
Naura segera berlari menghambur ke pelukan bundanya begitu acara selesai.
Kupeluk erat anak tercantik ku yang semakin tinggi itu. Lalu Ozkan merentangkan tangannya hendak memeluk Naura, awalnya Naura ragu tapi akhirnya dengan canggung dipeluknya juga papanya itu.
Lalu Naura berpindah memeluk umak bapakku lalu memeluk yuk Yana, yuk Diana dan yuk Vera.
Naura sedikit menunduk lalu Adam memeluk ayuknya dengan erat, lalu menciumi pipinya. Lalu Naura berjongkok agar tubuh tingginya bisa dicapai oleh kedua adik kembarnya.
Serkan dan Defne memeluk Naura. Dan dengan gemas Naura mengusel-usel wajah keduanya menggunakan wajahnya sambil terkekeh, karena kegelian Serkan dan Defne juga ikut terkekeh
"Selamat ya nak.."
Naura segera bangkit lalu memeluk kak Jen
"Terima kasih aunty"
Aku terus celingukan mencari keberadaan tuan muda Emir yang sampai saat ini belum kelihatan juga
Aku lalu mengambil handphone ku, mendial nomornya
"Dimana sayang?"
Naura menoleh kearah bundanya ketika didengarnya bundanya menyebut kata "sayang"
"Cepat kesini, jangan bikin bunda khawatir"
"Ya sudah, kalau begitu tunggu di sana ya, bunda dan rombongan keluar
"Siapa bun?"
"Tuan muda Emir"
"Emir???!"
Aku mengangguk kearah Naura yang tampak kaget
Kami berjalan melewati banyaknya santri yang berfoto dengan keluarganya. Bahkan Naura harus beberapa kali berhenti karena teman-temannya sibuk mengajaknya berfoto
"Bunda tunggu diluar ya nak, ada pak Abraham yang akan menjagamu"
Naura mengangguk lalu kami berjalan kearah pintu keluar. Naura masih sibuk berfoto dengan teman-temannya.
"Jaga anak saya!" ucap abang ketika kami sampai di dekat pak Abraham
Beliau langsung mengangguk dan segera berjalan kearah Naura
"Bapak...." sapa Naura begitu pak Abraham berdiri di dekatnya dan langsung mencium punggung tangan pak Abraham
Melihat Naura mencium punggung tangan lelaki besar dan berwajah sangar teman-temannya saling pandang dan diam.
"Bapak, kenalkan ini teman-teman saya. Teman-teman, ini bodyguard kesayangan papa saya. Beliaulah yang menjaga dan melindungi saya dan kedua adik saya ketika kami ke Jeddah dulu"
Semua teman Naura mengangguk hormat kearah pak Abraham, dan pak Abraham melakukan hal yang sama
"Nanti pak ya, tunggu sebentar. Naura masih mau foto-foto dengan teman-teman"
Pak Abraham mengangguk. Sementara Naura sibuk berfoto dengan teman-temannya, Akmar yang juga jadi rebutan teman-temannya terus mencuri pandang pada Naura
"Dia yang mau kau ajak taaruf?" bisik lelaki separuh baya ke telinga Akmar
Wajah Akmar langsung bersemu merah dan tersenyum malu
"Nanti papa temui orang tuanya"
Akmar memandang tak percaya pada papanya dan tersenyum lebar
...****************...
Sementara aku yang sudah sampai di luar langsung celingukan mencari tuan muda Emir. Tak sulit bagiku menemukannya, karena dia berbeda dengan semua yang ada disini.
Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis ditambah dengan tuan muda Emir yang memakai jubah khas pemuda Arab, juga jambang tipisnya itu makin membuatnya berbeda dengan lelaki yang ada di sini. Sangat tampan
Aku melambaikan tanganku kearahnya. Dan tuan muda Emir tersenyum, segera berjalan kearah kami
"Kenapa tidak ikut masuk?" ucapku ketika tuan muda Emir sudah mendekat
Bukannya menjawab pertanyaanku, tuan muda Emir malah memeluk Adam
__ADS_1
"Kayf halak Adam?" (Apa kabar kamu Adam?)
"Iin sha' Allah sayid shabin sihiyun , kayf haluka?" (Insha Alloh sehat tuan muda, anda bagaimana?)
"Alhamd lilah 'ana bisihat jayida" (Alhamdulillah saya sehat)
Lalu tuan muda berpindah menyalami umak bapakku dan menangkupkan tangannya di depan dada pada yuk Yana dan dua ayuk iparku
Ku lihat tuan muda tampak celingukan. Aku yakin dia mencari Naura
"Naura masih dengan teman-temannya di dalam" ucapku
Tampak tuan muda Emir tersenyum malu.
"Kenapa tidak masuk tadi tuan muda?"
"Saya jadi pusat perhatian bunda, seluruh orang memandang saya, makanya saya keluar"
Kulihat kak Jen tidak mengedipkan matanya sedetikpun, sampai aku menyenggol bahunya
"Kedip..."
"Rese ya yeay"
Aku terkekeh
"Tuan muda, ingat sama aunty ini?" tanyaku
Tuan muda Emir menoleh kearah kak Jen yang salah tingkah, abang tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kak Jen yang seperti ulat bulu kepanasan
"Ini yang dulu pernah ke rumah grandma pas bunda menikah dengan uncle kan, terus yang make up in bunda juga kan?"
Kak Jen refleks memukul lengan tuan muda yang tampak menunjuk kearahnya
Aku mengangguk dan menoleh kearah kak Jen
"Dia ingat kak, katanya kakak kan yang pernah dandani aku dulu pas nikah dengan abang"
Kak Jen makin salah tingkah dan aku makin terkekeh melihat tingkah genitnya
"Kamu dekat uncle saja Emir, nanti kamu habis dimakan sama manusia jadi-jadian itu" ucap abang
"Itu ayuk!" tunjuk Adam
Kami segera menoleh kebelakang, kearah aula yang tadi kami tinggalkan. Tampak Naura dengan tubuh tingginya berjalan kearah kami dengan dikawal pak Abraham yang berjalan di sebelahnya
Naura tersenyum kearah kami. Dan aku melirik kearah tuan muda Emir yang juga menatap Naura
"Maaf lama menunggu" ucap Naura canggung
Naura segera berdiri di sebelah umakku bukan di sebelahku, karena di dekatku ada tuan muda Emir
"Loh kok nggak saling sapa?" goda abang
Naura tersenyum kaku kearah tuan muda Emir
"Assalamualaikum" sapa tuan muda Emir
Naura tersenyum kaku sambil menjawab "Waalaikumussalam"
Ozkan menahan senyumnya.
"Marhaban bikum fi 'iindunisia, Emir"
Tuan muda Emir menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Shukran jazilan lak, Naura"
"Ayo sudah, cukup basa-basi nya, kita ke Peak Resto sekarang. Papa tadi sudah menyuruh seseorang untuk reservasi tempat untuk kita makan"
Semuanya mengangguk setuju dan mulai berjalan meninggalkan tempat wisuda.
"Naura, wait!!!"
Naura yang sudah berjalan segera menoleh kebelakang kearah tuan muda Emir
Aku dan abang ikut berhenti, sementara yang lain terus berjalan dengan dikawal oleh pak Abraham cs.
"Yes, can I help you?"
__ADS_1
"Wait a moment!"
Lalu tuan muda Emir tampak berlari kecil kearah dimana tadi dia menunggu kami
Kulihat dia tampak berbicara menggunakan bahasa isyarat dan memberikan beberapa lembar uang Riyal kepada perempuan tua yang sejak tadi memegang buket bunga dan boneka besar
Wajah Naura langsung bersemu merah ketika tuan muda Emir mendekat dengan membawa buket bunga dan juga boneka beruang besar kearah mereka
"For you, congratulation for your graduated" ucap tuan muda Emir sambil memberikan buket bunga dan boneka beruang besar pada Naura
Dengan tangan gemetar Naura mengambil hadiah yang diberikan tuan muda Emir, dapat kulihat jika wajahnya makin memerah
"Persis kamu" bisik abang
Aku mencubit lengannya sambil melototkan mataku
"Do you like?"
Naura mengangguk dan tersenyum kaku kearah tuan muda Emir yang juga mengembangkan senyum manis kearahnya
"Berarti papa nggak usah ngasih bunga sama boneka lagi dong kalau gitu??"
Naura langsung menutupkan buket bunga ke wajahnya dengan tersipu malu mendengar ucapan papanya.
"Ah, papa...." jawabnya manja
Aku tersenyum dan menggandeng tangannya berjalan menyusul yang lain yang mungkin saat ini sudah di lantai bawah
Sementara di kejauhan Akmar yang melihat tuan muda Emir memberikan buket bunga dan boneka kearah Naura langsung gontai. Coklat yang disusunnya menjadi buket dilihatnya dengan nelangsa
"Lelaki itu jauh lebih tampan di banding aku, mana mungkin Naura mau diajak taaruf sama aku" lirihnya lesu
Lalu dia kembali masuk menemui keluarganya dan memberikan buket coklat pada mamanya yang memandang heran pada wajahnya yang berubah murung
...****************...
Setelah sampai di Peak Resto, hidangan yang sudah dipesan sebelumnya sudah tersedia.
Aku duduk bersama keluarga besar ku di meja panjang yang sudah di rancang sedemikian rupa oleh pihak resto agar kami bisa muat semua.
Defne dan Serkan sepertinya mulai dekat dengan umak bapakku, buktinya mereka menurut ketika umak bapakku mengajak mereka duduk di dekatnya
"Bapak bingung harus ngomong pakai bahasa apa ke anak kamu ini Indah" keluh bapakku yang sejak tadi hanya menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara pada Serkan dan Defne
Aku dan abang tersenyum simpul
"Pakai bahasa Arab nek, kalau nggak bahasa Turkey, atau yang gampangnya bahasa Inggris" jawab Adam
Bapakku menarik nafas panjang yang membuat kami tertawa, kecuali tuan muda Emir
"Qal jadiy , laqad kan mhtaran bishan kayfiat altahaduth mae 'ukhti altaw'am" (kakek saya bilang, dia bingung bagaimana caranya ngomong sama adik kembar saya) ucap Naura kepada Emir yang duduk berseberangan dengannya
Barulah mendengar itu tuan muda Emir tersenyum
"Ayo kita makan" ucapku
Lalu kami semua mengisi piring kami, tapi lagi-lagi tuan muda Emir diam
"You not hungry?" tanyaku padanya
Tuan muda memandangku dengan bingung
"Biar saya yang ambil alih, sayang" ucap Ozkan yang segera memberikan piring ke tangan tuan muda Emir
"Follow me!" ucap Ozkan
Lalu tuan muda Emir mulai mengisi piringnya mengikuti apa yang diisikan Ozkan pada piringnya sendiri
"Kalau bos kesulitan, saya bersedia kok bos bantuin dia" celetuk kak Jen
Abang tak merespon, aku dan yang lain terkekeh.
Sementara pak Abraham cs yang juga ikut bergabung makan bersama kami hanya tersenyum segaris
Setelah piringnya terisi tuan muda Emir mulai menyuapkan nasi ke mulutnya
"Cuisine from Pekanbaru is very delicious, I'm sure you won't regret trying it" ucap Adam
Tuan muda Emir mengangguk dan dengan pelan dia mulai mencicipi makanan yang ada di piringnya
__ADS_1
Naura pun melakukan hal yang sama, dia dengan pelan menyendok nasi kedalam mulutnya dan terus berusaha menghindari tatapan tajam dari tuan muda Emir yang terus saja menatapnya dengan dalam