, dan Adam memberikan kunci mobilnya pada Naura


Sebelum masuk kedalam mobil, Naura mencium punggung tangan uwaknya terlebih dahulu


Sedangkan kak Andri segera mendekati security yang tadi motornya dia pinjam


"Terima kasih ya mas untuk motornya"


"Sama-sama pak"


Lalu beliau masuk kedalam mobilnya, dan Adam naik ke motornya


...****************...


Naura telah memakai pakaian khusus ruangan ICU, dan sekarang tengah menggenggam erat tangan ayahnya


"Ayah, ayo yah bangun, tadi dokter bilang ayah sudah mulai menggerakkan tangan ayah, ayo yah, sekarang ayuk datang"


"Ayah... ayuk yakin ayah dengar suara ayuk, jadi ayuk mohon yah, bergeraklah sedikit yah biar ayuk tidak khawatir lagi"

__ADS_1


Andi masih terpejam tak bereaksi. Naura menarik nafas panjang


"Ayah... ayuk telah buat bunda kecewa, bunda marah yah sama ayuk, bahkan nomor ayuk dan adek diblokir" ucap Naura mengajak ayahnya berinteraksi


"Ayuk sangat sayang yah sama bunda, tapi ayuk tidak tahu bahwa niat ayuk untuk membantu mbah membuat luka di hati bunda"


"Kakak juga marah sama kami yah, ayah... ayah bangunlah, jelaskan sama bunda, betapa sayangnya kami sama bunda yah..." ucap Naura, dia sudah mulai terisak


"Dulu waktu kecil, ketika ayuk sakit, bunda adalah orang nomor satu yang sangat mengkhawatirkan ayuk yah"


"Tengah malam bunda membawa ayuk ke puskesmas, bunda menangis terus, kenangan itu sampai detik ini terus ayuk ingat yah" air mata Naura kian deras mengalir


"Kenangan yang paling menyakitkan untuk ayuk adalah saat ditinggal bunda ke Arab" suara Naura nyaris hilang karena dia tercekat ketika mengucapkan kalimat tersebut


"Hancur hati ayuk saat itu yah, ayuk pikir bunda akan pergi selamanya dan tak akan kembali" Naura meletakkan kepalanya di dekat Andi sambil terisak


"Ayuk benar-benar sedih ayah. Dan sekarang sedih itu kembali lagi ketika bunda marah sampai memblokir ayuk"


"Bangunlah ayah, katakan apa yang harus ayuk lakukan?, ayuk tidak mau Alloh murka sama ayuk, yah"


Air mata mengalir dari sudut mata Andi yang terpejam, dan jarinya bergerak. Naura yang melihat segera mengangkat kepalanya, menoleh ke wajah Andi yang meneteskan air mata dan menoleh kembali kearah jari Andi yang terus bergerak


Mata Naura kembali meneteskan air mata, dan kali ini tangis bahagia. Naura segera menelpon dokter Malkan, dan tak lama dokter datang dan memeriksa Andi


"Ajak terus berkomunikasi, biar merangsang otaknya"


Naura kembali duduk, menggenggam tangan Ayahnya


"Ayah, ayuk yakin ayah akan sadar dan bangun. Ayo ayah semangat ayah, ayah bilang ingin menjadi wali di pernikahan ayuk, kalau begitu ayah harus bangun, buktikan kalau ayah memang benar-benar ingin menjadi wali nikah ayuk"


Gerakan tangan Andi makin kencang dan menjalar ke bagian tubuhnya yang lain, kepala dan wajahnya yang terpasang banyak selang pun mulai bergerak


Hal tersebut makin membesarkan hati Naura, berkali-kali dia mengucap syukur dan kembali lekat menatap ayahnya dengan berlinang air mata.


...****************...


Ozkan yang mengetahui jika suasana hati istrinya akhir-akhir ini buruk, hari ini mengajak keluarganya ke Sky Bridge, dimana dulu dia pernah menggoda Indah


Dan Indah yang memang phobia akan ketinggian tetap tak berani walau ada suami dan anaknya yang menggenggam erat kedua tangannya


"Kalian benar-benar anak daddy, bukan anak mama" protesnya kepada kedua anak kembarnya ketika Serkan dan Defne berlari lincah di Sky Bridge


Ozkan dengan sayang menggenggam dan mengajak istrinya kepinggir, berdiri di balik kaca


"Dulu kita pernah kesini, dan kita sama-sama melihat keindahan kota Arab dari ketinggian. Dari sanalah untuk pertama kalinya abang tidur sambil memelukmu"


Aku langsung mendongakkan kepalaku, menghadap kearah suamiku yang memelukku dari belakang


"Kapan?, kan waktu itu kita belum nikah"


Ozkan tersenyum sambil mengangkat alisnya


"Waktu itu kamu ngingau ketakutan, jadi karna abang kasihan, abang pindah tempat tidur terus abang peluk deh kamu semalaman"


Aku langsung mencubit lengan suamiku begitu mendengar jawabannya, sedangkan Ozkan langsung tertawa terbahak.


Melihat kedua orang tuanya tertawa menarik perhatian Serkan dan Defne untuk mendekat dan berbuat iseng


Dengan cepat keduanya menarik orang tua mereka agar melepas pelukan, dan mereka tarik ketengah-tengah jembatan.


Aku yang begitu ketakutan spontan berteriak panik, tapi suami dan kedua anakku malah kian terbahak


Dengan sayang Serkan menggenggam erat tangan mamanya, membawanya berjalan pelan. Sedangkan Ozkan tidak dilepaskan oleh Defne, hanya bisa melihat Indah yang wajahnya memucat di genggaman Serkan


...****************...


"Ayah...." bisik Naura


Andi membuka matanya, mata Naura kembali basah oleh air mata melihat mata ayahnya yang sekarang terbuka.


Naura segera menciumi tangannya ayahnya yang terpasang selang berkali-kali tiada henti


"Alhamdulillah Ya Rabb, akhirnya Engkau sadarkan ayah hamba"

__ADS_1


"Ayah...." kembali Naura memanggil lirih. Tetapi mata Andi hanya terfokus menatap keatas tidak merespon panggilan Naura


__ADS_2