
09 Januari 2000
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah" Jawab dua saksi bersamaan
"Alhamdulillah" ucap penghulu dan semua yang hadir di ruangan tersebut.
Andi menghela nafas lega ketika saksi menjawab sah. Senyum sumringah langsung tersungginy di bibirnya.
Setelah proses akad selesai, Indah keluar dari dalam kamarnya dengan di gandeng oleh Lika dan Fitri sahabat karibnya.
Indah menggunakan kebaya putih, begitu anggun berjalan menuju kearah Andi yang telah menantinya.
Senyuman tersungging di bibirnya. Walau hatinya tersenyum, tapi di dalam hati sungguh dia begitu gugup.
Setelah sampai dan duduk tepat di sebelah Andi, kedua sahabatnya kembali ke tempat para tamu yang lain.
Mulailah Andi membacakan sighat taklik. Indah mendengarkan setiap kata yang dibacakan oleh Andi. Lalu Pak Penghulu mengeluarkan buku nikah dan memberikannya pada pasangan pengantin baru tersebut. Andi mengambilnya dan segera memamerkan pada teman sekantornya yang kebetulan ada di ruangan itu. Teman-temannya tertawa begitupun tamu undangan yang lainnya melihat kekonyolan Andi tersebut.
Selanjutnya mereka berdua membubuhkan tanda tangan mereka di kertas yang telah disediakan pihak KUA.
"Teken kontrak seumur hidup ini" ucap Pak Penghulu yang dibalas senyum keduanya.
Tangan Indah bergetar saat akan membubuhkan tanda tangan di kertas tersebut. Dengan mengucap Basmallah dalam hati, dia menulai membubuhkan tanda tangannya.
Acara terakhir adalah doa. Semua yang hadir begitu khusyuk mengaminkan doa yang dikhalifai oleh petugas dari KUA.
Saatnya acara sungkeman, acara ini begitu mengaduk emosi Indah. Lama dia tergugu di pelukan sang Ayah. Sang ayah seperti begitu berat melepas anak gadisnya. Tapi bagaimanapun juga, beliau bahagia karena tanggung jawabnya sebagai ayah telah berpindah ke Andi yang sekarang sudah menjadi suami Indah.
Dipelukan sang ibu, lagi-lagi Indah tak bisa menahan airmatanya. Mulutnya tak bisa berkata-kata, apalagi disaat sang ibu mengelus punggungnya. Semua tumpah ruah begitu haru, tangis sedih, bahagia campur aduk jadi satu. Apalagi ketika Indah memeluk sang kakak, Andri. Indah merasa sangat berdosa karena telah melangkahi sang kakak dengan menikah duluan. Sang kakak pun sama halnya dengan Indah. Dia menangis terharu memeluk adik bungsunya.
Andi menangis haru ketika sujud dengan ayah ibunya. Sang ibu memeluk anak lelakinya dengan airmata berlinang. Begitu juga dengan kedua kakak perempuannya, mereka menangis haru melihat adik lelakinya telah melepas masa lajangnya.
Selanjutnya kedua pasang pengantin tersebut menyalami seluruh yang ada di ruangan itu dengan diiringi Shalawat.
__ADS_1
Kembali momen tersebut mengharu biru, kakak perempuan Indah, Yana menangis haru ketika sang adik memeluknya, begitu juga dengan Angga kakak keduanya. Mereka bahagia akhirnya sang bungsu telah menemukan penjaganya, pengganti sang ayah dan kedua kakak lelakinya.
Lika dan Fitri begitu sesenggukan ketika Indah tiba di depan mereka mengulurkan tangan hendak salaman. Alih-alih menyambut tangan Indah, Lika malah menubruk Indah memeluknya. Jadilah mereka bertiga berpelukan haru. Sampai-sampai Andi minggir dari mereka bertiga karena tidak punya kesempatan buat menyalami kedua sahabat istrinya itu.
"Hei sudah, bulu matanya lepas kan" sang MUA mucul dari dalam kamar dengan nelangsa.
Akhirnya mereka berdua tersadar dan tertawa sambil mengusap sisa air mata di wajah mereka.
"Tuuuhhh kaaann, haduhh ini make up nya luntur semua kan, ihh kalian ini" ucapnya kearah Lika dan Fitri.
Lika dan Fitri membalasnya dengan nyengir kuda.
"Nanti kan di make up in lagi tante" sanggah Lika yang dibalas cubitan halus sang MUA.
"Hiiii" balas sang Mua, tante Yanti gemas.
Setelah selesai acara ijab qabul, Indah dan Andi berganti pakaian. Tante Yanti dan sang asisten sekarang sedang sibuk mengganti pakaian pengantin baru tersebut. Tante Yanti mulai membenahi make up di wajah Indah yang luntur. Dengan lihai, make up itu kembali sempurna di wajah cantik Indah.
Sang asisten, seorang lelaki gemulai memakaikan Andi pakaian adat Palembang. Sesuai permintaan kedua pasang pengantin jauh hari sebelum acara resmi, mereka meminta pakaian adat Palembang yang bernama Aesan Gede.
Dengan gemulai sang asisten memasangkan jubah bertabur bunga emas, celana dan kain songket serta songkok emas sebagai penghias kepala.
"Uy uy uy, ulala mak inang, ganteng banget sih bang" ucap sang asisten menatap Andi tak berkedip setelah dia selesai mendandani Andi.
Dengan sebelah tangan di pinggang, dan tubuh agak dimiringkan seperti seorang model yang sedang berfose, sang asisten tak henti-hentinya memuji ketampanan Andi.
"Yeay beruntung banget sih mbak dapat jejaka kaya abang satu ini. Coba nih abang jodohnya yeay" sambungnya tersenyum malu-malu.
Indah tersenyum mendengar ucapannya.
"Kamu itu Nadine, ga bisa lihat cowok ganteng dikit, semuanya mau dijadiin suami. Kambing dibedakin aja pasti kamu taksir" goda Tante Yanti.
Mendengat hal tersebut, Andi dan Indah terbahak. Sementara Sang assisten yang diketahui bernama Nadine melototkan matanya.
Setelah selesai Andi duduk di kursi dekat ranjang pengantin mereka. Sementara Nadine terus nempel-nempel sama dia. Andi tersenyum geli melihat kelakuan Nadine.
__ADS_1
"Heh Nadine, jaga sikap. Jangan keganjenan, yang elegan dong jadi anak perawan" ucap Tante Yanti tanpa mengalihkan wajahnya dari Indah yang sedang dipakaikannya baju kurung berwarna merah.
Nadine segera mundur sedikit dari Andi setelah mendengar ucapan tante Yanti. Hal tersebut makin membuat Andi terkekeh.
Baju kurung ini berhiaskan motif bertabur bunga bintang keemasan yang dipadukan dengan kain songket lepus bersulam emas.
Selesai dengan baju kurungnya, sang MUA melanjutkan dengan memakaikan bunga cempako (bunga cempaka), tebeng malu (penutup bagian samping kepala berbentuk bola-bola warna warni yang dirangkai dan dipasang di samping telinga), lalu memasangkan terate pada kedua pengantin (hiasan yang dipakai oleh pengantin untuk menutupi dada dan pundak mereka)
Selanjutnya sang Mua memakaikan kebo munggah (kalung tapak jajo) di leher kedua pengantin dan Selempang sawit (selempang yang dililitkan di bahu kiri ke kanan)
Nadine begitu terampil memasangkan aksesoris tersebut ke badan Andi. Selanjutnya Nadine memasangkan keris dan Pending (berupa ikat pinggang) ke pinggang Andi. Sementara tante Yanti memasangkan Pending di pinggang Indah yang berupa lempengan. Selanjutnya terakhir, tante Yanti memasangkan gelang palak ulo (gelang yang dipakai di lengan pengantin perempuan yang berupa gelang emas 24 karat bertabur berlian dengan bentuk ular naga bersisik dan berpulir)
Setelah selesai semuanya, kedua pengantin memakai cenela (sandal kedua mempelai yang biasanya berwarna senada dengan atasan) dan berjalan keluar kamar menuju tenda tempat resepsi.
Nadine mengiringi langkah pengantin yang bergandengan tangan menuju pelaminan. Seluruh tamu undangan berdecak kagum memuji kecantikan dan ketampanan kedua pasang pengantin tersebut.
Ketika telah duduk di pelaminan, Nadine segera merapikan pakaian kedua pengantin tersebut
"Perfecto" ucap Nadine sambil memberi kissbye pada pasangan pengantin tersebut sebelum akhirnya dia turun dari panggung.
Andi dan Indah tersenyum melihat kelakuan Nadine, begitupun para tamu undangan.
Selanjutnya acara resepsi diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an lalu dilanjutkan dengan tausiyah dari seorang ustadz sebagai nasihat pernikahan.
"Alhamdulillah, pagi ini telah kita saksikan bersama-sama mas Andi dan mbak Indah yang telah sah menjadi suami istri. Dari yang saya tahu tadi, bahwa mereka berdua ini berbeda latar belakang maupun adat istiadatnya. Masha Alloh berkat Alloh Subhana huwataa'la tidak ada yang tidak mungkin, seperti firmanNya dalam surah Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi "Ya ayyuhan nasu inna khalaqnakum min zakariw wa unsa wa za ja'alnakum syu'ubaw wa qaba i'la lita'arufu, inna akramakum 'indallahi attaqum, innallaha 'alimun khabir"
Yang artinya "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh, ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"
Andi langsung melirikkan matanya kearah sang ibu yang juga duduk di pelaminan mendampinginya, tanpa sepengetahuan Indah. Sang ibu hanya diam saat mendengar sang ustadz membaca surah Al-Hujurat tersebut.
Diakhir acara, sang ustadz juga mendoakan semoga pasangan pengantin baru ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta dikarunia keturunan yang shalih dan shalihah yang di aminkan oleh seluruh tamu undangan yang memenuhi tenda tersebut.
Acara resepsi berlangsung sampai sore hari. Sepanjang acara tak henti-hentinya kedua pasang mempelai tersebut tersenyum bahagia menyambut hangat salam setiap tamu undangan yang menyalami mereka.
Indah dan Andi saling tatap, dalam hati mereka berdoa semoga mereka terus bersama hingga hanya maut saja yang dapat memisahkan mereka.
__ADS_1