
"Ada kabar baik untuk kamu Indah" ucap kepala yayasan saat aku sudah duduk di depan beliau
"Ada konglomerat asal Arab Saudi yang meminta kamu untuk bekerja pada mereka" lanjutnya
Aku tersenyum bahagia.
"Kami sudah mengirimkan semua info dan data seluruh calon tkw tujuan Arab Saudi sesuai permintaan mereka. Ada dua puluh orang calon tkw yang kirimkan, tapi pilihan mereka jatuh sama kamu. Semoga pilihan mereka tidak salah ya Ndah"
"Insha Alloh tidak pak, terima kasih atas bantuannya" jawabku senang
"Besok kamu langsung terbang, berkas dan administrasi kamu sudah kami selesaikan, dan pihak sana nanti akan langsung menjemput kamu di bandara begitu kamu tiba"
"Besok pak?" tanyanya kaget
"Iya, itu artinya besok ada dua puluh orang calon tkw yang kami terbangkan sesuai negara tujuan masing-masing"
"Kalau besok, itu artinya saya berangkat barengan dengan Linda" ucapku dengan mata berbinar
Kepala yayasan tersenyum melihatku yang gembira. Setelah beliau selesai dengan semua wejangan dan nasihatnya padaku, akupun segera pergi dari ruangan beliau.
Kembali kekamarku, tidak ikut bergabung dengan yang lain yang sedang berlatih keterampilan.
Kedatanganku yang tiba-tiba mengagetkan Linda yang sedang packing.
"Loh, apa sudah selesai latihannya?" tanyanya kaget begitu aku masuk
"Lindaaaa, aku besok berangkat" ucapku bahagia saat aku sampai di dekatnya
Linda spontan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan baju kedalam koper
"Serius kamu?"
Aku menganggukkan kepalaku. Linda langsung memelukku
"Selamat ya Ndah, semoga ini awal kebahagiaan dan cita-cita kita" ucapnya bahagia
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah, kamu cepat packing, biar besok kita langsung berangkat ke bandara" ucapnya
Aku setuju, aku segera memasukkan seluruh pakaianku kedalam koper. Namun mataku tertegun saat aku meraih kantong kresek warna hitam yang terletak dibagian paling bawah lemari.
Aku hanya memegang kantong tersebut, menarik nafas dalam mengeluarkannya dari dalam lemari
"Kantong apa itu?" tanya Linda saat melihat Indah tertegun menatap kantong kresek hitam tersebut
Aku menarik nafas dalam dan membuka kantong tersebut
"Kantong ini motivasi aku untuk membalaskan sakit hatiku pada bekas ipar dan bekas mertuaku" jawabku geram
Linda segera menghampiri Indah dan meraih kantong yang sejak tadi hanya Indah pegang
"Astaghfirullah" ucapnya kaget
"Ini maksudnya apa Ndah, kok isinya pakaian yang semuanya sobek?"
"Pakaian ini pemberian bekas iparku untuk ketiga anakku" jawabku sedih
"Astaghfirullah" kembali Linda kaget
Dikeluarkannya seluruh isi kantong tersebut tanpa permisi.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya
"Penghinaan mereka akan kubayar mahal" ucapku lirih penuh penekanan
"Aku tidak habis pikir. Kok ada ya manusia yang tidak berhati seperti bekas iparmu itu"
Aku tersenyum basi pada Linda
"Dia tidak percaya dengan karma, makanya dia berlaku seperti itu padaku"
Linda mengelus bahu Indah
"Kamu buktikan dengan kesuksesan Ndah. Bungkam mulut mereka dengan kesuksesan kamu" ucapnya memberikan semangat padaku
Aku mengangguk pasti kearahnya.
...****************...
Jam 07.30 WIB rombongan kami yang akan berangkat ke Bandara Seokarno Hatta telah siap menunggu di halaman kantor yayasan.
__ADS_1
Sebelum berangkat ada sedikit acara yang langsung dipandu kepala yayasan, doa dan harapan yang beliau harapkan untuk kami, tampak kami semua terharu.
Setelah mobil bis yang akan mengantarkan kami kebandara tiba, kami dengan teratur naik kedalam bis dan duduk di tempat masing.
"Doakan aku mak, aku hari ini terbang ke Arab. Maafkan semua kesalahanku dan tolong sampaikan permintaan maafku untuk bapak. Tolong sayangi anak-anakku ya mak"
Aku mengetik sms pada umakku lalu mengirimnya. Saat mengetik sms itu, tak urung airmataku jatuh.
Terkirim.
Tak lama ada pesan masuk, dari umakku
Doa umak selalu menyertai setiap langkah kakimu Nak, umak akan menjaga ketiga anakmu, jangan kau pikirkan mereka. Mereka aman sama kami
Huffff aku menarik nafas dalam. Bayangan ketiga anakku menari-nari didepan wajahku.
Aku membuka galeri hp, memandangi foto mereka bertiga.
"Sayangnya bunda sama kalian nak" lirihku sakit
Tak butuh waktu lama, bis yang membawa kami telah tiba di bandara. Kami semua turun dan berjalan menuju bagian chek in.
Selesai dengan check in kami duduk di ruangan waiting room. Ternyata jam terbang masing-masing kami berbeda.
Kami duduk sambil mengobrol. Aku dan Linda mengobrol serius.
"Kamu terbang duluan ternyata Ndah. Dan aku jam sebelas nanti. Terima kasih ya Ndah karena telah jadi teman sekamarku yang baik dan pengertian"
Aku tersenyum, dan menggenggam tangannya.
"Aku juga berterima kasih sama kamu Lin, karena kamu juga sudah baik sama aku, Insha Alloh walau kita jauh tapi kita dekat dido'a"
Mata Linda berkaca-kaca.
"Saat kita sedih, kita jatuh, kita harus bangkit lagi ya Lin. Kita ingat bagaimana awal tujuan kita jadi tkw"
Linda mengangguk sambil menyeka airmata yang mengalir di pipinya
"Kita sama-sama berjuang demi anak ya Ndah" lirihnya
Sekarang aku yang mengangguk, tak terasa airmataku ikut mengalir.
...****************...
Sepuluh temanku yang berangkat menuju Malaysia segera berdiri dan kami saling berpelukan haru.
Kini tinggal kami bersepuluh lagi yang masih menunggu giliran terbang.
Jantungku makin berdebar saat jarum jam semakin dekat menyentuh angka sepuluh.
Jadwal penerbanganku jam sepuluh ini. Kurang sepuluh menit lagi akan tepat jam sepuluh.
Wajahku kian menegang. Linda dapat menangkap ketegangan di wajah sahabatnya itu.
"Kamu kenapa Ndah?"
Aku menghembus nafas dalam.
"Aku takut ketinggian" jawabku gemetar
Linda terkekeh.
"Ternyata apa yang dulu dikatakan Olin benar ya" ucapnya sambil terus tertawa
Aku memonyongkan bibirku.
"Emangnya kamu nggak takut?" tanyaku
"Oh, aku malah senang Ndah. Akhirnya kesampaian cita-citaku naik pesawat" jawabnya
Aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Ya ampuuun tangan kamu dingin banget" ucapnya sambil tertawa keras ketika menggenggam tanganku
Dengan kesal aku menepis tangannya. Tapi Linda makin tertawa keras
...****************...
Di tempat lain
Ariadi sedang memimpin rapat bersama koleganya dari luar negeri ketika sms dari Abraham masuk
__ADS_1
Indah di bandara bos. Hari ini dia pergi
Ariadi serasa berhenti bernafas ketika selesai membaca pesan tersebut. Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya tegang
"Rapat kita tunda" ucapnya sambil segera meninggalkan ruang rapat.
Seluruh kolega saling menoleh bingung, begitu juga dengan bawahan-bawahan Ariadi yang saat itu ikut rapat.
Secepat kilat dia masuk ke lift dan langsung menekan lantai satu.
"Hentikan dia, jangan biarkan dia pergi!" ucapnya tegang di telpon
"Lima menit lagi pesawat take off bos" jawab Abraham
"Perintahkan maskapai untuk delay!"
"Baik bos"
Secepat kilat Ariadi keluar dari gedung kantornya. Segera menuju mobilnya yang terparkir ditempat khusus.
Dengan cepat dia mengegas mobil membelah jalanan kota yang padat.
Naas baginya, kemacetan jalan membuat jalan mobilnya jadi terhambat.
Berkali-kali dia menekan klakson. Wajahnya kian frustasi karena kemacetan yang mengular.
"Cari maskapainya sampai dapat!" ucapnya lagi di telpon
*Di Bandara*
Terdengar announcement yang mengatakan jika pesawat yang akan membawaku mengalami delay.
Aku kembali menarik nafas. Ada rasa kesal namun ada juga rasa lega.
"Itu pesawat tujuan Arab Saudi kan Ndah, Kok delay?" tanya Linda ketika announcement berakhir.
Aku mengangkat bahu.
"Mungkin pilotnya belum datang" jawabku asal
Tampak Linda ber O panjang.
"Padahal tadi aku sudah menyiapkan mental, ehhh taunya delay, grogi lagi ini" keluhku
Kembali Linda terkekeh
Sementara Ariadi yang terjebak macet kian frustasi
"Please Indah jangan tinggalkan aku" gumamnya
"Bagaimana?" tanyanya melalui handphone
"Delay setengah jam bos"
Ariadi menarik nafas, setidaknya dia masih ada waktu untuk mencegah Indah pergi.
Aku dan Linda kembali mengobrol, memanfaatkan waktu kami yang hanya tinggal hitungan menit.
Terdengar kembali announcement yang meminta calon penumpang tujuan Arab Saudi bersiap.
Aku segera menoleh menatap Linda. Tampak kami sama-sama sedih. Kami berpelukan dengan haru
"Selalu ingat aku ya Ndah" isak Linda
Aku hanya mengangguk karena aku juga terisak. Kami berpelukan erat
"Ingat tujuan kita ya" ucapnya lagi dengan serak
Aku mengangguk sambil menghapus airmataku.
Aku menarik koperku, berjalan meninggalkannya yang melambaikan tangan padaku. Aku berjalan dengan keempat temanku yang lain yang tujuan kami sama, negeri Arab Saudi
"Indah sudah pergi bos"
Dada Ariadi kian bergemuruh. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ketika sampai di bandara dia langsung menuju loket tiket. Segera dia memesan tiket tujuan Arab Saudi.
Hanya tersedia kursi di first class, kelas khusus untuk kalangan elit. Tapi ini bukan masalah prestige, dia tahu Indah di kelas ekonomi, jadi dia ingin satu kelas dengan sang kekasih hati.
Karena tak ada pilihan lain, Ariadi menurut untuk duduk di first class. Dia memberikan black card kepada petugas loket.
Petugas itu terkesiap demi menerima black card di tangannya. Dia bingung mengapa orang kaya tapi mau kekelas ekonomi.
__ADS_1
Seperti setan Ariadi berlari masuk kedalam pesawat yang saat itu akan ditutup.
Segera dia dituntun seorang pramugari untuk duduk di kursi sesuai dengan kelas yang tertera di tiketnya, yakni first class