Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Alima Vs Ummi


__ADS_3

"Ummi, kita harus bicara!" ucap Alima ketika dia selesai jogging


Ummi yang saat itu sedang menenggak air dingin menoleh sekilas


"Ummi sini!" tarik Alima pelan pada tangan ummi Afsha


Ummi Afsha menurut dan mengikuti langkah Alima yang menariknya.


"Ummi tidak bisa melakukan ini pada Indah!"


Ummi masih tenang seolah tidak terjadi apa-apa


"Ummi tidak faham bagaimana Indah, bagaimana bisa ummi berfikiran untuk menikahkan dia dengan uncle!"


"Pokoknya Alima harap ummi mengerti dan tidak egois!"


Aku yang kebetulan lewat menoleh sebentar kearah mereka, lalu naik ke atas dengan setengah berlari


Alima menatap Indah yang berlari dengan mata nanar


"Ummi lihatkan bagaimana Indah?, dia tertekan ummi!"


Ummi Afsha masih bergeming dan masih santai.


Dengan kesal Alima meninggalkan ummi dan berjalan kearah lift menuju kamar Indah


Sampai di depan kamar Indah dia menarik nafas dalam sejenak lalu mengetuk pintu


Aku yang terduduk sambil menangis dengan cepat mengusap kasar wajahku


"Saya boleh masuk?"


Aku menoleh pada nona Alima yang berdiri di ambang pintu. Dengan pelan aku mengangguk


Alima masuk dan langsung duduk di sebelah Indah


Aku berusaha tenang dan memaksakan sebuah senyuman


"Saya harap kamu menolak permintaan ummi saya"


Aku diam, tidak menjawab


"Indah, tatap saya!!"


Dengan mata yang kembali berkaca-kaca aku menatap kemata nona Alima


"Kamu dengarkan apa yang saya katakan barusan?"


Aku mengangguk


"Kamu harus berani menolak!"


Aku menarik nafas dalam


"Apa yang harus aku lakukan nona?, apa??!"


"Tolak permintaan ummi, karena saya tahu kamu mencintai Ozkan!"


Aku menoleh kembali dengan cepat kearah nona Alima


"Bagaimana saya bisa menolak permintaan ummi, nona?"


"Katakan semuanya pada ummi, jika kamu tidak mau, saya yang akan katakan semuanya"


"Kalau ummi marah sama saya?"


"Terserah ummi mau marah atau apa, ini hidup kamu Indah, kamu yang jalani, bukan orang lain. Kamu jangan terlalu naif dengan selalu mengikuti kata orang. Kamu harus punya pendirian"


"Saya bisa begini karena ummi, nona"


Aku kembali terisak


"Dulu saya bukan siapa-siapa, saya tidak memiliki apapun, saya tidak bisa apa-apa. Berkat kebaikan ummi saya punya segalanya, saya dihargai orang dan saya bisa mengumpulkan harta benda untuk ketiga anak saya"


Alima mengusap kasar wajahnya, lalu menarik pundak Indah


"Lihat saya!!!"


Aku mendongak kepalaku


"Kalau kamu berpikir akan menerima uncle Malik karena ingin membalas jasa pada ummi, kamu salah. Kamu mau menghabiskan seluruh hidupmu menikah dengan lelaki yang tidak kamu cintai??!"


"Kamu mau menyerahkan hidup kamu dan mengabdi pada lelaki yang sama sekali tidak kamu inginkan??!"


"Jangan merusak masa depan dan hidup kamu hanya karena kamu tidak enak pada ummi, hanya karena kamu tidak ingin membuat ummi kecewa!!!"


"Kamu boleh mengingat seluruh jasa ummi yang telah mengangkat derajat kamu, tapi kamu salah jika kamu berpikir dengan cara ini kamu bisa membalas kebaikan ummi!!"

__ADS_1


Aku semakin terisak


"Bilang sama saya, kamu tidak mencintai Ozkan lagi, hah??!!"


Tangisku makin menjadi. Alima jadi iba melihat Indah yang makin sesenggukan, dengan sayang didekapnya Indah


"Kamu berhak bahagia, Indah. Saya akan melakukan semuanya untuk menghentikan permintaan konyol ini. Saya akan bicara pada ummi dan uncle"


Alima lalu melepas dekapannya pada Indah, segera berdiri dan keluar dari dalam kamar


...****************...


Ozkan yang beberapa hari ini di Turki melakukan semua kegiatannya seperti biasa, pagi-pagi dia akan ngegym selama dua jam, baru setelahnya dia akan turun untuk sarapan.


Baru setelah mandi dia akan bersantai sebentar di kamar sambil sesekali mengecek e-mail, melihat dan mengecek laporan yang masuk dari beberapa perusahaan yang ada di bawah pimpinannya.


Setelah agak siang dia akan turun dari kamar, makan siang bersama anne tersayangnya, lalu ketika kedua anak tampan Canan datang, dia akan bermain dengan kedua keponakannya.


Bahkan seperti siang ini, anak Ozlem juga turut datang. Jadilah dia bermain dengan ketiga keponakannya.


Tomo dan Binsar yang turut dibawanya serta ke Turki terus mengawasi dan berjaga tak jauh dari tempatnya yang sedang bermain bola


Saat sore kedua adiknya datang, barulah dia santai kembali dan mengobrol akrab lagi dengan Ozlem dan Canan


"Abi, bagaimana jika kita belanja untuk keperluan abi menikah?" usul Canan


Ozlem mengangkat alisnya memberi dukungan


"Seperlu itukah?" jawab Ozkan


Canan mendecak kesal mendengar jawaban sang abi


"Susah ngomong sama lelaki dingin, aku tidak tahu mengapa Indah bisa jatuh cinta sama abi"


Ozkan terkekeh dan segera mengacak rambut coklat kemerahan adiknya


"Dia sangat mencintai abi, sangat cinta"


Ozlem dan Canan mencibirkan bibir mereka mendengar jawaban Ozkan


"Abi sudah bilang, dia tidak tahu siapa abi sebenarnya, baru setelah dia tahu, dia malah pergi"


Canan terkekeh


"Ayo abi, kita belanja sekarang. Atau minimal abi temani saya"


"Tidak dengan aku kan, Canan?"


Canan menoleh dan menatap tajam kearah Ozlem sambil cemberut


"Itu maksudnya apa?"


Ozlem segera menurunkan tangannya


"Jelas abi berdua harus mengantarkan aku. Seumur hidup kita tidak pernah belanja bersama. Come on, turutilah permintaan adik tercantik abi ini!" ucap Canan dengan wajah memelas


"Tobat saya menemani kamu belanja"


Canan makin cemberut mendengar jawaban Ozlem


"Anneeeeee....." Canan berteriak


Ozkan dan Ozlem saling toleh dan sama-sama memejamkan mata mereka dengan rapat, seperti ketakutan


Nyonya Aylin turun dari tangga dengan terburu


"Ada apa, apa yang terjadi?"


Canan langsung menunjuk kedua abinya menggunakan kedua telunjuknya


"Mereka..." ucapnya sambil cemberut


Nyonya Aylin langsung menoleh kearah kedua anaknya yang sama tampannya itu


Ozkan dan Ozlem nyengir


"Sama anne saja" ucap Ozlem


Nyonya Aylin duduk di depan ketiga anaknya yang duduk bertiga dalam satu kursi. Canan berada di tengah-tengah


Nyonya Aylin memandang kearah Ozkan dan Ozlem bergantian


"Canan mau ngajak kita belanja, kan anne tahu bagaimana dia. Bisa semalaman kita di dalam mall, bahkan bisa jadi mall mau tutup tapi dia belum selesai-selesai juga" ucap Ozlem memberi jawaban


Canan memukul paha Ozlem


"Kan sekali ini saja, mumpung abi pulang" jawab Canan manja dengan langsung memeluk Ozkan dari samping

__ADS_1


Ozlem menghembus nafas dalam melihat kelakuan Canan


"Ayo, itu ide yang bagus, anne setuju!"


Ozlem dan Ozkan ternganga, Canan segera memeluk kedua abinya bergantian dengan riang


"Anne siap-siap dulu"


Nyonya Aylin segera berdiri dan naik keatas lagi


Ozkan mengusap dagunya, Ozlem mengusap wajahnya. Tampak sekali keduanya frustasi


Canan terkekeh melihat perubahan wajah kedua abinya.


"Aku adukan baba" ancamnya setelah selesai tertawa


"Iya, iya, iya!!!" jawab Ozlem cepat


"Gulseeennnn..." kembali Canan berteriak yang membuat kedua abinya menutup telinga


Gulsen dengan terburu muncul


"Iya nona Canan?"


"Titip anak-anak yaa, saya dan anne mau belanja"


Gulsen mengangguk, lalu menoleh kearah Ozkan


"Dengan kami juga" ucapnya sambil menepuk bahu Ozlem


Gulsen tersenyum tertahan. Ozlem yang menangkap senyum dikulum Gulsen segera menyeletuk


"Gulsen saja faham"


Canan kembali menatap Ozlem dengan wajah yang kembali cemberut


"Iya adikku sayang, adikku yang paling cantik" ucapnya sambil mencubit kedua pipi Canan


"Ayo!" ucap nyonya Aylin yang ternyata sudah turun dari atas


Dengan cepat Canan menyambar tasnya di atas meja dan segera menarik kedua abinya


...****************...


Alima dengan cepat keluar dari dalam kamar Indah dan dengan cepat pula dia masuk lift, turun kebawah


Di bawah di dapatinya ummi sedang mengobrol dengan uncle Malik


Melihat Alima datang, tuan Malik segera menoleh dan menatap kearah keponakannya


"Uncle..."


Tuan Malik menatap dan menantikan kelanjutan ucapan Alima


"Nanti kita bicara berdua, semalamkan uncle sudah janji"


Tuan Malik mengangguk dan tersenyum kearah Alima


"Alima boleh bicara berdua dengan ummi?"


Tuan Malik melirik kearah ummi Afsha yang tampak tenang, mengangguk lalu berdiri dan berjalan keluar


"Ummi!!"


Ummi Afsha menoleh, Alima lalu duduk di sebelah umminya


"Ummi merencanakan ini karena ummi tahu jika Indah tidak bisa menolak permintaan ummi"


"Ummi jahat. Ummi tidak bisa memaksakan kehendak ummi pada Indah. Ummi memang berjasa besar pada Indah, tapi ummi tidak boleh mengorbankan masa depan Indah!!"


"Ummi tahu jika Indah menuruti semua perkataan ummi, tapi bukan berarti Indah juga harus menuruti ummi menikah dengan Uncle. Stop ummi!!, Indah itu manusia bukan robot yang bisa ummi suruh-suruh dan menuruti setiap perkataan ummi!"


Ummi Afsha memandang tajam kearah Alima


"Kamu tahu apa tentang Indah?"


"Seluruhnya!!! Seluruhnya Alima tahu. Luar dalam Indah aku tahu ummi"


Ummi tersenyum sinis mendengar jawaban Alima, tapi Alima tak putus asa


"Pokoknya jika ummi masih memaksakan kehendak ummi pada Indah, maka aku adalah orang pertama yang akan menentang!!"


Kembali Ummi Afsha menatap tajam kearah Alima yang melawan padanya


"Apa hak kamu melarang ummi, hah?? apa???!!" teriak ummi yang mulai terpancing emosi


"Ummi tanya apa hak saya? iya?, Indah adalah pasien saya, jadi saya berhak memutuskan semua apa yang terjadi pada pasien saya!!!

__ADS_1


__ADS_2