Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Penjelasan Ozkan


__ADS_3

Sepulangnya dari Dubai, Nona Alima langsung menemui Indah.


"Kita harus ngomong serius!" ucap nona Alima ketika sudah duduk berhadap-hadapan dengan Indah.


Aku yang saat itu baru saja selesai membersihkan wajahku menatapnya dengan serius


"Sebelum saya pergi ke Dubai, ummi cerita jika investor baru itu dari Turki, dan salah satu dari mereka namanya Ozkan. Benar itu Ozkan yang kamu ceritakan sama saya?"


Aku mengangguk pelan.


"Are you have met him?"


Aku diam


"Ayo ceritakan sama saya bagaimana perasaan kamu saat bertemu kembali sama cowok yang sangat kamu cintai"


"Tidak ada nona, biasa saja" jawabku


Nona Alima membuang nafas dalam


"Kalian berduakan yang mengerjakan proyek itu?"


Aku mengangguk


"Itu artinya kalian selalu bersama, terus setiap kalian bersama bagaimana perasaan kamu, apakah rasa cinta itu kembali hadir, misalnya detak jantung kamu yang berdegup kencang atau kamu senyum-senyum sendiri jika teringat kelakuan konyol Ozkan hari itu?"


Aku tersenyum lalu menggeleng


"Ya Alloh Indah, hampir dua tahun saya mencoba membangkitkan rasa percaya diri kamu, tapi ternyata saya gagal" keluh Alima dengan membuang nafas dalam


"Nona tidak gagal, nona psikiater yang hebat, buktinya banyak pasien nona yang depresi sembuh" jawabku


"Tapi kamu tidak!"


Aku kembali tersenyum


"Saya pasti sembuh seperti sediakala nona, nona jangan khawatir. Apalagi ketika saya bertemu dengan ketiga anak saya, mewujudkan mimpi mereka, membahagiakan mereka, saya yakin depresi dan trauma saya bakal hilang"


"Stop berlagak tangguh Indah. Saya tahu kamu wanita kuat, tapi please pikirkan diri kamu sendiri, jangan hanya memikirkan kebahagiaan orang lain!"


"Saya bahagia nona, bahagia" jawabku meyakinkan nona Alima


"Ya sudah, ceritakan sama saya bagaimana proyek hotel itu?"


Lalu aku dengan semangat menceritakan bagaimana berjalan lancarnya proyek pembangunan hotel bintang lima itu. Apalagi sekarang pembangunannya sudah hampir mencapai delapan puluh persen.


"Yang pertambangan?"


"Saya jarang kesana nona karena letaknya jauh dan juga cukup berbahaya. Jadi saya hanya kesana beberapa kali saja" jawabku


"Sikap Ozkan sama kamu seperti apa tiap kali kalian bekerja?"


"Profesional" jawabku singkat


Nona Alima tampak menganggukkan kepalanya.


"Masih lamakan proyek kalian?"


"Kemungkinan iya nona. Tapikan September nanti kontrak kerja saya sama ummi berakhir, itu artinya saya akan kembali ke Indonesia" jawabku bahagia


Wajah Alima berubah kaget mengetahui jika tidak lama lagi Indah akan pulang kenegaranya


"Serius kamu, kontrak kamu akan berakhir?"


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.


"Iya nona, sudah hampir tujuh tahun saya bekerja dengan ummi, dan saya juga sudah lama meninggalkan ketiga anak saya, sudah saatnya saya pulang" jawabku


"Tapi bagaimana dengan terapi kamu?"


Aku tersenyum


"Saya baik-baik saja nona, percayalah" jawabku meyakinkannya


Alima bangkit dari kursinya lalu memeluk Indah


"Masih banyak yang kamu sembunyikan Indah, belum sepenuhnya kamu tumpahkan pada saya. Dan saya masih terus berusaha membangkitkan rasa percaya diri dalam diri kamu" ucap Alima sendu


Aku menarik tubuh nona Alima menatapnya dengan dalam


"Semua sudah saya ceritakan nona, semuanya. Tidak ada yang tersisa"


Alima menggeleng


"Mengapa kamu begitu trauma membuka hatimu untuk lelaki lain Indah?, tidak semua lelaki itu bajingan seperti Andi, ada Ozkan yang sangat mencintaimu"


Aku tersenyum pada nona Alima


"Saya hanya seorang karyawan biasa, sedangkan tuan Ozkan sama seperti nona, seorang bangsawan, konglomerat, kaya raya, tidak sebanding dengan saya"

__ADS_1


"Bukan itu alasan kamu sebenarnya Indah!" jawab nona Alima cepat


Aku membuang nafas dalam menatap kosong kedepan


"Dendam saya belum terbalaskan nona, saya harus membalaskan dendam saya pada Andi dan keluarganya, baru setelah itu hidup saya akan tenang" jawabku lirih


Alima mengusap wajahnya mendengar jawaban Indah


"Sebegitu dendamnyakah kamu sama mereka?"


Aku menganggukkan kepalaku.


Alima menarik nafas dalam lalu menepuk pundak Indah sebelum akhirnya dia keluar meninggalkan perempuan itu termenung sendiri di kamarnya.


"Maafkan aku nona Alima" bisikku


...****************...


Seperti biasa, hari ini aku dan tuan Ozkan membuat laporan perkembangan proyek hotel. Kami berdua fokus dengan laptop masing-masing tanpa berbicara satu sama lain.


Walau sesekali Ozkan mencuri pandang pada Indah yang tampak serius.


"Bagaimana kalau nanti kita pergi meninjau lokasi pertambangan?" pancing Ozkan membuka percakapan


Aku diam, tidak menjawab karena aku tidak mendengar perkataannya


"Indah..?" panggil Ozkan


"Ah, iya, ada apa tuan?" jawabku sambil mengangkat kepalaku menatap kearahnya


Ozkan menyandarkan tubuhnya kekursi dan menopang kepalanya menggunakan tangan kiri


"Rilekslah sebentar, sejak tadi kamu sangat serius" jawabnya sambil menatap kearah Indah


Aku meraih botol air mineral lalu menenggak isinya


"Ini proyek pertama saya tuan, saya tidak mau mengecewakan ummi" jawabku


"Ozkan, my name is Ozkan. Or you call me Ariadi, okay?" protes Ozkan


Aku tersenyum segaris mendengar keluhannya.


"Okay, I call you tuan Ozkan" jawabku


Ozkan mendengus, segera dia berdiri dari kursinya lalu keluar dari dalam ruangan


Aku mengangkat bahuku ketika melihat tuan Ozkan pergi


Kulihat jam, sudah lima menit tuan Ozkan pergi, dan belum ada tanda dia akan kembali. Aku lalu memutar kursi karena gelisah menunggunya


"Apa aku harus menelponnya?" lirihku


"Ah, tidak, tidak" cegahku


Ozkan yang kesal dengan sikap cuek Indah akhirnya memilih pergi meninggalkan gedung tersebut.


Dia segera berjalan keluar menuju basemen untuk mengambil mobilnya


"Excuse me" ucap sebuah suara yang membuat Ozkan menghentikan langkahnya


Dia segera menoleh kebelakang, dan didapatinya seorang perempuan cantik berwajah khas Arabian berdiri di belakangnya


Ozkan menoleh kanan kiri, tidak ada orang lain, itu artinya perempuan cantik ini memang berbicara padanya


"Yes, Can I help you?" jawab Ozkan


Perempuan tersebut mengulurkan tangan dan disambut dengan ragu oleh Ozkan


"Saya Alima, putrinya ummi Afsha"


Ozkan segera tersenyum ramah pada Alima


"Saya Ozkan, ohh jadi anda putri tuan Ibrahim" jawabnya berubah akrab


Alima tersenyum sambil menganggukkan kepalanya


"Mau masuk?" tanya Ozkan sambil menunjuk kearah jalan masuk kantor


Alima menggeleng


"Saya kesini memang ingin bertemu dengan anda" jawabnya


Wajah Ozkan terlihat kaget


"Oh, really, what's up?"


Nona Alima lalu membuka dompetnya memberikan sebuah kartu nama


"Kalau anda ada waktu bisa kapan-kapan menemui saya" lanjutnya seraya tersenyum

__ADS_1


Ozkan menerima kartu nama tersebut dan membacanya


"Psikiater" lirihnya sambil mengerutkan kening


"Ini ada apa ya?" tanya Ozkan penasaran


"Ini tentang Indah"


Mata Ozkan langsung berubah tajam dan memandang serius pada Alima yang berdiri di depannya


"Indah?" ulangnya


Alima mengangguk


"Sekarang saja kalau begitu" jawab Ozkan cepat


Alima tersenyum


"Selesaikan dulu pekerjaan anda, nanti setelah beres anda bisa kabari saya" jawab Alima


Ozkan menganggukkan kepalanya lalu menyimpan kartu nama yang tadi diberikan nona Alima kedalam saku jasnya


"Saya permisi" pamit nona Alima


Ozkan menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan ketika mobil Alima lewat di depannya


Ozkan segera memutar tubuhnya kembali masuk kedalam gedung, lalu kembali berjalan masuk kedalam lift, dan menekan angka lantai ruang kerjanya dan Indah


Aku terkaget ketika pintu didorong dari luar. Aku yang masih cemas menunggu tuan Ozkan menarik nafas lega ketika kulihat tuan Ozkan yang muncul


Ozkan menatap dalam pada Indah. Aku yang menangkap tatapan mata tuan Ozkan segera terburu-buru menundukkan wajahku


"Dengan cara apa aku bisa melunakkan hatinya?" batin Ozkan


"Indah...?" panggil Ozkan


"Hemm" jawabku pelan


"Kita harus bicara empat mata"


Aku mendongak menatap tuan Ozkan yang ternyata telah duduk di dekatku


Aku segera menyandarkan tubuhku dan menatap kewajahnya


"Mau ngomong apa?" tanyaku


"Aku mau jelasin semuanya dengan kamu. Dulu kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semua sampai akhirnya kamu pergi meninggalkanku"


Aku diam sambil menarik nafas dalam dan terus menatap kearah tuan Ozkan


"Aku dengan Hatice sudah bercerai sejak enam tahun yang lalu" ucap tuan Ozkan lalu beliau menceritakan panjang lebar bagaimana proses perceraian, syarat dari Hatice sampai dengan bukti otentik DNA Kiral. Aku terus mendengarkannya dengan serius dengan diselingi tarikan nafas dalam sekali-kali


"Tolong jangan lari lagi dariku" ucap Ozkan mengakhiri ceritanya


Aku tetap bergeming, bahkan ketika Ozkan menggenggam tanganku


"Tidakkah kau bisa memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita?"


Aku menundukkan kepalaku


"Mengapa baru sekarang tuan mengatakan semua padaku?, tidakkah tuan tahu bagaimana tersiksa dan hancurnya aku selama enam tahun ini?, tersiksa merindukan tuan, berusaha sekuat tenagaku membuang tuan dari hatiku" jawabku bergetar


Ozkan diam mendengar jawaban Indah. Dia tidak pernah menyangka jika kekasihnya juga tersiksa sama seperti dirinya


"Selama enam tahun ini tuan kemana? tidakkah tuan berniat ingin menemui dan menjelaskan semua padaku?" sambungku, kali ini dengan terisak


Hati Ozkan begitu hancur melihat Indah menangis, menangis karena perbuatan pengecutnya


"Indahh...." lirihnya


Segera kutarik tanganku dari genggamannya


"Sekarang hatiku telah terbiasa tanpa cinta. Semua cinta yang dulu begitu besar pada tuan telah aku lemparkan sejauh-jauhnya" ucapku lagi


Ozkan menggelengkan kepalanya


"Tidak Indah, tidak. Kau tidak boleh melakukan itu" jawabnya bergetar


Dengan berani aku menatap matanya


"Mengapa tidak boleh, hem?, apakah belum cukup untukku menunggu selama enam tahun?, belum cukup untukku menyimpan rindu dendamku pada tuan?"


"Cukup tuan. Selama ini aku telah cukup belajar menerima dengan ikhlas siapa aku sebenarnya. Aku bersyukur mendapatkan pelajaran berharga dari tuan. Bahwasanya upik abu tidak akan pernah berubah menjadi permaisuri" jawabku dengan dada naik turun menahan emosi


"Kamu tidak mengerti sebenarnya yang terjadi Indah. Aku sama halnya denganmu, aku sama tersiksanya denganmu, aku tidak berani menemuimu karena aku takut kau akan semakin menjauhiku, itulah sebabnya sekarang ketika aku ada kesempatan bersamamu, aku ingin memperbaiki semua itu" jawab Ozkan tegas


Aku mengusap kasar wajahku.


"Kesempatan bersama kita hanya karena proyek besar ini tuan" jawabku

__ADS_1


"Tapi Indah?" potong Ozkan cepat


Aku segera bangkit dari kursi lalu berlari meninggalkan ruangan kerja kami, berlari masuk kedalam toilet dan terduduk disana menangis sejadi-jadinya


__ADS_2