Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pulang Kampung


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju bandara air mataku tak hentinya mengalir. Sampai pesantren hilang dari pandanganku barulah tubuhku duduk sempurna.


Apalagi tadi, nyeri sekali rasanya dadaku saat Mikail melambaikan tangan kearah mobil kami yang kian menjauh.


Aku terus melongok kan kepalaku agar bisa terus melihat Mikail. Air matanya makin membuat sudut hatiku tercabik-cabik.


Setelah pesantren hilang dari pandanganku, aku segera menutup wajahku dan menangis hingga bahuku berguncang.


Serkan dan Defne yang melihat mamanya menangis hanya bisa menatap bengong.


Aku memiringkan kepalaku, menempelkannya di kaca. Adam yang duduk di sebelahku menempelkan kepalanya di bahuku


"Jangan nangis bunda, kan kakak kita sehat dan baik-baik saja"


Aku diam tak menjawab omongan Adam, aku masih saja terus terisak. Dua hari rasanya singkat sekali buatku. Apalagi aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa ngobrol banyak dengannya.


"Tahun depan kan adek juga akan mondok tempat kakak, jadi kakak tidak sendirian lagi. Nanti ada adek yang nemani kakak"


Aku membalikkan kepalaku menatapnya yang masih nempel di bahuku, mencium puncak kepalanya


"Are you okay Ma?"


Aku mengulurkan tanganku menggapai Serkan yang duduk dipangkuan Naura


Defne yang duduk dengan abang di depan melongok kan kepalanya ke arahku


"Mama ok dear"


Serkan tersenyum lalu membelai tanganku


Ozkan yang duduk di depan menarik nafas dalam tersenyum kearah istrinya.


Akhirnya mobil kami sampai di bandara, kami segera naik ke jet lalu pesawat jet segera take off membawa kami ke Jakarta.


...****************...


"Kita belanja dulu di tanah abang" ucapku


Seperti biasa ketiga bodyguard selalu siap kemana pun untuk mengawal kami.


"Maaf ya sayang, abang nggak ikut nganterin kamu belanja, abang ada urusan sedikit"


Aku mengangguk kearah suamiku


"Nggak papakan abang nggak ikut?"


"Iya nggak papa"


"Yang lain, jika ingin istirahat, bisa ikut saya ke apartemen saya"


Ternyata diantara banyaknya rombongan cuma bapakku yang ingin istirahat, lainnya ingin belanja semua


"Emir?"


"Emir ikut bunda uncle, Emir ingin tahu, seperti apa belanja di sini"


"Kalian honey?"


Serkan dan Defne segera melompat minta digendong daddynya


"You not follow me, dear?"


"No, mama. We want to follow daddy"


Aku menoleh kearah abang yang sudah memegang tangan twins


"Mr. Axton masih senang bertemu dengan kedua keponakannya"


Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku setuju ketika mengetahui jika suamiku mengajak twins menemui Mr. Axton, CEO Salam Group


"Jangan ganggu daddy sayang ya, bersikaplah manis"


Serkan dan Defne mengangguk. Abang segera menggendong twins.


"Satu biar bapak yang gendong"


"Bapak jalan saja, mereka biar saya yang gendong. Mereka berat, nanti bapak capek"


Bapakku menurut.


"Kalian jaga seluruh keluargaku, biar aku dan bapak pergi sendiri"


Ketiga bodyguard mengangguk dan mulai berdiri di belakang ku dan keluarga besar ku.


Kami segera naik mobil lalu meluncur ke tanah abang. Tak butuh waktu lama untuk kami sampai di sana. Begitu sampai aku segera mengajak seluruh anggota keluarga untuk membeli pakaian apapun yang mereka inginkan

__ADS_1


"Tuan muda Emir, kamu sama saya saja"


Emir segera menoleh kearah Naura dan mengangguk setuju.


"Ayok dek, kita bertiga"


Adam mengangguk lalu segera mengikuti ayuknya dan tuan muda Emir masuk kedalam beberapa toko mencari pakaian


Aku segera menggenggam tangan umakku, lalu membawanya berbelanja.


"Umak tinggal pilih saja, nanti aku yang bayar"


Umakku hanya tersenyum dan mengikuti ku berjalan.


Emir tidak satupun memilih baju, dia hanya sibuk merekam suasana pasar tanah abang, bahkan sesekali dia memutar hpnya kearah Naura yang sedang melakukan transaksi tawar menawar


Cukup lama kami berbelanja hingga akhirnya sangat banyak baju yang kami beli.


"Emir sudah selesai belanjanya nak?"


Emir menggeleng


"Loh, kenapa?"


Naura menahan senyum melihat bundanya kaget


"Saya bingung bunda"


Aku segera menoleh kearah Naura dan Adam


"Saya nggak tahu selera dia seperti apa bunda, lagian tuan muda Emir mana mau belanja di tempat seperti ini" elak Naura


Aku menggeleng


"Emir tidak seperti itu, ayo sayang sama bunda" ajakku pada Emir


Emir menoleh kearah Naura


"Naura yok ikut juga" kataku


Naura mengangguk, lalu kembali kami masuk ke beberapa toko memilihkan baju untuk tuan muda Emir


Emir beberapa kali meminta pendapatku dan juga Naura dengan beberapa baju dan jeans yang dipilihnya


Sebenarnya kami cukup kesulitan memilihkan Emir pakaian, karena benar kata Naura, selera Emir berbeda.


...****************...


Aku segera mengajak keluarga besar ku makan di restoran sebelum kami kembali lagi ke bandara untuk terbang ke Lubuklinggau.


Saat kami makan handphone ku berdering


"Ya sayang?"


"Sudah selesai belanjanya?"


"Iya sudah, ini kami lagi makan"


"Sama, abang dan bapak juga sedang diajak makan siang ini sama Mr. Axton"


Aku tersenyum


"Satu jam lagi kita ketemu di bandara, ya?"


"Okey bang"


Lalu aku kembali memasukkan handphone kedalam tas, melanjutkan makan siangku


Emir terus saja mencuri pandang kearah Naura, dan aku melihat itu


"Sayang, makanlah dulu" ucapku


Wajah Emir langsung berubah kaget dan dengan malu dia tersenyum ke arahku


Untuk Emir, sengaja aku pesankan masakan Arab agar dia bisa makan dengan sempurna.


Sekitar lebih satu jam kami di restoran itu, barulah setelahnya kami kembali ke bandara.


Benar tebakanku, abang sudah ada di Bandara. Abang memang sangat konsisten, jika katanya satu jam lagi, pasti satu jam lagi itu dia sudah tiba di tempat


Aku berjalan kearah abang dengan tawa nyengir


"Maaf, lama ya nunggunya..."


Abang tersenyum sambil mengusap kepalaku

__ADS_1


"Kalau sudah selesai, ayo kita pulang"


Aku mengangguk dan segera mengajak keluarga besar ku naik pesawat jet lagi


...****************...


Aku turun paling akhir, itu memang ku sengaja. Aku berdiri di atas tangga, menatap berkeliling bandara Silampari


Senyummu mengembang dan aku menarik nafas dengan dalam


"Terima kasih Rabb, akhirnya aku kembali lagi kesini" lirihku


Sementara keluargaku yang lain mulai berjalan keluar bandara, kulihat Kak Angga dan kak Andri memeluk istri dan anaknya lalu mencium punggung tangan kedua orang tua kami


"Hoi turun!!!" teriak kakakku


Aku terkekeh, tak memperdulikan teriakannya. Kembali aku memutar pandanganku menghirup dalam-dalam udara kota tercintaku


"Biarlah, kita tinggalkan bundamu" ucap kak Andri


Aku melihat seluruh keluargaku mulai berjalan keluar bandara segera turun dari tangga dan berlari kecil menyusul mereka


"Jahat ya!" teriakku sambil melompat kebelakang kak Angga


Sambil tertawa kak Angga dan kak Andri memelukku


"Sehat sat?"


Aku mengangguk dan kembali memeluk keduanya


Serkan dan Defne menatap heran ke arahku yang sedang tertawa dengan kedua kakakku


"Lihat kak, anakku heran" ucapku menahan tawa


"Anak kamu kaya bule" jawab kak Andri


"Twins, come here, he is your uncle. They are mama's brother" ucapku


Serkan dan Defne yang digandeng abang mendongakkan kepalanya menatap kearah daddy mereka


Kakakku mendekati mereka lalu mengulurkan tangan


"Hai, I am your uncle, welcome in Lubuklinggau"


Serkan dan Defne menyambut tangan kakakku lalu kembali mengeratkan pelukan mereka kekaki abang


"Takut anak Indah sama kamu, habisnya kamu serem"


Kak Andri menyeringai mendengar ucapan kak Angga, sementara kami semua tersenyum


"Ayo ayo kita pulang, kasihan Dian menunggu sendirian di rumah"


Mataku langsung berbinar saat kakakku menyebut nama mbak Dian.


"Dua mobil apa cukup kak?" protes ku karena hanya ada dua mobil


"Lah itu travel yang kakak sewa" tunjuknya pada satu buah travel yang tak jauh dari mobil kak Andri dan bapakku


"Kamu sat yang bawa mobil" kata kak Angga


"Nggak mau"


"Ihhh tetap ngeyel sih"


Aku terkekeh, lalu segera mengambil kunci dari tangannya.


"Naura sebelah bunda ya"


Naura mengangguk. Lalu abang bersama twins masuk diikuti oleh Adam dan juga Tuan muda Emir


Sementara kak Andri naik bersama istri dan dua anaknya beserta orang tua kami


Dan kak Angga beserta keluarganya naik travel.


Aku berada di tengah. Kak Andri di depan


"Ini adalah kampung halaman bunda, tuan muda Emir" ucapku pada Emir melalui kaca spion


"Abang, buka kacanya, biar tuan muda bisa melihat keluar"


Abang membuka kaca, dan segera kedua anak kembarku langsung ribut menunjuk-nunjuk kearah hamparan sawah yang menghijau


"Itu sawah sayang" ucapku


Dapat kulihat jika tuan muda Emir juga sama antusiasnya seperti anakku

__ADS_1


"Di Jeddah nggak ada ya sayang pemandangan seperti ini" lanjutku


Emir tersenyum dan tak henti-hentinya mengambil gambar melalui smartphone nya.


__ADS_2