Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Ke Pengadilan


__ADS_3

Adzan subuh dari mushalla di puskesmas membangunkanku. Mataku masih begitu berat rasanya. Dengan sedikit menyeret langkah aku keluar dari IGD setelah sebelumnya aku memeriksa keadaan Naura.


Selesai shalat, aku kembali masuk IGD, membetulkan selimut di tubuh Naura dan aku kembali duduk di kursi, memeluk Naura dan kembali memejamkan mata.


Aku terjaga saat aku mendengar Naura merintih. Aku segera berdiri dan berjongkok di depan wajahnya. Menatap dengan cemas


"Iya nak?" tanyaku


Naura membuka matanya, tampak dia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan


"Ini di Puskesmas, semalam ayuk bunda bawa kesini" ucapku


Naura melihat pergelangan tangannya yang tertutup kain kasa infus.


"Ayah mana?" tanyanya


"Nanti siang ayah kesini" jawabku


"Sungguh?" tanyanya


Aku mengangguk. "Maafkan bunda nak, sekali lagi bunda berbohong" batinku.


Aku segera menoleh ketika ada seorang perawat yang masuk.


"Bagaimana dek?, masih panas?" tanyanya sambil meletakkan termometer keketiak Naura.


"37°" ucapnya setelah mengambil termometer yang telah berbunyi


"Masih berbahayakah sus?" tanyaku cemas


"Insha Alloh tidak, asal adik mau minum obat" jawabnya sambil memeriksa selang infus


"Nanti agak siang bisa pindah keruang perawatan" ucapnya sambil mengelus kepala Naura.


Setelahnya perawat tersebut keluar dari dalam ruangan.


"Nanti obatnya diminum ya sayang, biar kita cepat pulang kerumah kita" ucapku


"Rumah kita yang dekat mamak?" tanya Naura cepat


Aku diam dan segera membetulkan rambutnya untuk mengalihkan perhatiannya.


"Bunda mau telpon nenek dulu, ngasih tahu nenek kalau kita disini" kataku sambil segera mengambil hp yang terletak di atas nakas.


Lalu aku melangkah keluar ruangan. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat pak Abraham telah duduk di kursi tunggu depan IGD.


"Sejak kapan bapak disini?" tanyaku


"Sebelum shubuh" jawabnya


"Kok aku tidak lihat bapak saat aku keluar?" tanyaku


"Bapak ke toilet" jawabnya


Aku tersenyum.


"Terima kasih ya pak, sudah jagain kami" ucapku


Beliau mengangguk.


"Saya mau nelpon orangtua saya dulu pak"


"Oh, silahkan. Bapak juga mau keluar sebentar" jawabnya sambil segera berjalan menjauh


Kulihat beliau mengeluarkan hp dari saku jaketnya


"Saya sudah bertemu mbak Indah bos. Anaknya baik-baik saja. Dan saya akan terus memantau keadaan mereka"


Aku menatap tubuh pak Abraham yang kian menjauh menuju parkir. Sambil menarik nafas dalam aku segera mendial nomor umakku


"Hallo mak" ucapku begitu panggilan tersambung


"Ya nak, ada apa?" jawab umakku


"Kami di Puskes, semalam Naura aku bawa kesini"


Segera terdengar suara umakku panik dan berteriak memanggil bapakku.


"Ya nak?" suara bapakku


"Naura dirawat pak, ini kami lagi di Puskes" jawabku


"Iya, bapak sama umak langsung kesana"


Panggilan langsung terputus


Aku tersenyum membayangkan pastilah saat ini umakku berteriak-teriak heboh menyuruh bapakku mandi cepat, membangunkan kak Andri.


Lalu aku menelpon mbak Mila.


"Ya Ndah, bagaimana Naura?" suara mbak Mila langsung bertanya begitu panggilan tersambung

__ADS_1


"Insha Alloh baik mbak" jawabku


"Anak-anak sudah bangun belum mbak?" lanjutku bertanya


"Belum, nanti kalau Adam nangis mbak akan telpon kamu, ya? kamu jangan khawatir, mbak ada jagain mereka"


"Makasih ya mbak"


"Iya, sama-sama"


Jam menunjukkan pukul 07.10, wajar jika kedua anakku belum bangun fikirku. Karena mereka berdua memang sulit dibangunkan.


"Telpon ayah" Naura kembali merengek


Dengan menarik nafas panjang aku mendial nomor Andi


Tersambung, tapi tidak diangkat.


"Tidak diangkat nak" ucapku


Wajah Naura cemberut. Aku mengulangi menelpon Andi tapi masih juga tidak diangkat.


Aku segera mengelus kepalanya. Terdengar pintu ruangan dibuka, muncul wajah umakku. Beliau langsung masuk dan segera memeluk Naura sambil menangis


"Ya Alloh cu" ucapnya tersedu.


Tak lama muncul bapakku. Sama seperti umakku, beliau segera memeluk Naura dan menitikkan airmatanya. Aku membuang wajahku saat melihat airmata di wajah umak bapakku. Aku dengan cepat mengusap airmata yang juga jatuh di pipiku.


"Kapan masuknya?" tanya bapakku sambil masih memeluk Naura


"Jam 3 tadi" jawabku.


Lalu aku menceritakan jika yang mengantarkan kami adalah suaminya mbak Mila.


"Naura rindu sama ayah nek" lirih Naura


Bapakku mencium puncak kepala Naura yang saat itu duduk sambil didekapnya dengan memejamkan matanya. Aku kembali melihat ada airmata mengalir di wajah bapakku.


"Ayahmu sudah mati!" jawab umakku kesal


"Mak!!" potongku cepat


Umakku menoleh padaku, aku menggelengkan kepalaku kearahnya. Tampak sekali kesal di wajah umakku.


"Bundaaaa...." teriak kakak yang tiba-tiba muncul sambil berlari masuk


Aku segera merentangkan tanganku dan memeluknya.


"Kebiasaan! ada apa-apa tidak ngasih tahu!" sungut kakakku


Aku nyengir kearahnya. Segera di teyengnya kepalaku.


"Kamu itu punya keluarga. Bukan anak yatim piatu dan sebatang kara!" lanjutnya memarahiku


"Iya-iya, maaafff" sesalku


"Kebiasaan!"


"Umak sajalah yang ngomongin Pisat, bingung aku harus bagaimana ngomonginnya agar dia nurut kembali kerumah" ucap kakakku masih kesal


Aku diam.


"Kalau sudah begini siapa yang repot. Kamu sendirikan? untung ada orang yang mau mengantarkan ke Puskes, kalau tidak?" geramnya


"Ula tu kangen sama ayah, wak" ucap Naura


Kak Andri segera memberikan Adam pada umakku, lalu dia menghampiri Naura.


"Naura kangen ayah?" tanyanya lembut.


Naura mengangguk.


"Kalau ayah tidak kesini?"


Wajah Naura murung


"Kan ada uwak sama nenek. Uwak sama nenek sangat saaaayang sama Naura"


"Naura cepat sembuh ya, nanti kalau sudah sembuh, uwak ajak makan ayam goreng di Linggau Plaza"


"Janji wak? mata Naura berbinar.


Kak Andri mengangguk. Setelah itu, dia berpamitan untuk berangkat kerja. Aku segera mencium punggung tangannya, begitu juga dengan anak-anakku.


Setelah siang, Naura dipindahkan keruangan perawatan. Dia dirawat selama empat hari. Selama dia dirawat, sekalipun Andi tidak pernah mengangkat teleponku disaat Naura menyebut namanya.


Tiap kali aku gagal menelpon ayahnya, maka wajah Naura akan murung bahkan terkadang menangis. Aku berusaha menenangkannya dan selalu berbohong jika ayahnya akan datang atau ayahnya lagi sibuk.


Sampai saatnya Naura pulang kerumah orang tuakupun, Andi tidak ada menelpon balik padaku.


Dari sini aku menyadari, jika memang Andi tidak menginginkan anak-anaknya lagi. Dan itu cukup membuatku sangat kecewa padanya.

__ADS_1


...****************...


10 Mei 2007


Aku melangkah masuk kedalam kantor urusan agama dengan degup jantung yang kencang.


Hari ini adalah hari sidang pertamaku. Aku duduk di bangku yang telah disediakan di ruang tunggu bergabung bersama beberapa orang yang sepertinya juga menunggu giliran sidang.


"Nahhhh.. ini sudah datang lo*t*nya" ucap suara yang aku faham betul itu suara Laras


Aku segera mendongakkan kepalaku. Kulihat ternyata dia tidak sendiri. Ada bu Mira, pak Hermawan dan juga mas Rudi.


Aku tersenyum kearah mereka, tetapi mereka melengos kecuali mas Rudi yang membalas senyumanku.


"Sehat Ndah?" tanya mas Rudi


"Alhamdulillah mas" jawabku


"Heeehhh. Ngapain dekat-dekat dan ngobrol sama dia mas, awas ya mas kalau kamu keganjenan sama lo*t* ini" ucap Laras marah sama mas Rudi dan menatap tajam kearahku


Aku membuang mukaku, lalu aku berdiri dan pindah kekursi lain, agak menjauh dari mereka.


Tak lama kulihat Andi muncul bersama seorang lelaki yang bisa kupastikan jika dia adalah lawyernya. Dia berjalan dengan santai, dan langsung mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Tampak dia melihat sekilas kepadaku dengan sinis. Aku pura-pura tidak melihatnya.


Ponselku berdering. Abang


Entah kenapa tiap kali muncul nama abang dalam ponselku aku selalu gugup.


Aku berdiri, dan menjauh dari ruang tunggu.


"Assalamualaikum abang"


"Waalaikumussalam Indah, how do you feel?"


Aku menarik nafas dalam.


"Honest, I am nervous bang" jawabku


"Di dalam ada Abraham. Kamu jangan takut. Bismillah, ya."


"Iya bang. Doain saya ya bang"


"Pasti, jika bajingan itu mempersulit kamu, abang pastikan karirnya akan tamat"


Aku terkekeh


"Kok ketawa? ada yang lucu?"


"Jangan jahat sama orang bang. Nggak baik"


"Sama bajingan model Andi tidak perlu pakai hati"


"Insha Alloh aku bisa hadapi dia, yang penting abang doain aku. Biar aku bisa jalani proses cerai ini dengan lancar"


"Semangat Indah. Abang tunggu janda kamu"


Mulutku ternganga mendengar ucapannya


"What??!" pekikku tertahan


Tidak ada jawaban, panggilan terputus. Aku tersenyum malu menatap hp.


Andi yang melihat Indah berbicara ditelpon menatapnya dengan sinis, berkali-kali dia mendengus kesal.


Aku kembali duduk di tempatku semula. Tak lama terdengar announcement dari pengeras suara.


"Penggugat atas nama Andi Wijaya bin Hermawan, dengan tergugat Indah Yuliani binti Ahmad, silahkan bersiap untuk sidang di ruang sidang nomor 2"


"Mana pengacara kamu?" Andi bersuara di sebelahku. Aku menoleh padanya sambil menggeleng.


"Oh, saya lupa, kamu mana ada uang untuk bayar pengacara. Berapa sih gaji kamu, cuma tiga ratus ribu mana ada pengacara mau dibayar murah" ucapnya sambil tertawa mengejek.


Aku diam tidak menanggapi ejekannya.


"Ada barang yang lupa kamu kembalikan padaku" tambahnya


Aku menoleh dengan bingung sambil mengernyitkan keningku


"Cincin yang kamu pakai itu belum kamu kembalikan, dan itu dibeli pakai uang ku"


Aku menatap tak percaya padanya. Benarkah yang kudengar ini?


Andi menarik sudut bibirnya melihatku menatapnya bengong.


"Nanti selesai sidang aku ingin kamu mengembalikan cincin itu" ucapnya sambil berdiri berjalan ketempatnya semula.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sambil menatapnya yang berjalan menjauh. Aku tatap cincin tiga gram yang melingkar di jari manisku. Cincin ini adalah mahar ketika kami menikah dulu, ini adalah hakku, karena ini adalah mahar ku.


Tapi sekarang mahar inipun mau diambil lagi dengan Andi? Aku kembali menggeleng-gelengkan kepalaku. Entah apa yang ada diotaknya.


"Ya Alloh" lirihku sambil menarik nafas dalam

__ADS_1


Aku segera berdiri, membetulkan baju dan hijabku, lalu dengan mengucap Basmallah dalam hati aku masuk keruang persidangan


__ADS_2