
"Sevi seni yorum" lirihku di pelukan abang
Dan Ozkan menjawab
"Sevi seni yorum too"
Aku lalu menghapus air mataku lalu meletakkan kepalaku di dada abang
"Malam ini kita akan pulang, entah kapan lagi aku akan kembali kesini"
Ozkan tahu jika istrinya sedih karena harus meninggalkan keluarga dan anak-anaknya
"Mengapa tidak sekarang kita bawa umak dan bapak jalan-jalan, kita masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan"
Aku yang tadi berwajah mendung langsung menegakkan kepalaku dan melihat jam ditangan abang
"Ah iya benar, kok nggak kepikiran ya bang"
"Habisnya kamu dari tadi muji Abraham terus"
Aku tergelak dan langsung menubruk kasar dada abang hingga membuatnya terjengkang.
Aku segera mengusel-usel wajahku di dadanya sambil tak hentinya terbahak
"Ayo sayang jangan menggoda abang, abang selama disini puasa"
Aku langsung menghentikan aksiku dan langsung berlari menjauh dari abang, karena jika aku masih di ranjang, bisa-bisa nanti abang menerkam ku
Melihat istrinya berlari menjauh, Ozkan terkekeh
"Ayo kita jalan dulu, baru setelah itu kita mikir jam berapa kita mau pulangnya"
Aku menurut saat abang mengulurkan tangannya ke arahku, mengajakku keluar dari dalam kamar
"Awas kalau caper sama Abraham!" ucap Ozkan ketika mereka sudah di teras
Aku terkekeh
Dilihatnya Abraham dan empat bodyguard yang lain sedang bermain kartu
"Binsar, sini!"
Pak Binsar langsung meletakkan kartu yang ada di tangannya, begitupun dengan keempat bodyguard yang lain. Mereka langsung meletakkan kartu masing-masing
"Kamu dan yang lain bersiap, kita jalan-jalan dulu sebelum pulang"
Wajah pak Binsar berseri mendengar jika mereka akan refreshing sejenak
"Adek..." panggilku pada Adam yang sedang bersantai tidur-tiduran di lantai teras bersama twins
Segera Adam bangun dan mendekati bundanya
"Ya bun ..?"
"Kita ke rumah nenek, pinjam mobil nenek sekalian ajak nenek jalan"
"Mobil adek kan ada bund?"
Aku menggeleng
"Nggak bakal cukup, bodyguard papa semuanya ikut"
"Mereka aja pakai mobil, adek mau pakai motor"
"Tetap nggak cukup adek..."
"Iya adek tahu bunda, maksud adek, adek pakai motor aja"
Aku diam sejenak
"Motor bunda masih bagus kan dek?"
Adam mengangguk. Aku segera menoleh kearah abang yang menatap curiga padaku
"No, not now!"
Aku memasang wajah nakal dengan menaik turunkan alisku sambil nyengir-nyengir kearah abang
"No, Indah. Kalau kata abang, tidak. Berarti tidak"
Aku terkekeh
"Yok dek sama bunda kita ketempat nenek"
Adam yang sudah berjalan masuk hendak mengambil kunci motor hanya menoleh sebentar lalu mengangguk
"Kamu jangan aneh-aneh sayang..."
Aku terkekeh mendengar nada khawatir suamiku
Adam keluar dari dalam dan aku segera menadahkan tanganku kearahnya
__ADS_1
"Bunda yang bawa!"
Adam bengong, Ozkan mengusap wajahnya frustasi
Aku melenggang santai kearah motor CBR Adam yang terparkir di sebelah mobil
Kelima bodyguard yang melihat Indah melangkahkan kakinya melompati motor sport cowok terbengong
"Sayang...?" ucap Ozkan mendekat dan mencoba mencegah ketika mesin motor telah menyala
"Ihhh abang kenapa sih, biasa aja kali. Dulu aku kemana-mana pakai motor, dulu kak Andri ada motor tiger, dan aku sering dulu meminjamnya"
Kembali Ozkan mengusap wajahnya
"Itu dulu sayang, sudah puluhan tahun"
"Ihh... abang rese deh, sudahlah bang, aku bisa kok" ucapku ngeyel sambil segera membelokkan motor yang membuat abang harus menyingkir
Melihat ku memutar motor, pak Abraham yang tadi bengong segera berdiri waspada mengejar laju motorku yang berhenti di sebelah Adam
"Bapak yakinkan jika cewek Indonesia itu apa aja bisa?" tanyaku pada beliau yang juga menatap tak yakin padaku
Dengan pelan beliau mengangguk
"Yok dek naik!"
Adam menurut, dia segera duduk di boncengan. Melihatku di atas motor Serkan langsung berdecak kagum dan melompat kegirangan tapi berbeda dengan Defne, wajahnya langsung menegang
"No mam, you don't using motor cycle!" cegahnya dengan nada yang sangat khawatir
"Defne benar sayang, kamu jangan pakai motor"
Aku tak memperdulikan ketakutan di wajah suamiku dan Defne. Dengan segera satpam penjaga rumah membuka pagar dan aku dengan santai segera mengegas motor meninggalkan abang dan Defne yang berteriak khawatir
"Abraham, kamu ikuti istri saya, cepat!!!"
Pak Abraham langsung berlari mengejar Indah yang telah jauh meninggalkan rumah
Aku dengan bahagia menjalankan motor sport anakku, dan Adam yang duduk di belakangku, terus terkekeh
"Wahhh... jadi ayuk itu tomboy nya nurun dari bunda ya..."
Aku ikut terkekeh mendengar ucapannya
"Seru tahu dek naek motor tuh..."
"Setuju" jawab Adam yang kusambut dengan terkekeh
Dari kaca spion aku melihat jika pak Abraham mengejar, dan timbul ide di benakku untuk mengerjainya
Dengan segera aku mengegas motor dan meninggalkan beliau yang sekarang jauh di belakangku
Pak Abraham hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Indah yang meninggalkannya
"Indah... Indah..." lirihnya sambil menggelengkan kepala
"Kok ngebut bun?"
"Pak Abraham ngejar"
Adam menoleh dan dia tergelak melihat pak Abraham yang mempercepat laju larinya
Saat motor masuk ke teras rumah orang tuaku, aku segera memainkan gas yang menimbulkan suara besar dan berisik yang menyebabkan umakku membuka pintu terali
"Astagfirullah Indah...!"
Aku terkekeh dan segera mematikan motor.
"Yuk mak kita jalan-jalan dulu"
"Jalan-jalan?"
"Iya" jawabku sambil segera masuk dan menuju dapur dan langsung membuka tudung saji
"Aku makan ah" lanjut ku santai sambil segera mengambil piring dan langsung makan
"Dek, tanya nek nang mana kunci motor bunda"
Bapakku muncul dari dalam, mungkin tadi beliau sedang tidur siang
"Makan pak" tawarku tanpa dosa
Bapakku tertawa dan menggelengkan kepalanya
"Pak, suamiku ngajak kita jalan-jalan dulu sebelum pulang, jadi umak dan bapak bersiaplah, oh iya, sekalian pinjam mobil karena kita semua pergi"
Bapakku mengangguk dan masuk lagi kedalam dan memberikan kunci mobil pada Adam disaat kami dengar ada suara salam diluar
"Itu pak Abraham...." jawabku sambil kembali tergelak
Bapakku keluar dan melihat pak Abraham yang tampak ngos-ngosan
__ADS_1
"Bapak dari mana?" tanya bapakku
"Mengejar mbak Indah"
Aku yang mendengar hanya bisa tergelak
"Ayo masuk" ajak pak Hermawan yang tampak kasihan melihat pak Abraham
"Ngapain juga bapak nyusul?, kan tadi aku sudah bilang kalo aku itu bisa bawa motor cowok"
Pak Abraham nyengir, dan aku faham maksudnya, mana berani dia membantah perintah abang
"Ayo mbak jangan lama-lama, jika kelamaan takutnya nanti bos besar makin khawatir"
Aku kembali tergelak
"Pak kunci motor aku mana?"
Bapakku menoleh ke arahku bingung
"Aku mau bawa motor pak jalan-jalannya, bapak dan umak sama yang lainnya naik mobil, aku pokoknya mau naik motor"
"Tapi nak?"
"Bapak, aku terakhir kali naik motor itu waktu ngambil raportnya Adam dan Mikail waktu mereka kelas lima dan kelas enam, nyaris sembilan tahun yang lalu, jadi please ya pak...?"
Bapakku tak bisa berkomentar lagi selain berdiri mengambil kunci motorku
"Yeaayyy..." bak anak kecil yang mendapat mainan aku segera menangkap kunci motor yang diserahkan bapakku dan langsung kembali melesat kebelakang
Membuka tanki minyaknya, dan ternyata isinya penuh
"Motor ini jarang dipakai oleh bapakmu, paling dipakai kalau bapakmu ke kolam atau ke dusun" jawab umakku yang ternyata telah rapih
Aku mengangguk dan segera memanaskan mesinnya
Tak lama bapakku muncul dan juga telah rapih
"Kalo sudah siap semua, silahkan pak Abraham yang bawa mobil, biar aku sama Adam yang bawa motor"
Pak Abraham menurut dan dengan sopan meminta kedua orang tuaku naik mobil
Aku segera mengunci pintu lalu segera naik keatas motor hitamku. Motor bebek jadul tapi tetap terawat dengan baik hingga sekarang
"Love you hitam, kamu memang setia menungguku" ucapku mengusap kepala motorku ketika aku telah menaikinya
Aku dan Adam berada paling depan dan pak Abraham mengikuti kami dari belakang
"Itu motor kesayangan Indah" ucap bapakku pada pak Abraham yang tersenyum dikulum melihat Indah
"Iya pak, saya tahu. Dulu saya sering lihat mbak Indah memakainya"
Pak Ahmad dan bu Siti saling toleh tak mengerti
Karena jarak rumah anak-anakku dan rumah kedua orang tuaku tidak terlalu jauh, jadi tak butuh waktu lama kami telah sampai kembali di rumah
Ozkan langsung menghentikan langkahnya yang sejak tadi mondar mandir ketika dilihatnya istrinya masuk dengan mengendarai motor berbeda
"Nggak usah heran" ucapku pada abang yang menatapku dengan mulut ternganga
"Kamu mau naik motor ini?"
Aku mengangguk cepat dan pasti
"Kamu yakin?"
"Lah kenapa harus nggak yakin?, ini tuh motor aku abang, motor yang selalu bawa aku kemana aja, pak Abraham aja tahu"
Wajah abang langsung kembali datar begitu mendengar jawaban ku, dan aku terkekeh
"Defne, Serkan, kalian ikut daddy naik mobil ya!"
Serkan menggeleng dan Defne mengangguk, aku tertawa melihat kearah mereka yang tidak kompak
"Biar motornya Binsar atau Tomo saja sayang yang bawa"
Aku menggeleng.
"Mama, can I follow you?"
Aku memasang senyum penuh arti kearah Serkan sedangkan wajah abang kembali menegang
"No Serkan, no!"
"Tapi Daddy....?"
"Bahaya nak"
Serkan menggeleng kuat dan langsung naik ke boncengan dan aku merasa menang
Aku terkekeh dan kembali memasang wajah nakal pada abang yang menatapku dengan kesal bercampur khawatir
__ADS_1