Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Rembukan Keluarga Pak Hermawan


__ADS_3

Kak Andri mengelus kepala kedua keponakannya yang saat ini memeluknya


"Sudah, jangan dipikirkan omongan bunda kalian, dia hanya sedang marah saja, mana serius dia dengan omongannya"


"Tapi wak, kami telah mengecewakan bunda, dan kecewa itu levelnya di atas marah wak"


Kak Andri tersenyum mendengar jawaban Adam


"Biarkan, biarkan dulu bunda kalian sendiri, mungkin dia butuh waktu untuk merenung, butuh waktu untuk meredam amarahnya"


Naura dan Adam mengangguk


"Ya sudah, uwak mau kekantor, sudah sangat terlambat ini, uwak tadi nelpon cuma ijin terlambat sebentar, ehh tahunya sampai molor"


Naura dan Adam menarik kepala mereka dari dada uwaknya, dan Naura masih terlihat terisak


"Sudah, jangan nangis lagi"


"Ayuk sudah tak terhitung berapa kali membuat bunda kecewa wak, jadi ayuk terima jika bunda sekarang benar-benar marah sama ayuk"


"Ya sudah, kamu juga berubah, mikir. Sakit hati bundamu itu begitu luar biasa nak sama mereka, uwak yakin jika luka yang dirasa bunda kalian tidak terlalu dalam, tidak mungkin sampai Laras dan Bu Mira meninggal bunda kalian masih tidak mau memaafkan mereka"


Naura menarik nafas panjang


"Ya sudah, uwak berangkat kerja lagi"


Lalu kak Andri berdiri segera Naura dan Adam mencium punggung tangannya


Sepeninggal kak Andri, Naura kembali menangis terisak, Adam pun demikian. Keduanya menangis sesenggukan


"Nelpon kakak, ya yuk?"


Naura menggeleng


"Jangan dek, kasihan kakak jika harus ikut kena marah oleh bunda, padahal kakak nggak tahu apa-apa"


Kembali keduanya terdiam dalam sesenggukan masing-masing. Sampai akhirnya Naura dengan cepat menghapus air matanya ketika Dokter Viktor masuk


"Maaf mengganggu sebentar mbak"


Naura memaksa senyum pada dokter Viktor yang duduk di depannya


"Begini mbak, saya mau membicarakan masalah pak Andi"


"Kenapa dengan ayah saya dokter?"


"Sepertinya beliau tiap hari makin lemah"


Naura kembali terhenyak


"Ini sudah hampir dua minggu beliau koma, belum ada perubahan sedikitpun"


"Terus bagaimana dokter, apa alternatif lain yang harus kita coba?"


"Saya tidak bisa berspekulasi mbak, tapi biasanya orang koma itu paling sebentar dua minggu dan paling lama tak terhingga, bisa sebulan, setahun, dua tahun.."


Kembali Naura menghapus air mata yang mengalir di pipinya, sementara Adam hanya diam mendengarkan


"Saran saya, mbak dan adik mbak tidak harus setiap hari membesuk dan menginap di rumah sakit, istirahatlah yang cukup, nanti kalian bisa sakit karena menungguinya terus"


"Orang koma itu ibarat orang yang antara hidup dan mati, kita tidak tahu arwahnya sedang dimana, jadi saran saya, sering-seringlah doakan saja"


Adam mengangguk


"Jadi jika sekarang nggak ditungguin nggak papa dok?"


"Nggak papa, kan sudah ada dokter yang telah saya minta untuk mengontrol pak Andi tiap jam, dan jika ada apa-apa dokter tersebut akan menghubungi kalian"


"Baguslah dokter kalau begitu, jadi saya bisa pulang ke rumah dan beristirahat"


Dokter menangguk kearah Adam yang matanya merah karena efek habis menangis tadi


Adam berdiri

__ADS_1


"Yuk, mana atmnya?, nanti sore bakal adek antar tempat uwak"


Naura segera membuka tasnya, mengeluarkan dompet dan mengambil atm lalu diberikannya pada Adam


Setelah mendapat atm dari Naura, Adam berpamitan pada dokter Victor dan segera keluar dari klinik, pulang ke rumah


...****************...


Aku masih terus terisak walau video call telah lama berakhir. Entah mengapa rasanya aku benar-benar kecewa pada kedua anakku itu.


Dan entah mengapa aku benar-benar marah pada mereka tentang masalah uang Naura yang digunakannya untuk membayar biaya bu Mira


*Ibu tunggu kabar baiknya secepatnya ya Ndi


Kamu itu tidak pantas menjadi menantu saya, suku kita itu berbeda


Kamu selain beranak apa lagi sih bisanya, beranak terus tiap tahun, sudah kaya kucing beranak saja


Dasar wanita murahan, bukannya kami tidak tahu jika kamu jual diri di Arab sana


Andi akan kami nikahkan dengan Tina. Dan asal kamu tahu, kami sangat menyetujui Tina menjadi istri Andi ketimbang kamu


Adam itu bukan anak Andi, dia itu anak hasil kamu berselingkuh


Mulai sekarang jangan kalian panggil kami mbah lagi, karena kami bukan mbah kalian*


Aku menutup telingaku kuat-kuat ketika omongan bu Mira dan Laras terngiang-ngiang di telingaku


Aku mengusap dadaku berkali-kali sambil tak hentinya beristighfar


Mikail, iya sepertinya aku butuh Mikail. Hanya dengan mendengar suara dan melihat wajahnya aku bisa tenang gumamku


Lalu aku segera mengambil kembali handphone dan melakukan panggilan video pada anak keduaku itu


Mikail yang sedang makan siang bersama temannya segera menjauh begitu dilihatnya bundanya mau video call


"Assalamualaikum bunda"


Ahh... langsung tenang hatiku mendengar salam dan melihat wajahnya


Mikail langsung memandang lekat kearah handphone ketika melihat bundanya menghapus air mata


"Bunda nangis, ada apa?"


Aku menggeleng


Mikail tersenyum


"Bicaralah sama kakak, biar kakak bisa tahu apa yang harus kakak lalukan agar bunda tak sedih lagi"


Aku langsung terisak. Dan Mikail yang melihat bundanya tersedu-sedu langsung mengepalkan tangannya menahan marah


"Apa papa berlaku kasar sama bunda?"


Dengan cepat aku menggeleng


"Terus kalau bukan papa, siapa yang membuat bunda menangis?"


Aku menarik nafas panjang, lalu aku menceritakan semua yang dilakukan Adam dan Naura dan juga bagaimana aku memarahi mereka tadi


Mikail dengan sepenuh hatinya mendengarkan ceritanya bundanya dengan tenang


"Bunda kecewa nak sama mereka" kembali air mataku mengalir


Lalu dengan pelan Mikail mencoba berkata pada bundanya


"Apakah bunda mau mendengar kisah seorang bayi yang berbicara di jaman Juraij?"


Aku mengernyitkan keningku


Disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod) [Dikeluarkan pula oleh Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8]


Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij” Lalu ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

__ADS_1


(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya.  Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.


Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.


Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”


Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”.


"Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.”


Aku terdiam mendengar Mikail bercerita panjang lebar


"Seorang anak harus berhati-hati dengan kemarahan orang tuanya. Karena jika ia sampai membuat orang tua marah dan orang tua mendoakan jelek, maka itu adalah do’a yang mudah diijabahi"


Aku menggeleng cepat


"Tidak nak, bunda tidak mendoakan yang jelek-jelek untuk dua saudaramu, bunda hanya kecewa pada mereka"


Mikail tersenyum


"Kakak tahu, bunda tidak akan sepatah katapun mendoakan keburukan tentang kami"


"Yang kakak harap, bunda sekarang tenang, jangan banyak pikiran, kakak yakin adek sama ayuk pasti menyesal membuat bunda menangis"


"Inti dari cerita ini bunda adalah, bahwa anak harus berhati-hati dengan kemarahan orang tuanya, begitupun dengan orang tua, ketika marah janganlah mendoakan yang buruk untuk anaknya"


Ahh leganya hatiku mendengar petuah anak keduaku ini. Lalu aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih padanya karena dia telah menghiburku


...****************...


Pada acara tiga hari bu Mira dan acara tujuh hari Laras yang sebenarnya telah lewat, tapi acara tahlilan tersebut digabungkan oleh pihak keluarga, Naura dan Adam tidak hadir


Pada Nina dan mbak Ningsih, Naura telah mengatakan jika mereka tidak bisa datang karena tidak bisa meninggalkan klinik dan juga Andi


Selesai acara tahlilan, maka seluruh pihak keluarga mengadakan rembukan mengenai uang Naura yang dipakai saat melunasi seluruh tagihan rumah sakit


Wajah pak Hermawan langsung berubah suram ketika Ningsih menyinggung soal ini. Joni pun demikian, dia sudah khawatir jika nanti akan dimintai sumbangan


"Kan Naura cucu ibumu juga Ning, jadi wajar dong jika dia membantu membayari"


Mbak Ningsih dan Mas Indra menggelengkan kepala mereka


"Cucu sekarang, dulu apa ada bapak sama ibuk menganggap mereka cucu?"


"Ayolah pak, itu bukan uang Naura, itu uang Indah. Dan Hanum dengar sendiri bagaiman Indah marah besar pada Naura karena telah lancang memakai uangnya untuk biaya pengobatan ibuk"


"Ya kalau nggak pakai uang Naura, kemarin ibumu nggak bisa dibawa pulang"


"Iya kami mengerti, tapi maksudnya pak, itu uang Naura yang aslinya itu uang milik Indah harus kita ganti"


"Mau ganti pakai apa?"


"Ya apa lagi, rumah ini di jual, nanti uangnya kasih sama Naura"


Kembali seluruh keluarga saling toleh


"Malulah pak sama Indah, giliran urusan uang menganggap mereka keluarga, lah dulu apa ya pernah dianggap?, kan enggak"


Kembali wajah pak Hermawan suram


"Ini saya yakin mereka berdua nggak kesini karena mereka sudah kena marah dengan Indah"


Seluruh keluarga menarik nafas dalam


"Bersyukurlah pak walau dijahatin, Adam yang mengurusi Laras dan ibuk sampai selesai, coba yang lain? apa ada? Dimas walaupun seandainya dia sehat, aku yakin dia nggak akan sanggup melalukan itu semua, menyolatkan, mengusung ke kuburan, mengadzani, sampai mimpin tahlil dia"


"Halah, cucu bapak yang lain kan ada, dasar dia saja yang sok"


"Astaghfirullah pak!!! siapa cucu bapak yang bisa?, Dimas? Raffa?, atau Nicholas yang berbeda agama dengan kita???!"


Wajah Maria langsung berubah masam


"Bersyukur pak anak Indah mau, anak Indah ada. Bapak harusnya bangga, sama seperti seluruh warga yang memuji Adam, mengatakan bahwa bapak itu hebat, mempunyai garis penerus seorang hafidz, garis penerus yang sholeh"

__ADS_1


Wajah pak Hermawan masih saja suram dan masam


"Pokoknya bapak pikirkan bagaimana caranya membayar hutang pada Indah, jangan sampai gara-gara hutang menghambat jalan ibuk di akhirat, apalagi sampai ibuk dan Laras meninggal mereka belum meminta maaf pada Indah"


__ADS_2