Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kekebun Sawit


__ADS_3

"Assalamualaikum" ucapku ketika aku mengetuk pintu kantor sekolah tsanawiyah tempatku mengajar dulu.


Yuk Yaya yang ada di dalam kantor segera menoleh kearah pintu, begitu juga yang lainnya.


Aku langsung mengembangkan senyum, semua yang melihatku langsung berhamburan kearahku sambil berteriak histeris


"Adeeekkkkk...." teriak mereka histeris sambil rebutan memelukku


Aku memeluk mereka semua dengan erat, sambil menangis haru


Suasana kantor yang tadi sepi berubah heboh ketika aku datang, yang semula mereka fokus dengan smartphone masing-masing jadi meletakkan semua smartphonenya dan duduk mengelilingiku


Pak Suparno keluar dari dalam ruangannya ketika mendengar gaduh guru-guru. Dan aku segera berdiri begitu melihat beliau, langsung menyalaminya


"Ini Indah?" tanyanya heran sambil mengulurkan tangannya


"Iya pak, masa lupa" jawabku sambil tersenyum


"Maa syaa Alloh" sahutnya lalu ikut duduk bersama kami


Mereka rebutan berselfi denganku.


"Kok aku serasa artis ya" jawabku ketika semua temanku rebutan berfoto bersamaku


"Kangen tahu dek" jawab bu Jamilah


Selagi aku bercerita, ada telepon masuk


"Iya, terus saja sini, masuk saja" jawabku sambil melirik kearah teman-temanku yang menatap kearahku dengan curiga


Tak lama ada mobil masuk dan mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil, lalu mereka membawa masuk kedalam kantor


"Letakkan dimana bu?" tanya mereka


Aku mengedarkan pandanganku, lalu aku menunjuk sebuah meja panjang.


"Sana saja mas" tunjukku


"Apa ini Ndah?" tanya pak Suparno sambil berdiri melihat empat orang yang membawa barang


"Buka saja pak" ucapku


Pak Suparno membuka barang yang tadi diletakkan pelayan, lalu tertawa dengan mata berbinar


"Ayo makan! makan!!" ucapnya antusias karena ternyata isi barang yang tadi dibawa pelayan adalah makan siang yang sengaja aku beli untuk mereka.


"Anak-anak pak?" tanya bu Isma


"Bel 3 kali" jawab beliau yang berarti anak dipulangkan


Lalu guru piket segera menekan bel tiga kali, lalu seluruh siswa berhamburan pulang dengan kegirangan karena mereka pulang cepat.


Setelah semua siswa pulang, teman-temanku langsung menyerbu makan siang yang tersaji di atas meja, kami makan bersama dengan penuh kekeluargaan.


Selesai dengan makan siang, kami mengobrol sambil makan buah dan anek kue yang juga aku pesan.


Ada satu kardus besar yang belum dibuka, dan itu menarik perhatian seluruh temanku


"Itu apa dek?" tanya bu Kris menunjuk kardus yang dari tadi tergeletak di lantai


"Buka saja yuk" jawabku


Yuk Kris dan bu Isma langsung berdiri dan membuka lakban perekat kardus


Kembali mereka berteriak kegirangan, dan menyeret kardus tersebut kearah kami


"Maaf jika ukurannya tidak pas" jawabku


Mereka langsung berebut mengambil baju seragam yang aku belikan.


"Kayanya ini pas dengan aku" ucap bu Kis sambil segera membuka plastik baju seragam itu setelah melihat ukuran yang tertera

__ADS_1


Saat dia membentangkan baju tersebut, amplop yang sengaja aku selipkan di tengah lipatan baju jatuh


Semua mata temanku terbelalak ketika melihat lembaran uang merah jatuh dari lipatan baju yang bu Kis buka


"Kok ada uangnya dek?" tanya bu Kis heran


Aku nyengir, malu.


Semua guru yang saat itu ada di dalam ruangan langsung membuka plastik seragam mereka masing-masing dengan tak sabar


"Aduhhh, sepertinya cara aku salah" ucapku tak enak hati melihat tingkah seluruh temanku


Mereka menemukan amplop mereka masing-masing dan membuka serta menghitungnya langsung


"Serius ini dek untuk kita?" tanya yuk Yaya


Aku mengangguk pelan karena merasa tak enak hati


"Aaaahhhhh..." ucap mereka sambil kembali memelukku


"Ini sama dengan gaji kamu dulu selama setahun ya Ndah" ucap pak Suparno


Aku tersenyum


"Rezeki untuk bapak ibu semua karena telah baik sama saya" jawabku


Kembali yuk Yaya yang duduk di sebelahku memelukku


Lalu kami mengobrol hangat dan mereka sibuk bertanya tentang kerjaku di Arab, mereka kagum karena aku bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Dan aku berjanji pada pak Suparno, jika sekolah butuh dana untuk perbaikan atau membeli kebutuhan sekolah jangan sungkan untuk menghubungi saya.


...****************...


Rutinitasku selama sepuluh hari kepulanganku adalah tiap hari menunggui kedua jagoanku sekolah, guru-guru anakku awalnya tidak mengetahui jika aku ibu dari Mikail dan Adam karena mereka hanya mengenal mbak Dian, mereka pikir mbak Dianlah ibu dari kedua anakku.


Baru di hari ketiga, mereka mengetahuinya. Bahkan guru bahasa Arab sekolah Ibtidaiyah ini mengajakku mengobrol menggunakan bahasa Arab. Dan beliau sempat terbahak karena aku jauh lebih jago ketimbang beliau.


Hari ketujuhnya yaitu diadakannya tasyakuran di rumahku, hari kesepuluh aku kesekolah sma dan mts tempatku dulu mengajar, membawakan teman-temanku bingkisan dan sedikit uang untuk mereka.


Hingga dihari tepat setengah bulan aku pulang, kak Andri berniat mengajakku meninjau kebun sawit yang katanya akan panen besok.


Jadilah pagi ini kami bertiga berangkat menggunakan mobil kak Andri, awalnya bapakku memaksa menggunakan mobilnya tapi aku menolak, karena aku tidak yakin kondisi jalannya menuju perkebunan bagaimana.


"Kamu yang bawa sat" ucap kak Andri memberi kunci mobil


"Iyyy, nggak ada ceritanya ya adek perempuan yang menyetir sementara kedua kakaknya sibuk main handphone" tolakku


Kedua kakakku terkekeh


"Payah, dia tidak berubah kak. Masih manja" jawab kak Andri sambil menoleh kearah kak Angga


"Lagian aneh aku yang disuruh nyetir. Kan aku tidak faham jalannya" lanjutku


Akhirnya kak Angga yang mengalah, dia yang memilih mengemudi. Aku duduk di tengah sedangkan kak Andri disebelah kak Angga. Dengan santai kakakku mengemudikan mobil membelah jalanan daerah Merasi.


Sepanjang jalan aku dapati banyak yang dulunya sawah berubah fungsi menjadi kawasan penduduk dan ruko


"Kalau buka usaha di sini yang maju apa ya kak?" tanyaku sewaktu melihat banyak sawah yang dikaplingkan


"Nantilah kakak tanya-tanya, kamu mau buat usaha?" tanya kakakku, aku mengangguk.


Lalu kami mengobrol ringan sambil diselingi dengan tawa dan saling bercanda, hingga akhirnya aku teringat akan handphoneku yang sudah setengah bulan ini tidak pernah aku cek karena aku lebih mementingkan quality timeku dengan keluarga besarku


Aku terkaget karena handphoneku tidak hidup karena batrenya sudah habis. Lalu aku meminjam powerbank kakakku yang memang selalu dibawanya kemana saja.


Ketika handphone menyala, ada begitu banyak panggilan masuk dan bbm yang juga tak kalah banyaknya.


"Ya Rabb, mati aku!" lirihku


Segera aku buka panggilan masuk yang jumlahnya ratusan. Ternyata itu panggilan dari satu orang, Ozkan Yilmaz, yang kuberi nama "Mine" dengan emoticon hati berwarna merah


Lalu kubuka bbm, pesannya juga tak kalah banyak. Selain dari Abang, ada juga dari ummi, nona Alima dan tiga tuan muda

__ADS_1


Kubaca satu persatu pesan abang, isinya tak jauh dari kata rindu, rayuan dan sayang padaku, serta kecemburuannya karena aku tidak mengangkat panggilan dan membalas pesannya.


Sedangkan dari ummi dan nona Alima mereka mengkhawatirkan keadaanku dan menanyakan kabarku.


Beda lagi dengan tiga tuan muda, mereka merindukanku dan ingin aku secepatnya pulang ke Arab. Selain itu juga mereka mengirimkan banyak foto mereka padaku.


Aku membalas pesan mereka satu persatu dan menyatakan permintaan maafku, dan aku juga berkata jika aku merindukan mereka.


Jika membalas pesan kepada keluarga ummi aku menggunakan bahasa yang halus, beda halnya ketika aku membalas pesan abang


Aku membalas dengan manja dan juga mengatakan jika rinduku padanya lebih besar dari gunung Uhud. Begitu banyak balasanku untuk abang, isinya sama seperti abang, perasaan rindu, sayang dan juga aku tidak lupa menceritakan segala kegiatanku, termasuk sekarang, aku memberitahu abang jika aku on the way menuju perkebunan sawit. Lalu aku mengambil foto kedua saudaraku dan fotoku sendiri, lalu mengirimkan pada abang, agar dia tidak khawatir lagi.


"Loh, kok kayanya aku kenal jalan ini?" tanyaku setelah sekian lama aku hanya fokus kelayar handphone


"Inikan jalan kekampung bekas mertua kamu" jawab kak Andri


Aku segera menurunkan kaca, Ah, iya benar, ini jalan menuju desa trans tempat bekas mertuaku dulu.


Kami mulai masuk kekawasan dimana kanan kiri jalan hanya ada sawit, kembali ingatan ketika pertama kali melewati jalan ini dan ketika kami dulu bermotor bertiga ketika Naura masih kecil


Wajahku berubah mendung dan aku menarik nafas dalam mengingat itu semua, terlebih ketika dulu di jalan ini aku pernah ribut dengan Andi karena perselingkuhannya terbongkar.


Mobil berjalan agak pelan karena kakakku akan berbelok. sekitar satu kilometer akhirnya mobil kami berhenti disebuah rumah besar. Kedua kakakku segera turun dan aku mengikuti hal yang sama.


Saat kami turun, seorang lelaki seusia bapakku segera keluar dari dalam rumah bersama dengan seorang perempuan yang juga paruh baya


"Apa kabar bos, lama tidak bertemu" ucapnya sambil menyalami kedua kakakku


Aku lalu ikut menyalami beliau dan istrinya. Lalu mereka menyilakan kami masuk, yang ternyata di meja sudah tersedia aneka kue khas desa.


"Silahkan bos dicicipi" ucap pak Haryo, begitu kata kakakku semalam, beliau adalah kades yang yang ditugasi kakakku untuk memantau perkebunan sawit milikku


"Perkenalkan pak Haryo, ini adik saya. Yang pernah saya ceritakan" ucap kak Andri memperkenalkanku


Kedua suami istri itu memandang takjub kearahku, dan aku tersenyum kearah mereka.


"Jadi ini yang sering disebut bunda itu?" tanyanya


Aku mengangguk.


"Wah, ternyata masih muda ya, cantik lagi" puji bu kades


Aku membalas pujiannya dengan senyum.


"Kita tidak bisa lama-lama pak kades, karena kami akan meninjau lokasi perkebunan. Mumpung sekarang adik saya sudah pulang, jadi dia ingin melihat sendiri kebun sawit miliknya" ucap kak Angga


"Berkas yang saya minta sudah ada?" tanya kak Andri


Pak Haryo segera memberikan map kepada kak Andri lalu oleh kak Andri diserahkan padaku


Aku membuka map itu, di dalamnya terdapat peta kebun sawit milikku beserta dengan batas-batasnya, catatan penjualan selama ini serta daftar gaji seluruh pekerja kebun setiap bulan.


Lalu aku membaca satu persatu nama pekerja yang juga dilampirkan oleh pak Haryo. Dan membaca foto copyan kartu tanda penduduk dan kartu keluarga setiap pekerja.


"Maaf pak kades jika saya meminta semua ini, itu karena saya ingin mengenal dan mengetahui seluruh pekerja di perkebunan" jawabku sambil meletakkan kembali map itu di meja


"Itu masih ada yang kurang bunda, ada yang belum ngumpul" jawab pak kades


"Siapa? kenapa dia tidak mengumpulkan datanya?" tanyaku


"Mandor bunda, orang kampung sebelah, katanya sih belum sempat fotocopy" jawab bu kades


Aku menganggukkan kepalaku


"Secepatnya suruh ngumpul ya pak. Untuk laporan saya siapa saja karyawan kita" jawabku


"Nama pekerja sudah lengkap semua pak?" tanyaku


"Belum bunda, karena mandor itu belum ngumpul berkas jadi tidak saya masukkan" jawab pak kades


"Oh, tidak boleh begitu pak. Harus ditulis semua, siapa pak namanya?" jawabku sambil kembali membuka map dan bersiap menuliskan nama mandor yang tadi belum pak kades masukkan

__ADS_1


"Andi Wijaya, bunda"


Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap pak kades, lalu aku menoleh kearah kedua kakakku


__ADS_2