
"Sampai kapanpun kakak tidak akan membiarkan kamu pergi jadi TKW!! bentak kakakku
Aku cuma menunduk ketakutan
"Kalau kamu kurang uang, bilang sama kami!!" lanjutnya emosi
"Jangan pergi nak, apa kata orang, orang akan menggunjingkan kami karena tidak sanggup membiayai kamu dan anak-anakmu" ucap umakku berderai airmata
"Satu bidang kebun kita, kita jual itu cukup nak untuk biaya hidup kamu sampai anak-anakmu besar" ucap ayahku bingung sambil mengusap wajahnya
"Kalau kata kakak jangan pergi, jangan. Gaji kakak akan kakak kasih kamu Sat, tapi kakak mohon, jangan pergi" suara kakakku melemah, dia terduduk lesu di kursi
"Aku pergi karena aku memikirkan nasib anak-anakku kak" jawabku pelan
"Kamu itu tidak ada otak!! Kemana otak kamu hah!! kalau kamu memikirkan anak-anak kamu, kamu tidak akan meninggalkan mereka!!" kembali kakakku meninggikan suaranya
"Mana Indah?" teriak sebuah suara yang aku faham sekali itu kak Angga
Kakakku masuk dan langsung duduk di sebelahku. Aku makin menundukkan wajahku
"Benar yang kakak dengar kamu mau pergi jadi tkw?
Aku diam tidak menjawab. Tampak dia mendengus dengan kesal.
"Keras kepala, sangat keras kepala" geramnya
"Disuruh pulang kerumah malah milih ngontrak, sekarang malah mau jadi tkw. Kemana wajah kami Indah, kemana??!
"Susah aku kak ngomonginnya, mungkin kakak yg bisa" ucap kak Andri frustasi
Airmataku langsung jatuh. Aku menggenggam erat tangan umakku
"Kamu tidak mikir anak, Ndah" ucap kakakku getir
"Justru karena aku memikirkan mereka kak, makanya aku merantau"
Terdengar kedua kakakku menarik nafas berat.
"Anak-anak kamu bagaimana kalau kamu pergi, mereka masih kecil Ndah, kasihan. Mereka sudah tidak dipedulikan ayahnya, masa sekarang kamu juga tega meninggalkan mereka"
"Aku terpaksa kak. Aku terpaksa" jawabku terisak
"Bapak akan jual sebidang kebun kita, uangnya bisa kamu pakai modal kamu nak"
Aku menggeleng. Bapakku mengusap kasar wajahnya. Tampak buliran bening jatuh di pipinya
"Jangan buat bapak banyak pikiran nak, bapak sudah tua" ucap bapakku lirih
Aku segera bangun, memeluknya dan menangis.
"Izinkan Indah pergi ya pak, Indah mohon"
Bapakku menggeleng
...****************...
"Kalau bunda pergi keluar negeri kami sama siapa?" tanya Naura saat aku mengutarakan niatku padanya malam ini
Aku menelan ludah dan menatapnya dengan sedih
"Tinggal sama nenek ya nak"
"Kalau kami kangen, kalau adek sakit, kalau adek nangis? jawabnya sendu
Aku segera memeluknya. Airmataku jatuh berderai.
"Maafkan bunda nak, maafkan bunda"
Naura ikut menitikkan airmata saat melihatku menangis
"Bunda janji, bunda tidak akan lama perginya, nanti kalau bunda sudah dapat banyak uang, sudah buatkan kalian rumah, sudah belikan kalian mobil, bunda akan pulang" jawabku bergetar
"Bunda mau pergi jauh ya?" tanya Mikail sendu
Aku segera merengkuhnya kepelukanku.
"Kalian tinggal sama nenek ya Nak, jangan nakal" ucapku dengan airmata yang kian deras
"Nanti kalau kakak kangen sama bunda bagaimana?"
__ADS_1
Aku makin terisak. Sakit sekali rasanya dadaku.
"Bunda bakal bawakan kakak banyak mainan, ya?"
Mikail mengangguk, jelas sekali kesedihan diwajahnya. Sekuat tenaga aku menahan tangisku agar tidak kuat.
"Bunda pakai apa kesana?" tanyanya lagi
Aku mengusap wajahku, memaksa untuk tersenyum
"Pakai pesawat"
Matanya langsung berbinar
"Wahhh nanti kalau pesawatnya lewat kakak akan teriak "pesawat minta duittt"
Aku tersenyum.
"Kalian belum faham nak" batinku miris.
"Ayuk jagain kakak sama adek ya, jagain mereka, jangan dinakalin, disayang. Kalian harus saling sayang, ya nak?"
Naura mengangguk, dia langsung menangis kencang
"Ayuk tidak ingin bunda pergi"
Kembali aku memeluknya erat, airmataku kembali jatuh berderai
"Tidak lama nak, tidak lama. Bunda janji bunda akan secepatnya kembali. Saat bunda kembali, kita buat rumah impian ayuk, ya?"
Naura mengangguk. Bergantian aku memeluk mereka bertiga.
Malam ini adalah malam terakhir aku tidur bersama ketiga anakku. Karena besok sore aku akan berangkat memalui bis untuk kebalai pelatihan kerja yang ada di Tangerang.
Hari ini juga aku telah berpamitan kepada semua teman mengajarku. Mereka seakan tidak percaya saat aku menyatakan resign dan mengatakan jika aku akan jadi tkw.
Kepala sekolahku, baik yang di smp maupun sma, tampak tertegun ketika aku memberikan surat pengunduran diriku. Begitupun dengan teman-temanku. Kami saling bertangisan saat aku pamit tadi.
Tapi tekadku sudah bulat, aku akan menjadi tkw demi memberikan kehidupan yang layak untuk ketiga anakku.
Jika aku terus di sini, aku tidak yakin aku bisa memberikan kesejahteraan pada mereka, karena aku hanyalah seorang honorer yang gajinya tidak seberapa dan itupun tidak tiap bulan aku terima.
"Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Kekuatan, jika derita, duka, lara, kesakitan dan nestapa ini memang diberikan pada hamba, maka dekatkan dan suruhlah mereka merangkul hamba. Jika kesakitan ini belum Engkau rasa cukup untuk hamba, maka berilah rasa sakit itu sampai semuanya habis tak tersisa. Tapi hamba hanya memohon, waraskanlah otak dan pikiran hamba, agar hamba bisa menerima semua ini dengan ikhlas"
...****************...
"Maafkan saya ya mbak, jika selama jadi tetangga banyak salah" ucapku berpamitan pada mbak Mila pagi ini saat dua buah becak sudah mengangkut semua barang-barangku
Mbak Mila merangkulku dan juga meminta maaf untuk kesalahannya. Lalu aku berpamitan pula dengan tetangga yang lain, terakhir aku berpamitan dengan bu Tifa, pemilik kontrakan.
"Jaga diri baik-baik ya Ndah, ibu doakan yang terbaik untuk kamu" ucap beliau saat memelukku
Aku mengangguk, setelah mencium punggung tangan beliau aku berpamitan membonceng ketiga anakku menuju rumah orang tuaku
...****************...
"Kamu serius mau pergi Ndah?" tanya yuk Yana saat aku tiba di rumah orang tua kami
"Iya yuk"
Yuk Yana menarik nafas dalam
"Tidakkah kamu kasihan sama anak-anak kamu?" tanyanya sendu
Aku menunduk
"Aku dan ketiga anakku itu ibarat kuku dan daging yuk, jadi jika salah satu terlepas dari tempatnya, akan terasa sakit sekali" jawabku lirih
Yuk Yana merengkuh pundakku
"Ayuk tidak nyangka dek kalau jalan hidup kamu bakal seperti ini" ucapnya menangis
Tak urung itu membuatku menitikkan airmata juga.
"Aku titip anak-anakku ya Yuk, tolong jagain mereka. Anggap mereka seperti kelima anak ayuk yang lain"
Yuk Yana tak bisa menjawab karena dia makin terisak. Umakku menyusut airmatanya.
"Kak Andri mana mak?" tanyaku
__ADS_1
Karena ini hari minggu, jadi aku tahu dia tidak kekantor
"Dari kemarin sore dia mengurung diri tidak mau makan" jawab umakku serak
Aku tahu, kakakku melakukan ini karena dia kecewa dengan keputusanku.
Setelah menghapus sisa airmata di pipi, aku beranjak menuju kamar depan, kamar kakakku.
Aku mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Lalu aku membuka gerendel pintu yang ternyata tidak dikunci
Aku dapati kakakku duduk di lantai dengan puntung rokok berserakan. Dia memalingkan wajah ketika aku masuk.
Aku langsung menangis begitu melihatnya. Lalu aku duduk di atas ranjang
"Aku tahu kakak kecewa dengan keputusan ku" ucapku serak
Kakakku kembali menghidupkan sebatang rokok. Mengisapnya dengan dalam, seperti tidak mendengar ucapanku
"Maafkan aku kak"
Kakakku masih diam. Aku makin terisak
"Kakak sayangkan sama aku?" tanyaku
"Soal itu tidak usah kamu tanyakan sat" jawabnya dingin
"Aku tahu kakak sangat sayang sama aku, oleh karena itu aku titip anak-anak aku ya kak, tolong jagain mereka, tolong gantikan peranku sebagai orang tua mereka, tolong lindungi mereka dan sayangi mereka seperti kakak menyayangiku" ucapku terputus-putus
Kakakku langsung memelukku erat.
"Kakak sangat sayang sama kamu sat, sangat sayang" jawabnya dengan suara tercekat.
Aku makin menangis mendengar jawabannya. Apalagi ketika kulihat kakakku menghapus airmatanya.
"Pergilah jika itu memang keputusan kamu, kakak cuma pesan, jaga diri yang baik ya. Jika ada apa-apa hubungi kami. Soal anak-anakmu, jangan khawatir, kakak akan jaga dan sayangi mereka seperti kakak menjaga dan menyayangi kamu" jawabnya
Aku makin tergugu. Kakakku segera bangkit, menyambar jaket dan kunci motornya.
"Kamu mau kemana Ndri?" teriak umakku
"Keluar sebentar mak, aku tidak mau lihat Pisat pergi" jawabnya sambil mengegas motor
...****************...
Mobil jemputan yang akan mengantarkan aku keloket telah sampai. Perasaanku berkecamuk luar biasa. Aku merasa seperti tidak menginjak bumi saat aku sujud di kaki kedua orang tuaku.
Airmataku tidak tertahankan. Kedua orangtuaku pun sama, mereka menangis pilu.
Remuk rasa jantungku saat aku melihat ketiga anakku yang menatapku dengan wajah sendu mereka.
Aku memeluk erat ketiganya. Seakan ini adalah pelukan terakhirku. Berkali-kali aku menciumi pipi mereka, dan aku makin tak kuat saat aku memeluk Adam. Sibungsu yang harus aku tinggalkan. Ingin sekali rasanya aku menjerit saat aku memeluknya.
Aku memeluk yuk Yana, Yuk Diana ayuk iparku, dan mbak Dian. Kami bertangisan.
"Titip anak-anak ya mbak" ucapku pilu ketika aku memeluk mbak Dian
Mbak Dian cuma bisa mengangguk, tak bisa bersuara lagi karena beliau sama sedihnya seperti aku.
Dengan langkah berat aku berjalan kearah mobil yang terparkir di depan rumah orang tuaku, supir memasukkan koperku. Lalu aku membuka pintu mobil masuk dan duduk. Sebelum mobil berjalan aku membuka kaca mobil, melongokkan kepalaku dan menatap kembali ketiga anakku yang berurai air mata.
Aku memaksakan senyum pada mereka dan melambaikan tanganku.
Perlahan mobil berjalan dan aku memasukkan kepalaku. Aku menutup wajahku karena tidak kuat meninggalkan anak dan keluargaku
Melihat mobil bergerak, Naura langsung berteriak histeris
"Bundaaaa..... bunda jangan tinggalkan kami, bundaaa" teriaknya
Tangisku makin menjadi, aku membekap mulutku.
Aku menoleh, dapat kulihat bagaimana Naura meronta saat dipegangi oleh Yuk Yana.
"Bundaaa..." Naura kembali berteriak
Umakku segera menggendong Adam dan mbak Dian segera memeluk Mikail.
Aku menggigit bibirku, remuk redam rasa hatiku. Tapi aku harus kuat, aku harus kuat, tekadku.
#Maaf jika saya lama Upnya. Jujur bab ini sangat menguras emosional saya sehingga untuk menulisnyapun saya tidak sanggup. Airmata saya mengalir sampai saya menyelesaikannya, bahkan ketika aku memeriksa ulangpun aku kembali menangis.
__ADS_1
Terima kasih karena telah membaca novelku, terima kasih juga untuk support, kritik dan sarannya🙏🙏