
Setelah Naura menghubungi dokter Andi, dokter umum yang praktik ditempatnya, yang ternyata istrinya berdinas di rumah sakit Palembang, akhirnya bu Mira mulai masuk list pasien yang diprioritaskan, apalagi mengingat penyakit beliau yang tidak biasa
Laras dan mbak Ningsih menunggui ibunya hanya sampai sebulan, selebihnya mereka pulang
Andi dan Dimas selama bu Mira dirawat telah dua kali membesuk, mereka berdua tak bisa sering-sering datang karena mereka juga bekerja
Adam hanya di rumah, membantu dan membimbing Alan mengaji dan belajar, sesekali dia juga ke klinik sekedar menengok dan memberi support Naura, terlebih lagi jika Naura kebagian shift malam, maka Adam akan menungguinya hingga pagi.
Rumah karena telah ada penjaga keamanan yang bertugas, jadi membuat Adam tidak khawatir lagi meninggalkan Nina dan Alan berdua saja jika malam
"Pulang saja kenapa sih dek, kan ayuk ada temannya di klinik"
Adam hanya tersenyum tiap kali Naura memintanya pulang
"Adek sudah janji sama kakak, selama kakak nggak ada di rumah, maka tugas menjaga ayuk itu urusan adek"
Naura hanya mengelus kepala Adam tiap adiknya berkata begitu
"Demi Alloh kamu manis sekali dek, ayuk makin sayang sama kamu"
Dan Adam akan terkekeh tiap kali Naura berkata begitu
Seperti malam ini, Naura kebagian shift malam, dan ada seorang ibu yang mau melahirkan. Sudah dua hari di klinik, tapi belum juga melahirkan
Sudah di usg, posisi bayinya bagus dan bisa melahirkan normal, oleh karena itulah, makanya pihak keluarga tidak pulang ke rumah dan tetap memilih bermalam di klinik
Saat ini sudah lewat jam 01.00 dini hari, dan Naura piket bersama dua perawat dan bidan Maliana ketika ibu itu merasakan kontraksi yang hebat
Dengan cepat bidan Maliana memberi instruksi apa saja yang harus dilakukan oleh Naura
Dengan tenang dan sabar Naura melakukan semua instruksi yang diberikan bidan Maliana hingga akhirnya proses persalinan selesai satu jam setelahnya
"Saya tidak bisa mengadzani anak saya, saya tidak percaya diri" ucap ayah sang bayi
Naura memandang heran pada lelaki itu. Bagaimana bisa seorang lelaki tidak bisa adzan? ya Rabb, batinnya
"Walaupun suara bapak jelek, kan tidak harus kuat seperti di masjid adzan nya, jadi nggak apa-apa dong bapak yang mengadzani?"
Pria muda itu menggelengkan kepalanya
"Lantas siapa yang akan mengadzaninya? apakah ada laki-laki lain selain bapak?" tanya perawat yang telah selesai membersihkan bayi yang telah selesai IMD
Lelaki itu menggeleng. Naura yang sedang menjahit ibu bayi kembali menoleh dan menatap heran
"Di ruangan kepala ada adik saya, kalau bapak tidak keberatan, silahkan bapak naik kelantai tiga, minta bantuan pada adik saya untuk mengadzaninya"
Dengan cepat lelaki itu mengangguk dan keluar dari ruang persalinan
"Suami saya nervous bu bidan, makanya dia tidak berani untuk adzan"
Naura tersenyum kecut mendengar alasan wanita yang saat ini sedang dijahitnya
Sepuluh menit kemudian Adam masuk dengan ayah jabang bayi yang saat ini telah di bedong
"Tolong adzani ya dek"
"Iya yuk"
__ADS_1
Dengan segera Adam mengelap wajahnya yang tadi basah oleh air wudhu. Berjalan mendekat kearah bayi yang saat itu matanya nyalang terbuka
Adam tersenyum gemas melihat bayi mungil yang saat ini tepat berada di depannya
"Mengadzaninya sambil digendong dek kalau berani"
Adam menggeleng. Naura tersenyum
"Gimana mau jadi tentara, gendong bayi aja takut"
Adam menoleh kearah Naura dengan melototkan matanya
Ayah bayi mungil itu menarikkan kursi untuk Adam, lalu Adam duduk. Dengan pelan Adam melantunkan adzan tepat di telinga kanan bayi itu
Naura yang telah selesai menjahit ibu bayi itu tampak tersenyum kearah Adam
Selesai dengan adzan nya, Adam lalu berdiri dan agak membungkuk, membacakan iqamah di telinga kiri bayi.
Lalu kembali Adam membisikkan doa di telinga kanan bayi
اللهم اجْعَلْهُ بَارًّا تَقِيًّا رَشِيْدًا وَأَنْبِتْهُ فِي الْإِسْلَامِ نَبَاتًا حَسَنًا
Allâhummaj'alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan.
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam Islam dengan pertumbuhan yang baik."
Kemudian Adam mengangkat kedua telapak tangannya membacakan surah Al-Ikhlas, surah Al-Qadr dan ayat ke tiga surah Ali Imraan di telinga kanan bayi itu
وَإِنّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Wa innî u'îdzu bika wadzurriyyatahâ minasysyaithânir rajîm
Terakhir, Adam membacakan sebuah doa
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَآمَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَآمَّةٍ
A'ûdzu bikalimatiLlâhi at-tâmmati min kulli syaithânin wa hâmmatin wamin kulli 'ainin lâmmatin
Artinya: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah dari segala setan, kesusahan, dan pandangan yang jahat."
Naura dan seluruh yang ada di ruangan itu terdiam melihat aksi yang dilakukan oleh Adam
Karena biasanya hanya adzan saja, tapi ini Adam melakukan dengan cara yang berbeda
Setelah semuanya selesai, Adam berdiri menatap bayi itu sambil tersenyum dan mencium pipi bayi mungil itu yang matanya terus terbuka
"Doakan apa tadi untuk anak kami?"
Adam tersenyum kearah lelaki muda itu, ayah si bayi
"Dzikir dan doa yang saya pelajari ketika saya di pesantren yang bersumber dari salah satu kitab Sayyid Muhammad bin 'Ali al-Tarimi"
Lelaki muda itu memandang takjub pada Adam
"Siapa nama kamu dik?"
"Adam"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita beri nama anak kita dengan nama adik ini saja bagaimana sayang?" ucap lelaki itu menoleh kearah istrinya yang masih terbaring dan terus menatap kearah bayinya
Naura dan Adam saling toleh
"Iya sayang saya setuju, biar anak kita bisa seperti adik ini, jadi anak yang shaleh"
Adam tersipu malu
"Bismillahirrahmanirrahim, ayah beri nama kamu Adam, semoga nama ini membawa keberkahan dan menjadikanmu anak yang shaleh nak" ucap lelaki muda itu sambil mencium pipi anaknya
...****************...
Pukul tujuh pagi Adam membonceng Naura pulang ke rumah mereka.
Sampai di rumah, Nina telah bersiap untuk mengantarkan Alan sekolah
"Sama kakak saja ya Lan"
Alan mengangguk, setelah Naura turun, Alan naik dan Adam segera melajukan motor menuju ke sekolah Alan
"Istirahatlah, tante sudah masak, jadi kamu dan Adam bisa istirahat tanpa harus masak lagi"
Naura mengucapkan terima kasih, dan bergegas masuk. Naik ke kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah Adam pulang, motor dipakai oleh Nina, berangkat menuju klinik
Sama halnya dengan Naura, Adam segera masuk ke kamarnya, mandi lalu segera merebahkan tubuhnya
Kembali terbayang olehnya wajah lelaki muda tadi yang sangat bahagia ketika melihat bayinya. Apalagi ketika dia mendoakan anaknya
"Apakah ayah dulu juga bahagia ketika aku lahir?"
"Apa ayah juga mendoakan aku yang baik-baik?"
"Apa ayah yang mengadzaniku?"
Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
Ah, ayah pasti senang ketika aku lahir, pikirnya. Aku yakin, batinnya lagi sambil tersenyum
Seketika Adam teringat ayahnya, rasa yang tak pernah hadir sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
"Ah, untuk apa aku ingat ayah, jika ayah memang sayang dengan kami, ayah tidak mungkin meninggalkan kami" kembali batinnya berperang
Berulang kali Adam membolak balikkan badannya, berharap jika kantuk akan datang dan dia bisa melupakan Andi, ayahnya
"Astaghfirullah, apa ini cara Rabb membolak balikkan hatiku agar aku sayang dengan ayah?"
"Bunda, aku harus tanya sama bunda, bunda pasti punya jawaban seluruh pertanyaan yang ada di kepalaku"
Lalu Adam bangkit, mengambil handphone yang sedang di charger nya, berniat mengubungi bundanya
"Belum sampai pukul delapan pagi, itu artinya di Jeddah belum sampai pukul empat subuh, bunda pasti masih tidur" gumamnya
Lalu kembali handphone tersebut diletakkannya. Dan Adam naik lagi ke ranjang
"Ayuk, ayuk pasti tahu bagaimana aku kecil dulu" gumamnya sambil segera bangkit.
__ADS_1
Tapi niat kakinya untuk melangkah diurungkannya begitu mengingat jika semalaman ayuknya tidak tidur sedetikpun