Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bagian pak Hermawan


__ADS_3

Aku meninggalkan Joni dan Maria yang terduduk di halaman sambil sesenggukan menangis


Aku masuk kedalam rumah dan langsung menatap tajam kearah pak Hermawan


"Adam, ajak mbahmu naik ke ruang santai!"


Wajah Pak Hermawan terkesiap begitupun dengan Adam


"Cepat nak!"


Adam yang berdiri di sebelah kak Andri berjalan ragu


Bapakku mendekatiku yang berdiri menghadapi mereka semua


"Nak...?" panggil bapakku sambil mengusap kepalaku lembut


"Kami tidak pernah mengajarimu seperti ini nak, kami tidak pernah mengajarimu menjadi tidak sopan"


Aku memegang tangan bapakku yang dipakainya untuk mengelus kepalaku, ku genggam dengan erat


"Bapak, aku bukan tidak sopan, aku bukan tidak menuruti ajaran dan nasihat yang umak dan bapak berikan, tapi tolong untuk kali ini berikan padaku kesempatan membalas semua penghinaan mereka padaku"


"Aku melawan bukan berarti tidak sopan, tapi aku sudah lelah menjadi orang yang selalu diinjak-injak. Baik dan jahat sikap saya tergantung bagaimana cara mereka memperlakukan saya"


"Bapak bisa lihat, apa saya jahat sama mbak Ningsih dan Nina walau mereka anak pak Hermawan dan bu Mira?, tidak kan pak?, tapi lihatlah bagaimana sikap saya pada Andi dan Laras"


Bapakku menarik nafas panjang


"Dek, bawa naik mbah mu, mbak Ning juga naik, kita bicara berempat!"


Adam segera memegang lengan mbahnya dan membawanya naik


"Nak..?"


Aku sekali lagi menggeleng kearah bapakku


"Maafkan aku pak, karena untuk kali ini aku tidak mendengarkan perkataan bapak"


Setelah berkata seperti itu aku segera berjalan kearah tangga


Ketika melewati abang, aku berhenti sebentar dan menoleh padanya, dengan sayang Ozkan mengelus kepala Indah sambil menganggukkan kepalanya


"Teruskan sayang, lepaskan semuanya"


Aku mengangguk dan segera naik menyusul Adam dan yang lainnya yang telah lebih dulu naik


Pak Ahmad dan bu Siti hanya bisa terduduk di kursi, dan kak Andri segera memegangi bahu umaknya yang hanya bisa tertunduk dalam


"Biarkan pisat menumpahkan segala dendamnya mak, ini adalah waktu yang tepat untuk pisat"


"Tomo, kamu naik, kamu berjaga di atas, jika pak Hermawan mencoba mencelakai istri saya kamu tembak kepalanya!"


Wajah Nina dan Mas Indra langsung menegang mendengar ucapan Ozkan, Nina kembali terisak


Melihat Tomo bergerak masuk, Pak Abraham berlari mendekat


"Bos, izinkan saya yang masuk untuk menjaga mbak Indah"


Tomo menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Abraham yang berdiri menghalangi langkahnya

__ADS_1


"Saya tahu saya lancang, tapi bos tahu sendiri bagaimana sayang dan pedulinya saya sama mbak Indah, mbak Indah sudah seperti adik saya sendiri"


Wajah Ozkan yang semula berubah murka karena mendengar jika Abraham menyayangi dan peduli pada Indah berangsur datar ketika mendengar jika Abraham menyayangi Indah karena sudah dianggapnya seperti adik sendiri


"Jika begitu kalian berdua naik!"


Secepat kilat kedua bodyguard berbadan tinggi dan besar itu melompati anak tangga dan langsung berdiri tak jauh dari rombongan Indah yang duduk di sofa


Aku memandang datar pada pak Hermawan yang duduk di sebelah mbak Ningsih


Kulihat mata mbak Ningsih merah bekas menangis, dan Adam yang duduk bersebelahan denganku ikut memandang kearah pak Hermawan


"Usahakan jangan memancing kemarahanku" buka ku


Pak Hermawan mengangkat wajahnya dan menatap ke arahku


"Pembicaraan awal saya tentang biaya rumah sakit Andi"


Mulailah wajah pak Hermawan kembali menegang


"Seluruh berkas tagihan biaya rumah sakit Andi telah saya serahkan pada Naura, jadi nanti ketika saya kembali ke Jeddah dan kalian ingin melihatnya, kalian bisa tanyakan pada Naura"


"Seluruh biaya pengobatan Andi murni memakai uang saya, bukan uang suami saya, apalagi uang ketiga anak saya"


"Sebelum kak Andri pulang malam itu, beliau memberikan atm tabungan saya pada saya, atm itulah yang saya pakai untuk membayar seluruh tagihan biaya pengobatan Andi sampai dengan biaya dia meninggal"


"Dan untuk seluruh uang saya yang telah terpakai saya mengikhlaskannya"


Pak Hermawan dan mbak Ningsih langsung menarik nafas lega. Bahkan mbak Ningsih dengan mata berkaca-kaca menatap kearah Indah


"Begitupun dengan seluruh rangkaian biaya selama tujuh hari ini, seluruhnya saya ikhlaskan, saya tidak minta kalian mengembalikannya sepeserpun"


Kembali mbak Ningsih dan pak Hermawan menarik nafas lega


Adam yang duduk di sebelah bundanya hanya mampu menatap wajah bundanya dengan sendu


Dia tahu bagaimana marah dan dendamnya bundanya pada ayahnya, tapi bundanya sanggup mengabaikan itu demi mereka bertiga


"Tapi satu hal yang ingin saya sampaikan"


Aku diam sejenak, aku menatap dalam wajah pak Hermawan dan mbak Ningsih bergantian


"Tentang biaya rumah sakitnya bu Mira"


Pak Hermawan langsung menelan ludahnya dengan susah payah


"Waktu membayar biaya rumah sakit itu memakai uangnya Naura, dan sayangnya Naura tidak meminta izin dahulu padaku"


"Dan itu menyebabkan aku murka padanya dan juga Adam"


Adam langsung menunduk


"Saking murkanya aku dengan mereka berdua, atm dan buku tabungan mereka sekarang ada di tangan kak Andri, dan sudah beberapa bulan ini jatah uang sawit yang seharusnya masuk ke rekening mereka aku stop, mereka berdua tidak mendapatkan jatah uang itu lagi"


Adam makin tertunduk dalam


"Dan karena itu memakai uang Naura, maka saya minta kalian mengembalikan seluruh uang itu, baik uang biaya rumah sakit maupun uang yang lainnya, termasuk biaya ambulance"


Wajah Pak Hermawan memucat

__ADS_1


"Terserah kalian mau mengembalikannya kapan, tapi itu harus kalian kembalikan karena itu uang Naura, uang yang aku beri untuk Naura"


"Tapi Ndah, Naura dan Adam kan cucu kami juga"


Aku tersenyum menyeringai sambil membuang wajahku mendengar ucapan pak Hermawan


"Lantas?"


Pak Hermawan terdiam mendengar pertanyaan ku


"Anda pikir karena mereka cucu kalian, jadi uang yang telah dikeluarkan harus diikhlaskan, begitu?"


Pak Hermawan bergeming


"Tidak bisa pak Hermawan, sudah saya katakan tadi, itu uang saya yang saya kasih untuk mereka, bukan untuk istri anda!"


Wajah pak Hermawan memerah, aku yakin dia tersinggung


"Tapi apa kamu tidak punya sedikit kebaikan Indah untuk mengikhlaskan uang itu juga?, ingat Indah, dulu kami juga mertuamu"


Aku langsung terbahak, tawa yang sangat aku paksakan


Melihat Indah yang terbahak, pak Abraham membalikkan sedikit tubuhnya dan menatap kearah Indah yang wajahnya menyiratkan kebencian


"Mertua?, mertua apa?, pernahkah sehari saja kalian menganggap ku menantu?, tidak. Terutama bu Mira, sampai dia mati, dia itu hanya menyimpan benci padaku, dan sekarang anda meminta ku untuk mengikhlaskan uang itu, iya?"


Kembali aku terbahak


"Tidak pak Hermawan, untuk seluruh uang yang telah dikeluarkan untuk istri anda aku tidak mengikhlaskannya, dan aku meminta kalian mengembalikannya seluruhnya!!!"


"Tapi saat itu Naura dan Adam yang memberikannya, kami tidak meminta"


Aku kembali terbahak


"Karena saat itu mbah tidak ada uang, kalau tidak kami bayarkan, mungkin sampai sekarang jasad mbah wedok masih di rumah sakit itu" jawab Adam


Pak Hermawan terdiam mendengar jawaban Adam


"Anda dengarkan bagaimana jawaban anakku?, mereka melakukan itu karena rasa kemanusiaan, bukan karena mereka menganggap kalian mbah mereka"


Pak Hermawan mendengus kesal


"Dengar pak Hermawan, jangan karena masalah uang lantas anda terburu-buru mengakui ketiga anakku sebagai cucu kalian, kemarau setahun tidak akan hilang hanya karena hujan semalam, anda cam kan itu!"


"Dan yang paling penting untuk saya ingatkan pada anda adalah, apakah pernah selama ini anda menganggap ketiga anakku cucu anda?, pernah??!" suaraku mulai meninggi


"Tidak pernah pak Hermawan, tidak pernah, bahkan ketika Naura kecil sekalipun kalian berdua tidak pernah menggendongnya, yang selalu kalian gendong dan banggakan adalah Nicholas"


"Nicholas cucu kesayangan mbah, Nicholas cucu tercinta mbah, cuihhh, jijik saya bila mengingatnya"


"Apa pernah Mikail dan Adam kalian elus kepalanya?, tidak pernah, kalian berdua selalu menatap sengit pada ketiga anakku, dan merasa jijik jika ketiga anakku menyalami tangan kalian"


"Dan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah bagaimana kalian pernah berkata jika kalian bukan mbah mereka lagi, dan mereka bukan cucu kalian"


"Anda ingat kan pak Hermawan dengan ucapan anda itu?"


Pak Hermawan kian menunduk dalam


"Apa anda lupa bagaimana istri anda yang menghasut Andi untuk meragukan Adam???!"

__ADS_1


"Siapa saja akan ragu Indah jika Adam itu anak Andi!"


Mataku langsung berkilat marah mendengar jawaban pak Hermawan, gigiku gemeletuk dan tubuhku menggigil menahan marah yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun


__ADS_2