
Serkan telah terlelap di pangkuanku, begitu juga dengan Defne yang terus memegang tangan daddy nya.
Tapi aku sama sekali tidak bisa memicingkan mataku
Makanan dan minuman yang diambilkan bodyguard untukku hanya aku letakkan di atas meja di depanku
Mataku menatap keluar jendela, pada awan putih yang seperti kapas beterbangan di sekitar pesawat jet yang ku naiki
Ozkan sama seperti istrinya, dia hanya diam menatap dalam pada istrinya yang saat ini sedang menempelkan kepalanya di kaca jendela sambil sesekali mengusap wajahnya
Ozkan tahu, istrinya masih terus menangis
Ozkan melambaikan tangannya pada satu bodyguard yang duduk tak jauh darinya
"İki çocuğum için odaları kontrol edin! (kamu periksa kamar untuk kedua anakku)
"Evet efendim"
Bodyguard tersebut langsung berjalan kearah dua buah kamar yang di desain khusus untuk Serkan dan Defne
"Her şey hazır efendim" (Semuanya sudah siap tuan)
Ozkan dengan perlahan melepaskan tangan kirinya yang sejak tadi dipeluk Defne, berjongkok di depan gadis kecilnya lalu mengangkat tubuh gadis itu dengan pelan.
Sambil menggendong, sesekali Ozkan menciumi pipi Defne yang berwarna kemerahan, khas wajah orang Turkiye
Sampai di kamar Defne, kembali dengan pelan Ozkan meletakkan tubuh Defne di atas ranjang mewah luxury yang memang khusus dipesankan oleh Tuan Yilmaz dari Inggris
Dengan sayang Ozkan menyelimuti tubuh anak gadisnya, kembali mengecup keningnya dan membelai pelan wajah Defne. Setelah itu barulah Ozkan keluar dari dalam kamar
Berjalan kearah Indah yang masih menatap kosong keluar jendela
"Biar Serkan abang bawa ke kamar" ucap Ozkan sambil berjongkok mengambil badan Serkan dan menggendongnya masuk ke dalam kamar Serkan
Perlakuan Ozkan pada Serkan, sama seperti yang dilakukannya pada Defne tadi
"Tidurlah sayang, nanti begitu sampai Indonesia, daddy bangunkan" lirihnya sambil mengusap kepala Serkan ketika tubuh Serkan bergerak
Setelah Serkan tenang, Ozkan keluar dan kembali berjalan kearah Indah.
Indah yang menyadari jika suaminya mendekatinya hanya mendongak sekilas lalu kembali menatap keluar
Ozkan duduk tepat di sebelah Indah, menarik tubuh istrinya, dan menidurkannya di pangkuannya
Aku diam tak menolak ketika abang membelai kepalaku sambil menggumamkan surah Ar-Rahman
Entah karena merdunya suara lirih abang, entah karena memang beban pikiranku yang berat, mataku mulai meredup
Ozkan terus mengusap kepala istrinya walau istrinya telah lama pulas
"Abang cuma berharap begitu pulang dari Indonesia kamu kembali menjadi Indah yang abang kenal dulu" lirihnya sambil menunduk mengecup pelipis istrinya
Dinlenmek istersen, lütfen. Tetikte olma sırası bende" ucap Ozkan pada dua bodyguard yang terus berdiri siaga
(Kalau kalian mau istirahat, silahkan. Giliran saya yang akan berjaga)
"Ama efendim?" (Tapi tuan?)
"Sorun yok. Aynı zamanda eşime sarılmaya devam etmek istiyorum"
(Tak apa. Sekalian saya ingin terus mendekap istri saya)
"Hareket ettiğim için uyanmasını istemiyorum"
(Saya tak ingin dia terjaga karena saya bergerak)
Kedua bodyguard menurut, segera mereka duduk di kursi dengan posisi kursi agak direbahkan, lalu mereka mulai memejamkan mata
Perjalanan masih sangat lama, dan Ozkan masih terus mengusap kepala istrinya
Dilihatnya posisi tidur istrinya yang dirasanya kurang nyaman
Dengan pelan, Ozkan mengangkat pelan kepala istrinya, meletakkannya di atas kursi dan dia berdiri berjalan kearah kamar mereka
Diperiksanya sekilas suasana kamar untuk memastikan jika semuanya telah siap, setelah dirasanya semua sempurna Ozkan kembali kearah istrinya, mengangkat tubuh istrinya.
"Dua kali ini abang mengangkat mu dalam keadaan tertidur" lirihnya sambil tersenyum
Setelah menyelimuti tubuh istrinya, Ozkan berjalan keluar. Masuk ke dalam kokpit
Di dalam sana ada dua orang, pilot dan kopilot
"Diğerleri nerede?" (yang lain mana?)
"Dinlenin efendim, çünkü görev değiştiriyoruz" (istirahat tuan, karena kita gantian tugasnya)
Ozkan tersenyum segaris lalu melihat bagaimana copilot dan pilot bekerja.
__ADS_1
_Sementara Indah di kamar_
"Indah... tolong aku... panas sekali api ini Indah...
Aku mundur dengan mata terbelalak melihat bagaimana Andi berteriak-teriak kepanasan
"Tolong aku Indah... Aku mohooonnn...."
Aku bergeming di tempatku tanpa berniat sedikitpun untuk menyambut tangannya yang terulur
"Tolong aku..." kembali Andi merintih
"Kamu pantas terbakar Andi, karena panasnya api itu tak sebanding dengan sakit yang kau beri padaku"
Aku menoleh pada seorang perempuan yang berteriak marah
"Tolong aku...."
"Tidak ada orang yang bisa menolong mu Andi, ini balasan atas dosa yang telah kau perbuat"
Aku menatap bingung pada banyak perempuan yang marah dan memaki Andi, bahkan aku juga melihat banyak anak kecil yang juga menatap Andi dengan wajah marah
Siapa mereka? batinku bingung
"Aku mohon maafkan aku... Indah... Indah... aku mohon maafkanlah aku..."
"Jangan!, jangan kau maafkan dia, dia telah berlaku jahat dan tak adil padamu!"
"Benar, jangan kau beri ampun untuknya, karena waktu untuk Andi meminta maaf telah habis"
"Aaarrrggghhhh..." Andi kembali berteriak kuat ketika kembali api besar membakarnya
Tetapi api itu tiba-tiba menghilang ketika aku mendengar ada suara Al-Qur'an dilantunkan
"Maafkan aku...." lirih Andi lemah tak berdaya
Dapat kulihat jelas wajahnya hitam dan bernanah. Aku menutup mulutku melihat kengerian di depan mataku
"Indah..." lirihnya lagi sambil kembali mengulurkan tangan ke arahku
Aku masih bergeming. Berusaha melihat ke sekelilingku yang tak kukenal, kembali kulihat Andi berteriak kesakitan dan kembali tubuhnya dilahap api
Tapi lagi-lagi api itu padam ketika lantunan ayat Al-Qur'an terdengar
Aku terdiam sambil memejamkan mataku berusaha mengenali suara yang terdengar sangat jauh tersebut
"Indah.... tolong maafkanlah aku, dan sampaikan permintaan maafku pada ketiga anak kita...." rintih Andi nyaris tak terdengar ketika dia kembali melolong kesakitan
Kembali aku lihat Andi dibakar hidup-hidup, dan dia melolong panjang sambil tangannya terus terulur seolah ingin menggapai ku
"Andiiii.....!!!" teriakku
Ozkan langsung berlari masuk kedalam kamar begitu didengarnya Indah berteriak menyebut nama Andi
Didapatinya nafas istrinya terengah-engah, peluh sebesar jagung mengalir dari keningnya
Dengan cepat Ozkan memeluk tubuh Indah yang tampak kaku
Aku tersadar ketika aku berada di dekapan suamiku. Dengan cepat aku memeluknya erat
"Tenang, istighfar...." ucap Ozkan sambil mengusap-usap kepala istrinya
"Andi terbakar bang..." ucapku bergumam tak jelas
Ozkan menarik nafas dalam dan terus mengusap kepala istrinya
"Istighfar sayang ya, istighfar..."
Aku mengucapkan istighfar berkali-kali tapi badanku masih menggigil takut
"Erden, işte buradasın!" (Erden, sini kamu!)
Seorang bodyguard yang sejak melihat Ozkan berlari langsung berjaga di depan kamar tuannya, segera masuk
"Evet efendim?" (Ya tuan?)
"Karıma soğuk bir içecek getir!" (Ambilkan istri saya minuman dingin!)
"Evet efendim?" (Baik tuan)
Tak lama Erden sang bodyguard telah kembali dengan membawa gelas dan minuman dingin
Ozkan segera menuangkan air dingin kedalam gelas dan memberikannya pada Indah
"Diminum sayang..."
Dengan tangan bergetar aku mencoba mengambil gelas yang diberikan abang, tapi ternyata abang tak jadi memberikan gelas tersebut padaku.
__ADS_1
Dengan sayang Ozkan menempelkan gelas ke bibir istrinya, dan aku langsung meminum air dingin tersebut sedikit
Setelah selesai, Ozkan kembali mengulurkan gelas pada Erden yang langsung meletakkannya di atas meja, lalu kembali keluar dan berjaga lagi
"Sebentar lagi kita sampai, tidurlah lagi" bisik Ozkan
"Aku belum shalat" jawabku yang langsung turun dan menjamak shalat karena Maghrib ku terlewatkan
Dalam doaku, kembali aku menyebut nama Andi. Nama yang lebih dari lima belas tahun tak pernah aku sebut lagi
Ada air mata yang mengalir saat aku mendoakannya
...****************...
Gerakan pelan di pundakku membuatku membuka mata. Suamiku tersenyum manis ke arahku
"Abang tidak tidur?" tanyaku
"Tidur, tapi Abang tidur di luar, bergantian jaga dengan bodyguard"
Aku duduk dan meregangkan tubuhku. Dan aku melihat keluar jendela dimana aku bisa melihat lampu-lampu yang bersinar
"Kita sudah sampai?" tanyaku
Abang mengangguk. Dengan segera aku mengulurkan tanganku yang langsung disambut abang dan membantuku berdiri
"Twins mana?"
"Sudah turun"
Aku segera menyambar tas yang terletak di atas meja lalu ikut abang turun
Benar saja, dibawah kulihat Serkan telah digendong pak Abraham dan aku celingukan mencari Defne
Ketika aku menginjakkan kakiku di landasan bandara, sebuah pelukan dari belakang mengagetkanku
"Kakak...?" ucapku tertahan ketika Mikail kembali memelukku erat
Ternyata di belakang anak keduaku, berdiri empat sahabatnya
"Bunda...." sapa mereka
Aku melepas pelukanku pada Mikail dan menyambut uluran tangan mereka
"Kalian semua sehat nak?" tanyaku pada mereka
"Alhamdulillah bunda" jawab mereka
Kulihat pak Binsar dan pak Tomo tampak sedang berbicara sama abang.
"Defne...?" panggilku khawatir karena sejak tadi aku belum melihatnya
"I am here Ma..." ucapnya yang ternyata duduk di atas aspal, dekat bagasi pesawat
Mikail segera berlari kecil kearahnya, dan Defne begitu melihat Mikail langsung mengulurkan tangannya
Tanpa komando Mikail langsung mengangkat tubuh adiknya, mengangkat tinggi dan memutarnya
Defne tertawa riang melihat dia di putar-putar oleh kakaknya
"Ayo sayang, kita makan malam dulu, setelah itu kita kembali terbang ke Lubuklinggau" ucap abang yang mendekat kearah kami
Keempat teman Mikail langsung mencium punggung tangan abang
"Good evening, sir" sapa Brendi
Kami yang mendengar tersenyum
"Weee diajak tua Ozkan ngomong Inggris nanti malah bingung kamu.." ledek Marko
Kembali kami tersenyum
Untunglah ada restoran dekat bandara, sehingga kami tak butuh waktu lama untuk berjalan kesana dan segera makan
"Kalian semua ikut kan?" tanya abang
"Tidak tuan, kami hanya mengantar Mike" jawab Alfath
"Jika kalian tidak keberatan, tolong temani Mikail malam ini, besok setelah subuh saya akan meminta kepada pilot untuk mengantarkan kalian kembali lagi ke Jakarta"
Keempat teman Mikail saling toleh
"Besok subuh terbang lagi kesini?" tanya Brendi kaget
"Iya, karena itu pesawat jet pribadi kami, jadi pilot bisa mengantar kalian kapanpun" jawab abang santai
Budiman dan Marko yang sedang minum langsung tersedak
__ADS_1
"Jet pribadi???" gumam mereka