Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sebelum Berangkat ke Arab


__ADS_3

Bis yang membawaku sudah tiba di Jakarta saat hari hampir malam. Aku menempuh perjalanan yang cukup panjang lebih dari dua puluh empat jam.


Aku segera menghubungi nomor bu Tina agency Tenaga kerja Lubuklinggau untuk melaporkan jika aku sudah sampai terminal


"Mobil yang akan membawa kamu kebalai pelatihan sudah menunggu disana, kamu sebutkan dimana posisi kamu sekarang"


Aku celingukan, aku menyebutkan ciri-ciri mobil dan dimana posisiku saat ini.


"Baiklah, tunggu sekitar lima menit, mobil menuju kesana"


Aku menutup panggilan, lalu membuka menu pesan, mengirim pesan pada umakku


"Alhamdulillah aku sudah sampai Jakarta mak"


Terkirim


Lalu ada seorang lelaki paruh baya yang turun dari dalam mobil, menghampiri dan memberikan kartu identitas yang bertuliskan Yayasan Cipta Mandiri, lalu beliau mengajakku masuk kedalam mobil.


Aku yang baru sekali ini menginjakkan kaki di tanah Jakarta benar-benar kampungan. Aku melihat gedung pencakar langit dengan begitu takjub. Macetnya Jakarta, hiruk pikuknya, lampu malamnya, suara klakson menjadi pemandangan yang begitu indah di mataku.


Sekitar satu jam, barulah mobil yang membawaku berhenti di sebuah kantor. Suasana kantor masih ramai walau hari sudah malam.


Aku segera masuk diantar oleh pak supir tadi. Aku diantar menuju meja pemeriksaan berkas, semua dokumen yang kubawa diperiksa dan diberi cap lalu disimpannya.


"Selamat bergabung bersama balai pelatihan tenaga kerja Cipta Mandiri, semoga yang menjadi cita-cita mbak tercapai" ucap perempuan yang usianya tidak jauh dariku dengan ramah.


Pada idcardnya aku bisa membaca jika namanya adalah Yunita.


Aku membalas senyum ramahnya. Lalu dia mengantarku kesebuah mess yang berada di belakang kantor tersebut.


Mess itu terdiri dari bangunan dua lantai. Bangunannya cukup besar. Ternyata di sana banyak berisi perempuan-perempuan yang sedang berlatih bahasa asing


Aku menoleh kesetiap pintu kamar yang terbuka, rata-rata isinya sama, mereka berlatih bahasa asing


"Nah, mulai sekarang mbak Indah disini" ucap Mbak Yunita sambil mengetuk pintu


Mereka yang ada di dalam segera menoleh


"Kita kedatangan anggota baru, namanya mbak Indah, beliau mulai malam ini akan sekamar dengan kalian, ingat, yang akur. Saya tidak mau ada keributan. Ingat, tujuan kalian disini semuanya sama. Maka dari itu, bersikaplah selayaknya saudara, oke?"


"Oke bu" jawab mereka semua


Ku lihat jumlah mereka ada lima, itu artinya malam ini di kamar ini akan ada enam orang


Setelah menjelaskan dan memperkenalkanku, mbak Yunita pergi.


Aku memamerkan senyumku pada mereka, mereka yang sejak kedatanganku tadi sedang berlatih sekarang mereka berdiri dan menyalamiku dengan ramah


"Selamat datang di kamar ceria Indah, kenalkan saya Sumila, asal saya dari Semarang" ucap seorang perempuan yang umurnya jauh diatasku


Aku menyambut tangan beliau dan menyebutkan namaku.


"Saya Manda, saya dari Medan" ucap seorang cewek berambut pendek, yang ku taksir seusiaku.


"Saya Yanti asal dari Madura"


"Saya Linda dari Kupang"


"Dan saya Olin, saya dari Manado"


"Wah, kita beda-beda propinsi ya" jawabku takjub


Mereka tersenyum.


"Ini lemari kamu Ndah, ini kemarin lemarinya Mbak Fitri, tapi sudah tiga hari ini dia terbang ke Hongkong, jadi pakaian kamu bisa kamu letakkan di sini" ucap bu Sumila


Aku segera beranjak kearah lemari tersebut dan membukanya.


"Kamu tidur sama aku ya Ndah" ucap Olin


"Kebetulan ranjang atas kosong, bekas mbak Fitri" sambungnya


Aku menganggukkan kepalaku.


Lalu mereka kembali membuka kamus dan buku masing-masing. Aku memperhatikan sambil membereskan pakaianku kedalam lemari.


"Kalau kamu tidak mau di atas, kita tukar saja" teriak Olin yang melihatku berjalan kearah ranjang tingkat yang tadi ditunjuknya


"Beneran nggak papa kalau tukaran?" tanyaku


Olin beranjak berjalan kearahku. Segera dia memindahkan bantal, guling dan selimut keatas


"Aku terawang kamu takut ketinggian" jawabnya serius


Aku mengernyitkan dahiku.


"Sudah jangan bengong, istirahatlah. Kamu pasti capek, kami masih mau latihan. Karena aku seminggu lagi bakal berangkat ke Jepang" jawabnya sambil tersenyum


Aku menganggukkan kepalaku. Memang aku penat sekali. Dari kemarin aku duduk di mobil, dan hanya sebentar di kapal, tidurku juga tidak nyenyak karena sepanjang malam aku menangis


...****************...

__ADS_1


"Peraturannya semua alat komunikasi dititipkan sama karyawan kantor, baru pada hari minggu semua hp akan dikembalikan, dan kita bisa menelpon keluarga kita" cerita Olin pagi ini sebelum kami berangkat ke tempat pelatihan


"Ayo cepat, jangan telat. Nanti kita kena marah" lanjutnya lagi


Aku segera melilitkan hijab keleherku lalu mengikuti langkahnya.


Di dalam aula besar itu telah berkumpul banyak perempuan. Masing-masing dari mereka telah memegang alat masing-masing.


Ada seorang instruktur yang mendampingi setiap kelompok yang terdiri dari lima orang.


"Kamu ikut saya sebentar" ucap sebuah suara di sampingku


Aku mengikuti langkah perempuan itu, yang kira-kira berumur empat puluhan.


"Silahkan duduk" ucapnya


Aku segera duduk di depannya. Kami berhadap-hadapan yang dipisahkan oleh meja. Kulihat dia membuka berkasku kemarin


"Kamu mantan guru ya?" tanyanya tanpa melihat kearahku.


"Iya bu" jawabku


"Karena disini saya baca kamu bisa bahasa asing, jadi saya rasa kami tidak terlalu kesulitan mengajarimu bahasa asing" lanjutnya


Aku mengangguk dan memperhatikan dengan saksama


"Selamat bergabung, selamat berjuang. Bulatkan tekad kamu. Kami disini sudah biasa melihat orang yang baru datang akan menangis karena teringat keluarganya, tapi kami meyakinkan mereka, bahwa tujuan mereka kesini adalah untuk memperbaiki nasib, dan kami juga akan menyalurkan calon tenaga kerja kami sesuai dengan kemampuan dan negara yang ingin ditujunya"


"Saya minta hp kamu titipkan kesini, nanti hari minggu akan kami kembalikan, biar kamu fokus berlatih. Dan iya, kamu inginnya kerja di negara mana?"


"Kalau bisa Arab Saudi bu, sesuai dengan paspor yang telah saya buat" jawabku


Beliau tampak menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu bisa bergabung dengan yang lain"


Setelah mengucap terima kasih aku segera bergabung dengan yang lain. Berlatih bagaimana cara menggunakan alat pembersih debu, membersihkan kaca, mengangkat telepon, dan lain-lain


Seharian berlatih membuat rasa sedihku sedikit berkurang. Aktifitas kami setiap hari seperti itu. Jika jam istirahat kami akan berkumpul saling berkenalan dan bercerita.


Hari sabtu sepertinya adalah hari yang sangat dinanti oleh seluruh calon tkw disini. Karena setelah sabtu sore, selesai latihan, kami dibebaskan untuk keluar.


Aku yang baru seminggu di sini, saat semuanya keluar untuk tamasya atau jalan-jalan aku lebih memilih untuk tetap tinggal di mess.


"Pergi sama kita aja" ajak Manda


"Iya, ayo Ndah ikut" bu Sumi memaksa


Tapi ajakan mereka aku tolak, aku ingin tinggal di mess. Aku ingin sendiri, karena saat ini hatiku sangat merindukan ketiga anakku.


Sepeninggal mereka aku menarik kursi dan membawanya kebalkon.


Aku berdiri di balkon, menatap kebawah, melihat ramainya para calon tkw yang keluar dari pagar. Aku tersenyum sendiri menyaksikan mereka.


Setelah mereka semua pergi, aku duduk di kursi. Merenung sendirian, tak terasa airmataku menetes saat ku ingat bagaimana Naura menjerit ketika kutinggalkan.


Aku menutup wajahku, terisak. Kerinduanku semakin dalam, nyeri sekali rasanya.


"Indah...." ucap sebuah suara yang memaksaku mengangkat wajahku yang kutekuk dilutut


Aku menatap tak percaya pada sesosok lelaki yang berdiri memandang kearahku


Spontan aku segera berlari dan menubruk dadanya. Aku kembali menangis pilu


"Abang..." ucapku terbata karena habis oleh isakku


Dadaku berguncang hebat, kaos oblong yang dipakainya basah oleh airmataku


"Anak-anakku bang, anak-anakku" ucapku terputus


Dapat kurasakan abang membelai kepalaku.


Untuk sekian menit aku terus memeluk dan menangis di dada abang Ariadi. Lelaki yang entah dari mana tahu jika aku ada di sini


Aku segera melepas pelukanku, dan menghapus airmata di wajahku. Aku tersenyum malu begitu sadar dengan perbuatanku


"Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya abang sambil menggenggam tanganku dan membawaku ke kursi tempatku duduk tadi


Aku mendongak menatap kewajahnya yang berdiri di depanku


"Harusnya aku yang tanya, kenapa abang ada di sini?"


Abang Ariadi tersenyum segaris


"Abang juga nggak tahu, begitu abang dapat telepon dari Tomo kalau dia melihat kamu, abang langsung datang kesini" jawabnya


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.


"Pak Abraham apa kabarnya bang?" tanyaku


Ariadi langsung memasang wajah datar begitu mendengar Indah menanyakan bodyguardnya itu

__ADS_1


"Kenapa kamu menanyakan dia?" tanyanya dengan suara dingin


Aku tersenyum. Dan degup jantung Ariadi makin kencang saat dilihatnya senyuman di wajah Indah


"Beliau sangat baik sama aku, jadi wajar dong bang aku tanya beliau sama abang, kan beliau anak buah abang" jawabku


"Kabar dia baik" Ariadi masih menjawab dengan ekspresi dingin


"Dan pertanyaan abang tadi belum kamu jawab"


Aku diam, aku menghembus nafas berat lalu bangkit, berjalan kearah dinding pembatas balkon


"Aku mau jadi tkw bang" jawabku


Sontak Ariadi langsung memutar tubuh Indah menghadap kearahnya


"Why?"


Aku menatap mata tajamnya


"Karena aku ingin membalas semua penghinaan dan penghianatan Andi. Aku ingin membalas sakit hatiku sama keluarga besarnya"


"Tapi tidak dengan cara ini Indah"


"Ini adalah cara satu-satunya abang" jawabku


Ariadi menggeleng, dia menatap tak percaya pada perempuan di depannya saat ini.



"Tapi tidak dengan kamu jadi tkw!"


Aku menarik nafas dalam, aku mendongak menatap matanya


"Kalau aku banyak uang, aku akan membayar semua cacian mereka sama aku bang, aku akan menunjukkan sama Andi jika aku bisa membeli permen sebanyak yang Adam mau, bahkan lebih dari permen, Adam, Adam anakku hanya minta seribu uang dia bang, tapi Andi tidak mau memberinya sampai Adam jatuh mengejarnya dan lututnya luka, hingga sampai sekarang bekas luka itu membekas di lututnya"


"Dan setiap aku melihat bekas luka itu, dendamku sama Andi kian besar" sambungku sambil menangis tersedu


"Kalau begitu kamu kerja sama abang, abang akan berikan kamu banyak uang"


Kembali aku menatap matanya sambil menggeleng


"Abang beruntung karena lahir dari keturunan kaya raya. Tapi tidak dengan ketiga anakku"


"Abang tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya dihina, bang, tidak pernah. Abang tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya diremehkan, direndahkan, dikhianati" ucapku dengan wajah yang penuh airmata.


Ariadi kembali menarik Indah kepelukannya, diusap-usapnya kepala Indah dengan sayang


"Kalau begitu terima bantuan abang"


Aku menarik tubuhku dari dadanya. Aku menggelengkan kepalaku


"Kamu tidak usah kerja, yang penting kamu selalu ada saat abang butuhkan"


Aku tersenyum menyeringai mendengar omongannya


"Tidak ada orang yang tidak kerja tapi menghasilkan uang abang" jawabku


"Jadilah istriku, jadilah pendampingku, dan jadilah ibu dari anak-anakku" ucap Ariadi sambil menggenggam tangan Indah.


Aku menelan ludah demi mendengar ucapannya. Rasanya aku tidak percaya pada pendengaranku. Aku menatap bengong padanya.


"Jangan tinggalkan aku Indah" ucap Ariadi lirih


Aku diam, aku bingung harus menjawab apa.


Ariadi yang tahu jika Indah shock langsung membawa Indah duduk di kursi dan dia berjongkok di depannya. Merengkuh pundaknya dan menciumi puncak kepala Indah berkali-kali.


"Abang pulang, malam minggu depan abang kesini lagi" ucapnya sambil membelai wajahku


Aku masih bergeming. Aku tidak sadar jika saat itu abang telah turun dari tangga dan keluar.


Sesampainya di dalam mobil, Ariadi melihat kearah balkon dimana masih terlihat samar Indah yang duduk terpaku


Dia segera mengeluarkan hp dari dalam saku jaketnya lalu mendial nomor seseorang


"Ya bos" jawab dari seberang


"Bapak Andreas sebagai pengawas yang memimpin wilayah Sumatera kan?


"Iya bos, benar"


"Senin nanti buat faksimile ke Bengkulu. Pecat kepala cabang kita yang bernama Andi Wijaya"


"Baik bos, siap!"


"Dan satu lagi, buat laporan kepolisian atas dugaan kasus penggelapan uang perusahaan"


"Baik bos, malam ini akan saya laksanakan"


"Terima kasih, Senin nanti tahu saya dia sudah tidak ada di perusahaan kita dan black list namanya keseluruh perusahaan di Indonesia. Agar dia tidak bisa bekerja dimana-mana lagi"

__ADS_1


"Baik bos, siap!"


Ariadi segera memasukkan kembali hp kedalam jaketnya lalu kembali menatap kearah balkon, dan tak lama dia mulai menjalankan mobil membelah jalanan macet ibu kota


__ADS_2