
Karena aku telah berjanji bahwa aku akan membawa Nina untuk terapi lagi lusa, maka malam ini selesai makan malam aku meminta pak Hermawan dan keluarganya berkumpul di ruang tamu
Aku dan Naura kembali menceritakan bagaimana tadi Nina waktu diterapi dan dokter juga meminta lusa Nina dibawa ke rumah sakit lagi.
"Biayanya mahal, bapak sama ibuk mana ada uang untuk ngobatin Nina"
Aku menahan geram dalam dadaku mendengar jawaban Laras. Ingin sekali rasanya aku lemparkan gelas teh kemukanya
"Saya sudah bilang, seluruh biaya Nina saya yang tanggung. Jadi kalian nggak usah bingung"
Wajah Laras cemberut, makin membuatku tak suka melihatnya.
"Bukan saya mengusir, biarkan mbak Ningsih di sini menunggui Nina. Yang lain bisa pulang, apalagi Dimas masih ngajar kan kak, belum libur?"
"Belum te, masih belajar aktif, bulan depan baru mau ulangan akhir semester"
"Saya In Syaa Alloh minggu depan mau ke Jawa, Adam ada acara kelulusan"
"Ke Jawa?"
Aku spontan menoleh kearah Nina yang duduk di dekat Naura
"Iya, ke Jawa. Adam ada acara kelulusan. Jadi mbak mau datang"
"Jawa.. Jawa..." berkali-kali Nina menyebut kata itu sambil menarik narik tangan Naura
Aku menatap kearah mbak Ningsih
"Dulu Nina di Jawa apa?"
"Jawa Tengah"
Aku lalu menatap Nina yang matanya mulai berkaca-kaca, lalu menoleh kearah pak Hermawan
"Bagaimana rasanya pak melihat anak bungsu bapak seperti ini?"
Beliau diam, menundukkan wajahnya
Sementara Nina terus menyebut nama Jawa
"Di mana mata hati anda sebagai orang tua, kalian bukannya mendukungnya disaat dia terpuruk malah kalian menjauhinya, Nina butuh teman, butuh dukungan"
"Dukungan nggak menghasilkan uang"
Aku dan mbak Ningsih menggelengkan kepala mendengar jawaban Laras
Sementara bu Mira kulihat seperti memijit-mijit kepalanya
"Tidak semuanya diukur dengan uang Laras, jika semuanya diukur dengan uang, saya tentu saja tidak akan memberikan tumpangan gratis pada kalian bertiga di sini"
Wajah Laras langsung memerah. Puas sekali rasanya aku men skakmat nya
"Nina mau ikut mbak ke Jawa?"
Nina langsung berdiri dan duduk di sebelahku
"Jawa.. Jawa..."
"Berapa anak Nina?"
"Anaknya dua, mungkin sekarang yang besar sudah kelas enam SD, karena dulu waktu kami tinggalkan dia sudah kelas satu SD"
Aku menoleh pada pak Hermawan yang menjawab.
"Dan satunya waktu kami tinggalkan masih umur sekitar lima tahun"
Aku menarik nafas panjang.
"Jadi Nina bersama kalian sudah lima tahun?"
Pak Hermawan mengangguk. Aku menarik nafas dalam
"Mbak akan bawa Nina ke Jawa, tapi dengan syarat Nina harus mau di terapi, ya?"
Nina memelukku, kembali menangis meraung. Sesak rasanya dadaku, aku pun ikut menangis.
Teringat bagaimana dulu aku juga hancur saat diselingkuhi Andi, hanya bisa menangis sendiri, bahkan sampai ditalak dan diusirnya dari rumah.
Belum cukup sampai disitu, ditambahi pula dengan bagaimana jahatnya mantan mertuaku, Laras dan Maria.
Tapi aku kuat karena ada ketiga anakku di dekatku, ada keluarga besar ku yang mendukungku, dan lingkunganku yang juga mendukungku.
Sedangkan Nina hanya mbak Ningsih dan keluarganya yang mendukungnya, dia terpisah dengan anaknya, tentulah dia sangat hancur.
Setelah agak tenang Nina melepaskan pelukannya padaku, aku mengusap kasar wajahku menghapus sisa air mata.
Aku mengambil handphone di kantong gamisku, menghubungi suamiku
Kulihat jam menunjukkan angka sembilan, itu artinya di Jeddah masih jam lima sore
Tak butuh waktu lama, karena panggilanku langsung tersambung
"Video call saja sayang" jawab abang
Aku segera mengubah panggilan ke mode Video
Tampil lah wajah suamiku, aku menghembus nafas panjang saking kangennya aku sama dia
Ozkan tersenyum menatap istrinya
"Siapa itu di dekat kamu sayang?"
__ADS_1
"Oh, ini Nina" jawabku, karena memang waktu ketempat mbak Ningsih abang tidak bertemu dengan Nina
Abang melambaikan tangannya
"Itu suami mbak, dia di Jeddah" ucapku pelan pada Nina
Nina menatap ke layar hp. Lalu menoleh ke arahku
"Abang, In Syaa Alloh minggu depan aku mau ke Jawa Timur menghadiri acara kelulusan adek"
"Wah, sudah mau lulus saja anak lelaki abang"
Aku tersenyum lalu menatap kearah pak Hermawan dan Bu Mira dengan senyum penuh arti
"Beritahu abang kapan kamu berangkat, biar ketiga bodyguard abang mengawal kamu"
"Tapi aku boleh bawa Nina kan bang?"
"Boleh, kenapa tidak?, bawa kemana saja yang dia mau"
"Nina... Nina mau kemana?"
Aku menganggukkan kepalaku padanya, memberi isyarat agar dia berani menjawab pertanyaan abang
"Jawa..."
"Oh ke Jawa, nanti Abang suruh bodyguard abang jaga kalian, ya..?"
Nina mengangguk
"Sayang, abang kesepian sekali kamu nggak ada. Cepatlah pulang, abang kangeennn"
"Papaaa...." Naura langsung berteriak memamerkan wajahnya sambil cekikikan
Aku ikut terkekeh. Abang memalingkan wajahnya sambil tersenyum di tahan. Aku tahu dia malu
"Sayang kok kamu nggak bilang sih kalau ada Naura"
Aku masih cekikikan.
"Bukan hanya ada Naura, tapi kami kumpul papa..." jawab Naura mengambil hp lalu memamerkan seluruh penghuni rumah
Ozkan makin menutup wajahnya
"Bilang sama bundamu, Sevi seniyorum"
Aku tersenyum lalu menjawab
"Sevi seniyorum too Mine"
Naura memutar matanya dengan malas, sementara mbak Ningsih dan istri Dimas tersenyum simpul
...****************...
Besoknya sesuai permintaanku, Dimas beserta yang lain pulang, hanya tinggal mbak Ningsih dan Nina di rumah kami
"Ndah, apa kamu tidak berniat membantu pengobatan ibu juga?"
Aku langsung menoleh kearah bu Mira dengan wajah heran.
"Ya ampun, ini orang hatinya kemana ya?, kok ya ringan banget mulutnya ngomong gitu?, lupa apa amnesia dia dengan perlakuan dia sama aku selama ini?"
"Ibuk!!" bentak Ningsih
Aku tersenyum saja
"Ada kartu kesehatan kan?"
Mereka diam
"Pakai kartu itu saja, saya bukan nggak mau bantu, tapi uang saya milik anak saya semua. Jika saya membantu ibu, itu sama halnya dengan saya mengambil uang anak saya"
Sumpah pengen banget aku ketawa ngakak melihat wajah mereka bertiga yang kecewa
"Sudah lah te, jangan dipikirin. Kaya nggak tahu mbah" ucap Dimas sambil menyalamiku
Nina memegangi tanganku seperti takut aku tinggalkan.
"Mbak nggak pergi, mereka yang pulang" ucapku sambil mengelus tangannya
28 Mei 2022
Aku mengajak umak bapakku untuk menghadiri acara kelulusan Adam yang akan dilaksanakan tanggal 30 Mei nanti
Hari ini kami berenam sudah di dalam pesawat. Nina sedikit tenang karena aku terus menggenggam tangannya
Kepada umak bapakku aku telah menceritakan semua yang terjadi pada Nina sehingga mereka juga memaklumi
Satu setengah jam berikutnya kami sudah landing di Jakarta. Seperti yang telah abang bilang, di bagian arrived ketiga bodyguard kami telah menunggu
Melihatku, ketiganya langsung berdiri dan mendekat. Aku tersenyum ramah pada ketiganya
Segera aku mendial nomor abang
"Makasih ya sayang" ucapku sambil memutar layar hp kearah pak Abraham cs.
"Apa sih yang tidak untuk kamu..."
Aku cekikikan
"Semuanya telah abang ceritakan sama mereka bertiga, urusan Nina dan bekas suaminya nanti mereka bertiga yang tangani. Kalian tenang saja"
__ADS_1
"Makasih ya sayang, I love you"
"Love you too"
Segera pak Abraham membawa kami ke restoran terdekat sebelum nanti kami terbang ke Jawa Timur
Dua jam selanjutnya, kami telah berada di dalam pesawat lagi.
Wajah Nina yang sejak tadi takut menatap ketiga bodyguard kami, perlahan dan pasti mulai biasa karena aku ceritakan bagaimana baik hatinya mereka bertiga.
Begitupun saat pesawat landing di bandara internasional Banyuwangi, ketiga bodyguard kami dengan sigap mengawal dan menjaga keamanan kami.
Kembali kami naik mobil yang telah menunggu kami di luar bandara. Aku menoleh kearah ketiganya
"Semuanya telah beres nyonya, kami tidak mau bos besar marah jika kami salah sedikit saja" jawab pak Binsar
Aku tersenyum, aku tahu bagaimana profesionalnya kerja mereka. Hingga hal terkecil pun tak luput dari perhatian mereka. Pantaslah jika abang sangat mempercayai mereka
Mobil yang membawa kami masuk kesebuah hotel. Kembali ketiganya yang turun dari mobil lain membawa koper kami.
Naura yang sudah sering bertemu dengan mereka mulai akrab. Bahkan dengan PDnya Naura berjalan di sebelah pak Tomo
Pak Tomo tersenyum segaris padanya.
"Bagaimana? pilih Arab apa Melayu?"
Naura langsung tersenyum malu mendengar pertanyaan pak Tomo
"Pilih Turkey saja lah pak" jawabnya asal
"Aamiinn.." jawab pak Tomo yang membuat Naura terkekeh
Kembali pak Abraham cs memasukkan koper kami ke dalam tiga kamar. Baru setelahnya mereka memasukkan koper mereka ke kamar mereka sendiri
...****************...
30 Mei 2022
Kami semua telah berada di dalam tenda besar di pesantren tempat si bungsu besar ku menuntut ilmu selama tiga tahun ini.
Aku tidak tahu dimana letak Mikail saking penuhnya tempat ini. Tapi aku yakin, dia mengetahui jika ada aku, bundanya di sini.
Acara berlangsung dengan khidmat. Lantunan shalawat terus berkumandang sebelum acara resmi di mulai.
Ketika acara wisuda Tahfiz diumumkan, aku menanti dengan hati deg-degan
Diawali dengan di wisudanya Tahfiz hafidzah, baru ke hafidz. Air mataku turut mengalir saat para hafidzah memakaikan jubah pada orang tua mereka, momen yang sangat mengharukan
Saat giliran disebutkan nama hafidz, aku yakin akan ada nama Adam disebutkan. Dan ternyata dugaanku tak meleset, nama Adam disebutkan nomor sepuluh. Air mataku mengalir saat mc memintaku naik. Dengan sedikit kesusahan, akhirnya aku bisa naik, Adam yang begitu melihatku langsung menyerbu memelukku. Begitupun aku, aku langsung memeluknya erat
Terlebih ketika Adam memakaikan jubah padaku, air mataku makin mengalir deras
Si bungsu besar inilah akhirnya yang memakaikan ku jubah, karena dua kakaknya yang lain memakaikan pada kedua orang tuaku karena aku tak ada
Naura mengambil momen haru tersebut lalu mengirimkannya pada ayahnya di rumah
Andi yang begitu mendapatkan WA dari Naura langsung berwajah mendung
"Kamu memang pantas mendapatkan ini Indah, karena kamu adalah ibunya Adam, sedangkan aku sempat meragukan identitasnya"
Acara perpisahan berjalan sampai mendekati waktu ashar, karena tadi di jeda ISHOMA saat Dzuhur.
Selesai acara, aku langsung mengajak Adam pulang ke hotel. Seluruh barangnya selama dia di pesantren telah disiapkannya sehingga begitu acara selesai, dengan dibantu tiga bodyguard, barang-barang Adam langsung diangkut kedalam mobil
Besoknya kami terbang ke Jawa Tengah, kami langsung menuju ke kosannya Naura. Karena Naura akan tinggal di sini, sebab pertengahan bulan depan dia wisuda.
Ternyata kosan masih sepi, karena kebanyakan teman Naura belum kembali.
Setelah membantu Naura membersihkan kosannya kami menuju hotel tempat kami menginap.
"Bagaimana?, sudah dapat informasi?" tanyaku pada pak Abraham
"Sudah nyonya, sejak bos besar memberitahu, kami langsung bergerak ke sini"
"Panggil lah saya Indah pak, saya jauh lebih muda dari bapak semua"
Ketiganya tersenyum.
"Suami saya juga kan tidak ada di sini, lagian abang juga tahu jika saya nggak suka dipanggil nyonya"
Ketiganya tersenyum
"Baiklah jika itu mau mbak Indah" jawab pak Binsar
Kembali kami memesan empat kamar. Aku sekamar dengan kedua anakku.
"Kita akan nemui anak kamu, Nina siap?"
Nina langsung mendongakkan kepalanya, air matanya langsung mengalir
"Menemui anak saya mbak?"
Aku mengangguk. Selama kami di Jawa Nina sangat tenang, terlebih ketika kami sudah di Jawa Tengah, mungkin karena dia lama disini, apalagi kedua anaknya juga disini
"Aku sangat merindukan mereka mbak.."
Aku dan mbak Ningsih segera memeluknya. Baru kali ini kami berdua mendengar kalimat itu dari mulutnya
"Kita temui mereka besok, sekarang Nina tenang ya, jangan nangis lagi"
Dia mengangguk, aku dan mbak Ningsih terus mendekapnya
__ADS_1