
"Untuk beberapa hari ini kita tidak bisa bertemu, jadi kamu bekerja sendiri, tidak apa-apa kan?" ucap abang di jam istirahat kerja kami
Aku yang sekarang memimpin hotel punya ummi, bekerja dibawah bimbingan abang
"Abang mau kemana?" tanyaku
"Pulang ke Turki, baba meminta saya pulang"
Raut wajahku langsung mendung
"Hei, are you okay?, kenapa jadi begitu wajahnya?" tanya abang sambil memegang tanganku
"Kalau nanti tuan Yusuf tidak mengizinkan abang kembali ke Jeddah bagaimana?"
Ozkan langsung menyandarkan tubuhnya kekursi dan melipat jarinya, di tatapnya Indah dengan lamat
"Yaaa abang harus jadi anak patuh" jawabnya sengaja ingin menggoda Indah
Aku makin memanyunkan bibirku
"Jadi abang akan menurut jika tuan Yusuf meminta abang tetap di Turki?"
Ozkan mengangguk. Aku menghembus nafas dalam
"Apakah kau takut jika jauh dariku?"
Aku diam tidak menjawab pertanyaan abang. Harusnya abang sudah tahu jawabannya tanpa aku harus menjawab
"Indah, apakah kau benar-benar mencintaiku?" ucap Ozkan menatap dalam mata Indah
"Ini pertanyaan apalagi sih bang, jelas aku sangat mencintaimu" jawabku pasti
Ozkan mengembangkan senyum di bibirnya.
"Kalau begitu kita menikah!"
"Apa ini sebuah lamaran?" tanyaku karena abang kembali meraih tanganku
Ozkan menggeleng
"Ini bukan sebuah lamaran, tapi ini sebuah permohonan"
Aku tersenyum mendengar jawaban abang
"Menikahlah denganku, dan jadilah pendampingku" lirih abang
Wajahku langsung panas, dan abang langsung memeluk erat tubuhku.
...****************...
"Semuanya sudah siap?"
"Sudah bos"
"Penerbangan saya sebentar lagi, pastikan jika semua yang saya suruh beres!"
"Siap bos, semuanya telah kami laksanakan"
"Bagus!"
Lalu Ozkan memasukkan smartphone kedalam saku jasnya dan dengan gagah dia berjalan menaiki tangga pesawat
Ozkan duduk di first class dan sebelum pesawat benar-benar take off dia kembali mengelus gambar Indah yang dijadikan wallpaper handphone
__ADS_1
"Maaf jika aku membohongimu, ini harus aku lalukan" lirihnya sebelum mengubah mode smartphonenya menjadi mode pesawat.
Nyaris dua belas jam Ozkan di dalam pesawat, dia terjaga ketika pesawat sudah landing.
Dengan meregangkan sedikit tubuhnya, Ozkan lalu keluar dari ruangan first class, berjalan kearah pintu keluar
"Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di Jakarta" gumamnya saat kakinya menginjak Bandara Soekarno-Hatta
Ozkan segera mengeluarkan smartphone dari saku jasnya, dan tak lama setelahnya meletakkan benda hitam itu di telinganya
"Kalian dimana, hah?!" bentaknya
"Bos berbalik kebelakang, kami berdiri tak jauh dari bos"
Dengan kesal Ozkan mematikan panggilan dan memutar tubuhnya. Abraham dan kedua temannya, Binsar dan Tomo tampak berjalan kearah Ozkan
"Kan sudah saya bilang, saya tidak ingin menunggu!" ucap Ozkan dingin ketika ketiga anak buahnya itu berdiri tegap di depannya.
"Maafkan kami bos, kami sudah dua jam menunggu bos di bandara ini!" jawab Binsar
Ozkan mendecak mendengar alasan anak buahnya
"Tapi kami menunggu bos di sebelah sana" lanjutnya sambil menunjuk dengan kelima jarinya kearah utara, tempat mereka muncul lagi
Ozkan segera berjalan, ketiga anak buahnya langsung mengikuti di belakangnya
"Laporannya mana?!" tanya Ozkan sambil mengangkat tangannya
Dengan sigap Abraham segera memberikan kertas laporan ketangan Ozkan
Tomo segera berlari mendahului dan membukakan mobil untuk Ozkan, lalu dia memutar kearah kemudi ketika Ozkan sudah duduk di dalam
Tomo mengemudikan mobil, sedangkan Binsar dan Abraham mengikuti di belakang dengan motor besar mereka.
"Kita sudah sampai bos" ucap Tomo sambil membukakan pintu
Ozkan segera mengangkat kepalanya dari kertas yang sejak tadi mengalihkan seluruh perhatiannya
Segera dia turun, dan berjalan masuk kedalam apartemen tempatnya tinggal dulu
Ketiga bodyguardnya kembali mengawalnya di belakang saat dia masuk kedalam apartemen
Seluruh penghuni apartemen memandang pada mereka berempat ketika mereka berjalan kearah lift
Pesona Ozkan memang tidak bisa mengalihkan perhatian siapapun, apalagi saat ini dia memang sangat maskulin dan cool
"Bilang sama mereka, jika aku sudah punya istri!" ucap Ozkan dingin ketika mereka masuk lift
Abraham menahan senyum begitu juga dengan Binsar dan Tomo.
Ozkan segera masuk kedalam apartemen yang sudah tujuh tahun ditinggalkannya itu.
Selama ini yang menjaga dan menunggu apartemen itu hanya ketiga bodyguardnya, itupun bergantian, selebihnya apartemen mewah ini kosong
Mata Ozkan memandang berkeliling ruangan apartemen, dan tampak mengangkat alisnya ketika dilihatnya apartemen itu bersih terawat
"Good job guys" ucapnya pada ketiga anak buahnya yang berdiri tegap di dekat pintu masuk
"Jam berapa penerbangan saya selanjutnya?" tanyanya pada Abraham
"Jam sebelas bos" ucap Abraham
Ozkan mengangkat tangan kirinya melihat jarum jam yang bergerak di pergelangan tangannya tersebut
__ADS_1
"Tiga jam lagi" ucapnya sambil segera mengendurkan dasi yang masih terpasang rapih di lehernya
Lalu dia melempar jas yang dari kemarin belum di lepasnya keatas kursi dan dengan santainya dia melemparkan tubuhnya keatas kasur
"Dua jam lagi bangunkan saya!" ucapnya sambil memejamkan matanya
Ketiga bodyguardnya langsung berbagi tugas. Abraham mengambil jas yang tadi dilemparkan Ozkan, Binsar langsung melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki Ozkan. Sedangkan Tomo langsung berjaga di luar, di depan pintu
...****************...
"Kita tidak nyasarkan?!" suara Ozkan berubah khawatir ketika matanya menatap hamparan sawah di kanan kiri
"Tidak tuan, ini satu-satunya jalan menuju ketempat tujuan tuan" jawab supir travel yang sudah dipersiapkan Abraham
"Kamu tidak lupa juga kan Abraham?" geram Ozkan
Abraham yang duduk di sebelah supir segera menjawab pasti
"Tidak bos, jangan khawatir. Saya dulukan lima bulanan tinggal di sini, jadi saya masih ingat. Karena kota dan jalanan disini tidak banyak berubah" jawab Abraham yakin
Ozkan kembali menatap keluar dari balik kaca yang tertutup
"Menurut kamu, apakah penampilan saya sudah sempurna?" ucapnya setelah mereka lama diam
Abraham kembali menoleh kebelakang
"Perfect bos" jawabnya
Ozkan kembali menghembuskan nafas dalam, karena dadanya merasakan gugup untuk pertama kalinya.
"Jangan khawatir bos, bismillah saja!" ucap Abraham tanpa berani menoleh kebelakang, karena dia yakin bos nya itu akan marah
"Tutup mulut kamu!!!" bentak Ozkan
Abraham segera mengatupkan bibirnya mendengar bentakan bos dinginnya itu
"Apa masih lama?" kembali Ozkan bertanya dengan nada cemas
"Ini sudah masuk wilayahnya tuan, tinggal belok di kiri depan" ucap sang supir yang terus melajukan mobilnya
"Benar jalan ini Abraham?!" Ozkan bertanya pada Abraham kembali dengan nada yang sama seperti tadi, gugup
"Sepertinya begitu bos" jawab Abraham
"Awas kalian berdua jika nyasar, saya pastikan kalian tidak akan selamat!" geram Ozkan
Supir travel yang melajukan mobil menelan ludah dengan ketakutan. Sedangkan Abraham yang memang masih sedikit mengingat jalan yang dulu pernah dia lewati berusaha tenang
"Tembok putih dengan pagar besi hitam itu, itu rumahnya, berhenti di sana!" tunjuk Abraham
Mobil kembali masuk pelan kedalam gang, supir menjalankan mobil dengan sangat pelan karena banyak anak kecil yang bermain di pinggir jalan
...****************...
Dengan gugup Ozkan turun dari mobil putih yang membawa mereka.
Ditariknya nafas dalam saat Abraham mendorong pagar besi
"Ayo bos!" ucap Abraham ketika pagar telah terbuka lebar
Ozkan kembali menarik nafas dalam dan menoleh gugup kearah Abraham. Untuk pertama kalinya seumur hidup Abraham melihat wajah Ozkan yang sangat tegang.
Andai tidak akan dihukum atau dibunuh Ozkan, ingin sekali detik ini dia mengambil foto wajah tegang Ozkan dan memamerkan pada kedua rekannya yang lain
__ADS_1