
Setelah meninggalkan suamiku yang masih tertidur, aku tak langsung tidur lagi. Aku memilih masuk dapur dan melihat isi kulkas. Memeriksa bahan makanan masih tersedia apa tidak. Kulihat stok sayur, daging dan ikan masih cukup untuk dua hari kedepan.
Lalu aku memilih mencuci piring. Aku ingin menyibukkan diriku agar tidak larut dengan pikiran aneh dan sedihku.
Setelah selesai mencuci piring, aku segera mengisi rice cooker, dan menyiangi daging ayam untuk kumasak pagi ini. Selesai dengan dapur, aku kembali ke tumpukan pakaian kotor. Aku mulai memilah pakaian yang akan kuputar dimesin cuci. Pakaian anak-anak aku rendam, akan aku kucek sendiri dengan tangan. Pakaian yang besar aku putar di mesin.
Jam tujuh pagi Mbak Dian datang, dia mengetuk pintu belakang. Karena dia tahu aku pasti sudah bangun dan berada di dapur.
Mendengar ketukan pintu aku segera berjalan kearah pintu dan membukakannya untuk Mbak Dian.
Mbak Dian tertegun begitu melihatku. Aku segera melengos menghindari tatapan herannya. Karena sungkan dan tidak berani, akhirnya mbak Dian diam saja melihat mata sembab majikannya.
"Loh, kok sudah semua ini bunda?" tanyanya padaku saat tidak melihat tumpukan piring kotor.
"Sudah aku cuci tadi mbak" jawabku.
"Terus aku ngapain bunda?" tanyanya lagi bingung.
"Mbak tunggu anak-anak bangun saja, sekalian kalau tidak keberatan nyapu saja dulu mbak, pakaian anak-anak sudah aku rendam, biar aku saja nanti yang nguceknya." jawabku
Tak menunggu aba-aba lagi, Mbak Dian langsung mengambil sapu dan menyapu lantai.
Masakan ku telah siap semuanya, aku telah menaruhnya di atas meja makan, dan untuk bekal suamiku pun sudah aku siapkan dalam lunchboxnya.
Walau aku kesal dan kecewa padanya tapi aku tidak melupakan kewajibanku untuk selalu masak dan menyiapkan bekal makan siangnya. Memang dia bisa di luar, tapi dari awal menikah memang dia selalu minta dibuatkan bekal, alasannya masakanku jauh lebih enak dari di warteg, walau aku tahu itu hanya cara dia membahagiakan ku. Tapi entah kalau saat ini. Karena hatinya sudah bercabang.
Kulirik jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit. Belum ada tanda-tanda suamiku akan bangun. Kalau dia belum juga bangun, bisa terlambat dia sampai kantor. Karena itulah, aku kembali kekamar depan untuk membangunkannya.
Sesampainya aku di kamar, aku masih melihat begitu pulasnya dia tidur.
"Yah, bangun. sudah siang" kataku sambil menggoyangkan tangannya.
Tidak ada sahutan.
"Yah?" ucapku lagi.
Masih juga belum ada sahutan. Dia masih begitu pulas dan tidak mendengar panggilanku.
Disaat aku menatap wajahnya, tiba-tiba ponsel yang diletakkannya di dekat bantal berbunyi.
Nada panggilan masuk, tapi suamiku lagi-lagi tidak bangun walau ponsel itu tepat berada di dekat kepalanya.
Karena tidak diangkat, akhirnya panggilan terputus. Tak lama berbunyi lagi, iseng aku raih ponsel tersebut.
Di layar tertera nama "Gusti" yang memanggil. Mungkin teman sekantornya yang menelponnya. Aku tidak berani mengangkatnya, aku takut nanti suamiku marah. Lalu aku letakkan ponsel itu.
Tapi otak dan hatiku tidak sinkron. Otakku menyuruhku untuk memeriksa ponselnya, tetapi hatiku melarang. Dengan ragu aku meletakkan ponsel itu kembali dan membangunkan suamiku lagi.
"Yah sudah setengah delapan, nanti telat kekantornya" kataku dengan suara agak kencang agar dia mendengar suaraku.
Tubuh suamiku bergerak menggeliat dan dia membuka matanya. Dia menguap lebar, tampak sekali kantuk masih bergelayut di sana.
"Jam berapa bun?" tanyanya sambil menguap lagi.
"Setengah delapan" jawab ku
Dengan cepat suamiku langsung turun dari ranjang, meraih handuk yang tergantung di belakang pintu lalu masuk kekamar mandi yang bersebelahan dengan kamar tidur.
Sepeninggal suamiku mandi, aku membereskan tempat tidur yang agak berantakan. Menyusun bantal dan merapikan sprei.
__ADS_1
Selagi aku membuka jendela kamar, kembali ponsel suamiku berbunyi. Aku diam saja, tidak mengangkatnya. Ponselnya berhenti berbunyi, tapi tak lama berbunyi lagi tanda panggilan masuk.
"Gusti" seperti itulah nama yang tertera di layar. Aku tidak menghiraukannya, aku pergi ke kamar kami untuk mengambilkan baju kerja suamiku.
Sewaktu aku masuk kamar depan, aku melihat suamiku sedang menelpon. Begitu melihat aku masuk, dia segera mematikan ponselnya.
"Maaf, aku cuma ngantar baju ini" ucapku sambil meletakkan baju kerjanya di atas kasur lalu keluar.
...++++++++++++...
"Mbak sudah lama menikah?" tanyaku pada Mbak Dian sewaktu kami santai di ruang depan sambil menonton tivi. Sekira jam sepuluh pagi waktu itu.
"Lumayan bun" jawabnya sambil menyisiri rambut Naura yang baru selesai dimandikannya.
Mikail duduk di pangkuanku, dan diapun sudah aku mandikan. Sedang Adam karena masih bayi, dia tertidur lagi.
"Berapa tahun mbak?" tanyaku lagi.
Mbak Dian mulai menghitung-hitung jarinya.
"Lima belas tahun bun" jawabnya.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
"Lama ya mbak" jawabku. Mbak Dian mengangguk.
Dengan telaten dia membedaki pipi Naura. Setelah selesai, Naura ikutan duduk bersama kami sambil matanya fokus melihat layar tivi.
"Ayah bun, telpon ayah" ucapnya tak lama.
"Hadehh, ni anak tidak bisa jauh dari ayahnya" ucapku dalam hati
"Nggak boleh yuk, ini masih pagi. Ayah lagi kerja, nanti ya kita telpon ayahnya" jawabku.
"Mau ayah, mau ayah" dia mulai menghentak-hentakkan kakinya.
"Eh, ayuk kan sudah besar, sudah punya adek dua, masa ayuk masih manja, nanti ya sayang" aku mulai membujuknya.
"Sini, sama bukde" mbak Dian mengambil alih memangkunya.
"Nelpon ayahnya nanti ya yuk, nanti kalau sudah siang, baru ayuk nelpon ayah, nanti ayuk suruh bunda yang nelpon" mbak Dian membujuk Naura.
Setelah dipangku dan dibujuk Mbak Dian, Naura kembali fokus menonton dan tidak merengek lagi.
"Sering ribut nggak mbak sama suami?" tanyaku lagi
Mbak Dian terkekeh.
"Seringlah bun, apalagi awal-awal menikah, sering banget" jawabnya
"Maaf ya mbak, biasanya kalau ribut itu masalah apa ya mbak?" tanyaku lagi. Aku ingin tahu banyak tentang hidup berumah tangga. Aku yang sudah empat tahun lebih berumah tangga masih kurang pengalamannya.
"Macem-macem bun" jawabnya. "Kadang masalah uang, masalah anak, masalah orang tua, masalah ipar, banyak bun" lanjutnya sambil terkekeh.
Aku ikutan tersenyum mendengar jawabannya.
"Suami mbak pernah nggak selingkuh?" tanyaku lagi
"Suami mbak itu jelek bun, mana ada perempuan yang mau, mana pula kami ini orang miskin bun, apa yang diharapkan perempuan dari seorang buruh bangunan macam suami mbak" mbak Dian tergelak menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
Aku tertegun mendengar jawabannya. Apakah faktor karena suamiku tampan dan beruang sehingga membuatnya selingkuh?
Aku yakin banyak perempuan diluar sana yang menyukainya. Hatiku makin gelisah saja dengan pemikiran buruk yang tiba-tiba datang itu.
"Kenapa sih bun? mbak Dian balik bertanya.
Aku gelagapan mendengar pertanyaannya.
"Nggak ada apa-apa kok mbak, cuma pengen nanya aja" jawabku mengelak.
Mbak Dian sepertinya tidak ingin bertanya lebih jauh walau sebenarnya dia curiga dari mata Indah yang sembab dan dari gelisah yang dari tadi coba dia sembunyikan.
"Mbak, kalau pulang nanti bawa ya lauknya. Itu tadi aku banyak masak opornya, nanti tidak habis malah mubazir" kataku mengalihkan pembicaraan.
Mbak Dian mengangguk. Dia masih terus memangku Naura. Dan Mikail mulai merengek.
"Kakak mau mam?" tanyaku
Mikail menganggukkan kepalanya. Mbak Dian lalu menurunkan Naura dari pangkuannya dan berjalan kedapur mengambil nasi untuk makan Naura dan Mikail.
Tak lama mbak Dian telah muncul dengan dua piring di tangannya. Kami berdua mulai menyuapi kedua bocil yang ada dihadapan kami.
Perlu ketelatenan untuk memberi makan balita. Berkali-kali aku harus membujuk Mikail agar dia makan dan tidak bermain terus.
Jam dua belas, mbak Dian pulang setelah Naura dan Mikail tidur siang. Sepeninggalnya mbak Dian aku sendiri duduk menonton tivi sambil melamun.
...+++++++++++...
Jika biasanya aku akan tidur nyenyak kecuali Adam rewel, tapi kali ini aku terganggu dengan pikiranku sendiri.
Tadi suamiku pulang jam sepuluh malam. Aku tahu kantornya tutup itu jam lima sore, jadi kemana dia lima jam terakhir? Bersama selingkuhannya kah? lembur kah seperti alasannya? ah entahlah, aku tidak tahu. Hanya dia dan Alloh yang tahu.
Jam di dinding kamar menunjukkan angka satu lewat. Dengan pelan aku bangun dari ranjang dan membuka gerendel pintu kamar. Aku berjalan mengendap-endap kearah kamar depan. Aku mau melihat, suamiku tidur ataukah dia sedang berteleponan lagi seperti malam kemarin.
"Kamu hebat sayang, aku benar-benar puas"
Deg deg deg deg!! detak jantungku berdetak kencang saat aku mendengar ucapannya. Aku membekap mulutku. Kepalaku langsung terasa pusing, aku akan terjatuh jika tidak cepat bersender di tembok.
Terdengar suara tawa suamiku. Ya Rabb, apakah sudah sejauh itu hubungan mereka? kembali otakku mulai berselancar berpikir negatif.
"Weekend *ini kita ke Bengkulu lagi ya sayang"
"Iya, tenang saja"
"Ah, mudah itu urusannya. Istri mas tidak bakal tahu*"
Kembali terdengar suara tawa. Ulu hatiku terasa sakit mendengar tawanya. Aku sedang nifas, dia malah bersenang-senang dengan perempuan lain.
"Beli yang banyak ya sayang, biar aman"
Beli apa? tanyaku dalam hati. Aku masih berdiri menguping di depan pintu. Obrolan mereka sepertinya tidak akan selesai. Suamiku masih begitu bersemangat suaranya.
"Goyangan kamu buat mamas ketagihan"
Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Dari tadi aku berusaha menahannya tapi akhirnya pertahananku ambrol juga.
Aku menekan dadaku yang terasa sesak. Ku usap-usap untuk memberi kekuatan pada diriku sendiri.
"Iya sayang, mamas sayang banget sama kamu"
__ADS_1
Aku sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Aku lari kedalam kamar ku dan menumpahkan tangisku dalam bantal. Aku berteriak dalam bantal. Aku mengutuk suamiku. Aku terus tersedu. Aku sudah tidak tahu berapa lama aku menangis, yang aku tahu aku terbangun karena Mikail memanggilku.