Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Psikoterapi Untuk Nina


__ADS_3

"Kamu serius kita kesini?"


Dimas menoleh kebelakang, kearah Laras


"Lah iya kita kesini, ini tu rumah tante Indah"


Laras segera membuka kaca mobil, melongokkan kepalanya.


Dimas turun dari dalam mobil, membuka pagar. Naura yang tadi sudah diberi tahu jika Dimas sudah dekat dengan rumah mereka begitu mendengar pagar di buka, langsung berdiri dari kursinya


Aku yang sedang menyiapkan makan malam ikut tersenyum karena akhirnya Nina dan mbak Ningsih sampai


Lele sudah aku goreng, lengkap dengan sambal terasinya, aku siapkan pula saus kuah kacang kesukaan Nina.


Setelah pintu pagar terbuka, Dimas kembali masuk ke mobil, memasukkan mobil ke halaman


Mata Laras tak berkedip menatap rumah mewah Indah. Suasana menjelang malam dengan lampu yang menyala dan taman yang asri makin membuat kesan wah pada rumah mewah ini


Ningsih dengan pelan membawa Nina turun, istri Dimas turut menurunkan tas pakaian mereka


"Bantu ibuk turun Ras"


Laras segera menoleh pada ibunya, dengan cepat dia membuka pintu mobil, dengan pelan dia membantu ibunya turun


Berdua mereka mendongak melihat rumah Indah, mereka saling toleh, tatapan mata mereka hanya mereka sendiri yang bisa menebaknya


Naura yang berdiri di teras begitu mbak Ningsih terlihat memapah Nina langsung berlari


"Tante Nina biar sama Ula saja buk"


Ningsih tersenyum, Naura segera mengambil tangan Nina. Nina menatap Naura dengan tajam, Naura membalasnya dengan senyuman


"Tante capek?"


Nina menggeleng.


Aku yang selesai menata meja langsung keluar, hendak menyambut Nina


Aku langsung mengembangkan tanganku begitu aku melihat Naura memapah Nina


"Assalamualaikum adik mbak" ucapku sambil memeluknya erat. Kuelus pundaknya


Nina membalas pelukanku walau hanya diam.


Mataku langsung membesar ketika di halaman kulihat mantan mertuaku dan Laras juga ada di sini


"Ya Alloh, berilah aku kesabaran.." batinku


Aku berganti memeluk Mbak Ningsih dan istri Dimas. Dimas menyalamiku.


"Maaf Ndah, mereka terpaksa ikut"


Aku tersenyum kecut kearah mbak Ningsih tanpa menjawab


"Ayuk, kamar atas sudah selesai dirapihkan?"


"Sudah semua bunda, kan tadi Mamak ikut membantu ayuk"


Aku menganggukkan kepalaku. Sambil terus memegangi tangan Nina aku membawanya masuk


"Kak, bawa pakaian ke kamar atas, ya"


"Iya tante"


Dimas dan istrinya lalu mengikuti Naura naik kelantai atas. Meletakkan pakaian mereka di dua kamar.


Satu untuk Nina dan mbak Ningsih satu kamar lagi untuk Dimas dan istrinya


Istri Dimas sama seperti Dimas, mereka memandang berkeliling begitu mereka sampai di lantai dua, di ruangan yang luas dan besar ini. Apalagi ketika mereka masuk ke kamar, kamarnya begitu mewah

__ADS_1


"Mbah kumat lagi kak?"


Dimas yang masih mengagumi ruangan kamar tempat mereka beristirahat menoleh pada Naura yang duduk di kursi yang ada di kamar ini


"Tadi mbah pingsan melihat ibuk sama bulek Laras ribut"


Naura bengong. Tanpa diminta Dimas menceritakan semuanya


"Buk Las sepertinya besok kita tes juga kejiwaannya kak"


Bertiga mereka tertawa


Sementara aku yang membawa Nina ke ruang makan segera mendudukkannya di kursi


Aku segera membuka tudung saji dan mengisi piring lengkap dengan ikan lele goreng


"Mau sambel apa Nin, terasi apa sambel pecel?"


Nina hanya menatap ke arahku yang sibuk melayaninya


"Mbak Ning ambil sendiri aja ya" ucapku pada mbak Ningsih sambil terkekeh


Mbak Ningsih menganggukkan kepalanya


Karena tak mendapati jawaban Nina, aku meletakkan kedua sambel tersebut di depan Nina


"Nina ambil aja apa yang mau"


Kulihat Naura berjalan menuju kearah kami diikuti Dimas dan istrinya.


"Ayo duduk sini, makan. Tante sudah siapkan sejak sore tadi"


Ketiganya duduk, tampak sekali kegelisahan di mata Naura. Aku yakin ini pasti tentang mbahnya yang masih di luar


"Mbah tadi mana kak?"


Dimas seperti melongokkan kepalanya sambil mengangkat bahu


"Kalian semua makanlah, biar aku lihat mereka di depan"


Pandangan mata Naura seperti tak yakin, dia ikut berdiri menyusul bundanya


Aku segera ke teras, tempat dimana mereka tadi kami tinggalkan. Ternyata hanya ada mantan bapak mertuaku, sedangkan Laras dan bu Mira aku lihat kembali lagi ke halaman mendongak melihat rumahku


"Eh em.."


Spontan pak Hermawan menoleh begitu mendengar suara deheman. Wajahnya memasang senyum kaku. Aku lalu duduk di kursi yang terpisahkan meja darinya


"Apa niat kalian kemari?"


Pak Hermawan diam, aku menarik nafas panjang.


"Bapak tahu kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, itulah mengapa saya bertanya mengapa kalian kemari, kalau masalah Nina itu karena rasa kemanusiaan saya, saya pernah ada di posisi Nina, cuma bedanya saya mendapatkan banyak dukungan, makanya saya kuat"


Pak Hermawan menundukkan kepalanya. Kulihat bu Mira dan Laras berjalan kearah kami


Naura menarikkan kursi untuk mereka berdua agar tidak duduk di dekatku


Aku menatap dingin pada Laras


"Saya mengundang Nina bersama mbak Ningsih untuk kesini, kok kalian ikut juga?"


Wajah keduanya menegang


"Tadi ibuk pingsan Ndah, makanya sama Dimas dibawa juga"


Aku tersenyum basi sambil menggeleng-gelengkan kepalaku


"Dan kamu Laras, pingsan juga?"

__ADS_1


Laras diam


Kembali aku menggelengkan kepalaku.


"Di agama kita wajib untuk memuliakan tamu, berhubung kalian tamu di rumah ketiga anak saya, saya akan memperlakukan kalian dengan baik"


Ketiganya menarik nafas lega


"Ayuk, bawa mbah dan bukdemu masuk nak, ajak juga mereka kemeja makan. Menyusul rombongan yang lain yang sedang makan, bawa pakaian mereka ke kamar tamu "


Naura mengangguk dan segera mengajak mbahnya dan Laras masuk


Sepeninggal mereka masuk aku berkali-kali menarik nafas panjang dan beristighfar dalam hati


Entahlah, tiap hatiku kesal pada mereka maka aku akan teringat Mikail. Segera aku mendial nomornya, terangkat dan kami mengobrol


Di akhir obrolan aku mengatakan jika ada Laras dan mbahnya juga disini. Kudengar Mikail menarik nafas panjang


Bismillahirrahmanirrahim


وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا * إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا * إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا *فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا * وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا


Dan mereka memberikan makanan kesukaannya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan, (8) (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu. (9) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” (10) Maka Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu, dan memberikan keceriaan dan kegembiraan kepada mereka. (11) Dan Dia memberi balasan surga dan (pakaian) sutera kepada mereka karena kesabarannya. (12) – (Q.S Al-Insan: 8-12)


"Masih banyak lagi bunda ayat Al-Qur'an bahkan Hadits Rasulullah untuk kita memuliakan tamu, saya tahu bunda akan melakukan itu"


"Kakak bangga sama bunda"


Aku menarik nafas panjang sambil tersenyum.


...****************...


Jam sebelas siang dengan memakai mobil Adam yang ditinggalkannya di rumah, Naura mengemudikan mobil membawa Nina ke rumah sakit paling terkenal di Lubuklinggau


Naura sudah janjian dengan Psikiater yang akan memeriksa Nina. Kata Naura, dokter itu dulunya juga kuliah di tempat yang sama dengannya


Sementara Dimas mengemudikan mobil mbahnya dengan mbahnya dan Laras di dalamnya


Sampai di rumah sakit, Naura segera membawa kami menuju poliklinik tempat dokter itu.


Nina tampak tegang, berkali-kali dia menggelengkan kepala dan menarik-narik tanganku mengajak pulang


"Nina mau sembuh kan?, mbak bawa Nina kesini karena mbak ingin Nina sembuh seperti dulu"


Nina hanya menatap ke arahku. Sedikitpun Mantan mertuaku dan Laras tidak mendekati Nina. Sejak semalam mereka sepertinya tidak memperdulikan Nina. Mungkin itulah sebabnya maka Nina mbak Ningsih yang ngurusi


Atau mungkin karena Nina terus duduk di dekatku makanya mereka tidak berani mendekat? entahlah. Itu urusan mereka, aku tak peduli


Setelah kami duduk di ruang tunggu dan dapat nomor urut antrean, kami menunggu. Cukup lama kami menunggu. Untuk membuang bosan, aku memberikan handphone milikku pada Nina.


Aku membukakan video inspiratif untuknya. Aku lihat Nina fokus menatap layar ponsel, dari sini dapat aku lihat jika Nina sangat membutuhkan teman. Mungkin selama ini dia memendam sendiri masalahnya.


Aku jadi teringat dengan aku yang dulu, dulu aku juga diagnosis Nona Alima depresi, tapi aku belum parah karena aku menyibukkan diriku dengan lingkungan yang sehat.


Sedangkan Nina?, aku tahu bagaimana mantan mertuaku dan Laras, mereka itu mana ada perhatiannya pada anak, mereka hanya fokus pada uang dan harta saja


Hingga hampir dua jam akhirnya Nina dipanggil. Aku dan Naura yang masuk menemaninya. Yang lain menunggu di luar


Metode pemeriksaan antara aku dan Nina berbeda, mungkin karena tadi Naura menceritakan jika Nina sempat dianggap gila


Tangan Nina begitu kuat meremas tanganku saat dokter mengajaknya berkomunikasi. Dengan sabar aku membujuknya agar dia mau menjawab seluruh pertanyaan dokter walaupun dengan jawaban pelan


lebih satu jam kami di ruangan dokter itu, dokter melakukan psikoterapi pada Nina. Alhamdulillahnya Nina mulai tenang tidak segugup tadi


"Kembali lagi lusa, pasien harus sering-sering di terapi"


"Baik dokter, sebelum tante saya sembuh, terapi ini akan kami lakukan terus"


"Adik saya nggak gila kan dokter?"

__ADS_1


Dokter muda tampan itu tersenyum sambil menggeleng ke arahku


"Seperti tidak bu, tapi saya belum bisa menyimpulkan. Tapi dari psikoterapi awal, adik ibu bisa diajak komunikasi dengan baik, sepertinya adik ibu mengalami tekanan bathin atau kejadian traumatis yang memicu terjadinya gangguan mental"


__ADS_2