Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Serkan dan Defne


__ADS_3

Mobil abang telah berada di depan rumah sakit, entah siapa yang mengambilnya dari parkiran yang pasti mobil hitam itu sudah ada


Abang segera membuka pintu mobil dan mengangkat ku dengan kedua tangannya


"Aku berat ya bang?" tanyaku karena kulihat abang tampak sangat keberatan


Ozkan hanya tersenyum dan terus meletakkan istrinya di sebelahnya.


Lalu Ozkan membuka pintu mobil bagian tengah, anne dan baba masuk


Sedangkan kelima bodyguard masuk kedalam dua taksi yang juga sudah menunggu


"Kita ke mansion Abdullah street" ucap tuan Yilmaz pada Ozkan yang mulai menghidupkan mesin mobil


Ozkan menelan ludahnya, bukan sekali dua kali dia melewati jalan itu. Dan di sana memang terdapat satu buah mansion mewah dan megah


"Baba serius jalan itu?"


"Jalan saja!"


Ozkan menurut dan melajukan mobil dengan pelan.


Aku merebahkan kepalaku di sandaran kursi dan menatap abang dengan senyum


Ozkan pun menoleh dan menggenggam tangan istrinya


"Fokus nyetir nanti mesra-mesraan nya"


Dengan cepat aku menarik tanganku demi mendengar protes baba


Aku memejamkan mataku menahan malu sedangkan Ozkan terkekeh


"Baba iri ya?" goda Ozkan


Tuan Yilmaz tak menjawab, dia terus saja menciumi cucu perempuan yang berada dalam pelukannya


Mobil terus melaju ke Abdullah street dan Ozkan berhenti di depan sebuah mansion mewah


"Yang ini baba?"


Tuan Yilmaz melongok kan kepalanya


"Benar, klakson saja, sudah ada securitynya"


Lagi-lagi Ozkan menurut dan membunyikan klakson, tak lama pintu gerbang pagar tinggi itu terbuka dengan sendirinya karena dibuka melalui remote control


Walau terlahir dari keluarga konglomerat, tapi ketika melihat mansion mewah yang hanya dilewatinya saja itu cukup membuat Ozkan takjub


Tiga buah mobil berhenti, setelah membayarkan biaya taksi, para bodyguard itu kembali berdiri sigap mengawal tuan Yilmaz yang sudah turun


Ozkan masih di dalam mobil, lewat kaca mobil dia hanya menelan ludah melihat kemewahan calon huniannya sekarang


Ketukan di kaca mobil membuyarkan lamunannya, dan dengan cepat Ozkan menurunkan kaca mobil


"Turun, mau di dalam terus?" suara tuan Yilmaz begitu tegas


Aku sama seperti abang, mataku tak berkedip memandang mansion mewah yang ada di depan mataku saat ini.


Abang membukakan pintu mobil, dan dengan sigap satu orang bodyguard mengeluarkan kursi roda dan meletakkannya di sebelah mobil


Kembali dengan sigap, abang menggendongku


"Abang ini serius tempat tinggal kita?" lirihku tak percaya


Ozkan diam tak menjawab karena dia juga shock


"Apa kamu tidak suka askim?, jika tidak suka baba bisa belikan yang lain"


"Yok baba, aslında çok hoşuma gitti" ( Tidak baba, justru aku sangat menyukainya) jawabku



Siapa pula yang bisa menolak jika mansionnya seindah dan semegah ini.


Abang segera mendorong kursi rodaku masuk kedalam halaman mansion.


Mataku terus tak berkedip dan berkaca-kaca melihat hadiah istimewa dari baba


"Lima bodyguard itu akan tetap di sini menjaga kalian" lanjut baba


Aku dan Abang diam, kami speechless dengan bangunan mansion ini


"Nanti kedua cucu baba akan berlarian di taman luas ini, dan mereka akan tumbuh besar dengan bergerak bebas di sini"


Aku dan abang tersenyum. Ozkan lalu memeluk erat tuan Yilmaz


"Terima kasih baba untuk hadiahnya"


Tuan Yilmaz tersenyum.


Kami terus masuk dan ternyata di dalam mansion telah ada ummi dan nona Alima


Aku tersenyum dengan berurai air mata melihat kedua orang yang sangat menyayangiku ada di sini


Ummi berjongkok memelukku erat sambil berurai air mata


"Mengapa tidak memberitahu ummi jika kamu melahirkan"


Aku tidak menjawab melainkan terus memeluk ummi erat sambil terisak

__ADS_1


Lalu bergantian nona Alima yang memelukku


"Aku sangat bahagia untukmu Indah" lirih nona Alima


Aku cuma dapat mengangguk karena aku masih terisak.


Ummi segera mengambil anakku yang ada di pelukan baba dan dengan gemas diciuminya.


Nona Alima pun melakukan hal yang sama, dia menciumi anak kami bergantian


"Bundaaaa..."


Aku menoleh ke sumber suara


Tiga tuan muda berlarian dari dalam. Dan segera mereka menubruk kursi rodaku berebutan memelukku


"Hei, hati-hati, bunda masih sakit" suara nona Alima terdengar panik saat ketiga anaknya memeluk Indah


Aku memeluk mereka erat dan mengusap-usap kepala mereka


"Aku mau gendong" rengek tuan Emir melihat kearah bayi kami yang ada dalam gendongan ummi


"No" jawab ummi


Wajah tuan Emir langsung masam, tapi dia patuh, akhirnya mereka bertiga hanya bisa menciumi adik kecil mereka


...****************...


Jadilah malam itu mansion kami ramai, ummi dan anne adalah dua orang yang paling sibuk mengurusi twins.


Aku terus dalam pengawasan abang, mau ke kamar mandi saja di gendongnya, aku geleng-geleng kepala melihat kelebaiannya


Tapi aku tidak bisa menolak, karena abang bersikukuh dan aku menikmati itu, karena kapan lagi aku menjadi ratu dan abang jadi pelayan, jika bukan sekarang, hahaha


Dua buah taksi kembali masuk mansion. Tuan Yilmaz yang sedang menggendong si putri menoleh


Tampak olehnya bodyguard mengeluarkan koper disusul dengan Canan beserta suami dan kedua anaknya yang turun dari dalam taksi


Lalu muncul juga Ozlem beserta istri yang anak mereka


Canan masuk dengan wajah cemberut dan jalan dengan kaki menghentak-hentak


"Hei, what's wrong?" tanya anne begitu melihat Canan yang merajuk


Bukannya menjawab, Canan segera mengambil bayi mungil yang digendong babanya


"Baba dan anne jahat, pergi kesini tanpa mengajakku"


"Aku yang repot baba, Canan mengamuk dan memaksa ingin berangkat hari ini juga" jawab suaminya


Anne menahan senyum. Canan tak perduli dia terus saja menciumi keponakan barunya.


"Keponakan uncle..." bisiknya sambil mengecup hidung mungil bayi itu


"Tidakkah kalian ingin menemui Indah dan Ozkan terlebih dulu?" tanya anne


Canan mengangguk dan mengembalikan bayi mungil kedalam pelukan baba.


Lalu dia mengajak istri Ozlem naik tangga


"Abiii...." teriak Canan


Ozkan yang berada dalam kamar langsung memasang tajam telinganya


"Canan?" lirihnya


Dengan segera Ozkan bangkit lalu membuka pintu kamar


Dilihatnya Canan berjalan kearah berlawanan dari kamarnya


"Canan.." panggil Ozkan


Canan menoleh dan segera berlari kearah Ozkan. Dengan erat dipeluk dan diciuminya wajah Ozkan


"Abi sama seperti baba dan anne, tidak mengabari ku"


Ozkan tersenyum dan mengusap kepala Canan dengan sayang, lalu dis beralih memeluk istri Ozlem


"Selamat abi.." ucap istri Ozlem


Lalu Canan dan istri Ozlem masuk, aku mengembangkan senyum pada dua iparku yang berjalan cepat ke arahku


"Selamat ya kak" ucap mereka berdua ketika memelukku


Aku mengangguk, lalu mereka berdua duduk di sebelahku. Canan dengan semangat menceritakan bagaimana marahnya dia ketika tidak diajak pergi bareng dengan baba dan anne


Aku tersenyum melihat tingkah manjanya.


"Kami akan disini sampai kakak sehat" ucapnya


Aku dan abang mengangguk.


"Abi..." suara Ozlem terdengar di depan pintu


Kami semua menoleh kearah pintu, tampak Ozlem masuk dengan merentang tangannya dengan lebar


Ozkan bangkit dan menyambut pelukan Ozlem


"Akhirnya tak sia-sia kerja keras abi" godanya

__ADS_1


Kami terkekeh, terlebih aku, aku sampai membuang muka menahan malu


...****************...


"Pokoknya aku yang memberinya nama"


Kami menoleh semua kearah Canan. Aku diam memperhatikan Canan yang bersikeras


Tampak baba menggelengkan kepalanya menghadapi keras kepala Canan


"Kamu gimana sih, kan itu anak abi" protes Ozlem


Canan mencebikkan bibirnya kearah Ozlem


"Boleh ya abii..." rengek Canan manja


Ozkan menoleh kearah istrinya, dan aku hanya tersenyum dan mengangguk


"Karena nyonya Ozkan mengizinkan, jadi boleh"


Canan girang bukan kepalang, lalu menatap baba dan anne bergantian


"Baba dan anne tidak keberatan kan?"


Anne dan baba diam


"Whatever lah" lanjut Canan karena kedua orang tuanya hanya diam


"Yang cowok aku mau kasih nama ehm...Savas Rayyanka Yilmaz, bagus kan?.bagus kan?" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya


"No, yang bagus itu Serkan, jangan Savas" protes tuan Yilmaz


"Tapi itu bagus baba"


"Serkan artinya keturunan bangsawan, sedangkan Savas itu artinya pertempuran" lanjut tuan Yilmaz


Aku tersenyum melihat baba dan Canan berdebat


"Kalau Yilmaz nya diganti Ozkan, boleh?" usul abang


"No, nggak boleh" tuan Yilmaz menjawab cepat


Ozkan diam mendengar jawaban babanya


"Yilmaz itu nama keturunan kita, dari kakek buyutnya baba. Jadi seluruh keluarga besar pihak baba nama belakangnya Yilmaz"


Aku ber O panjang mendengar penjelasan baba, dan abang juga mengangguk-anggukkan kepalanya


"Abi aneh deh, gitu aja musti dijelasin" sambung Canan


"Jadi mana ini dealnya?" ucap anne


"Ambil aja gabungan keduanya" usulku


Ozlem menjentikkan jarinya tanda setuju


"Serkan Rayyanka Yilmaz" ucap Ozkan


"Lelaki tampan yang memiliki mukjizat dari keturunan bangsawan keluarga Yilmaz" sahut baba


Aku tersenyum senang mendengar arti nama anakku dan mengangguk kearah abang


"Yang cewek harus anne"


Kami menatap wajah anne yang tampak serius


"Kok anne, kan aku"


"Diam kamu!"


Canan cemberut, Ozlem tergelak


"Untuk cucu cantik anne, anne beri nama Shahinaz Defne Yilmaz"


Kami semua diam tidak ada yang bersuara


"Nama yang bagus" jawab ummi karena tidak ada yang menjawab


Anne menoleh ke arahku


"Aku nurut saja anne, karena ini cucu anne. Jika itu baik menurut Anne aku setuju" jawabku karena anne menatapku


"Deal ya?"


Baba mengangguk


"Perempuan tinggi dan agung yang cantik keturunan Yilmaz" sambung anne


Aku dan abang tersenyum.


"Hubungi keluargamu di Indonesia, suruh mereka datang kesini" lanjut baba


Ozkan mengangguk dan menoleh ke arahku.


"Aku lupa handphone ku dimana" ucapku nyengir


Abang mengusap kepalaku.


"Sepertinya dalam lemari" jawab abang sambil berdiri mengambil handphoneku

__ADS_1


__ADS_2