
Tahun 2021
Naura telah memasuki semester ke enam, Mikail sudah tamat SMA dan Adam sekarang kelas dua SMA. Saat kelulusan Mikail aku tidak datang sama sekali, karena covid melanda seluruh dunia.
Sebenarnya aku bisa datang, dengan konsekuensi isolasi selama dua minggu. Tapi karena ada orang tuaku dan Naura serta Adam yang ada di sana, makanya aku memilih untuk tidak hadir walaupun tentu saja dengan sesak di dada. Karena sejak Mikail lulus SD aku sama sekali tidak pernah menghadirinya.
Aku meminta maaf pada Mikail karena tak bisa hadir, dan seperti biasanya, Mikail akan berbesar hati memaafkan dan memaklumi ku
"Tidak apa-apa bunda, kan ini juga tidak ceremony besar, hanya ayuk yang masuk, nenek sama uwak di hotel, mereka cuma lihat melalui zoom"
Saat itu aku hanya bisa menangis. Lalu aku meminta link agar aku bisa pula menyaksikan saat anak tersayang ku di pasangkan samir oleh kepala sekolahnya.
Bertepatan dengan hari kelulusan Mikail, abang sengaja memasang infocus di rumah agar kami semua bisa menyaksikan acara kelulusan Mikail.
Serkan dan Defne yang saat itu school from home juga bisa menyaksikan bagaimana kakaknya di wisuda.
Seluruh peserta didik memakai masker dan hanya mata mereka yang kelihatan, dan jarak mereka satu sama lain pun berjauhan
Satu persatu disebutkan nama mereka, tiba giliran Mikail aku memandang infocus tak berkedip.
Tampak Mikail dengan setelan celana hitam dan jas berjalan maju. Tak ada tepuk tangan, tak ada kemeriahan, semuanya biasa saja.
Hatiku sangat nelangsa melihatnya. Ketika dipasangkan samir ke lehernya dan akan turun dari podium, Mikail melambaikan tangannya.
Aku menyusut air mataku, ingin sekali rasanya aku memeluk dan memberinya ucapan selamat
Karena acaranya biasa saja akibat covid, jadilah acara kelulusan ini berjalan singkat.
Setelah acara kelulusan melalui zoom selesai dan abang mematikan infocus aku menutup wajahku.
Aku menangis sesenggukan.
"Video call lah sama Mikail, abang yakin dia senang" ucap Ozkan sambil merengkuh pundak istrinya
Aku segera mengambil handphone, mengirimi Naura pesan WA
Bunda bisa video call sekarang nak?
Centang dua, belum di baca. Aku yakin saat ini Naura sedang sibuk mengurusi Mikail, karena hanya dia yang bersama Mikail
Aku menatap abang dengan wajah yang masih mendung sambil menggelengkan kepalaku
"Ya sudah, nanti kan bisa"
Aku mengangguk lalu merebahkan kepalaku di dada abang
"Betapa banyak dosaku sama kakak bang, sejak kecil dia sudah kekurangan kasih sayangku, harusnya dia masih minum ASI ku harus aku sapih karena aku telah hamil Adam, harusnya dia masih aku gendong, sudah tidak lagi karena perutku kian membesar"
"Ketika dia sudah agak besar, aku meninggalkannya, dan bertahun-tahun tak pulang bahkan nyaris aku berfikir jika ketiga anakku telah lupa bagaimana wajahku"
"Saat dia lulus SD, aku tidak ada di sampingnya, begitupun ketika dia lulus SMP, hanya keluargaku yang mendampinginya, bahkan sekarang ketika dia tamat SMA, hanya Naura yang ada di dekatnya"
Aku terus terisak.
"Aku gagal jadi bunda yang baik untuk Mikail. Padahal aku sangat menyayanginya, melebihi apapun, aku sangat menyayanginya"
Ozkan memeluk erat istrinya yang kian terguncang. Serkan dan Defne yang melihat mamanya menangis hanya bisa memasang wajah mendung
"La tabki ya 'umiy" (jangan nangis terus ma)ucap keduanya membujukku agar berhenti menangis.
Selagi aku menangis, handphone berdering
Ayuk Naura
Dengan cepat aku mengangkat panggilan video call darinya
"Assalamualaikum bunda"
Aku menjawab salamnya dengan masih berlinang air mata
"Mana kakak?"
Muncullah wajah Mikail, semakin besar wajahnya makin putih dan mirip Andi, hanya saja matanya besar seperti mataku, tapi rambutnya tetap pirang kecoklatan tak berubah sejak kecil
"Assalamualaikum bunda"
Air mataku kembali deras mengalir ketika wajahnya muncul.
Abang memegang pundakku yang berguncang. Aku tak bisa berkata apa-apa untuk sekian detik
Kulihat Mikail juga menyusut air matanya
"Jangan nangis bunda, kakak sudah lulus, harusnya bunda bahagia"
Aku menutup mulutku menahan suara tangisku agar tak keluar.
"Kakak sayaaaanggg sekali sama bunda" lirihnya sambil kembali menyusut air matanya
"Bunda jangan menyalahkan diri sendiri karena tak hadir, karena kakak yakin, jika tidak covid bunda pasti datang"
__ADS_1
"Bagi kakak yang terpenting adalah doa bunda, karena berkat doa dan kerja keras bunda, kakak bisa tamat sampai SMA dan Insha Alloh sebentar lagi kakak jadi TNI" lanjutnya sambil berusaha tertawa diakhir kalimatnya agar aku bisa tersenyum
Aku tersenyum tapi air mataku masih terus mengalir
"Selamat ya nak, bunda juga sayaaaaang sekali sama kakak" ucapku dengan suara bergetar
"Congratulation brother..." teriak twins
Mikail tersenyum dan melambaikan tangannya. Mendengar ada suara twins, Naura dan Adam mendekat dan mereka melambaikan tangan kearah kami
"Miss you twins..." ucap Naura
Lalu Serkan dan Defne duduk di pangkuanku, dan abang mengelus kepala keduanya
"Maafkan bunda karena tak bisa datang ya nak, ingin sekali nak rasanya bunda datang, tapi apalah daya. Bunda doakan semoga kamu nanti bisa jadi tentara dan bunda bisa hadir dihari kelulusanmu"
"Aamiinn" jawab ketiganya kompak
"Mana uwak nak?"
"Ada apa sat?"
Kakakku menampakkan wajahnya
"Kak, sepulang dari Jawa Timur tolong nanti mampir ke showroom mobil, belikan kakak Mikail mobil Pajero Sport"
Ketiga anakku saling toleh mendengar ucapanku
"Nggak usah bunda, untuk apa?"
"Sebagai hadiah kakak karena lulus, dan sebagai permintaan maaf bunda karena tak bisa hadir di setiap kelulusanmu"
Mikail menggeleng
"Untuk apa bunda, kakak belum membutuhkan mobil"
"Jadi kakak nggak mau nerima hadiah dari bunda sebagai wujud bahagianya bunda karena kakak lulus?"
"Bukan begitu bunda, tapi kan mobil Pajero Sport mahal"
"Keberhasilan Tahfiz mu jauh lebih berharga buat bunda nak"
"Kalau kakak nggak suka warna hitam, kakak bisa milih warna lain nanti"
Mikail diam, tampak sekali bingung di wajahnya
Wajah Naura dan Adam sumringah, senyum mereka mengembang.
"Mau kan kak?" tanyaku karena sejak tadi Mikail hanya diam
"Biar uwak yang ngajarin kamu belajar mobil, nanti kalau sudah lancar baru kita beli"
Mikail mengangguk, dan aku tersenyum.
...****************...
Selesai semua dengan urusan sekolah Mikail, sambil menunggu ijazahnya keluar, umak bapakku membawanya pulang ke rumah.
Seperti janji kak Andri, kak Andri mengajari Mikail belajar mobil dua jam perhari.
Tak butuh waktu sampai sebulan, akhirnya Mikail lancar. Dan hari ini, kak Andri membawa Mikail ke showroom mobil.
Begitu sampai di showroom kak Andri langsung melakukan video call padaku
"Kami sudah di showroom mobil sat"
Lalu tampil barisan mobil berjejer rapih
"Ke Pajero kak"
Tampak kakakku dan Mikail berjalan diikuti seorang lelaki paruh baya
"Kakak jangan tegang dong" godaku
Tampak Mikail tersenyum
"Ini Pajero nya pak, bapak mau yang type seperti apa?"
"Mau yang seperti apa kak?"
Tampak Mikail bingung dan celingak celinguk
"Type Dakar 4x4 AT kak" ucapku pada kak Andri
Kak Andri menatap kembali handphonenya
"Apa sat?" ucapnya sambil mengarahkan handphone kearah lelaki paruh baya yang tadi menemani mereka
"Dakar 4x4 AT kak"
__ADS_1
Wajah lelaki paruh baya itu langsung tampak terkejut
"Yang ini pak kalau type itu" ucapnya sambil mengajak kakakku dan Mikail berjalan kearah agak kedalam
Kak Andri dan Mikail tampak mengelilingi beberapa mobil dengan warna yang berbeda.
"Warna apa yang bagus bunda?"
Lalu kakakku kembali mengarahkan kamera kebelakang agar aku bisa menentukan warna apa yang cocok untuk anakku
"Jet black kak, gagah sekali warna hitam itu. Pas lah jika nanti kakak membawanya" ucapku sambil terkekeh
Mikail mengangguk
"Warnanya sesuai apa yang tadi bundaku katakan"
Kembali lelaki itu menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita kebagian administrasi untuk menyelesaikan seluruh administrasinya"
Kak Andri mengangguk lalu mengajak Mikail mengikuti lelaki paruh baya yang sudah berjalan lebih dulu
Sampai di bagian administrasi mulailah beliau menjelaskan bagaimana prosedurnya
"DP nya seratus juta pak, dan biaya perbulannya paling rendah yaitu selama lima tahun atau enam puluh bulan sebesar Rp. 16.750.000"
Kakakku tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dan memandang kearah Mikail yang wajahnya menegang
"Wak, mahal sekali"
Kak Andri masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan wajah lelaki paruh baya yang duduk di depan kakakku hanya diam memperhatikan
"Bagaimana pak?, jadi yang Pajero tadi?, memang harganya mahal pak, tapi saya bisa pastikan jika bapak tidak akan kecewa. Karena spesifikasi mobil ini sangat luar biasa, dan ini adalah type berbaik dan termahal di kelas Pajero Sport"
"Tidak bisa kurang lagi pak?" tanya kak Andri
Aku yang masih on pada video call menahan tawa karena kakakku sedang mengerjai lelaki itu
"Kami mohon maaf tidak bisa pak, itu sudah harganya. Jika kredit memang segitu"
Kembali kak Andri menganggukkan kepalanya
"Bunda harganya mahal, nggak jadi aja ya. Kakak mobil yang biasa saja"
Aku menggeleng
"Bunda maunya ngasih kakak type yang itu"
"Kak, aku mau ngomong sama bapak tadi"
Kak Andri memberikan handphone di tangannya pada lelaki paruh baya di depannya
Setelah aku bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas aku langsung berbicara
"Maaf bapak, saya adalah bunda dari anak lelaki yang saat ini duduk di sebelah kakak saya. Saya mau memberinya sebuah mobil sebagai hadiah karena anak terhebat saya itu sekarang sudah sah menjadi seorang hafidz"
Tampak lelaki itu manggut-manggut dan tersenyum ramah
"Kalau cash berapa itu pak?"
Dapat kulihat wajahnya agak kaget
"Kalau cash Rp. 878.000.000 bu"
Aku diam sebentar
"Bungkus kalau begitu pak. Semua administrasinya saya serahkan sama kakak saya"
Lelaki paruh baya itu langsung terdiam tak berkata apa-apa sampai kakak saya memanggil barulah dia sadar
"Serius cash pak?"
"Ya seperti yang adik saya bilang. Kalau kata dia cash, berarti cash"
Lelaki itu segera memanggil bagian administrasi dengan gugup untuk mengurus segala urusan surat menyurat.
"Saya pesan plat khusus pak" ucapku yang membuat lelaki itu melongokkan kembali kepalanya ke handphone kakakku
"Ya bu?"
"Plat nya 3003 MKL"
"Siap bu"
"Angka apa itu bun?"
"Tanggal dan bulan kelahiranmu nak, dan belakang itu singkatan nama panggilanmu, Mikail"
Mata Mikail langsung berkaca-kaca dan dia tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya dapat memandang dalam ke wajah bundanya dengan tatapan kerinduan yang tak bisa dilukiskan
__ADS_1