
"Berdasarkan pasal 374 KUHP tentang Penggelapan Dalam Jabatan, maka dengan ini Pengadilan Negeri Lubuklinggau menjatuhkan hukuman kurungan penjara kepada Saudara Andi Wijaya bin Hermawan selama 4 tahun penjara dan diwajibkan pembayar ganti rugi uang perusahaan sebesar dua ratus juta rupiah"
Lalu pak hakim mengetok palu tiga kali.
Tubuh Andi lemas mendengar keputusan sidang terakhir hari ini. Dia yang sejak awal menundukkan kepalanya kini makin tertunduk, ada buliran bening mengalir di pipinya.
Diusapnya wajahnya dengan kasar dan dia masih terduduk di kursi pesakitan tanpa ada niat untuk beranjak.
"Habis sudah masa depan ku, habis. Semua harapan dan anganku hancur. Ya Tuhan mengapa ini harus terjadi padaku, mengapa Tuhan? tidak bisakah Engkau memutar kembali waktu?" batin Andi sambil menangis.
Bu Mira beserta pak Hermawan juga shock mendengar keputusan hakim. Seluruh keluarga Andi hadir pada sidang tersebut, kecuali Nina karena dia kuliah di Solo.
Tampak bu Mira, Tina, Laras dan Ningsih terisak melihat Andi terduduk lemas.
Segera dua anggota polisi menghampiri Andi yang masih tertunduk, mereka membantu Andi berdiri. Dengan tangan yang terborgol, mereka menggiring Andi keluar.
Tepat ketika Andi akan melintasi mereka, bu Mira segera berdiri dari kursinya dan segera memeluk tubuh Andi.
"Kenapa? kenapa ini bisa terjadi nak?" isaknya
Andi kembali menitikkan airmata, Tina segera ikut memeluk Andi.
"Aku akan setia menunggu kamu mas" ucap Tina serak
Andi menatap sedih keluarganya. Tapi hal tersebut tak menyurutkan langkah kedua polisi untuk segera membawa Andi ke lapas. Tempat terakhir Andi menikmati hidupnya selama empat tahun kedepan.
Seluruh keluarga Andi ikut mengantarkan Andi ke lapas. Mereka mengiringi mobil tahanan dari belakang.
Bu Mira makin terisak saat telah sampai di lapas.
Saat Andi akan digiring masuk kelapas, dia meminta izin kepada sipir untuk memberinya izin berpamitan dengan keluarganya.
Setelah mendapat izin dari petugas sipir, Andi duduk diantara keluarganya.
Pak Hermawan tampak sangat terpukul melihat Andi yang akan dipenjara, wajahnya muram dan kentara sekali kesedihan di sana. Terlebih lagi bu Mira, dia makin terisak.
"Bantu aku mengganti uang perusahaan bu, pak, jika tidak hukumanku bertambah dua kali lipat" ucap Andi lemah
Bu Mira yang sedari tadi menangis, spontan menghentikan tangisannya. Dia langsung menatap tak percaya pada anaknya
"Maksud kamu apa?" tanyanya
Andi menarik nafas dalam
"Aku tidak ada uang buk untuk mengganti seluruh uang yang telah aku gelapkan" jawabnya
Joni mendengus
"Uang itu kamu pakai untuk apa hah? masa habis? Banyak Ndi dua ratus juta" ucap bu Mira tak percaya
"Uang itu aku gelapkan sejak tiga tahun yang lalu buk, jadi selama tiga tahun itu aku mengambil uang tersebut, bukan sekaligus dua ratus juta"
"Terus kemana uang itu?, kamu belikan mobil?"
"Tidak buk, itu mobil perusahaan, jadi mobil itu sudah diambil sama perusahaan"
"Terus kamu gunakan untuk apa?"
Andi menarik nafas dalam lagi, Tina yang tadi menangis berubah jadi gelisah
"Jawab ibuk Ndi, kamu apakan uang itu?!" bentak bu Mira marah
Laras dan yang lain menatap Andi menunggu jawabannya. Tapi Andi masih diam
"Oh, aku tahu, uang itu pasti kamu foya-foyakan sama wanita sialan itu kan? mantan istri jelekmu itu?" jawab Laras dengan wajah sinis
Ningsih langsung menatap tajam kearah Laras, Laras melengos
"Tidak mbak" jawab Andi
"Lah terus kemana?" desak bu Mira
Andi menatap kearah Tina. Tina yang tahu jika Andi menatap kearahnya jadi makin gelisah dan berusaha membuang muka
"Saya pakai untuk bersenang-senang dengan Tina" jawab Andi lemah
__ADS_1
Semua yang ada di sana memandang tajam kearah Tina yang duduk dengan gelisah. Tahu jika dirinya jadi pusat perhatian Tina buka suara
"Ya jangan salahkan aku dong, aku kan nggak tahu jika uang yang kami pakai buat jalan-jalan, belanja, makan-makan itu hasil dari korupsinya mas Andi"
Bu Mira menatap tajam kearah Tina. Refleks dia menjambak rambut Tina
"Jadi kamu ya biang keladinya ya?, hemmm" geramnya
Tina merintih kesakitan akibat cengkraman tangan ibu mertuanya itu. Pak Hermawan segera menarik tangan bu Mira yang menjambak rambut Tina.
"Sudah buk, lepas, malu"
Dengan kesal bu Mira melepaskan jambakannya, dan menatap penuh kebencian.
Laras pun sama, dia memandang benci pula pada Tina.
"Tidak ada waktu lagi pak, ayo" ucap petugas sipir yang mendekati Andi
Andi segera berdiri dan menatap anggota keluarganya dengan sedih. Bu Mira kembali memeluk Andi dan kembali menangis tersedu.
Hatinya makin teriris ketika Andi tidak terlihat lagi. Beliau makin menangis terisak. Pak Hermawan mencoba menenangkan hati istrinya tersebut.
...****************...
"Kita harus menjual rumah Andi pak" ucap Bu Mira di perjalanan pulang
Tina tampak kaget mendengar ucapan ibu mertuanya
"Sangat sulit bu mencari orang yang mau membeli rumah, bukan seperti kita menjual kacang goreng" ucap pak Hermawan
"Itu jalan satu-satunya pak, aku tidak mau ya jika kita yang berkorban" jawabnya lagi
Ningsih langsung beristighfar mendengar ucapan ibunya.
"Kalau ada yang beli juga pasti mau murah bu karena ini urgent" timpal Indra, suami Ningsih
Mereka terdiam mendengar jawaban Indra. Ada benarnya juga perkataan Indra, dalam waktu terdesak seperti saat ini biasanya orang akan menawar serendah-rendahnya.
Bu Mira mengusap wajahnya dengan frustasi
Tina hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata ibu mertuanya yang berkilat penuh kemarahan.
...****************...
Sesuai dengan keputusan pengadilan, keluarga Andi diberi waktu dua minggu untuk mengumpulkan uang mengembalikan uang perusahaan.
Dengan rembukan keluarga yang alot dan panjang akhirnya rumah Andi dijual dan hanya laku seratus juta itupun mereka sudah kesulitan mencari pembelinya.
Selebihnya rumah orang tua Andi yang ada di Merasi juga turut melayang, terpaksa dijual dan laku dengan harga enam puluh juta. Sisa empat puluh jutanya pak Hermawan harus merelakan dua paket kebun sawitnya terjual.
Bu Mira semakin shock karena hartanya berkurang. Dia sekarang jadi sakit-sakitan.
Dan hari ini adalah hari dimana mereka akan menyetorkan uang ganti rugi perusahaan kepada pihak kepolisian.
Pak Tobias yang saat itu telah hadir di kantor polisi segera menerima uang tersebut dan tak butuh basa basi beliau langsung pergi dan mentransfer uang tersebut ke rekening pusat.
Yang saat itu ikut adalah pak Hermawan, Laras, Rudi dan Tina. Selesai mengganti uang ganti rugi tersebut mereka mengunjungi Andi di lapas.
Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Andi yang berjalan menemui mereka di ruang besuk
Wajah Andi tampak lebam, bawah matanya juga terlihat memar. Pergelangan tangannya juga terlihat biru keunguan
"Kamu kenapa bisa seperti ini mas?" tanya Tina sambil terisak
Andi meringis ketika tangan Tina menyentuh wajahnya
Wajah pak Hermawan langsung mendung demi melihat anak kebanggaannya yang babak belur.
"Dipukuli di dalam sel" jawab Andi singkat
Laras dan Tina menutup mulut mereka
"Kenapa kamu tidak melawan?" ucap Pak Hermawan geram
"Kalah jumlah pak, mereka ramai memukuli saya"
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak panggil petugas?"
"Petugasnya malas pak melerai. Kata mereka ini memang tradisi buat penghuni baru"
Mereka semua menarik nafas dalam mendengar jawaban Andi.
"Ini kami bawakan makanan untuk kamu mas" ucap Tina mengalihkan perhatian karena dia tidak ingin terlalu sedih melihat keadaan suaminya tersebut.
Andi segera membuka rantang makanan yang diberikan Tina. Dengan lahap dia memakan makanan tersebut.
"Bagaimana pak? sudah diselesaikan ganti ruginya?" tanya Andi tanpa berhenti mengunyah
"Sudah!" bentak Laras ketus
Andi menoleh tak suka pada mbaknya satu itu. Lalu kembali melanjutkan makannya
"Terima kasih banyak ya pak" sambung Andi
"Terima kasih, terima kasih, gara-gara kamu rumah dan kebun sawit bapak dua paket melayang" sambung Laras masih dengan nada kesal
Andi menghentikan makannya dan menatap wajah pak Hermawan
"Benar pak apa yang dikatakan mbak Laras?" tanyanya
Pak Hermawan hanya bisa mengangguk pasrah.
"Itupun hanya laku seratus juta Ndi" jawab beliau dengan suara lirih
Andi diam sesaat
"Terus sisanya pak?" tanyanya
"Rumah kamu bapak jual juga"
Duaaaarrrrr!!!
Bagai petir menyambar tepat di depan matanya saat Andi mendengar jawaban bapaknya tersebut
"Apa pak? rumah Andi bapak jual?" ucap Andi dengan mata terbelalak dan suara yang terbata
"Iya, terpaksa Ndi, karena kemana lagi cari uang lainnya kalau tidak menjual rumah kamu!"
Andi terhenyak, selera makannya langsung hilang. Dia langsung menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menarik nafas dalam
"Apa tidak ada cara lain pak, kenapa harus dengan menjual rumah saya. Bapakkan ada sepuluh paket kebun sawit, kenapa tidak jual itu saja?" ucapnya lirih
"Kurang ajar kamu ya!, kamu pikir bapak sama ibuk tidak butuh makan, tidak butuh biaya Nina kuliah?" bentak Laras emosi
"Masih untung bapak sama ibuk mau jual rumah dan kebun, kalau tidak, bisa makin lama kamu dipenjara" lanjutnya dengan emosi yang meluap
"Terus, kalau rumah saya sudah dijual, istri saya mau tinggal dimana pak?" tanyanya lesu
"Terserah, mau jadi gembel kek, mau jadi lon** kek kami nggak perduli" jawab Laras dengan wajah yang kian ditekuk
Tina langsung memasang wajah masam mendengar jawaban Laras
"Istri kamu bisa tinggal sama kami di kampung" jawab pak Hermawan setelah lama diam
Laras langsung melototkan matanya demi mendengar jawaban bapaknya, berbeda hal dengan Andi, dia menarik nafas lega.
"Kamu tinggal dulu di rumah bapak ya Tin, nanti kalau mas bebas mas bakal nyusul kekampung juga" ucap Andi sambil menggenggam erat tangan istrinya
Tina menganggukkan kepalanya. Dada Laras kian panas melihat kesediaan Tina untuk tinggal di rumah orangtuanya.
Rudi yang sejak tadi diam hanya bisa mendengarkan saja, tanpa berkomentar sedikit pun
Laras memandang sinis Tina. Tina juga membalas dengan tak kalah sinis.
"Awas kamu!" batin Laras
"Kita lihat, siapa yang akan berkuasa" batin Tina
"Akan kubuat kamu tidak betah untuk tinggal di rumah kami" lanjut Laras membatin
"Perang dimulai" batin Tina lagi
__ADS_1