Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Ku Usir Kamu Seperti Kamu Dulu Mengusir Kami


__ADS_3

Selagi aku menangis sambil didekap mbak Dian, para ibu-ibu yang lain mengelus pundakku


"Nasib seseorang kita tidak ada yang tahu Ndah, kemarin kamu direndahkan, diusir dari rumahmu, dibuang dan diabaikan, tapi lihatlah Alloh membalas semua sakit dan deritamu dengan kebahagiaan" ucap salah satu ibu paruh baya sambil mengusap bahuku


Aku mengangguk sambil menyusut air mataku.


Teriakan suara anak-anak dari kolam renang membuatku tersenyum bahagia.


Lalu kembali para ibu-ibu tadi sibuk menyusun meja makan. Aku yang telah selesai membantu mereka kembali ke depan, menghampiri kak Andri


"Terima kasih kak..." hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan sambil memeluknya dari samping


Kak Andri mengusap kepalaku


"Apapun perintah kamu kakak turuti sat, asalkan kamu dan ketiga anakmu bahagia"


"Dan yang paling penting karena semua ini uang kamu, bukan uang Andri"


Aku dan yang lain langsung terkekeh mendengar jawaban kak Angga


"Ayo mak, pak, kita keliling rumah ini" ajakku


"Umak dan bapak sudah, kan yang selalu mengawasi para pekerja kami" jawab bapakku


"Tapi kan belum waktu selesai kan pak?"


Bapakku tersenyum sambil berdiri diikuti umakku


"Ayuk-ayuk kalo mau ikut?" ucapku sambil menoleh kearah kedua ayuk iparku


Dengan sayang aku menggandeng lengan umakku menuntunnya berjalan menaiki tangga diikuti bapak dan ayuk iparku


Kami naik kelantai pertama, mataku menatap ruangan besar yang berisikan satu set kursi besar mewah dan lemari kaca. Dan ada tivi layar besar juga di sana lengkap dengan segala sound nya.


Di temboknya ada hiasan kaligrafi besar, aku tersenyum melihatnya.


Kami lalu membuka tiap kamar, ketika sampai di kamar Mikail aku langsung meneteskan air mata dan menoleh kearah umakku yang masih kugandeng


"Seperti inilah mak khayalan Kakak ketika kecil dulu"


Umakku mengangguk sambil mengelus tanganku. Berkelebat kembali kenangan lima belas tahun yang lalu ketika Mikail dan Naura sibuk berkhayal tentang kamar mereka


Aku menyentuh lukisan spiderman di tembok dengan berlinang air mata


"Kakak pengen tembok kamar kakak ada spidermannya"


Ucapan Mikail terngiang kembali di telingaku. Aku terduduk di atas ranjang, menutup wajahku


"Alhamdulillah ya Alloh" lirihku sambil mengusap dadaku yang terasa nyeri


Kembali kami naik kelantai atas lagi, ketika melihat sebuah kamar yang terbuka, aku yakin itu kamar Naura. Kembali mataku terasa panas melihat kamar anak gadisku itu.


"Temboknya berwarna ungu dan ranjangnya seperti punya frozen"


Aku dipeluk ayuk iparku, keduanya mengusap bahuku. Aku menarik nafas panjang sambil tersenyum kearah mereka.


"Kamar adek di ujung"


Aku menoleh kearah bapakku, dan mengikutinya keluar dari kamar Naura.


Sampai di kamar Adam aku tersenyum


"Dia tidur ketika ayuk dan kakaknya berkhayal" ucapku pada seluruh keluargaku yang tersenyum


Bapakku membuka jendela kamar Adam sedangkan aku berjalan kearah balkon. Melihat kebawah sebentar, lalu mundur karena aku takut ketinggian


Handphone di kantong gamisku berdering


Mine❤️


Video call, dengan cepat aku menggeser keatas


"Assalamualaikum" sapaku ketika melihat rambut pirang

__ADS_1


"Mama..."


Aku tersenyum kearah Defne, ah bungsu satu ini memang tak bisa sejam saja tidak melihat wajahku


"When Mama go home?"


"Astaghfirullah, perasaan saya baru empat hari pergi" batinku


"Mama didn't know when Mama go home sweety, but Mama promised mama will go home as soon as possible"


"Sweety, mama has only been gone for four days, when she was told to go home"


Defne menoleh sambil cemberut kearah Daddynya


"How if us just follow mama?"


Mataku langsung berbinar mendengar usul Serkan


"That is good idea, dear"


Abang Ozkan tersenyum mendengar jawabanku


"Abang pikirkan lagi ya sayang, pekerjaan banyak sekali, apalagi lusa abang harus ke Turkiye, baba meminta abang kesana"


"Ya nggak papa bang, lagian sebentar lagi juga Ramadhan, jadi aku izin ya bang, awal Ramadhan aku di sini, pengen makan sahur pertama dengan umak bapak"


"Baiklah, by the way lagi dimana sayang?"


Aku menepuk keningku, lupa mengabari abang jika kami sekarang sudah di rumah anak-anakku


"Di rumah anak-anak bang, maaf lupa ngasih tahu"


"Sudah jadi?"


Aku mengangguk lalu memutar kamera belakang, memamerkan isi kamar Adam


"Mama, limin hadhih alghurfati?" tanya Serkan (Mama, kamar siapa itu?)


Abang dan twins tersenyum


"Daddy, come on we just follow mama, I want to sleep with abi Adam"


Abang mengangguk sambil mengusap kepala Serkan


"Mereka tak sabaran persis seperti kamu"


Aku mencibir mendengar ucapan abang


...****************...


"Rencananya kita kemana hari ini bun?" tanya ketiga anakku ketika kami sarapan nasi goreng buatan Mikail


Aku menggeleng, tak tahu mau kemana.


"Kita ke taman Beregam saja bunda, di sana tempatnya bagus" usul Naura


"Kok ayuk tahu, kan kita sudah lama tidak disini?"


"Tahu dari postingan teman-teman"


Kami menganggukkan kepala mendengar jawaban Naura


Selesai sarapan, ketiga anakku langsung gotong royong membersihkan sisa material yang masih teronggok di depan.


Dengan cekatan, ketiganya menyusun bata, memasukkan sisa pasir kedalam karung, sisa pecahan keramik lantai mereka kumpulkan dan sisa kayu-kayu mereka susun.


Aku sama sekali tak boleh ikut turun, aku hanya disuruh mereka duduk manis di teras


Hingga hampir jam dua belas siang, pekerjaan ketiganya belum juga selesai.


Aku menyiapkan makan siang ketika ketiga anakku sibuk berjibaku membersihkan halaman.


"Bun, ada tamu" ucap Adam yang masuk dengan kening penuh peluh

__ADS_1


"Siapa dek?"


Adam diam, dia sedang minum air es ketika aku bertanya


"Mbah sama ayah"


Tanganku yang sedang mengaduk sayur sop langsung berhenti dan dengan cepat menoleh kearahnya


"Mau apa mereka kesini!" geramku sambil melempar cempal ke lantai


Bergegas aku keluar dari dapur, Adam mengiring di belakang dengan cepat karena langkah bundanya yang tergesa


Mataku langsung memancarkan amarah ketika kulihat mobil merah terparkir di halaman rumah kami


Kulihat Andi tampak mengobrol dengan kedua anakku, mantan mertuaku sedang mendongakkan kepala mereka melihat rumah kami, sedangkan Adam berdiri di sampingku sambil memegang pundakku


"Ayuk, kakak, masuk!!!" teriakku


Ketiganya menoleh, begitu pula dengan mantan mertuaku.


Tampak Mikail menoleh kearah ayahnya dan seperti berbicara. Naura begitu aku berteriak langsung berlari ke arahku


"Maaf bunda" lirihnya


"Mau apa mereka???"


Naura menggeleng. Kulihat Mikail berjalan diikuti Andi kearah teras tempat dimana aku melihat mereka


"Stop!!, kamu nggak boleh masuk rumah anak-anakku!" teriakku


Andi langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arahku. Ketiga anakku diam, bahkan Mikail tetap berdiri di sebelah ayahnya


"Kamu ingat hah bagaimana lima belas tahun yang lalu, tepat tanggal ini kamu mengusir kami bertiga dari rumah kamu?"


"Mulai hari ini saya tidak ingin melihat kamu ada di rumah saya lagi, bawa pergi semua anak kamu, ingat kamu Andi????!"


"Ini rumah saya, bukan rumah kamu, semuanya pakai uang saya, sepeserpun tidak ada uang kamu, itu kata kamu dulu, ingat kamu ??!!!"


Adam memegang bahuku, dadaku turun naik, sedangkan Naura sudah mulai terisak


Kedua mantan mertuaku mendekat, dan berdiri di samping Andi yang menundukkan kepalanya


"Pergi kalian dari sini, kalian tidak ada hak untuk kesini lagi!!!"


Saat aku berteriak marah, ada mobil pick up masuk. Kami semua menoleh kearah pick up tersebut, aku segera membuang nafas kasar


Supirnya turun, dan mendekati kami dengan mengucap salam


Walau hatiku sedang terbakar emosi, tapi salamnya aku jawab dengan tenang


"Kami yang akan memasang pagar bu, maaf jika kami terlambat datang"


Aku menganggukkan kepalaku.


"Kerjakan secepatnya mas, pagari seluruh rumah saya dengan besi terbaik, hingga tidak ada seorangpun yang bisa masuk kecuali izin saya"


Lelaki itu mengangguk dan meninggalkan kami


"Ndah, maaf kan kami..."


Dengan mata tajam aku langsung menoleh kearah Andi


"Maaf?, maaf untuk apa hah?"


Para pekerja yang akan memasang pagar besi menoleh kearah Indah yang berteriak marah dan dengan cepat mereka bergegas menurunkan pagar yang telah jadi


"Tidak ada kata maaf untuk kalian, aku tidak akan pernah memaafkan kalian, pergi kalian dari sini!!!"


Mikail segera berbicara pada ayahnya memintanya untuk pergi, tapi dengan keras kepala Andi tetap ingin di sana


"Saya panggilkan polisi kalau kalian tidak mau pergi!!"


Wajah bu Mira yang sejak tadi aku lihat pucat makin pucat saja.

__ADS_1


__ADS_2