Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Keluarga 'Ummi Afsha


__ADS_3

"Abi, kardeşim seni çok özledim" (kakak, aku sangat merindukanmu) ucap Canan, adik adik perempuan Ozkan saat masuk kedalam kamar Ozkan pagi ini.


Ozkan yang masih berbaring segera menyambut sang adik dengan pelukan hangat


"Apakah abi tidak merindukan kami" sambungnya masih memeluk erat


Ozkan tersenyum.


"Apakah begini sambutanmu pada abi, hem?"


Canan melepas pelukannya, menatap penuh sayang pada saudara tertuanya itu


"Hidup kami hampa tanpa abi" jawabnya


"Abiiiii" teriak Ozlem adik lelaki Ozkan masuk kekamar


Dipeluknya sang kakak dengan erat. Canan ikut memeluk keduanya


"Kebanggaan kami sudah kembali" ucap Ozlem lagi


Ozkan tersenyum


"Apakah kalian akan tetap disini?" suara Anne mengagetkan mereka bertiga yang sedang melepas rindu


Ozlem segera menghampiri ibunya dan memeluk perempuan cantik tersebut.


"Anne" ucapnya


Nyonya Aylin, ibunya Ozkan membalas pelukan anak keduanya itu.


"Kita ada perayaan hari ini di rumah, dalam rangka menyambut kedatangan putra tersayang anne, Ozkan" ucap beliau


Ozkan tersenyum samar


"Tidak usah berlebihan anne, saya pulang tanpa rencana" jawabnya


Nyonya Aylin dan Canan saling pandang


"Apa maksudnya abi?" ucap Canan


"Hatice" jawab Ozkan pelan


Ozlem langsung tersenyum sinis


"Mengapa lagi dengan perempuan jahat itu?, belum cukup dia membuat abi pergi dari kami" ucapnya geram


"Abi tidak bermaksud untuk kembali sama dia kan?" tanya Canan dengan wajah khawatir


Ozkan menggeleng


"Justru aku kembali karena aku mau buat perhitungan sama dia"


"Apa yang Hatice perbuat sama abi?"


"Dia menghancurkan mimpi dan harapanku Anne" jawab Ozkan pilu


Nyonya Aylin langsung memeluk putranya


"Askim" ucapnya sendu


"Saya dengar dari teman saya, dia menyusul abi ke Indonesia sebulan yang lalu, apakah abi bertemu dengannya?" tanya Ozlem


Ozkan menggeleng


"Aku tidak tahu jika dia di Indonesia, dan jikapun aku tahu, aku tidak akan menemuinya. Tapi kali ini aku harus menemuinya, karena dia, kekasih hatiku pergi meninggalkanku" jawab Ozkan lesu


Canan menutup mulutnya


"Abi..." ucapnya sedih sambil kembali memeluk Ozkan


"Apa yang harus aku lakukan Anne, Indah pergi meninggalkanku, dan dia memintaku untuk kembali dengan Hatice"


"Indah?, what is that?" tanya Ozlem bingung


"Sevgilim" (Kekasih hatiku) jawab Ozkan tegas


Nyonya Aylin dan Canan tersenyum bahagia


"Seriously abi?" mata Canan berbinar


Ozkan mengangguk sambil tersenyum tersipu

__ADS_1


"Akhirnya abi jatuh cinta juga" goda Ozlem


"Tapi dia pergi meninggalkan abi" jawab Ozkan sendu


"Kenapa abi?, kenapa dia meninggalkan abi?" tanya Canan khawatir dan sedih


Nyonya Aylinpun turut memandang sedih kearah putra kesayangannya itu


"Hatice menemui Indah dan mengatakan jika dia adalah istriku dan mengatakan jika kami mempunyai seorang putra, dan dia meminta Indah untuk mengembalikanku padanya, dan Indah telah berjanji pada Hatice jika dia akan meninggalkanku dan berjanji tidak akan menemuiku lagi" cerita Ozkan panjang dengan wajah sedih


Wajah nyonya Aylin langsung berubah merah


"Dasar perempuan jahat, kurang apa dia menghancurkan dan mempermalukan kita? Selesai acara nanti kita temui dia dan keluarga besarnya. Masalah ini harus kita selesaikan


Ozkan langsung memeluk ibunya


"Bantu aku membawa Indah, anne"


Nyonya Aylin menganggukkan kepalanya sambil mengusap kepala Ozkan dengan sayang


...****************...


Sementara itu di Jeddah


Telepon di kamarku berdering. Segera aku bangun dan mengangkatnya


"Bangun Indah, kita harus sudah siap jauh sebelum penghuni rumah besar ini bangun" suara bu Adibah


Aku segera mengiyakan dan segera melesat kekamar mandi. Tak butuh waktu lama kami, aku sudah berpakaian rapih dan segera keluar kamar, bersama pelayan lain kami segera masuk lift dan turun kelantai dasar.


Menurut bu Adibah di rumah ini ada tiga puluh orang pelayan, laki-laki dan perempuan. Aku berdecak kagum mendengar jumlah pelayannya.


Karena belum tahu tugasku, jadi aku ikut pelayan lain membersihkan rumah.


Tujuh pelayan ada di belakang, mereka menyiapkan makan pagi, sedangkan pelayan laki-laki yang tempat mereka ada di satu bangunan rumah tepat dibelakang istana inipun memulai tugas mereka masing-masing. Ada yang membersihkan kebun, ada membersihkan halaman, bahkan ada yang membersihkan kolam renang.


Ternyata di rumah ini juga ada bangunan masjid, letaknya di sebelah bangunan rumah pelayan laki-laki


Ketika adzan subuh berkumandang, seluruh pelayan menghentikan seluruh aktifitasnya.


Aku bengong melihat mereka yang tergopoh keluar dari dalam rumah.


Aku mengikuti langkahnya keluar dari rumah. Ternyata mereka semua pergi kemasjid tadi. Aku jadi salut sama mereka, seruan Alloh lebih berarti ketimbang pekerjaan.


"Kita wajib sholat, kecuali berhalangan, jika tidak tepat waktu, maka 'Ummi akan marah" ucap Ateefa padaku sambil kami berjalan terus menuju masjid kecil tersebut


"Penghuni rumah besar ini apa sholat bareng kita?" tanyaku


Ateefa mengangguk


"'Ummi Afsha selalu tepat waktu. Kamu lihat saja nanti, 'ummi pasti sudah di dalam masjid beserta anak cucunya"


Dan benar saja, ketika kami masuk masjid, Nyonya Afsha sudah duduk di dalam masjid dengan tasbih di tangannya.


"Di sebelah 'ummi itu nona Alima, anak bungsu 'ummi. Dia seorang Psikiater. Nona Alima mempunyai tiga anak, yang semuanya laki-laki dan suami Nona Alima seorang dokter bedah" jelas Ateefa sambil berbisik padaku


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar penjelasannya.


Seseorang iqamah, lalu kami semua berdiri dan sholat shubuh dengan khusyuk.


Ini adalah shalat pertamaku berjamaah dengan majikan dan seluruh pelayan di sini, ada rasa bahagia dan juga kagum dalam diriku pada keluarga kaya raya ini, mereka tidak membedakan antara satu dan yang lain


Selesai shalat, seluruh pelayan kembali keluar dari dalam masjid, begitu juga dengan aku. Aku yang sudah siap melangkahkan kaki kiriku keluar dari masjid seketika tertahan ketika suara Nyonya Afsha memanggilku


"Indah, kamu kesini dulu"


Aku langsung memutar tubuhku dan berjalan dengan degup jantung cepat kehadapan beliau


Aku sedikit membungkukkan badanku ketika sudah didepannya


"Iya nyonya?" ucapku pelan


"Call me 'Ummi, not nyonya..okey?" ucapnya


Aku mengangguk cepat


"Baik 'ummi, maaf"


"Sini, kamu duduk sebelah saya"


Aku lalu segera duduk di sebelah beliau

__ADS_1


"Nah Alima ini yang 'Ummi ceritakan tadi sama kamu" ucap 'ummi pada nona Alima yang tersenyum ramah padaku


Aku menganggukkan kepalaku kearah nona Alima.


"'Ummi minta sekarang kamu bersiap karena nanti jam delapan kamu harus menemani 'ummi kekantor, 'ummi ada rapat"


Aku kembali menganggukkan kepalaku


"Kamu jangan takut sama 'ummi, Indah. 'Ummi saya ini adalah perempuan terbaik di bumi ini" jawab nona Alima sambil merengkuh bahu ibunya.


"Kamu mau apa?" tanya 'Ummi tanpa menoleh kearah anaknya


Alima terkekeh.


"'Ummi tahu saja ya kalau Alima mau minta sesuatu" jawabnya masih sambil terkekeh


"Kamu itu anak 'ummi, sudah 32 tahun sama 'ummi jadi 'ummi tahu maksud kamu jika memuji 'ummi selalu ada maunya"


Nona Alima menutup mulutnya karena dia terus terkekeh


"Akhir tahun nanti Alima ingin berlibur ke Swiss 'ummi, boleh ya?" ucapnya manja


Aku hanya memperhatikan saja tingkah keduanya.


"Boleh, masih banyakkan uangnya?" tanya 'ummi


Alima mengangguk dan kembali memeluk hangat ibunya sambil mengucapkan terima kasih


"Sekarang kamu temui Adiba, minta baju sama dia. Bilang jika kamu akan ikut 'Ummi kekantor"


"Baik 'ummi" jawabku


Setelah itu aku keluar dari dalam masjid dan masuk lewat pintu samping sesuai dengan arahan bu Adiba tadi, jika akses keluar masuk pelayan melewati pintu khusus yang terletak di samping bukan lewat pintu utama


Saat aku akan naik ketangga lantai dua, seorang anak lelaki menabrakku. Sangat tampan.


Wajahnya tampak kaget dan mendongak menatapku


"Sorry" ucapnya takut


"It doesn't matter boy" jawabku sambil menundukkan tubuhku menoel pipi chubbynya.


"What's wrong honey" ucap sebuah suara.


Aku segera membetulkan posisi tubuhku. Lalu membungkukkan sedikit tubuhku pada lelaki muda yang berpakaian khas Arab


"Saya menabrak Aunty ini Dad" ucapnya


"Oh, pardon for my son" ucap lelaki itu padaku


"It's ok sir, I'm fine" jawabku


"Wahhh ternyata kamu bisa juga ngomong Inggris ya Ndah" ucap Nona Alima yang tiba-tiba muncul


"Cuma sedikit Nona, tidak banyak" jawabku


"'Ummi sudah baca background dia, itulah sebabnya 'ummi yang meminta dia untuk bekerja pada kita" timpal 'ummi yang juga muncul


Alima dan suaminya tampak mengangguk-anggukkan kepala.


"Itu artinya Indah bisa mengajari ketiga anak kita, honey" ucap suami Nona Alima


"Betul sekali itu, Dad" jawab Alima


Aku hanya tersenyum kaku.


"Cepatlah, satu jam lagi temui 'ummi di bawah"


Aku menganggukkan kepalaku lalu kembali melangkah


"Kenapa tidak naik lift?" tanya Alima


Aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya


"Saya phobia ketinggian" jawabku sopan


Nona Alima tampak menganggukkan kepalanya.


Sampai dikamar aku kebingungan bagaimana caranya bermake up. Karena aku hanya bisa make up seadanya. Aku takut jika penampilanku membuat 'ummi tak suka.


"Kak Jen, andai kakak ada disini" lirihku sendu

__ADS_1


__ADS_2