
Kulihat Mikail mengusap matanya menggunakan sikunya, aku menarik nafas panjang melihatnya menangis
Lalu aku memberikan kode hati menggunakan jariku padanya
Mikail tersenyum getir begitupun denganku.
Dengan lembut abang menyentuh bahuku lalu aku membalikkan badanku dan akhirnya pintu pesawat tertutup
Mikail dan keempat sahabatnya mundur menjauh saat pesawat akan bergerak
Kulihat melalui jendela, Mikail dan kelima temannya melambaikan tangan mereka. Begitu juga dengan ketiga bodyguard kami, mereka juga melambaikan tangan mereka
Hingga akhirnya pesawat benar-benar take off dan aku menarik nafas panjang
Aku duduk di tempatku tadi, di sebelah abang yang terus menggenggam erat tanganku
Aku hanya diam dan abang membiarkanku diam, mungkin abang memberiku ruang untuk menenangkan diriku dulu
"Tidurlah, perjalanan kita sangat panjang" ucap abang setelah cukup lama aku berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun
Aku menoleh dan hanya menggeleng. Dan abang kembali mengusap jariku yang ada di genggamannya
"Jika butuh sandaran abang siap kok"
Aku akhirnya tersenyum mendengar ucapannya
Benar yang abang bilang, perjalanan kami sangat panjang, nyaris hampir sepuluh jam baru kami akan landing di bandara King Abdul Aziz
Kulihat dua bodyguard sudah duduk dan tiga orang pilot yang bergantian tugasnya juga duduk tak jauh dari kami
Setelah agak lama seorang bodyguard mendekat kearah kami, saat itu abang sudah mulai memejamkan matanya
Aku memberi kode pada bodyguard tersebut untuk jangan membangunkan abang, dan bodyguard tersebut mengangguk
"Madha tahtaju?" (Anda ada perlu apa?)
"Eafwan sayidati 'aradt faqat 'an 'as'al , hal targhabin bishurb 'aw 'akl , sayidati 'am sidi?" (Maaf nyonya, saya hanya ingin bertanya, apa nyonya atau tuan ingin minum atau makan sesuatu?)
"Sa'aeud lilhusul ealaa mashrub" (Saya akan kebelakang mengambil minuman)
__ADS_1
"Shukran, faqshukran at 'ahdur li mashrub ghazi" (Terimakasih, ambilkan saja saya minuman ringan)
Bodyguard itu mengangguk dan tak lama bodyguard tersebut sudah kembali dengan membawa meja troli berisi makanan dan minuman
Tanganku terulur mengambil beberapa makanan ringan dan sebotol minuman dingin
Sehabis menenggak sedikit minuman ringan tersebut aku meletakkan kepalaku ke jendela kaca
Menatap keluar, kearah langit malam yang terang karena bulan purnama
Aku kembali harus menarik nafas panjang ketika teringat keluargaku yang kutinggalkan
Tak terasa kembali buliran bening mengalir di pipiku
Kenangan masa lalu seakan berlompatan keluar dari kepalaku. Semuanya seakan terulang di depan mataku
Aku kembali menarik nafas panjang ketika teringat bagaimana perlakuan bu Mira dan keluarganya, dan perlakuan buruk Andi padaku
Aku tersenyum getir ketika menyadari jika akhirnya masa sulit dan kelam itu berhasil aku lewati
Padahal aku tak pernah menyangka akan berada di posisi seperti sekarang. Dimana aku bahagia memiliki keluarga yang harmonis, memiliki lima anak yang membanggakan, memiliki suami yang sangat mencintaiku dan juga memiliki keluarga besar yang selalu mendukungku
Iya sekarang aku beruntung, tapi dulu entah berapa lama aku terpuruk dan hancur, menangis sampai menggigil karena menahan sakit yang teramat dalam
Disaat aku berjuang mempertahankan rumah tanggaku, malah suamiku lebih memilih selingkuhannya
Entah berapa banyak luka yang aku rasakan karena terpisah jauh dari ketiga anakku, berapa banyak beban mental yang aku tutupi dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang
Benar kata ketiga anakku, rencana Alloh adalah sebaik-baiknya rencana. Manusia boleh berencana tapi Alloh lah yang menentukannya.
Dulu aku bermimpi dan berharap bahwa aku akan menua bersama Andi, berbahagia di hari tua kami.
Tapi Alloh menunjukkan jika Andi bukanlah yang terbaik untukku. Dan Alloh menggantinya dengan lelaki yang jauh lebih baik dari Andi, Ozkan Yilmaz, seorang lelaki yang mencintaiku dan juga menerima masa laluku
Mungkin di dunia ini kaum Adam menganggap bahwa wanita adalah makhluk lemah, tapi mereka salah
Justru wanita adalah makhluk paling kuat, kami kaum wanita bisa tersenyum disaat hati kami sakit, kami bisa memaafkan disaat kami berjuang untuk melupakan
Dan aku sendiri tak tahu mengapa Alloh memilihku sebagai salah satu hamba yang hidup di takdir keras, entah dari sisi mana Alloh melihat kemampuan dan ketangguhanku untuk melewati semua ini
__ADS_1
Setiap malam harus menangis karena kasihan pada diri sendiri, setiap hari harus berpura-pura terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang
Menahan rasa ingin mengeluh, rasa hancur, rasa ingin marah, semua ku tahan sendirian. Hingga akhirnya aku menjadi wanita tangguh
Dari hidup yang kujalani dalam berumah tangga selama ini, aku dapat mengambil kesimpulan jika seorang peselingkuh hanya menjatuhkan dirinya sendiri
Aku ingat bagaimana aku menemani Andi dari nol sampai dia sukses, dan ketika dia sukses, dia berpaling dariku, dan memilih selingkuhannya yang akhirnya membawanya dari titik kesuksesan ketitik nol
Benar ungkapan yang pernah ku baca "untuk para suami yang ingin mencoba hidupnya hancur, silahkan selingkuhi istrimu, bohongi istrimu, zolimi istrimu, hancurkan mentalnya, tak akan lama kamu akan merasakan bagaimana hancurnya hidupmu, ingat..., hanya istrimu yang mampu membawamu dari titik nol sampai ketitik puncak, sedangkan selingkuhanmu akan membawamu dari titik puncak ketitik nol"
Aku kembali menarik nafas panjang dan mengambil tangan abang, lalu menggenggamnya erat, tersenyum memandangi wajahnya yang pulas tertidur
"Tuhan tidak akan mengambil sesuatu darimu, jika tidak mengganti dengan yang lebih baik"
Dan itu benar adanya, Alloh mengganti dengan yang jauh lebih baik bahkan diluar ekspektasi ku. Aku yang burik tak pernah bermimpi jika aku akan jadi seorang istri jutawan, istri dari seorang lelaki yang sangat tampan
Aku sangat bersyukur dengan hidupku sekarang, walau aku jauh dari ketiga anakku dan keluarga besar ku, tapi Alloh menggantinya dengan Ummi dan nona Alima yang sudah seperti orang tua dan saudara bagiku
Dan Alloh juga mengganti kesakitanku akibat diabaikan mertua dengan memberikan mertua sebaik Anne Aylin dan Baba Yusuf Yilmaz, yang menganggap ku seperti anak kandung mereka, bukan sebagai menantu dan mengganti ipar yang jahat seperti Laras dan Maria dengan adik ipar terbaik seperti Ozlem Yilmaz dan Canan Yilmaz
Kembali aku melirik kearah luar jendela, dan aku mengalihkan pandanganku ketika kulihat pilot dan copilot yang tadi beristirahat berdiri dan berjalan menuju kokpit
Lalu tak lama muncul dua orang copilot dan pilot yang tadi bertugas, mereka menganggukkan kepala mereka ketika aku tersenyum pada mereka
Salah satu dari mereka mendekat ke arahku
"Ma zalat rihlatuna ealaa bued sabe saeat sayidati , 'ala tasheur bialnueas bieda?" (Penerbangan kita masih tujuh jam lagi nyonya, apa nyonya belum mengantuk?)
Aku menggeleng sambil kembali tersenyum
"Ma zilt 'urid 'an 'ahsab alnieam alati 'aetaha allah li fawq hadha alairtifae ya sayidi , hataa la 'ansaa 'an 'udaeif shukri" (Aku masih ingin menghitung nikmat yang Alloh berikan padaku diatas ketinggian ini pak, agar aku tak lupa memperbanyak syukur ku)
Pilot itu tersenyum lalu sedikit menganggukkan kepalanya ke arahku mendengar jawabanku, lalu beliau berjalan kearah depan, lalu duduk di dekat rekannya yang telah lebih dulu duduk
Dan aku yang masih menggenggam tangan abang membawanya ke dadaku, mendekap tangan abang dengan penuh rasa sayang
Ozkan menggeliat ketika dirasanya tangannya seperti ditarik, dan membuka matanya
Lalu dia tersenyum dan segera mengusap kepala istrinya dengan tangan kanannya
__ADS_1
Lalu menarik kepala istrinya dan meletakkannya di atas dadanya dan menciumi puncak kepala istrinya berkali-kali