Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Mikail Lulus TNI


__ADS_3

Selesai dengan segala urusan administrasi dan pembayaran mobil, kakakku langsung menyuruh Mikail menaiki mobil barunya.


Dapat aku lihat bagaimana tegangnya wajah anakku.


"Biasa saja sayang, jangan tegang"


Mikail hanya tersenyum mendengar suara bundanya.


Bagaimana dia tidak tegang, ini adalah hadiah dari bundanya, dan hadiah ini tidaklah main-main harganya


"Sini hp kakak, uwak fotokan"


Masih dengan gugup Mikail mengambil handphone yang ada dalam kantong baju kokonya.


"Gila, penampilannya saja pakai sarung, tapi lihat, dia beli Pajero cash" bisik SPG yang memandang iri pada Mikail yang segera menghidupkan mesin mobil


"Keponakan saya bukan sarungan biasa, dia itu bagaikan Al-Qur'an berjalan" ucap kakakku menoleh pada beberapa SPG yang berdiri tak jauh darinya


"Dia hafidz pak?"


Kakakku mengangguk


"Anjaaayyyy...." teriak mereka kompak


"Boleh minta nomor hp nya pak?" tanya mereka sambil cekikikan


Kakakku terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


Setelah mencoba menaiki sebentar mobil yang akan menjadi miliknya, Mikail turun dan menutup kembali pintu mobil


Melihat Mikail turun beberapa SPG langsung mendekatinya


"Boleh selfi nggak kak?"


Mikail tersenyum kaku dan wajahnya menegang


"Boleh ya, please..."


Tak sempat Mikail menjawab, barisan SPG yang juga memakai hijab itu segera berbaris dan berpose di sebelah Mikail.


Gaya mereka berpose persis gaya anak jaman sekarang, yang mengangkat dua jari lah, yang bibirnya melet lah, yang menutup wajahnya separuh lah.


Bahkan ada satu pose dimana mereka seolah-olah memandang Mikail. Tentu saja Mikail yang tak pernah berfoto dengan perempuan kecuali ayuknya merasa sangat canggung.


"Dari tadi wajahnya serius terus kak, senyum dong.."


Mikail hanya menganggukkan kepalanya


"Sudah ya ayuk-ayuk semua fotonya, saya mau ketempat uwak saya"


"Kok manggil kita ayuk sih?, adek dooonggg" jawab mereka sambil terus cekikikan


"Saya baru tamat SMA" jawab Mikail sambil terus berjalan meninggalkan mereka yang wajahnya tampak kaget


"Anjayy, kirain sudah kuliah" jawab salah satu dari mereka


"Sudah jadi artisnya?" goda kak Andri saat Mikail sampai di dekatnya yang sedang berbincang dengan lelaki paruh baya yang tadi melayani mereka, yang ternyata adalah manager di showroom mobil ini


"Ahh uwak"


Kak Andri terkekeh dan merengkuh bahu keponakannya dengan sayang


"Saya ada hadiah special untuk kamu nak, karena saya sudah dengar dari uwak kamu, jika kamu adalah seorang hafidz dan ingin jadi TNI"


"Kakak saya seorang tentara senior dan kemarin dia bilang bahwa akan ada penerimaan calon Bintara, jika kamu mau, saya bisa rekomendasikan pada kakak saya untuk mengirim apa saja syarat agar kamu bisa ikut seleksi itu"


Mata Mikail berkilat cerah, senyum bahagia langsung merekah di bibirnya


"Sebentar, saya telpon kakak saya dulu"


Lalu bapak itu segera menempelkan handphone ke telinganya lalu terjadilah percakapan antara dia dan yang diteleponnya.


Kak Andri dan Mikail memperhatikan dengan serius


"Kata kakak saya, segala persiapan akan dikirimkannya melalui WA, dan kalau boleh saya mau meminta nomor WA mu nak, biar memudahkan saya menghubungimu"

__ADS_1


Dengan segera Mikail menyebutkan nomor WA nya.


"Yang penting kata kakak saya tadi, kamu siapkan dulu fisik kamu, banyak latihan dan olahraga serta makan makanan sehat dan atur pola hidup sehat"


Mikail menganggukkan kepalanya


"Terima kasih pak, karena urusan kita sepertinya sudah selesai, saya dan keponakan saya izin pamit pulang dan terima kasih juga karena sudah bersedia membukakan jalan untuk keponakan saya ikut tes bintara"


Lalu ketiganya saling menjabat tangan, dan kembali Mikail masuk kedalam mobil barunya


"Hati-hati nak, semoga sukses, jika platnya sudah jadi kami kabari"


Mikail mengangguk dan melambaikan tangannya. Saat mobil yang dikendarainya hendak keluar dari showroom, kembali para spg yang tadi mengajaknya berfoto berdiri dan melambaikan tangannya kearah Mikail


"Kalau lagi jenuh, ajak kami jalan ya dek ustadz..." teriak mereka yang sambil cekikikan


Mikail hanya tersenyum kaku dan membunyikan klakson pada mereka


...****************...


Sejak hari itu, esoknya kak Andri langsung memanggil pelatih untuk membantu Mikail dalam berolahraga.


Setiap pagi dan sore dia akan berlari, pola makannya benar-benar diatur, seminggu dua kali dia akan latihan berenang.


Hingga akhirnya pembukaan seleksi Bintara dibuka. Kak Andri adalah orang yang tersibuk mengurusi segala keperluan Mikail


Aku yang diberitahu jika anakku ikut seleksi sejak hari itu makin khusus mendoakannya di sepertiga malamku. Tak henti-hentinya aku bermunajat agar cita-cita anakku itu terkabul.


Mikail mengikuti segala rangkaian tes dari awal hingga akhir. Segala bekal latihan dan ilmu pendidikan yang didapatkannya sangat membantunya.


Segala bentuk tes diikutinya dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh harapan.


Hingga akhirnya, tes itu selesai dan hari ini akan diadakan pengumuman.


Mikail beserta ratusan peserta calon Bintara berkumpul di halaman luas dalam suasana hujan gerimis dan saat itu malam. Mereka semua memakai masker dan berpakaian hitam putih. Rambut mereka sudah cepak semua. Semuanya berbaris rapih dengan hati yang sangat dag dig dug menunggu hasil pengumuman apakah mereka akan berhasil, atau mereka akan gagal dan pulang ke rumah masing-masing


Banyak dari mereka mulai menyeka air matanya, termasuk Mikail yang juga tampak menyusut air matanya.


Pihak penyelenggara mulai memberikan nasihat dan petuah untuk mereka yang tak lolos, karena menurut beliau dari 757 peserta yang ikut seleksi hingga akhirnya tersisa 535 lagi.


"Jangan patah semangat, tahun depan kalian bisa ikut tes lagi, kalah boleh, menyerah jangan"


"Kalau pun kalian nanti tidak lulus, jangan kecewakan orang tua kalian dengan sikap kalian yang pesimis, kalian harus optimis. Sampai ditahap sini saja sudah sangat membanggakan orang tua kalian, mengerut?!"


"Siap, mengerti!!!"


"Baiklah, untuk kalian semua yang ada di lapangan ini, kalian semua LULUS!!!!"


"Waaaaaaa..." teriakan langsung membahana di lapangan luas ini. Tak karuan lagi bagaimana ekspresi kebahagiaan ratusan Bintara.


Mereka berpelukan, sujud syukur, bertangisan, bahkan ada yang sujud syukur sangat lama, diantaranya ada Mikail.


Setelah sujud syukur dengan linangan air mata Mikail bangkit dan berpelukan dengan teman-temannya. Mereka semua menangis bahagia, sungguh momen yang sangat mengharukan.


"Bunda.., aku lulus" lirih Mikail.


...****************...


Aku dan seluruh keluargaku berkumpul di hotel di hari pengumuman kelulusan Mikail. Aku sudah tidak sabar menunggu malam, karena aku sudah berniat ingin datang walau dengan pemeriksaan yang sangat ketat.


Untuk sampai di sini saja, aku harus melewati masa dua minggu di isolasi. Tapi apapun itu tak jadi soal untukku asal aku bisa menyaksikan pengumuman anakku


Aku datang sendiri kelapangan ditempat dimana diadakannya pengumuman. Aku berdiri dengan payung di tangan sambil terus melihat kearah barisan Bintara.


Aku tak tahu yang mana Mikail, karena mereka semua tampak sama. Aku terus berdoa dalam hati tanpa henti berharap agar anakku lulus.


Saat Komandan tadi menyebutkan jika seluruh Bintara yang ada di lapangan lulus, aku tak memperdulikan dimana posisiku sekarang, aku spontan bersujud, bersujud dengan linangan air mata. Aku tak sendiri, karena aku lihat juga ada beberapa orang yang jaraknya berjauhan denganku juga melakukan hal yang sama sepertiku, sujud syukur


Aku bangkit, payung yang tadi melindungi ku sudah tak ku pedulikan lagi. Aku terus menatap ratusan calon Bintara yang saat ini sedang bersujud dan berpelukan.


Saat kulihat orang tua calon Bintara berlari kearah anak-anak mereka, aku tak mau kalah, aku ikut berlari masuk ke lapangan.


Suasana lapangan yang riuh tak terelakkan. Social distancing sudah tak kami perduli kan lagi. Kami sibuk mencari anak kami masing-masing.


Aku terus berkeliling dan menarik bahu beberapa calon Bintara yang kusangka adalah Mikail.

__ADS_1


Sudah beberapa menit aku mencari tapi anakku belum juga bisa aku temukan. Sambil berlinang air mata dan memanggil namanya aku terus mengitari kerumunan orang-orang


Sampai akhirnya sebuah tangan menarik ku dan membuatku menoleh dan mendongak


Mikail.


Anak keduaku itu langsung bersujud di kakiku sambil menangis dan dapat kurasakan jika dia mencium jari kakiku.


Spontan aku langsung berteriak dan menarik tubuhnya, memeluknya erat. Aku ciumi seluruh wajahnya yang penuh air mata. Tak puas rasanya aku memeluknya tadi, maka aku kembali memeluk erat anakku itu.


"Selamat ya nak...." hanya kalimat itu yang bisa aku ucapkan selebihnya hanya suara tangisku dan suara isakan Mikail


"Kakak lulus bun, kakak lulus"


Aku menganggukkan kepalaku, dan mengusap air matanya.


Perlahan tapi pasti, lapangan yang semula penuh sesak mulai sepi. Semua bintara pulang dengan orang tua mereka masing-masing.


Mikail lalu menggandeng tanganku, menuntunku berjalan pulang.


"Ke barak tempat kakak apa kita langsung ke hotel menemui nenek dan uwak nak?"


Mikail menggeleng


"Bunda ikut kakak"


Aku menurut saja mengikuti langkahnya, kami berjalan dalam suasana dingin bekas hujan


"Kemana nak?"


"Bentar lagi sampai"


Aku makin penasaran, kira-kira anakku ini mau membawaku kemana.


"Bunda tunggu disini, nanti kakak akan jemput. Bunda jangan kemana-mana!"


Aku bengong. Anakku masuk ke dalam restoran mewah sementara aku ditinggalkannya di luar sendirian.


Kulihat di dalam agak sepi, karena memang pengunjung dibatasi. Karena tadi anakku menyuruhku menunggu, maka aku memilih duduk di kursi yang ada di luar resto, bengong.


_Di dalam ruangan vvip restoran mewah_


Menu makanan terhidang memenuhi meja, di sana tampak Andi beserta orang tuanya dan juga Laras. Tak ketinggalan Joni dan Maria istrinya, juga ada Adam dan Naura yang tampak mengobrol berdua.


Mikail masuk dan semua mata langsung tertuju padanya. Melihat Mikail masuk dengan kepala botak, Naura dan Adam sontak berdiri dan berlari memeluknya


"Kakaaakkk...." ucap keduanya


Bertiga mereka berpelukan, dan sama-sama menitikkan air mata


"Ayuk kangen kak" ucap Naura sambil memeluk Mikail yang setinggi bahunya


Adam ikutan memeluk kedua saudaranya.


"Terima kasih atas bantuannya yuk"


Naura mengangguk. Andi yang melihat Mikail masuk segera mendekat yang memeluk anak keduanya itu setelah ketiga anaknya melepas pelukan masing-masing


"Bagaimana pengumumannya nak?"


Mikail diam, memandang wajah seluruh yang ada di meja makan yang tampak menunggu jawabannya


Dengan bibir mengembangkan senyum Mikail menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah, kakak lulus"


Spontan Adam yang tubuhnya sekarang jauh lebih besar dari Mikail melompat memeluk kakaknya sambil berteriak kegirangan


Diciumnya wajah sang kakak sambil diajaknya melompat-lompat layaknya anak kecil


Naura kembali memeluk adiknya dan dengan terharu dia mendekap erat adiknya itu


"Selamat ya kak, ayuk bahagia akhirnya cita-cita kakak dari kecil tercapai


Mikail mengangguk, tapi tak urung air matanya mengalir

__ADS_1


__ADS_2