
Seminggu setelah kelahiran anaknya, Andi dan sang istri mengadakan acara syukuran aqiqahan anak mereka. Semua tetangga dan sanak keluarga datang pada saat itu. Tapi orang tua tidak ada satupun yang datang.
Ketika dilihatnya sang bibi sedang mengobrol dengan tamu yang lain, Andi segera menghampiri dan mengajak ngobrol berdua
"Ono opo?" (ada apa)? tanya sang bibi saat mereka sudah agak menjauh dari orang-orang
"*Mamak bapak ku kok ora teko yo bik? aku ki isin karo bojo kambek mertuoku, kat bojoku arep lahiran nganti dino iki yo ra teko-teko ki"
("ibu bapak ku kok tidak datang ya bi? aku malu sama istri dan mertuaku, dari istriku mau melahirkan sampai hari ini kok ya ga muncul-muncul)
"Lah apo uwis mbok telpon rong le, mbokan ra weroh" (Lah apa sudah kamu telpon nak, mungkin tidak tahu)
"Uwis bik, bar lahiran tak telpon sak urunge lahiran yo tak telpon, wingi yo tak telpon neh" ("sudah bi, setelah lahiran ku telpon, sebelum lahiran ya ku telpon, kemarin ya kutelpon lagi")
"Yo sing sabar, mungkin sore mengko teko" ("ya sabar, mungkin sore nanti sampai*")
Menjelang siang setelah makan, para tetangga yang membantu memasak dan keluarga Andi yang di Merasi mulai pulang ke rumah masing-masing. Andi segera mengambil anaknya dari pangkuan Indah dan mengamati wajah anaknya.
Indah menatap suaminya, dia tahu jika suasana hati sang suami sedang tidak baik-baik saja. Ditepuknya pundak Andi seolah memberi dukungan. Andi menundukkan kepalanya seolah menahan air mata.
"Saya nggak papa kok Kak, biarlah mereka tidak datang. Walau tanpa mereka toh acara kita tetap berjalan"
"Tapi aku malu sama bapak ibuk" jawab Andi dengan suara tercekat.
__ADS_1
Indah tersenyum getir dan membuang nafas berat.
"Insha Alloh keluarga ku memahami" jawabnya.
Selesai shalat Isya, acara syukurannya di mulai. Saat mc mulai membacakan susunan acara dan rombongan hadroh Albarzanzi sudah mulai membuka kitab Albarzanzi nya, rombongan orang tua Andi datang.
Mereka mengangguk hormat kepada para tamu undangan yang mayoritas bapak-bapak saat mereka melewatinya.
Pak Hermawan segera duduk di sebelah Pak Ahmad sambil mengulurkan tangannya bersalaman. Pak Ahmad segera menyambut tangan besannya tersebut. Ada juga Rudi, suaminya Laras dan Indra suaminya Ningsih ikut bergabung juga dengan tamu undangan yang lain duduk dalam tenda.
Sementara yang laki-laki duduk di dalam tenda, Bu Mira beserta tiga anak perempuan dan dua cucunya masuk ke dalam rumah.
Bu Siti yang mengetahui besannya datang segera menyambutnya. Mereka saling bersalaman dan cipika cipiki penuh kekeluargaan.
Bu Siti mengangguk dan mempersilahkan mereka duduk.
"Buk, adeknya mana?" Dimas, anak Ningsih merengek.
"Ohh, adeknya di kamar sebentar lagi mau di gendong sama uwaknya buat di marhaban kan" jawab bu Siti
Selesai acara potong rambut, Andi menggendong anaknya bergabung pada sang ibu dan kakak perempuannya. Mbak Ningsih langsung meraih Dinda, dan menggendongnya. Dimas begitu antusias melihat adik kecilnya, segera di ciuminya dengan gemas.
"Kok baru datang malam begini sih mbak?" tanya Andi
__ADS_1
"Kaya ga tau bapak aja kamu Ndi" jawab Ningsih
Nina ikutan menoel-noel pipi keponakannya, Laras tak bergeming begitu juga sang ibu. Mereka berdua cuek saja. Indah hanya memperhatikan mereka semua sambil tersenyum miris.
Selesai acara, para tamu makan lalu mulai satu persatu pulang. Tinggallah keluarga inti saja yang tersisa. Terlihat Bu Mira mulai bersiap-siap pula membereskan tas nya.
"Ibu dan bapak mau pulang?" tanya Andi
Sang ibu mengangguk dan berdiri.
"Nginep nah buk, masa sih ga nungguin cucunya barang sejam saja" sambung Andi
"Panen sawit belum selesai, kamu tahu sendirikan berapa paket sawit bapak mu, banyak" ucapnya sombong
Bapak ibu Indah saling pandang, begitu juga dengan saudaranya yang lain.
"Sudah, ayo pulang" ajaknya pada yang lain.
Segera mereka bersalaman dengan besannya. Ningsih dan Nina memeluk Andi dan Indah. Keduanya juga tak henti-henti menciumi ponakan mereka.
Andi tak bisa berbuat apa-apa selain melepas kepulangan keluarganya dengan wajah tak enak.
Kecewa, kentara jelas rasa kecewa itu di wajahnya.
__ADS_1
Teman sekantornya saja yang orang lain datang, memberikan hadiah buat anaknya, lah ini orang tuanya sendiri, jangankan hadiah, menyentuh anaknya saja tidak mau. Andi menangis dalam hati. Sementara Indah makin memendam sakit di hatinya atas perbuatan mertuanya.