Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Menjawab Pertanyaan Adam


__ADS_3

"Ah, nanti siang sajalah aku telpon bunda, lebih baik aku tidur sekarang" putusnya sambil kembali merebahkan kepalanya


Tapi otak dan hatinya berbeda pendapat, niat di hatinya ingin tidur tapi kepalanya penuh dengan berbagai pikiran


"Kakak saat aku lahir masih kecil, pasti kakak nggak tahu, ayah, iya ayah. Ayah adalah orang yang tau segalanya. Karena aku yakin saat itu bunda masih terlalu lemah untuk mengetahui semuanya"


Adam kembali bangkit dan meraih handphonenya. Dicarinya kontak ayahnya, karena dia berniat ingin menghubungi ayahnya itu


Tapi kemudian dia tersenyum kecut ketika dia sadar jika tidak menyimpan kontak ayahnya


"Ada apa denganmu Adam, kau selama ini sudah nyaman tanpa ayah" gumamnya tertawa basi


Lalu dia menguap, dan dengan pelan dia berjalan lagi ke ranjang, naik lalu merebahkan badannya


"Aku sudah ada nek nang dan uwak, apalagi aku sudah ada papa, jadi untuk apa aku ingat ayah" gumamnya sambil membaca doa tidur dan memejamkan matanya


...****************...


"Sayang aku ikut kekantor ya?"


Ozkan memandang pantulan wajah istrinya di cermin karena saat itu dia sedang memakai dasi


"Tumben.."


"Abis bosen di mansion, nggak ada teman, temannya sama itu-itu aja"


"Ya sudah, boleh"


"Seriusan?"


Ozkan membalikkan tubuhnya memandang ke wajah Indah yang berseri, memberi sebuah senyuman sambil menganggukkan kepala


Indah dengan cepat melompat meraih tengkuk suaminya, mencium dengan dalam wajah suaminya.


Ozkan bahkan sampai terbungkuk-bungkuk akibat perlakuan istrinya, dengan cepat dia memeluk dan mengelus pundak istrinya


"Abang tunggu di bawah ya?"


Aku mengangguk, lalu segera melesat ke kamar mandi. Ozkan yang turun kebawah disambut dengan teriakan Defne


"Morning Daddy... sevi seniyorum..


"


"Morning too sweet heart, sevi seniyorum too" jawab Ozkan sambil mencium puncak kepala kedua anak kembarnya


"Today, Mama will go to the office with daddy"


Twins yang sedang menyuapkan makanan ke mulut mereka saling toleh


"Really? for what?" tanya Defne


"Mama said that she was bored at home"


Serkan dan Defne mengangguk, tepat disaat Indah turun. Ozkan tersenyum kearah istrinya yang telah memakai baju rapih


"Ready?" tanyaku


"No, mama we still have breakfast" jawab Serkan


Aku mendekat, mengelus kepalanya


"Mama know, I means after that" jawabku ikut duduk di sebelahnya, mengambil sarapan pula


"Sayang, kemarin Emir kekantor"


"Untuk apa?"


"Apalagi kalau bukan menanyakan Naura"


Aku tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.


"Akmar jauh lebih berani ketimbang Emir, dan sepertinya aku menyukainya bang"


"Loh kok kamu sih sayang yang menyukainya?, bukan Naura?, jangan bilang kalau kamu "suka" sama dia?"


Aku terkekeh


"Apa sih ini maksudnya, ya nggaklah. Masa aku menyukai calon menantuku, sementara suamiku jauh lebih tampan dan jauh lebih kucintai"


Ozkan tersenyum mendengar jawaban Indah


"I'm done. Come on, the we go..."

__ADS_1


"Me too, come on Daddy, the we go"


Aku cepat mengelap mulutku, begitupun dengan abang, lalu kami berdiri, dan aku memakaikan tas dan memasukkan botol minum dan bekal makan siang untuk kedua anak kembarku. Baru setelah itu kami keluar dari mansion, masuk kedalam mobil dengan diiringi satu mobil bodyguard di belakang


Setelah mengantarkan kedua anakku ke kelasnya, aku kembali masuk mobil dan mobil membelah jalanan menuju kantor abang


"Abang, aku kerja sama abang aja ya?, cukuplah bang aku cutinya. Tujuh tahun lebih loh aku istirahatnya, nanti otak aku jadi mahal karena nggak aku pakai"


Ozkan meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat


"Ingat dulu abang pernah bilang apa?"


"Kapan?" jawabku menatap penuh cinta kebola matanya


"Dulu, ketika kamu di balai pelatihan PJTKI di Jakarta. Menikahlah dengan abang, nggak perlu bekerja, karena kerja utama kamu cuma melayani abang, mencintai abang, melahirkan anak abang dan mengurusi anak abang, itu saja, nggak ada tugas lain"


Aku cemberut


"Abang nggak ingin twins jadi lebih banyak waktu dengan pengasuhnya dibandingkan dengan mamanya sendiri, abang ingin kedua anak abang tumbuh dalam asuhan kamu, bukan orang lain"


Deg!! ucapan abang menohok sudut hatiku. Tiba-tiba aku teringat ketiga anakku di Indonesia. Dulu Naura seumuran twins ketika kutinggalkan, hingga akhirnya mereka tumbuh dalam asuhan kedua orang tuaku dan kakak-kakakku, bukan di tanganku


"Urusan kerja dan stress akibat kerjaan biar abang yang tanggung karena itu memang sudah menjadi tugas abang"


Aku sudah tak mendengar ucapan suamiku lagi karena aku segera mengambil handphone, menelpon anakku


Naura tidak diangkat, mungkin dia sedang sibuk mengurusi pasien atau klinik, Adam begitu juga.


Ah, apa anak bungsuku itu sedang latihan bela diri atau latihan menembak?, karena bulan kemarin dia minta izin untuk mengikuti dua latihan itu padaku


Pilihan terakhir pada Mikail, tentara hatiku. Ozkan yang melihat wajah tegang istrinya sambil mengutak atik handphone hanya mengusap-usap kepala istrinya saja


"Kamu kenapa?"


"Nelpon anak-anak, mendengar ucapan Abang tadi, aku jadi teringat ketika mereka aku tinggalkan"


Ozkan menggeser tempat duduknya, mengambil kepala istrinya dan didekapnya


"Maaf jika perkataan abang melukai hatimu..."


Aku tersenyum tapi tetap dengan handphone yang masih menempel di telinga


"Assalamualaikum bunda.."


"Waalaikumussalam, sehat nak?"


"Alhamdulillah bunda, bunda dimana?"


"Ikut papamu kekantor" lalu aku menggeser sedikit handphone agar wajah abang terlihat oleh Mikail


"Assalamualaikum papa"


Abang tersenyum sambil melambaikan tangannya


"Waalaikumussalam Army..."


Mikail terkekeh.


"Bunda nelpon ayuk sama adek, tapi nggak diangkat"


"Mungkin masih tidur bunda"


"Tidur?, di Indonesia sudah lewat jam 12.00 kan nak?"


"Adek nemenin ayuk semalaman di klinik, mungkin mereka masih istirahat"


Aku ber O panjang, mungkinlah pikirku. Karena jika ada pasien yang akan melahirkan, Naura tidak akan tidur sedetikpun. Dia akan begadang menunggui dan menghibur pasiennya


"Kamu jangan lupa makan nak ya, kerjanya hati-hati, jika ada apa-apa cepat kasih tahu bunda, atau yang paling cepat minta tolong sama bodyguard papa, sama satu lagi, kalau makan jangan banyak pakai sambel, kurangin loh sambelnya, nggak bagus untuk usus kamu, dan iya salam buat keempat teman kamu, mereka masih tinggal sama-sama dengan kamu kan, kak?"


Mikail hanya tersenyum mendengar nasehat ibunya, begitu juga dengan Ozkan, dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya


Aku segera menoleh keluar, ketika mobil berhenti


"Sudah dulu ya nak, bunda mau masuk kekantor papa. Mau bantuin papa kerja, assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam, hati-hati bunda, have a nice day"


Aku tersenyum sebelum memutus panggilan video pada anakku.


Lalu abang membukakan pintu dan aku segera turun. Dengan mesra Ozkan menggandeng tangan istrinya, mengajaknya masuk kedalam kantor


Seluruh karyawan yang melihat Ozkan masuk dengan menggandeng istrinya memandang takjub dan menganggukkan kepala mereka, memberi hormat

__ADS_1


Aku memasang senyum tiap melihat karyawan suamiku, hingga akhirnya kami masuk keruangan abang, dan aku hanya plangak plongok melihat suamiku yang langsung membuka laptopnya


Berkali-kali aku menarik nafas dalam karena ternyata di kantor aku malah makin stress, nggak ada kerjaan.


Ozkan yang sedang fokus menatap layar laptop sekali-kali mencuri pandang kearah istrinya yang tegak duduk buka hp, merebahkan kepala bahkan berjalan mondar-mandir


Senyumnya terukir di bibir ketika melihat wajah istrinya yang berubah-ubah, kadang tegang kadang cemberut, kadang menarik nafas dalam


"Sayang sini!"


Aku segera menoleh dan menatap suamiku, dengan cepat berjalan kearahnya


Dengan cepat Ozkan menarik dan memeluk pinggang istrinya


"Kamu makin stress?"


Aku mengangguk sambil cemberut. Ozkan lalu memutar laptopnya


"Ya sudah nonton film ini saja, abang yakin kamu nggak akan stress lagi"


Aku segera membawa laptop yang tadi diberikan abang, membawanya ke sofa, selonjor dan duduk santai menonton. Apalagi jika bukan film bollywood.


Ozkan yang faham kesukaan istrinya, jadi tahu apa yang harus dia lakukan.


"Sayang, tissue nya ada di meja dekat kamu ya..." goda Ozkan


Aku mendelikkan mataku mendengar abang menggodaku. Ozkan terkekeh melihat istrinya sewot, lalu dia kembali meneruskan pekerjaannya, sementara Indah telah khusyuk menonton film


...****************...


Adam yang keluar dari dalam mushola segera naik lagi ke kamarnya, merujoaah dan shalat dzuhur telah dilaksanakannya. Begitupun dengan Naura, gadis itupun melakukan hal yang sama, segera naik ke kamarnya


"Maa Syaa Alloh, jadi tadi bunda nelpon?" gumam Adam ketika melihat handphonenya


Segera dia mendial balik nomor bundanya.


Aku yang sedang khusyuk menonton, menoleh sekilas kearah handphone di atas meja yang berdering


Adam Sayang


Dengan cepat aku mempause film tersebut dan menerima panggilan Adam


"Assalamualaikum bunda, maaf tadi adek sedang merujoaah saat bunda nelpon"


Aku tersenyum senang mendapati jawaban anakku. Lalu aku bertanya bagaimana kabarnya hari itu dan secara tak sengaja Adam menceritakan pengalaman pertamanya mengadzani bayi di klinik Naura


"Bunda... apa ketika aku lahir dulu ayah bahagia?"


Deg!! jantungku berdetak mendengar pertanyaannya, terlebih ketika kudengar nada suaranya berubah sendu


"Tentu dek, tentu ayahmu sangat bahagia, kenapa?"


"Apa yang mengadzani aku ayah?"


Kembali aku tersenyum mendengar pertanyaannya


"Tentu nak, ayahmu yang mengadzani mu dulu, bahkan ayahmu sampai meneteskan air mata ketika melihatmu lahir. Ayahmu sangat bahagia begitu kamu lahir, sehingga selesai IMD, dan kamu telah dibedong, ayahmu dulu langsung menggendong mu, membisikkan adzan di telingamu"


Adam diam mendengar jawaban bundanya


"Apa ketika aku kecil dulu ayah sayang sama aku?"


Aku menarik nafas panjang. Bisa aku rasakan jika anakku penasaran bagaimana Andi dulu padanya. Karena kebersamaannya dengan Andi hanya sebentar, Adam tidak memiliki banyak memori bersama ayahnya. Karena di umurnya yang baru ketiga tahun, Andi telah tidak bersama kami


"Sayang dek, ayah kalian sangat menyayangi kalian" jawabku menerawang


"Jika ayah sayang sama kami, mengapa dulu ayah meninggalkan kita?, adek bahkan nggak ingat satupun kenangan sama ayah, bunda"


Kembali aku menarik nafas dalam


"Karena adek masih kecil saat kita tidak sama-sama ayah"


Kudengar Adam menarik nafas dalam


"Terus kenapa ayah meragukan adek anaknya?, berarti ayah nggak sayang bunda sama adek"


Aku diam mendengar pertanyaan Adam, karena aku tidak memiliki jawaban pasti.


"Kalau masalah itu adek tanyakan langsung sama ayah, yang bunda tahu dulu ayah kalian itu sangat menyayangi kalian, bekerja keras untuk memberi penghidupan layak pada kita, dan menjadi ayah yang ideal untuk anak-anaknya"


Adam diam, menarik nafas dalam. Naura yang berdiri di depan pintu kamarnya hanya bisa terdiam mendengar setiap pertanyaan dan kalimat yang terlontar dari bibir Adam


"Ayah sayang sama kita dek, tapi ayah tergoda dengan silaunya dunia sehingga dia tega membuang kita" gumam Naura

__ADS_1


__ADS_2